
Maya dan Lisa hanya memperhatikan kemana gerak tubuh laki laki itu melangkah.
"Rania". Ucap Rendy saat sudah berada dekat dengan gadis itu.
Rania menoleh ke arah sumber suara yang menyebut namanya, matanya membulat saat yang dilihat dihadapannya adalah Rendy sang lelaki pujaan, jantungnya mendadak berdegup kencang.
"Re..Rendy?". Ucap Rania tergagap.
Rendy tersenyum membuat jantung Rania berdetak semakin cepat.
"Kamu ada disini juga?". Tanya Rendy.
"Iya Ren, kamu tamu undangan disini?, kamu temannya kak Rangga?". Tanya Rania.
"Bukan aku temannya Nabila, kamu sendiri temannya Rangga?".
"Hahaha, aku adiknya Ren". Ucap Rania sambil terkekeh.
Rendy terperangah mendengar ucapan Rania.
"Iya aku adik kandung kak Rangga".
"Ka..kamu Rania pramudita?" Rendy masih belum bisa mencerna dengan benar apa yang di ucapkan Rania.
"Iya Ren, aku Rania Azura Pramudita". Tutur Rania.
"Apa perlu kita kenalan lagi". Cetusnya.
Rendy tercenung, pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah gadis itu ternyata dia adalah anak dari keluarga Pramudita, ya Rendy ingat sekarang ia pernah melihat wajah Rania beberapa kali di media.
Walaupun Rania tidak sesering Rangga dan kedua orang tuanya muncul di media namun beberapa kali media juga pernah memberitakan anak bungsu keluarga Pramudita itu.
"Kamu datang sama siapa Ren?". Pertanyaan Rania membuat Rendy tersentak dari lamunannya.
"Aku datang dengan orang tuaku". Tuturnya.
"Oiya Ren kenalkan ini teman temanku". Rania memperkenalkan teman temannya yang sejak tadi heboh berbisik minta dikenalkan.
"Rendy". Rendy mengulurkan tangannya menjabat tangan kedua teman Rania secara bergantian.
"Cindy". Tutur teman Rania sambil tersenyum dengan genitnya.
"Rendy". Kembali mengulurkan tangan kepada teman Rania yang lainnya.
"Monica". Monica mengerlingkan matanya genit membuat Rendy merasa risih.
__ADS_1
"Ran, bisa kita bicara berdua sebentar". Rendy benar benar tidak nyaman dengan keberadaan kedua teman Rania.
"Baiklah".
"Guys, gue tinggal dulu ya". Rania melambaikan tangan kepada kedua temannya lalu ia mengikuti langkah lebar Rendy.
Rendy mencari meja kosong untuk tempat mereka mengobrol, saat mereka menemukan meja kosong Rendy segera menarik kursi dan menpersilahkan Rania duduk, diperlakukan seperti itu saja sudah membuat wajah Rania menghangat, senang dan bahagia itulah yang dirasakannya.
Rendy menjentikkan jarinya saat pria berseragam dengan dasi kupu kupu melewati mejanya, ia mengambil dua gelas anggur untuknya dan untuk Rania.
"Ran ada yang mau aku tanyain?". Rendy menyesap anggur miliknya lalu meletakkannya di meja.
"Apa?".
"Kemarin malam kamu yang bawa aku ke hotel keluargamu?". Tanya Rendy dengan menatap Rania intens membuat gadis itu salah tingkah, jantungnya pun mulai kembali bergemuruh, dia ngga bisa di tatap seperti ini yang ada membuatnya makin berharap.
"Iya, memang aku yang bawa kamu Ren maaf ya soalnya aku bingung mau bawa kamu kemana". Ucap Rania sambil terkekeh.
"Kenapa minta maaf Ran?, Justru aku ingin berterimakasih karena kamu sudah mau menolongku".
"Ngga usah berterimakasih Ren, kamu juga pernah menolongku di cafe waktu itu, oh iya jadi berapa hutangku sama kamu?, Aku akan membayarnya". Tutur Rania membuat Rendy tersenyum.
"Ngga usah diganti aku ikhlas kok, lagian justru aku yang punya hutang sama kamu, tagihan hotel semalam pasti mahal".
"Tagihan hotelnya gratis tenang saja". Rania terkekeh.
"Mana no rekeningmu biar ku transfer". Tambahnya.
