
Suara musik yang memekakan telinga, gemerlap lampu disko memancarkan warna warni dalam gelapnya ruangan, cahaya yang temaram dan musiknya mampu menghipnotis semua pengunjung club malam ini. Begitu pun dengan Rangga Ia begitu sangat menikmatinya. Dunia malam seperti ini bukanlah makanan Rangga sehari-hari , tapi tidak menutup kemungkinan jika suasana hatinya sedang kacau Ia akan mengunjungi tempat dosa ini.
Rangga menuangkan minumam di gelasnya, minuman berwarna merah yang sejak tadi diminumnya. Ia sudah menghabiskan 3 botol minunam itu tapi belum ada tanda-tandanya Ia akan mengehentikan aksi minumnya itu. Ia terlihat sangat menikmatinya. Alan yang Sedang duduk disampingnya hanya menggeleng geleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Alan paham bagaimana Rangga, dia akan terus minum jika kondisi hatinya sedang kacau. Sudah berkali kali Alan mengingatkan Rangga untuk berhenti minum karena sahabatnya itu sudah mulau mabuk sambil mengoceh tidak jelas.
Rangga tidak menghiraukan Alan Ia terus saja menyesap habis minuman di gelasnya dan menuangkannya kembali dari botol yang ada di atas meja bartender. Rangga dan Alan menikmati alunan jedag jedug musik, mereka menggoyang-goyangkan kepala dan kakinya.
Tiba-tiba datang 4 orang gadis menghampiri mereka berdua. 2 gadis berdiri di samping Alan, dan 2 gadis berdiri di samping Rangga. Para Gadis itu bergelayut manja menggoda Alan dan Rangga, tentu saja Alan sangat menikmatinya sentuhan demi sentuhan 2 gadis yang ada disampingnya. Sementara Rangga memilih acuh saja tak mau menghiraukan kedua gadis yang terus menggodanya , Rangga menyesap kembali minuman yang ada di gelasnya. Rangga sudah mulai pusing dan pandangannya sedikit kabur, Gadis yang ada di samping Rangga terus saja menggodanya tak menyerah hingga akhirnya Rangga melihat sosok Nabila pada gadis yang ada di sampingnya. Wajah Nabila memenuhi pandangannya.
"Nabila". Ucap Rangga dengan nada khas orang mabuk sambil memegangi kedua wajah gadis yang ada di sampingnya itu. Rangga merengkuh tengkuk gadis itu dan hendak menciumnya namun , gadis itu segera di tarik oleh Alan untuk menjauh dari Rangga yang terus saja menyebutnya Nabila.
Wah udah mulai kacau nih anak, bisa gawat nih kalo begini urusannya. Sebaiknya gue bawa pulang aja ni bocah daripada ngrepotin gue nantinya. Batin Alan.
"Lepasin dia bro, dia bukan Nabila". Alan menarik gadis itu untuk menjauhi Rangga. Namun Rangga kembali menarik pinggang gadis itu hingga berada dipelukan Rangga.
"Sialan lo , lo mau bawa Nabila gue kemana?". Rangga mendorong dada Alan degan sempoyongan.
"Ayo kita cabut bro, lo udah mabuk berat gini". Alan memapah Rangga, sebelumnya Alan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk keempat gadis yang menggodanya tadi dan menyuruh mereka segera pergi.
Dengan susah payah Alan memapah Rangga menuju mobilnya dan membaringkan Rangga di kursi belakang, Alan bergegas menuju kemudi dan menancap gas.
Sial gue lupa kalo bokap Rangga saat ini ada di Jakarta, sekarang udah jam setengah 3 pagi mana tu bocah mabuk berat, bisa digantung gue sama bokap Rangga. Siall.
Alan terus mengumpat sepanjang jalan, mengacak-acak rambutnya kasar, memukul kemudi dan memijat keningnya. Ia bingung apa yang harus dikatakan kepada Tuan besar Angga tentang kondisi Rangga sekarang.
