
Pagi yang syahdu , sang mentari enggan menampakkan wajahnya, digantikan dengan buliran air yang berjatuhan membasahi bumi yang nampak masih belum memulai aktivitasnya. Hujan rintik dari semalam tak kunjung reda. Membuat para penduduk bumi masih asyik menggeliat di atas tempat tidur, enggan untuk beranjak dari tempat ternyaman untuk melepas lelah itu.
Tapi lihatlah ada seorang gadis yang sudah mejalankan rutinitas paginya, gadis ayu itu nampak sedang melaksanakan kewajibannnya kepada Sang Pencipta. Memohon dan meminta apa yang Ia inginkan, mengeluh dan mengadu dengan berderai air mata. Iya gadis itu hanya bisa mencurahkan semua isi hatinya kepada Sang penciptanya, itu akan membuat gadis itu merasa beban berat yang Ia pikul berangsur hilang. Hatinya terasa amat lega dan tenang , Ia akan kembali menemukan semangat yang sejenak hilang darinya.
Waktu menunjukkan pukul 04.40 Nabila telah selasai menunaikan shalat subuh berjamaah dengan Aditya, Nabila merapikan mukenah dan sajadahnya dan melipatnya rapi kemudian meletakkannya di atas Nakas samping meja belajarnya. Nabila bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Biasanya Nabila masaknya sekalian untuk makan siang juga jadi sepulang sekolah Ia dan Aditya bisa langsung makan siang.
Berhubung cuaca lagi hujan kali ini Nabila memasak sup daging dan telur balado tak lupa tahu dan tempe goreng. Makanan yang sangat sederhana tapi sudah bisa menggugah selera makan.
Hari ini Nabila akan mengikuti Ujian Nasional berharap Ia bisa mengikutinya dengan baik dan nilainya nanti bisa memuaskan.
"Adit ayo sarapan.!!". Teriak Nabila dari dapur memanggil Aditya.
"Kakak masak apa?, Baunya enak sekali". Aditya menarik kursi dan duduk di meja makan.
"Kakak masak sup daging sama telor balado dit". Jawab Nabila sambil menyendokkan Nasi ke piring Aditya.
"Cocok banget kak hujan-hujan gini makannya sup". Aditya menyendok sup dagingnya.
"Iya". Nabila tersenyum.
"Kak hari ini kakak Ujian Nasional kan?, Semoga kakak berhasil ya". Ucap Aditya sambil memasukkan suapan ke dalam mulutnya.
"Aamiin".
"Dit, diluar masih hujan gimana ya?, berangkatnya kakak order taksi online saja ya". Nabila menatap Aditya.
"Iya kak sebaiknya begitu". Jawab Aditya.
Setelah selesai makan Nabila bersiap-siap pergi ke sekolah sebelumnya Ia sudah order taksi online, tak lama kemudian taksi online pun datang menunggu di depan rumah Nabila.
"Adit ayo taksinya sudah datang ". Teriak Nabila memanggil Aditya.
"Iya kak". Aditya datang mengahampiri Nabila.
"Ini kamu pakai payungnya". Nabila menyerahkan payung kepada Aditya. Dia juga memegang payung satu lagi untuknya sendiri.
Nabila dan Aditya berjalan menuju taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya.
Beberapa menit kemudian sampailah di sekolah Nabila setelah sebelumnya mengantar Aditya terlebih dahulu ke sekolahnya. Nabila bergegas memasuki ruang kelas tak berapa lama Ujian Nasional pun dimulai, Nabila dan semua murid yang lain mengikuti ujian dengan baik sampai akhirnya bell tanda pulang berbunyi , semua murid berhamburan keluar ruangan.
"Haii Bil". Rendy menghampiri Nabila , Lisa dan Maya yang sedang asyik berbincang-bincang menyusuri lorong sekolah.
"Haii Ren". Nabila tersenyum.
"Gimana tadi ujiannya, kalian bisa menjawabnya?". Tanya Rendy pada ketiga gadis itu.
"Bisa dong, aku kan sudah belajar mati-matian". Jawab Lisa membuat Rendy dan teman-temannya terkekeh.