"Apaan sih kamu Ren, sudah kubilang ngga usah".
"Kamu yakin?, itu hotel mewah loh pasti mahal kamu ngga takut papamu bangkrut". Ledek Rendy.
"Kamu bisa aja Ren". Rania tertawa sambil memukul tangan Rendy.
"Ya udah begini saja, biar kita sama sama impas gimana kalau besok kamu temani aku jalan jalan, itung itung bayar hutang kamu, sementara aku juga bayar hutangku dengan ngajak kamu jalan jalan, mau ngga?". Rendy menaik turunkan alisnya.
Ia sengaja mengajak Rania jalan besok karena ia tidak ingin larut dalam kesedihan karena ditinggal nikah Nabila, Rendy ingin sejenak melupakan rasa sakitnya.
Rendy yakin besok ia akan kembali dalam keputusasaan yang menderanya, kesakitan yang akan kembali menggerogoti hatinya, ahh Rendy ingin lepas sejenak saja dari rasa itu.
"Boleh juga idemu". Rania manggut manggut.
"Kalau begitu berikan nomer ponselmu, besok aku akan menghubungimu". Rendy merogoh ponsel yang ada dalam saku tuxedo bagian dalam lalu menyerahkannya kepada Rania.
Rania mengetikkan nomernya disana, mengembalikan ponsel Rendy setelah ia selesai.
__ADS_1
"Kamu cantik banget malam ini Ran?". Rendy menatap Rania dalam membuat Rania merona dan salah tingkah, sungguh ia ingin terbang dipuji oleh Rendy seperti itu.
"Kamu juga kelihatan ganteng banget malam ini Ren".
"Astaga, apa yang barusan aku katakan?!, mana harga dirimu Rania, muji muji pacar orang dasar bodoh!". Rania merutuki mulutnya yang asal bicara.
Sejenak ada keheningan diantara mereka, Rendy sibuk menyesap anggur miliknya sambil menikmati perform artis ibu kota yang sedang menyanyi menghibur para tamu undangan.
"Ren, aku boleh nanya sesuatu?". Rania kembali membuka suara, Rendy menoleh kembali menatap Rania dengan intens membuat gadis itu kembali salah tingkah.
"Tatapannya ya Tuhaan, aku jadi ngga tahan pengen diciumnya lagi". Batin Rania.
Rania senyum senyum sendiri, pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam saat Rendy menciumnya penuh cinta.
"Astaga Rania, kamu gila ya dia itu pacar orang!!". Batinnya lagi, membuat seketika wajahnya berubah masam.
"Ran?, kamu mau nanya apa?". Rendy menyentuh tangan Rania membuat gadis itu tersentak dari lamunan terkutuknya.
"Mmmm..., Pacar kamu kemana?". Tanya Rania dengan ragu.
"Pacar?". Rendy mengerutkan keningnya merasa bingung dan tidak mengerti dengan pertanyaan Rania, pacar yang mana?, dirinya saja jomblo.
"Iya pacar kamu?, Semalam kamu mabuk berat dan....". Rania tidak melanjutkan kata katanya membuat Rendy penasaran.
"Dan apa Ran?, apa semalam aku bersikap bodoh?". Rendy sangat tidak sabar mendengar kelanjutan ucapan Rania.
"Ran?, Dan apa?, katakan saja". Rendy sungguh tidak sabar.
"Dan kamu menangisi pacar kamu!, kamu juga bilang kalau kamu sangat mencintainya kamu ingin dia kembali, memangnya kemana dia?".
"Astaga!!, Itu sungguh memalukan!!". Rendy tersipu.
"Kamu kan mabuk Ren, itu hal yang wajar. Jadi kemana pacar kamu itu?". Tanya Rania lagi.
"Syukurlah sepertinya Rania tidak tahu gadis yang aku tangisi adalah Nabila bisa gawat kalau dia sampai tahu". Gumam Rendy dalam hati.
"Dia sudah pergi". Jawab Rendy.
"Kemana?".
"Ke..ke luar negeri". Sahut Rendy tergagap.
"Kamu kan bisa susul dia ke luar negeri Ren!". Seru Rania.
"Kamu ngga akan ngerti masalahnya Ran, sudahlah jangan bahas itu kumohon". Ucap Rendy dengan tatapan memohon, matanya sudah mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Maaf Ren". Rania melihat Rendy sedih membuatnya merasa bersalah.