Siall, gue harus jawab apa kalau bokap Rangga Nanya. Gumam Alan lirih.
"Nabila..., Bil,. .maafin aku sayang..".Rangga terus saja mengoceh memanggil manggil nama Nabila tanpa henti.
"Galau sih galau bro tapi ngga segitunya juga kali". Alan menoleh kearah Rangga yang terus saja mengoceh.
"Lagian lo juga sih nyari perkara pake berantem segala di sekolah Nabila, jadi marah kan tuh Nabila".
"Syukurin lo, dia ngga mau ketemu lo lagi". Alan terkekeh.
"Gue **** atau apa ya, orang mabok malah gue ajak ngobrol begini". Alan merutuki kebodohannya sendiri.
Setelah 30 menit perjalanan sampailah di kediaman Rangga, Alan membunyikan klakson mobilnya dan dengan sigap penjaga yang ada di pos segera membuka pintu gerbang sambil membungkukkan badannya. Alan membalasnya dengan senyum.
"Mati gue, mati gue, gue harus gimana ngadepin bokapnya Rangga". Gumam Alan lirih sambil memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar dari mobil.
Alan memapah Rangga dengan susah payah hingga sampai ke depan pintu utama, Alan memencet bel rumah Rangga. Cukup lama Alan menunggu akhirnya Bi Minah membukakan pintu juga.
"Berat juga lo ya bro, banyakan dosa sih lo". Alan terus saja mengoceh.
"Aden?, Aden kenapa den Alan?". Tanya Bi Minah kepada Alan dengan cemas.
"Biasa Bik Mabok". Jawab Alan singkat. Bi Minah membantu Alan memapah Rangga masuk ke dalam rumah.
"Bik Tuan besar ada di rumah?". Tanya Alan berbisik sambil menahan bulu kuduknya yang udah mulai merinding membayangkan wajah tuan besar Angga.
"Ada den, Tuan besar lagi istirahat". Jawab Bi Minah.
"Selamet, selamet, gue bisa pulang dengan aman". Ucap Angga sambil mengurut dadanya naik turun.
"Bik, jangan di bangunin ya Tuan besarnya, biar kita aja yang bawa Rangga ke kamarnya". Ucap Alan lirih.
"Iya den". Jawab Bik Minah.
Alan dan Bi Minah hendak menaiki tangga menuju kamar Rangga namun langkah mereka terhenti saat mereka mendengar suara deheman yang sangat keras dari belakang mereka.
"Eheeemmm!!". Tuan besar Angga berdehem.
Mati gue, bokap Rangga bangun. Gumam Alan lirih.
Tuan besar Angga menghampiri Alan dan Bi Minah yang sedang memapah Rangga. Alan dan Bi Minah berbalik badan menghadap tuan besar Angga. Kaki Alan mulai gemetar serasa Ia ingin dipapah juga. Lidahnya seketika kelu bingung harus ngomong apa kepada Tuan besar Angga.
"Haii om, om belum tidur". Alan mencoba basa basi yang malah ditanggapi dingin oleh Tuan besar Angga.
"Kenapa Rangga lan?!". Tanya Tuan besar Angga penuh penekanan membuat jantung Alan makin bedegup kencang dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Glekk Alan menelan salivanya.Ya tuhan aku belum mau mati sekarang, aku belum kawin. Batin Alan.
"Itu om...,anu om..". Jawab Alan kikuk.
"Jawab yang bener Alan". Ucap Tuan besar Angga dengan nada yang sedikit meninggi.
"Itu om...itu Rangga kebanyakan minum om". Alan menundukkan kepalanya.
"Om tau itu, dari baunya saja sudah kecium. Maksud Om kenapa Rangga bisa seperti ini?!. Apa kamu yang mengajaknya?!". Tanya Tuan besa Angga.
Sialan kenapa jadi gue yang kena..!!. Dasar singa..!!.umpat Alan dalam hati.
"Bukan Alan om yang ngajakin , tapi Rangga yang ngajakin . Sepertinya Rangga lagi banyak masalah om". Ucap Alan.