"Untungnya yang aku pelajari banyak yang keluar di soal tadi, jadi aku bisa menjawabnya". Ucap Maya.
"Aku juga Alhamdulilah bisa". Sambung Nabila.
"Syukurlah". Rendy tersenyum.
"Oiya kalian pulang naik apa?, Kalian pasti ngga bawa motor kan karena tadi pagi hujan".Tanya Rendy.
"Aku di jemput mang Diman, nanti Nabila sama Maya aku anter aja". Jawab Lisa.
"Aku bawa mobil, kalian aku anter aja". Tutur Rendy.
"Gimana Bil?. Tanya Lisa kepada Nabila.
"Kok aku?". Jawab Nabila heran.
"Kamu mau ngga diantar Rendy, di luar juga masih hujan Bil?". Ucap Maya.
"Aku terserah kalian saja, tapi bukannya tadi kata Lisa mang Diman mau jemput?". Jawab Nabila.
"Iya , tapi sekarang lagi anterin mamaku dulu ke salon, palingan bentar lagi baru otw kesini". Ucap Lisa.
"Yahh lama dong". Maya memonyongkan bibirnya.
"Sabar May" . Nabila mengusap punggung Maya.
"Ya sudah kalian aku anter aja ya". Rendy menyela pembicaraan ketiga gadis itu.
"Kita ikut Rendy aja ya Bil". Lisa membujuk Nabila.
"Iya Bil, BT tau kalau harus nungguin mang Diman dulu". Maya kembali memonyongkan bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu". Nabila tak ingin membuat kedua sahabatnya kecewa.
Ketiga gadis itu berjalan menuju area parkir sekolah, disusul Rendy di belakangnya , di luar hujan masih sangat lebat. Nabila dan Maya mengambil payung yang ada di dalam tasnya kemudian memakainya. Akan tetapi Lisa dan Rendy lupa membawa payung.
Membuat Nabila harus berada satu payung dengan Rendy sedangkan Lisa satu payung dengan Maya.
Mereka berjalan menuju mobil Rendy, Lisa dan Maya berjalan lebih dulu diikuti Nabila dan Rendy di belakangnya. Rangga yang sedari tadi menunggu Nabila di area parkir bergegas keluar dari mobilnya saat melihat Nabila satu payung dengan Rendy.
"Sialan!!. Cowok itu lagi!!". Umpat Rangga. Muka Rangga memerah penuh emosi. Rangga mengambil payung dan segera keluar dari mobilnya. Membanting pintu mobil cukup keras dan berjalan menghampiri Nabila dan Rendy.
"Mas Rangga". Gumam Nabila lirih . Nabila membelalakkan matanya menatap tak percaya.
Ya tuhan, kenapa Dia tiba-tiba ada disini. Batin Nabila. Nabila menggigit bibir bawahnya bingung.
"Nabila, aku dari tadi nungguin kamu. Ayo kita pulang". Rangga menarik tangan Nabila.
"Heii, lepaskan.!!". Rendy mencoba melepaskan tangan Nabila dari tangan Rangga.
Ya tuhan , bagaimana ini apa yang harus aku lakukan?. Rasanya aku pengen ngilang saja. Gumam Nabila dalam hati.
__ADS_1
"Lis bagaimana ini?". Maya berbisik kepada Lisa sambil menyenggol pelan tangan Lisa.
"Aku juga ngga tau nihh". Jawab Lisa lirih.
Suasana sudah mulai menegang, terjadi perang tatapan tajam diantara Rangga dan Rendy. Wajah mereka sudah di selimuti amarah yang hampir meledak. Rangga mengepalkan kedua tangannya kuat, Ia berusaha menahannya agar tidak melayang ke wajah Rendy.
Tangan Nabila gemetar Ia takut akan terjadi sesuatu antara Rangga dan Rendy.
"Mas Rangga kok tadi ngga bilang dulu kalau mau jemput". Nabila mencoba mencairkan suasana yang sudah mulai mencekam itu.
"Aku sudah mengirimkan pesan padamu tadi pagi". Jawab Rangga dengan mata yang masih menatap tajam Rendy.
"Benarkah, maaf mas aku tidak tahu". Nabila mencoba mengalihkan pandangan Rangga dari Rendy. Namun tak berhasil juga.
