Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode9 Bintang Jatuh


__ADS_3

Satu minggu berjalan begitu cepat, masa-masa tegang menghadapi Ujian Nasional berangsur menghilang, berganti dengan masa-masa yang tak kalah mencemaskan yaitu menunggu hasil Ujian Nasional dan pengumuman kelulusan.


Semua siswa-siswi kelas 3 SMA belajar di rumah sampai waktu itu tiba, waktu dimana hasil Ujian Nasional dan pengumuman kelulusan itu keluar. Ada sebagian siswa-siswi yang masih sibuk datang ke sekolah untuk mengurus hal-hal penting atau bahkan hanya untuk melepas kangen bersama teman-temannya. Namun tidak dengan Nabila , Ia memilih untuk belajar di rumah saja untuk mempersiapkan diri mengikuti serangkaian tes program beasiswa fakultas kedokteran yang akan diikutinya. Besar harapan Nabila untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut walaupun kemungkinannya sangat kecil tapi itu tak menyurutkan semangatnya untuk mengikuti program beasiswa itu.


Selain itu Nabila sudah mulai kembali bekerja setelah satu minggu cuti karena mengikuti Ujian minggu lalu. Hubungan nya dengan Rangga dan Rendy bisa dikatakan sudah membaik pasca kejadian perkelahian waktu itu, Rangga masih setia mengirimi pesan kepada Nabila walaupun kadang hanya dapat balasan singkat dari Nabila. Rangga memang sengaja tidak mau mengganggu Nabila saat sedang menghadapi Ujian Nasional jadi Rangga hanya sekedar ingin tahu kabar Nabila , itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Begitu juga denga Rendy, Rendy memang ingin memberikan waktu kepada Nabila untuk fokus belajar dalam menghadapi ujian, jadi Ia hanya sesekali mengirimi Nabila pesan singkat.


Nabila terlihat sangat sibuk menyambut dan melayani pengunjung restoran yang membludak hari ini. Rangga yang sedari tadi memperhatikan Nabila merasa iba melihat gadis itu harus bekerja keras untuk kehidupannya dan adiknya. Rangga menghampiri Nabila yang hendak menuju dapur.


"Haii apa kabar?". Tanya Rangga sambil mengulum senyum terbaiknya.


"Baik Tuan". Nabila menundukkan kepala dan tersenyum tipis.


"Kamu terlihat sangat lelah". Ucap Rangga menatap wajah Nabila.


"Hanya sedikit lelah tuan". Jawab Nabila masih tetap menundukkan kepalanya.


"Nanti pulangnya aku antar ya, kamu pulang jam 7 kan?, tinggal setengah jam lagi." Rangga melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Maaf tuan, tapi saya bawa motor".


"Motor kamu biar si Leon yang bawa".


"Leon?". Nabila mengernyitkan dahinya.


"Iya Leon, Ohh kamu belum aku kenalin ya sama Leon?, Aku lupa tunggu biar aku hubungi dulu dia". Rangga mengambil ponsel di saku celananya dan mulai menghubungi Leon yang sedang bekerja di ruangannya.


"Yon lo kesini sebentar , ke depan , cepet gue tunggu". Ucap Rangga lalu lansung memutus panggilan telfonnya.


"Baik tuan". Jawab Leon diujung telfon.


Tak berapa lama Leon pun sudah datang dan berdiri di belakang Rangga.


"Bil, kenalin ini Leon asisten pribadiku". Rangga memperkenalkan Leon kepada Nabila.


"Leon". Leon membungkukkan badannya lalu mengulurkan tangannya.


"Nabila". Nabila menjabat tangan Leon.


Ooo Jadi orang yang bersama Rangga sejak pagi itu asisten pribadinya. Batin Nabila.


"Sekarang kamu udah kenal kan, jadi biar Leon yang bawa motor kamu, kamu pulang ikut mobilku". Ucap Rangga.


"Baik tuan". Nabila mengangguk.


"Ya sudah kamu selesaikan dulu pekerjaanmu nanti aku tunggu kamu di depan ya". Rangga mengulum senyum. Hatinya sangat senang akhirnya setelah satu minggu Ia bisa ngobrol berdua lagi dengan Nabila.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.10 , sebagian karyawan yang masuk lebih awal bersiap-siap untuk pulang termasuk Nabila. Nabila sedang mengambil tas dan ponselnya di loker. Entah kenapa hatinya merasa senang bisa bertemu dan ngobrol dengan Rangga lagi.


Nabila berjalan menuju pintu depan terlihat Rangga sudah menunggunya. Nabila jadi merasa tidak enak hati sudah membuat bos nya itu menunggu.