Maaf ya bro gue ngga punya alasan lain selain ini. Daripada gue yang kena mending gue cari aman. Habis habis deh tu lo sama bokap lo. Batin Alan.
"Baringkan saja dia di sofa". Ucap Tuan Angga sambil menunjuk sofa yang ada di sekitar nya.
"Baik om". Alan dan Bi Minah membaringkan Rangga di sofa.
__ADS_1
"Bik Minah istirahat saja". Ucap Tuan besar Angga sambil menatap Bi Minah.
"Baik tuan, saya permisi". Bi Minah membungkukkan badannya kemudian pergi menuju kamarnya.
Alan masih berdiri di samping sofa dimana Rangga terbaring, Tuan besar Angga menatap Alan dengan tatapan intimidasi dan Alan hanya bisa menelan salivanya berkali-kali sambil merapalkan mantranya dalam hati.
Mati gue..mati gue..mati gue..mati gue. Gumam Alan dalam hati.
"Alan kenapa kamu mau saja diajak Rangga ke tempat seperti itu?, Harusnya kamu nasehatin Rangga kalau itu bukan cara untuk menyelesaikan masalah". Bentak Tuan besar Angga.
" Iya om, maaf Alan salah". Jawab Alan menundukkan kepalanya enggan menatap wajah Tuan besar Angga.
"Ya sudah, sekarang Kamu pulang ini sudah pagi". Ucap Tuan besar Angga.
Alan tersenyum lebar mendengar ucapan Taun besar Angga yang menyuruhnya pulang. tanpa menunggu lama Alan beranjak dari tempatnya mematung tadi menghampiri Tuan angga dan mencium punggung tangannya untuk berpamitan.
"Alan pulang dulu om". Alan mencium punggung tangan Tuan besar Angga.
"Hmmmm". Jawab Tuan besar Angga.
Alan lari tunggang langgang keluar dari rumah Rangga menuju mobilnya. Alan dengan cepat menancap gasnya setelah sampai di depan pintu gerbang Alan membunyikan klakson berkali kali , Ia tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari Kediaman Rangga yang menurutnya sangat menyeramakan. Penjaga yang berada di pos segera membuka membuka pintu gerbang dengan cepat. Saat pintu sudah terbuka Alan langsung melesat menekan pedal gas dengan kencang.
"Akhirnya gue keluar juga dari kandang singa dan cengkeraman singa jantan itu". Gumam Rangga lirih. Alan merasa sangat lega karena dirinya sudah berhasil keluar dari kediaman Rangga tanpa babak belur.
Alan sangat tahu karakter Tuan besar Angga, karena Ia sudah sejak SMA berteman dengan Rangga. Ia juga kerap menginap disana . Tuan Angga memang orang yang sangat tegas, keras, dan berwibawa. Tapi sebenarnya Ia adalah sosok yang baik.
Tuan besar Angga sangat tidak suka dengan dunia malam, karena baginya itu hanya akan merusak masa depan anak bangsa saja. Jika Tuan Angga mendapati Rangga pergi ke tempat hiburan malam Ia tak segan akan melayangkan pukulan demi pukulan kepada anaknya itu.Tak heran Rangga dan Alan hanya akan pergi ke tempat hiburan malam saat Tuan besar Angga berada di luar kota atau di luar negeri saja. Orang tua Rangga sebenarnya sangat jarang ada di Jakarta, mereka lebih sering menetap lama di luar negeri . Berhubung beberapa perusahaan yang di Indonesia mengalami sedikit masalah dan kendala jadi mereka harus tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama.
"Rangga bangun kau Rangga". Tuan besar Angga memercikan air ke wajah Rangga.
"Nabila...Nabila..sayang.." Gumam Rangga lirih mencoba membuka matanya sambil menarik tubuh Tuan besar Angga yang sedang berdiri di sampingnya. Wajah Nabila terus saja memenuhi pandangan Rangga saat membuka matanya. Wajah Tuan besar Angga pun terlihat seperti wajah Nabila yang sedang tersenyum.