"Kalau Nabila tidak mau jangan maksa dong!". Tutur Rendy dengan nada penuh penekanan.
Rangga sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dan..
Bugggghhh....!!!!.
Rangga memukul Rendy hingga Rendy tersungkur. Payung yang di pegang Rendy ikut melayang jatuh membuat mereka menjadi basah kuyup. Lisa dan Maya segera menarik Nabila untuk tidak ada di antara kedua lelaki itu dan berada di payung kedua sahabatnya. Tak sampai disitu Rendy bangkit dengan hidung yang mengeluarkan darah segar dan langsung melayangkan pukulan ke arah Rangga.
Buggggghh..!!.
Tenaga Rangga lebih kuat dari Rendy sehingga Ia bisa menahannya dan tidak sampai terjatuh. Sudut Bibir Rangga mengeluarkan darah. Rangga kembali memukul Rendy bertubi-tubi. Begitu juga Rendy mereka terlibat perkelahian yang sengit. Nabila mencoba melerai mereka namun tak berhasil sampe akhirnya ada 3 security datang melerai mereka berdua. Nabila terisak , air mata terus saja keluar dari mata indahnya.
Dengan susah payah ketiga security itu melerai Rangga dan Rendy , kemarahan kedua pemuda itu sudah membabi buta. setelah beberapa saat akhirnya ketiga security itu berhasil menghentikan perkelahian yang sengit itu.
Rangga dan Rendy menghentikan perkelahiannya. 3 security itu terbelalak saat melihat wajah pria yang berkelahi tadi adalah Rangga Pramudita . Mereka membiarkan Rangga pergi begitu saja dengan membawa Nabila besertanya. 3 security itu hanya tidak ingin berurusan dengan keluarga Pramudita. Bisa kelar nasib mereka jika harus bermasalah dengan Rangga pikir mereka.
Rendy melihat Rangga menarik tangan Nabila dan membawanya pergi membuat hati Rendy terasa teriris, sesak di dadanya semakin membuncah. Amarahnya semakin berkobar Rendy berlari menghampiri Rangga kemudian Ia melayangkan pukulan yang begitu keras sehingga Rangga tersungkur. Rendy menggadeng tangan Nabila dan membawanya pergi bersamanya. Lisa dan Maya mengikuti nya dari belakang. Tak sampai disitu Rangga kembali menarik tangan Nabila dari tangan Rendy dan hendak melayangkan pukulan ke wajah Rendy Namun Ia urungkan saat mendengar teriakan Nabila.
"Cukkuuuuuupppp...!!!.". Nabila berteriak sangat kencang.
"Sebenarnya apa mau kalian?, Hahh??!". Teriak Nabila dengan tubuh gemetar. Badanya sudah basah kuyup, air matanya terus mengalir dari kedua matanya.
"Nabila maafkan aku, biar aku mengantarmu pulang". Rangga mencoba memegang tangan Nabila.
"Jangan sentuh aku!!". Teriak Nabila menepis tangan Rangga dengan kuat.
Rendy mrnyeringai dengan sinisnya melihat perlakuan Nabila terhadap Rangga.
"Biar aku yang mengantar mu pulang Bil". Rendy mencoba memegang tangan Nabila".
"Jangan sentuh aku!!". Nabila kembali berteriak.
Lisa dan Maya segera menghampiri Nabila dan membawa Nabila pergi dari hadapan kedua pria itu.
"Ayo Bil, kita pulang Mang Diman sudah ada di depan". Lisa merangkul pundak Nabila".
Nabila dan kedua sahabatnya berjalan keluar area parkir , Nabila tersadar ternyata dari tadi banyak yang menonton perkelahian itu, di Area parkir masih banyak siswa-siswi yang berdiri disana seperti sedang menonton sebuah pertunjukkan, mengarahkan pandangan mereka kepada Nabila yang tengah berjalan keluar sekolah, Nabila segera menundukkan pandangannya seolah tak mau menatap orang-orang yang ada disekitarnya.
Sepanjang jalan Nabila tak bisa menahan tangisnya, Ia merasa sangat kecewa kepada Rangga dan Rendy.