"Maaf tuan, sudah buat tuan menunggu". Nabila menundukkan Kepala.


"Tidak masalah". Jawab Rangga tersenyum tipis.


"Tunggu sebentar ya, Leon lagi ambil mobil". Sambung Rangga. Nabila menganggukkan kepalanya.


"Itu dia". Mata Rangga mengarah ke mobil yang sedang menghampiri mereka. Tak berapa lama Leon pun turun dari kemudi dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Rangga.


"Kunci mobil kamu mana Bil?, Kasih ke Leon biar dia yang bawa motor kamu". Ucap Rangga kepada Nabila. Nabila mengambil kunci motornya di dalam tas yang Ia kenakan kemudian memberikannya kepada Leon.


"Yon nanti lo langsung cabut aja ya, soalnya gue mau makan malam dulu". Rangga menepuk bahu Leon.


"Baik Tuan muda". Leon membungkukkan badannya.


"Ya sudah gue cabut dulu yon, lo hati-hati bawa motornya jangan sampe nabrak, tunggu lo bisa kan yon bawa motor". Rangga terkekeh meledek Leon.


"Bisa tuan , tuan muda tidak usah khawatir". Leon tersenyun tipis.


Rangga dan Nabila masuk ke dalam mobil yang ada di hadapan mereka, kemudian Rangga langsung memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Leon masih berdiri mematung sampai mobil yang ditumpangi Rangga benar-benar menghilang dari pandangannya.


Suasana malam yang begitu ramai memadati jalanan ibu kota, namun tidak dengan suasana di dalam mobil Rangga yang terlihat sunyi sepi, tidak ada suara apa pun yang keluar dari kedua orang yang ada di dalamnya. Keheningan terus berjalan sampai pada akhirnya Nabila menyadari jalanan yang sekarang dilalui bukanlah jalan menuju rumahnya.


"Maaf tuan, kita mau kemana?, Ini kan bukan jalan pulang ke rumahku?". Nabila menoleh ke arah Rangga.

__ADS_1


"Kok tuan sih, ini kan lagi ngga di tempat kerja , biasanya kamu manggil aku mas Rangga". Rangga tidak menjawab pertanyaan Nabila.


"Maksudku mas Rangga". Nabila meralat ucapannya.


"Nah gitu dong, gitu kan enak didengernya". Rangga tersenyum lebar mendengar panggilan mas dari Nabila.


"Kamu belum jawab pertanyaanku mas". Ucap Nabila.


"Kita mau makan malam dulu, ini udah waktunya makan malam". Tutur Rangga tanpa menoleh Nabila, matanya fokus ke arah depan kemudi.


"Tapi Mas, Aditya....". Belum sempat Nabila melanjutkan ucapannya Rangga sudah memotongnya.


"Nanti Aditya aku orderin biar dia bisa langsung makan tanpa harus nunggu kita pulang". Sepertinya Rangga sudah paham arah ucapan Nabila itu.


"Ya sudah kalau begitu". Nabila pasrah.


Mobil Rangga memasuki area parkir yang nampak begitu ramai, parkirannya saja penuh sudah pasti pengunjungnya ramai padahal ini bukan weekend pikir Rangga.


Nabila seperti mengenali tempat ini Ia mencoba mengingat tempat ini dan benar saja ini adalah bukit cinta yang pernah Ia kunjungi bersama Rangga beberapa waktu yang lalu.


Loh ini kan bukit cinta, yang waktu itu aku dan Rangga kesini. Sepertinya ini adalah salah satu tempat favorit Rangga. Batin Nabila.


Rangga dan Nabila turun dari mobil dan memasuki restoran , dan memang benar tempatnya ramai sekali pengunjung , Rangga dan Nabila sampai bingung mencari meja kosong, beruntung mereka di bantu salah satu pelayan , akhirnya mereka dapat meja kosong di ujung yang berhadapan langsung dengan bukit cinta. Mereka segera memesan menu yang ingin mereka makan, setelah beberapa saat makanan yang mereka pesan pun datang mereka mulai menyantapnya.


"Aku sudah orderin makanan buat Aditya Bil". Ucap Rangga sambil menatap layar ponselnya.


"Iya makasi banyak mas". Jawab Nabila sambil memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. Tidak butuh waktu lama keduanya telah menghabiskan makanan mereka.


"Sebelum pulang kita kesana yukk". Rangga menunjuk ke arah bukit cinta.


"Boleh juga". Jawab Nabila singkat.