PLAAAAKK..!!. Tamparan keras mendarat ke pipi Rangga.
"Awwwwww..." Rangga memegang pipinya yang memerah.
"Kenapa kamu menamparku sayang". Rangga terus saja ngelantur.
"Masih belum sadar juga kau rupanya".
Byuuuurrrr...!!.Tuan besar Angga menyiram Rangga dengan air di gelas yang sebelumnya dipakai untuk memercikan saat membangunkan pertama kali.
Rangga gelagapan. Ia berusaha membuka matanya perlahan sambil mengedipkannya berkali kali. Rangga sudah mulai melihat Tuan besar Angga yang berdiri di depannya. Kepala Rangga masih terasa pusing dan berputar. Ia berusaha duduk dengan susah payah dan kembali memejamkan matanya. Tak berapa lama Tuan Angga menarik kaos yang Rangga gunakan dan langsung mendaratkan pukulan bertubi-tubi hingga Rangga terkulai lemas.
Darah segar keluar dari hidung dan sudut pipi Rangga.
"Papa..hentikan Pa..!!". Teriak Nyonya Rani sambil berlari ke arah suaminya.
"Stop pa... Stop..!!". Nyonya Rani menahan tangan suaminya yang hendak mendaratkan pukulan lagi di tubuh Rangga.
"Papa tidak lihat Rangga sudah tak berdaya begitu?". Nyonya Rani menatap tajam suaminya sambil berderai air mata.
Tuan besar Angga menghentikan aksinya melihat istrinya menangis sesenggukan. Ia pergi meninggalkan Nyonya Rani bersama Rangga. Nyonya Rani langsung memeluk erat Rangga yang merintih kesakitan disekujur tubuhnya.
Nyonya Rani berlari memanggil beberapa pelayan untuk membantu membawa Rangga ke kamarnya sedangkan Bi Minah di perintah mengambil air hangat dan obat untuk membersihkan dan mengobati memar dan luka di Wajah Rangga.
Rangga sudah berbaring di Ranjangnya ditemani Nyonya Rani yang sedang membersihkan dan mengobati luka Rangga. Tak berapa lama datang Dokter Risa Dokter pribadi keluarga Pramudita. Ia segera memeriksa kondisi Rangga yang terbaring tak berdaya.
"Bagaimana Dok, keadaan Rangga?". Tanya Nyonya Rani cemas.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Nyonya Ini hanya luka dan memar biasa, Rangga masih terpengaruh alkohol yang sangat banyak diminumnya . Biarkan dia istirahat nanti dia akan merasa enakan". Jawab Dokter Risa ramah dengan senyum mengembang.
"Ini ku resep kan obat anti nyeri sama salep untuk mengobati luka nya ya Nyonya". Dokter Risa memberikan beberapa obat dan salep yang Ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur Rangga.
"Terimakasih banyak dok, maaf pagi-pagi begini sudah mengganggu". Ucap Nyonya Rani sambil cipika cipiki dengan Dokter Risa.
"Tidak usah sungkan Nyonya ini sudah tugas saya".
"Kalo begitu saya pamit dulu nyonya, permisi". Dokter Risa keluar dari kamar Rangga diantar oleh Bi Minah.
Beginilah kalau resiko jadi Dokter pribadi keluarga Pramudita , harus siap dipanggil kapan saja. Subuh-subuh begini juga harus siap. Untung saya beli rumahnya yang tidak jauh dari kediaman Pramudita jadi tidak banyak membuang waktu perjalanan. Batin Dokter Risa.
Hari sudah mulai siang , Matahari sudah mulai menyinari seluruh permukaan bumi. Rangga masih menggeliat dibalik selimutnya dan merintih merasakan memar disekujur tubuhnya. Mata Rangga masih ingin terpejam tapi apalah daya perutnya sudah keroncongan. Rangga memencet tombol yang ada disekitar Ranjangnya, tombol itu terhubung dengan lantai bawah ruangan para pelayan. Para pelayan akan bergegas menaiki kamar Rangga jika tombol itu berbunyi.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk". Ucap Rangga lirih.