"Sudah Bil, ngga usah kamu pikirkan lagi kejadian tadi". Maya memeluk Nabila.
"Aku ngga habis pikir hikkss.. sama mereka, kenapa hanya hikkss..gara-gara aku mereka berantem seperti itu". Ucap Nabila terbata menahan tangisnya. Nabila menyeka air mata yang membasahi pipinya. Maya mengusap-usap punggung Nabila.
"Sabar Bil, mungkin mereka sama-sama tidak ingin kehilangan kamu. Cuma cara mereka aja yang salah". Tutur Lisa menoleh kebelakang karena Lisa duduk di depan samping mang Diman.
"Iya Bil, aku yakin mereka berdua sangat menyayangi mu ". Maya kembali mengusap-usap punggung Nabila yang ada dalam dekapannya membuat seragam gadis itu ikut basah.
Setelah beberapa menit kemudian sampailah di rumah Nabila. Ketiga gadis itu mengganti seragam mereka. Lisa dan Maya memakai baju milik Nabila. Mereka mencoba menenangkan Nabila dan berusaha membuat Nabila melupakan kejadian di sekolah tadi. Untung saja hari ini Nabila sudah mulai cuti sampai Ujian Nasional berakhir jadi dia tidak harus buru-buru ke restoran , Nabila bisa bersantai dengan kedua sahabatnya dan berbincang-bincang asyik di kamarnya.
Triiing..
Ponsel Nabila berbunyi, ada tanda pesan masuk di ponsel itu. Nabila bergegas mengambil ponselnya yang Ia letakkan di atas meja belajar. Nabila segera membuka pesan itu , kedua sahabat Nabila merapatkan duduknya dengan posisi Nabila berada ditengah-tengah mereka.
"Ayo cepet Bil, buka". Maya sudah tidak sabar melihat siapa yang mengirimi Nabila pesan.
"Iya ayo Bil, cepat buka". Lisa menimpali.
"Baiklah". Nabila memulai membuka pesannya ternyata itu pesan dari Rangga.
Rangga: Nabila, aku maafkan aku atas kejadian tadi di sekolahmu. Aku hanya tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain.
"Aaaaa So sweet sekali". Ucap Lisa dan Maya bersamaan.
"Ayo cepet Bales Bil". Maya sudah tidak sabar melihat apa balasan yang akan diberikan Nabila kepada Rangga.
"Aku ngga akan bales pesannya". Ucap Nabila sambil menoleh ke kanan dan kiri kearah kedua sahabatnya.
Hanya selang beberapa menit ponsel Nabila kembali berbunyi". Ternyata itu pesan dari Rannga.
**Rangga: Kenapa kamu tidak balas pesanku?".
Rangga: kamu masih marah??".
Rangga: Nabil, balas pesanku jangan buat aku galau begini**.
Nabila tak membalas satu pun pesan dari Rangga. Dia meletakkan hp nya sembarang di atas kasur. Kedua sahabat Nabila sangat mengerti perasaan Nabila saat ini, mereke berdua hanya bisa mendukung apa yang terbaik buat Nabila. Tiba-tiba Hp Nabila kembali berbunyi dan kali ini adalah video call dari Rangga. Namun Nabila tak berniat mengangkatnya hingga hp nya berkali-kali bunyi.
"Bil, apa ngga sebaiknya kamu angkat dulu, dengerin penjelasan Rangga Bil". Ucap Lisa mengusap pundak Nabila yang berada ditengah-tengah dirinya dan Maya. Nabila hanya menggeleng.
"Kalau aku jadi kamu pasti aku seneng banget Bil direbutin dua cowok ganteng, sampe segitunya mereka sayang sama kamu". Maya senyum-senyum sendiri.
"Husst.." .Lisa menjitak Maya mengisyaratkana Maya untuk tak lagi membahas Rangga dan Rendy.
Ketiga gadis itu memulai membaca-baca buku-buku pelajaran karena besok mereka masih Ujian Nasional sambil sesekali berbincang-bincang hangat sampai pada akhirnya mereka ber tiga ketiduran. Mereka tidur bertiga di kasur Nabila dengan posisi yang tak beraturan. Dengan buku-buku yang berserak di sekitar mereka.