Rangga dan Nabila berjalan menuju bukit cinta, Rangga menggandeng tangan Nabila namun Nabila melepaskan tangannya dari Rangga. Mereka mencari tempat yang pas untuk bisa melihat pemandangan malam ibu kota dari atas sana. Nabila mengembangkan senyumnya melihat pemandangan ibu kota yang begitu indah jika dilihat dari atas sana, ditemani bintang-bintang yang bertaburan menghiasi pekatnya langit malam membuat pemandangan menjadi lebih sempurna.


Emang keren banget ni tempat, ngga salah kalau ini jadi salah satu tempat favorit mas Rangga. Gumam Nabila dalam hati.


"Bil, kamu masih marah sama aku?". Rangga meraih tangan Nabila.


"Aku sudah maafin mas Rangga kok, aku juga sudah lupain semua kejadian itu". Jawab Nabila sambil menatap langit diatasnya.


"Makasi ya". Rangga mengecup punggung tangan Nabila yang sedari tadi Ia genggam.


Nabila tersipu malu , pipinya memerah untung saja pencahayaan di bukit cinta temaram jadi Rangga tidak akan melihat pipinya yang memerah.


"Oiya kamu sudah mulai daftar program beasiswa yang waktu itu kamu bilang?". Tanya Rangga.


"Kemarin sih aku udah mulai daftar, tapi untuk tes seleksinya masih sekitar 1 mingguan lagi, itu juga baru seleksi tahap awal".


"Semoga kamu berhasil ya". Rangga mengusap lembut rambut Nabila.


"Aamiin". Jawab Nabila singkat.


Disaat mereka sedang asyik berbincang bincang tiba-tiba mereka melihat fenomena alam yang sangat menarik perhatian mereka. Sebuah benda dari langit melesat jatuh dengan memancarkan cahaya terang yang begitu indah. Bintang jatuh itu yang biasa orang menyebutnya . Nabila dan Rangga segera memejamkan matanya dan berdoa di dalam hati tentang apa yang mereka inginkan.


"Lihat Bil, itu bintang jatuh". Rangga menunjuk benda yang melesat indah tepat di atas mereka.


"Wahh indah sekali". Nabila tersenyum senang.


"Apa kamu percaya dengan mitos bintang jatuh?, Kalo aku sih ngga percaya". Ucap Rangga.


"Aku juga ngga percaya". Ucap Nabila.


Mereka bilang tidak percaya dengan mitos bintang jatuh yang konon katanya doanya akan dikabulkan saat kita berdoa pada saat bintang jatuh terjadi namun mereka berdua diam-diam memanjatkan doa kepada Tuhan Nya. Memang terlihat konyol tapi apa salahnya di coba , pikir mereka.


Ya Tuhan satukanlah aku dengan wanita yang ada disampingku ini, wanita yang sangat aku cintai Aamiin. Rangga berdoa dalam hati sambil memejamkan matanya.


Ya Tuhan semoga suatu saat nanti aku bisa hidup bahagia dengan seorang laki laki seperti sosok pangeran impianku Aamiin. Nabila berdoa dalam hati sambil memejamkan matanya.


Mereka berdua kembali berbincang bincang, banyak sekali yang mereka bicarakan dari mulai masalah pekerjaan, sekolah, dan hal hal lainnya. Tak terasa hari sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk segera pulang.


Setelah sampai di rumah Nabila, Rangga keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Nabila.


"Ini udah malam, aku pulang dulu ya. Good night, mimpi indah ya". Rangga membelai lembut indah Nabila tak lupa tatapan sayang yang menatap lekat wajah Nabila.

__ADS_1


"Makasi mas , kamu hati-hati ya". Nabila mengulum senyum indah di wajahnya.


"Bye". Rangga melambaikan tangan kemudian melajukan mobilnya.


"Bye". Nabila melambaikan tangannya menuggu sampai mobil Rangga menghilang dari pandangannya.


Nabila berjalan menuju pelataran rumahnya, warna warni bunga-bunga yang terawat menambah kesan sederahana nan indah rumah itu. Harum bunga yang semerbak menusuk indra penciumannya.


Nabila memasuki rumahnya dan berjalan menuju ruang tv, mencari keberadaan Aditya dan benar saja adik bontotnya itu sedang berbaring di sofa ruang tv menonton film action kesukaannya.


"Dit, apa kamu sudah makan?". Nabila menghampiri Aditya dan duduk dibawah sofa yang dilapisi permadani berwarna merah dengan motif bunga-bunga.


"Sudah kak, tadi ada yang antar makanan. Katanya yang order atas nama kak Rangga". Aditya bangkit dari posisinya dan duduk dibawah samping Nabila


"Syukurlah kalau begitu". Ucap Nabila.


"Emang kakak darimana?, Kak Rangga tidak buat masalah kan kak?!". Tanya Aditya menyelidik.