"Kamu udah enakan sayang". Tanya Nyonya Rani sambil mencium pucuk kepala Rangga. Dan kemudian duduk dipinggir ranjang Rangga.
Bi Minah yang mengikutinya dengan membawa nampan berisi bubur dan sup daging tak lupa obat yang diberikan dokter juga ia siapkan, kemudian meletakkannya di atas nakas.
"Mama?, Mama ngga ngantor?". Tanya Rangga sambil melirik jam beker yang ada disamping ranjangnya.
"Mama sama papa ngga ngantor, mama sama papa mau nemenin kamu aja". Ucap Nyonya Rani sambil membelai lembut pipi Rangga.
__ADS_1
"Tumben". Ucap Rangga lirih sambil memposisikan dirinya duduk menyandar di bahu ranjang. Nyonya Rani hanya tersenyum tipis.
"Ayo sayang makan dulu kamu pasti lapar, mama suapin ya". Nyonya Rani mengambil nampan yang berisi bubur dan sup daging tadi.
Sejenak tercipta keheningan diantara mama dan anak ini. Nyonya Rani masih memikirkan kata yang tepat untuk menanyakan kejadian semalam. Sedangkan Rangga masih mengingat ingat kejadian semalam karena seingatnya tadi malam Ia berada di club malam bersama Alan dan setelah itu tak mengingat apapun lagi.
Setelah beberapa menit Rangga sudah menghabiskan makanannya disuapi Nyonya Rani , Nyonya Rani memberikan obat dari dokter kepada Rangga , dengan segera Ia meminum obat itu berharap rasa sakit yang menderanya bisa berangsur hilang.
"Kamu istirahat dulu ya, biar cepet sembuh". Nyonya Rani mengecup kening Rangga dan beranjak dari duduknya meninggalkan Rangga.
--------
Matahari sudah mulai enggan menampakkan dirinya, bersembunyi dibalik awan dan menunggu sang rembulan menggantikannya. Rangga merasa sudah mulai mendingan , Ia bergegas membersihkan dirinya yang sudah seharian belum mandi.
Tok..
Tok..
Tok..
"Sayang..". Teriak Nyonya Rani mengetuk pintu kamar Rangga. Ia menunggu beberapa saat sampai akhirnya Rangga membuka pintunya dengan menggunakan piyama mandinya.
"Kamu baru selesai mandi?, Boleh mama masuk?". Tanya Nyonya Rani.
"Masuk aja ma Rangga mau ganti baju dulu". Rangga menuju walk in closet dan memilih baju santai yang akan Ia kenakan. Sedangkan Nyonya Rani memilih untuk menunggi di Sofa sambil membaca majalah yang ada di atas meja.
Rangga sudah selesai mengganti bajunya , Ia berjalan menghampiri Nyonya Rani yang sedang duduk di sofa sambil melihat lihat majalah. Rangga duduk disamping Nyonya Rani sambil menyilangkan kaki nya dan kepalanya menyandar.
"Kamu udah selesai?". Tanya Nyonya Rani menatap Rangga. Rangga hanya mengangguk.
"Ayo kita turun, papa mu sudah menunggu". Nyonya Rani menepuk punggung tangan Rangga.
Rangga sekejap memejamkan matanya sambil menyandarkan kepala di sofa, kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Rangga apa kamu tidak mau menceritakan masalahmu kepada mama?". Tanya Nyonya Rani penuh harap. Rangga hanya terdiam tak mengucapkan sepatah katapun, Ia menatap langit-langit kamarnya kemudian memijat keningnya.