__ADS_1
Mereka terbangun saat hari sudah mulai sore. Mereka bergegas membersihkan diri dan pamit pulang setelah mang Diman menjemput Lisa dan Maya.
---------
Kediaman Rangga Pramudita.
"Bi Minah tolong panggilkan Rangga kemari!!". Perintah tuan besar Angga dengan Wajah merah padam seperti sedang menahan Amarah.
"Baik tuan besar". Bi Minah membungkukkan badannya dan bergegas menuju kamar Rangga.
"Sabar Pa, papa harus tenang ngadepin Rangga". Ucap Nyonya Rani yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sedangkan Tuan besar Angga masih berdiri menunggu kedatangan Rangga dengan menatap Jendala kaca yang cukup besar yang menampakkan pemandangan halaman belakang rumah.
Ruangan yang begitu luas , dengan sofa mewah di dalamnya, permadani paris yang berharga sangat mahal dan beberapa furniture produk high class di setiap sisinya menambah kesan mewah ruangan itu. Desain ruangan yang minimalis menambah kenyamanan dan kehangatan disana.
Tak lama kemudian Rangga dengan malas memasuki ruang keluarga. Rangga membanting tubuhnya di sofa di samping Nyonya Rani. Rangga duduk dengan asal kepalanya menyandar di sofa dengan kedua tangan dibelakang menyangganya.
"Duduk lah yang benar Rangga". Nyonya Rani megusap pelan rambut Rangga.
Ada Apa lagi sihh ini, ngga tau orang lagi galau. sungut Rangga sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kamu lihat ini.!!".Tuan Besar melempar ponselnya kepada Rangga yang segera menangkapnya dengan sigap.
Mata Rangga membulat sempurna, dilihatnya rekaman video saat dirinya dan Rendy berkelahi menjadi trending topik di Media sosial. Bagaimana tidak Rangga adalah anak dari orang terpandang, pengusaha nomer satu di negeri ini , sehingga tidak heran jika setiap aktivitas keluarga ini menjadi sorotan masyarakat.
Rangga melihat berbagai sumber berita menjadikannya headline dengan pemberitaan yang simpang siur, melesat jauh dari kenyataannya.
"Sialan..!!, kerjaan siapa ini". Umpat Rangga.
"Bisa kau jelaskan itu semua kepadaku!!". Tanya Tuan besar Angga dengan Nada penuh emosi.
"Pa ini tidak seperti yang diberitakan di media pa". Rangga mencoba menjelaskan.
"Apa Kau bilang?!". PLAAAAKK.!! .Tuan besar Angga menampar Rangga dengan sangat keras.
"Papa..".Nyonya besar Rani berteriak merasa tidak tega melihat anak kesayangannya diperlakukan seperti itu. Rangga hanya menundukkan kepalanya sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Kalau kau tidak berulah begajulan seperti jagoan pasar, tidak akan ada pemberitaan macam itu!!". Ucap tuan besar Angga penuh emosi sambil menunjuk kasar wajah Rangga dengan telunjuknya.
Rangga masih memilih diam , karena dia merasa dia memang salah dalam hal ini.
"Kau sudah mencoreng nama baik keluarga, kau sudah membuat malu keluarga ini. Dimana etikamu Rangga?!!, Dimana kehormatanmu?!!, Dimana harga dirimu?!!. Sulut Tuan besar Angga berapi-api.
"Maafkan Rangga Pa". Ucap Rangga lirih.
"Maaf kau bilang setelah kau melakukan itu semua!!. Lihat kau menjadi trending topik bahkan sampai ke luar negeri. Semua media memberitakan mu bodoh!!. Ucap tuan besar Angga dengan nada setengah berteriak.
"Mulai besok Leon akan menjadi asisten pribadimu lagi.!!". Ucap Tuan besar Angga penuh penekanan.
Leon adalah pemuda berumur 28th yang menjadi salah satu orang kepercayaan Tuan besar, selain karena kinerja yang bagus, Leon juga mempunyai daya ingat yang jempolan, Kemampuan observasi yang mumpuni, Analisis deduktif , mampu menginterogasi orang yang paling bungkam sekalipun, dan yang terpenting paham dengan bahasa tubuh.