"Ngga kok dit, tadi kita cuma mampir makan malam saja". Nabila mengacak-acak puncak kepala Aditya.


"Oiya tadi kak Leon juga udah nganterin motor kakak". Ucap Aditya.


"Kamu kenal Leon?, Dimana?, Kakak aja baru tau tadi". Nabila menatap wajah Aditya.


"Adit dikenalin kak Rangga waktu kak Rangga terakhir kesini".


"Oo yang waktu itu ya, ya sudah kakak mau mandi dulu , kakak juga belum sholat isya. Kamu sudah sholat isya belum dit?". Nabila beranjak dari duduknya lalu menuju kamarnya.


"Sudah kak". Jawab Aditya singkat dengan mata yang masih menatap layar tv di depannya.


Nabila bergegas mandi setelah itu Ia menunaikan shalat isya yang belum Ia kerjakan, hati dan pikiran Nabila terasa lebih tenang setelah melakukan kewajibannya, mencurahkan semua isi hatinya , berkeluh kesah kepada Tuhan Sang Penguasa hidup ini.


Setelah itu Nabila duduk di meja belajarnya membuka buku-buku pelajarannya , membaca dan mengisi beberapa soal-soal latihan, Nabila ingin mempersiapkan dengan baik untuk menghadapi seleksi program beasiswa yang akan Ia ikuti.


Nabila melirik jam beker kecil yang ada diatas meja belajarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB sudah malam ternyata pantas saja dari tadi Ia tak berhenti menguap.


Nabila membereskan buku-bukunya lalu Ia merebahkan dirinya di atas kasur, menarik selimutnya menutupi sebagian badannya. Entah kenapa saat Ia hendak memejamkan matanya terlintas bayangan dirinya saat bersama Rangga. Senyum tipis tersungging di bibirnya, Nabila tidak mengerti dengan apa yang Ia rasakan, kadang Ia memang membenci Rangga karena selalu memaksanya, sikapnya yang angkuh dan arogan itu tapi kini sudah tidak Nabila rasakan lagi , sekarang Rangga yang Ia kenal adalah Rangga yang baik, penyayang dan sangat menghormati dirinya itu membuat Nabila merasa nyaman berada di dekat Rangga. Apa mungkin sudah tumbuh benih-benih cinta di hatinya?, Nabila juga tidak tahu.


Sebenarnya aku ini kenapa sih, hatiku kenapa sesenang ini setelah jalan bareng mas Rangga, aku merasa nyaman deket sama mas Rangga, isshhh aku ini kenapa. Nabila menggeleng gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran yang memenuhi kepalanya itu.


Akhirnya Nabila terlelap dalam tidurnya ditemani dengan pikiran yang masih bergelut dengan bayangan-bayangan saat dirinya bersama Rangga.


***


Di Kediaman Pramudita


Sepertinya hal yang sama juga dirasakan oleh Rangga. Pemuda itu terlihat senyum senyum sendiri sejak pulang dari rumah Nabila.


Rangga merasa sangat bahagia akhirnya dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Nabila, ya walaupun Nabila masih belum memberikan jawaban atas perasaannya , setidaknya Nabila sudah tidak marah lagi padanya dan Nabila sudah mau menerima ajakannya walaupun sekedar makan malam.


Drttt...Drrrttt...


Ponsel Rangga bergetar dari dalam saku celananya. Rangga sengaja mengatur mode silent pada ponselnya saat bersama Nabila tadi karena Ia tidak mau kalau kebersamaannya bersama Nabila yang sudah Ia rindukan itu terganggu oleh panggilan atau pun pesan masuk di ponselnya.


"Hallo, ngapain lo telfon gue malam malam begini, ganggu orang aja lo". Sungut Rangga menjawab panggilan di ponselnya.


"Yaelah, gitu amat lo bro". Sahut Alan diujung telfon. Yang menelfon ternyata Alan.


"Lo seharian kemana bro?, Gue cari cari dikampus ngga ada". sambung Alan.


"Kenapa lo kangen sama gue?". Rangga terkekeh.


"Idih Amit Amit gue kangen sama lo, gue masih normal kali bro". Sungut Alan.


"Itu lo nyariin gue terus". Rangga terus saja menggoda Alan.


"Ya gue penasaran aja lo kemana, kan harus nya lo ada kelas siang kan hari ini". Ucap Alan.


"Kepo lo, udah ah gue ngantuk. Buang buang waktu gue ajo lo". Ucap Rangga lalu memutus ponselnya.


Tuuuuuuuuuttt.....


"Sialan ni bocah malah dimatiin". Sungut Alan.

__ADS_1


__ADS_2