"Apa masalahmu Rangga sampai kamu bisa mabuk berat semalam?, Apa gara-gara berita tempo hari?, Bukan kah berita itu sudah kamu bereskan?. Nyonya Rani memberikan pertanyaan beruntun yang tak ingin dijawab sama sekali oleh Rangga.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, tapi sekarang temuilah papamu dulu, beliau sudah menunggmu dari tadi". Ucap Nyonya Rani.
"Baik Rangga akan turun Ma, mama duluan saja". Ucap Rangga sambil menatap wajah Nyonya Rani.
"Baiklah kalau begitu, mama tunggu di ruang kerja papa ya". Nyonya Rani menepuk punggung Rangga dan berlalu meninggalkan kamar Rangga.
Dengan berat hati Rangga harus menemui papanya. Rangga sangat kesal dengan kelakuan papanya yang kerap memukulinya jika kedapatan Rangga mabuk. Sebenarnya Ia tak begitu ingat tentang apa yang terjadi semalam. Namun mendapati badannya babak belur Rangga sudah mengerti apa yang terjadi semalam, Tuan besar Angga yang membuatnya babak belur seperti kejadian yang sudah-sudah, begitu pikir Rangga.
Rangga menuruni tangga dan berjalan menuju ruang kerja Tuan besar Angga yang terletak di lantai bawah dekat dengan kamar orang tuanya. Ternyata Tuan besar Angga sudah menunggu kedatangannya. Beliau sedang duduk di sofa yang berada di sudut ruang kerjanya bersama Nyonya Rani.
Tok..
Tok..
Tok..
Rangga mengetuk pintu ruang kerja yang tertutup.
"Masuk aja sayang". Terdengar suara Nyonya Rani dari dalam ruangan.
Rangga memasuki ruangan dan berjalan menuju tempat kedua orang tuanya berada, duduk di sofa yang ada di depan kedua orang tuanya.
"Papa manggil Rangga?". Tanya Rangga kepada Tuan besar Angga.
"Kamu sudah sehat?". Tanya Tuan besar Angga dengan nada bicara yang jauh berbeda dengan semalam. Amarah, emosi yang terpancar di wajahnya semalam kini sudah tidak nampak lagi.
"Sudah pa". Jawab Rangga singkat.
"Jadi apa masalahmu Rangga sampai bisa kau mabuk berat semalam?". Tanya Tuan besar Angga.
"Tidak ada pa, Rangga hanya ingin menenangkan pikiran dan hati Rangga saja".
"Menenangkan pikiran bukan dengan cara seperti itu Rangga. Dan bukan begitu juga caranya menyelesaikan masalah..!!". Tutur Tuan besar Angga dengan tegas.
"Bukankah papa sudah sering bilang begitu Rangga, tapi kenapa kau masih saja seperti anak kecil. Sampai kapan kau akan begini?. Menyelesaikan masalah dengan mabuk-mabukan , pergi ke tempat hiburan malam!!".
Rangga hanya mendengarkan tanpa mau menjawab apapun, lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata.
"Kalau kau seperti ini terus menerus, papa bisa pastikan kau tidak akan mampu mengurus semua perusahan dan semua bisnis papa". Sorot tajam mata Tuan besar Angga menatap Rangga tanpa henti.
"Papa minta stop sikapmu yang kekanak kanakan itu. Hadapi masalahmu dengan benar, selesaikanlah madalahmu dengan baik, itu baru namanya pria sejati".
"Papa tidak mau dengar lagi kau mengulanginya Rangga, itu hanya akan membuatmu terlihat bodoh, tidak berharga, dan tidak berkualitas".
"Papa harap kau bisa jadi penerus keluarga Pramudita. Jadi jagalah sikapmu".
"Iya pa". Jawab Rangga singkat.
Tuan besar Angga pergi meninggalkan ruang kerjanya. Nyonya Rani mengusap-usap punggung Rangga dengan lembut.
"Berubahlah lebih baik Rangga, ini semua untuk kebaikanmu, untuk masa depanmu kelak bersama keluargamu". Nyonya Rani menepuk punggung Rangga dan berlalu dari ruang kerja tersebut.
__ADS_1