Kemampuan Leon tidak beda jauh dengan kemampuan yang dimiliki Dion, Asisten pribadi sekaligus tangan kanan Tuan besar Angga.
Dulu Leon sempat menjadi Asisten pribadi Rangga namun Rangga merasa risih dengan kehadiran Leon yang seperti menjadi bayang-bayang dirinya, kemanapun Ia pergi Leon selalu ada di sisinya. Sampai akhirnya Rangga memohon kepada Tuan besar untuk menyuruh Leon bekerja saja di kantor pusat. Rangga merasa masa mudanya terikat, Ia tidak bebas melakukan apa yang Ia mau. Maklum umur Rangga saat itu masih 19th, ya tepatnya 2th yang lalu.
Rangga berdalih jika Ia masih kuliah dan Ia masih belum memegang perusahaan atau bisnis-bisnis milik keluarganya, jadi Ia tidak memerlukan asisten pribadi yang selalu mengikutinya.
Alasan Rangga itu diterima oleh tuan besar Angga, Ia diperbolehkan tidak memakai asisten pribadi sampai Ia lulus kuliah. Setelah itu Ia harus bertanggung jawab atas semua perusahaan dan semua bisnis keluarga Pramudita jadi mau tidak mau Ia harus memiliki asisten pribadi.
Dan sekarang Tuan besar meminta Leon jadi asisten pribadi Rangga kembali, membuat Rangga merasa sangat kesal. Tapi mau bagaimana lagi Rangga tidak mungkin membantah perintah tuan besar, mengingat baru saja Ia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Rangga hanya bisa berpasrah.
"Kau bereskan sendiri ini semua malam ini juga!!". Ucap Tuan Angga menunjuk berita-berita di ponselnya kemudian pergi meninggalkan Ruang keluarga.
"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi". Nyonya Rani mencoba meminta penjelasan dari Rangga.
"Tidak ada ma, nanti Rangga akan membereskan kekacauan ini". Rangga pergi meninggalkan Nyonya Rani.
Rangga memasuki kamarnya dan membanting tubuhnya di atas kasur miliknya. Rangga meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Hallo Leon". Rangga menghubungi Leon.
"Hallo Tuan muda, ada apa?".Jawab Leon diujung telfon.
"Ngga usah pura-pura **** lo yon, lo pasti udah tau semua kan kekacauan hari ini". Seloroh Rangga.
"Tentu Tuan muda". Jawab Leon singkat.
"Lo bereskan malam ini juga yon, dan lo cari siapa yang udah nyebarin video itu habisin dia". Perintah Rangga kepada Leon.
"Baik Tuan muda".
"Gue mau besok sudah bersih yon, tidak ada lagi pemberitaan tentang gue ataupun Nabila". Ucap Rangga.
"Tunggu deh, lo tau kan Nabila siapa?". Tanya Rangga. Karena Rangga yakin Leon sudah tau semua tentang Nabila. Ya begitulah Leon walaupun dia tidak pernah bersama tuan mudanya tapi Leon bisa tau semua apa yang dilakukan tuan mudanya itu.
Leon memiliki orang-orang kepercayaan yang bertugas mengikuti semua kegiatan Rangga tanpa Rangga tahu dan tanpa membuat Rangga terganggu dan merasa tidak nyaman . Entah bagaimana caranya hanya Leon dan timnya serta Tuhan yang tahu.
"Tentu Tuan muda". Jawab Leon singkat.
"Bagus deh, jadi gue tidak usah capek-capek jelasin ke Lo" . Ucap Rangga.
"Hehehe". Leon terkekeh.
"Yon apa ANGGA PRAMUDITA sudah kasih tau lo kalau besok lo kembali jadi asisten gue". Rangga sengaja menyebut namanya saja karena Ia merasa sangat kesal terhadap papanya itu.
"Sudah Tuan muda". Jawab Leon.
"Cepat banget si ANGGA bergerak". Gumam Rangga lirih yang masih bisa didengar oleh Leon diseberang sana, Leon hanya tersenyum melihat kelakuan tuan mudanya itu.
"Ya sudah yon gue ngantuk mau tidur dulu". Rangga segera memutus sambungan telfonnya.
__ADS_1