
Nyonya Dina berkali kali mengetuk pintu kamar Rendy dan memanggil namanya namun tak ada jawaban dari dalam kamar membuat nyonya Dina gusar.
"Rendy, nak kenapa kamu belum turun nak?, ayo kita sarapan nak". Tutur nyonya Dina dengan nada sedikit berteriak berharap putra sulungnya itu akan keluar dari kamarnya.
Tak ada jawaban juga, nyonya Dina mencoba lagi mengetuk pintu kamar Rendy hasilnya nihil juga.
Ia berjalan cepat menuruni tangga untuk meminta bantuan, hatinya sudah tidak tenang, pikirannya sudah tak karuan membayangkan hal yang tidak tidak.
"Papa, coba dobrak pintu kamar Rendy pa". Teriaknya saat sudah berada di lantai bawah berjalan menuju ruang makan sambil terus berteriak memanggil suaminya.
Tuan Yudha yang mendengar istrinya berteriak teriak memanggil namanya segera menyudahi sarapannya, meletakkan pisau dan garpu di atas piringnya lalu meneguk air putih hingga hampir habis satu gelas.
Lalu beliau beranjak dari meja makan setelah meletakkan kembali gelas yang berisi air putih itu ke tempat semula.
baliau segera berlari menghampiri istrinya yang hendak menemuinya.
"Ada apa ma?". Tanya tuan Yudha panik.
"Pa, Rendy tak menjawab mama pa, mama takut terjadi apa apa". Nyonya Dina sudah cemas wajahnya begitu panik dan sedih.
"Mama tenang ya, mari kita lihat". Tuan Yudha menjentikkan jarinya kepada salah satu pelayan memintanya untuk memanggil security rumahnya.
Tuan Yudha dan nyonya Dina tergopoh gopoh menaiki tangga, setelah sampai di depan kamar Rendy mereka mencoba memanggil dan mengetuk pintu berkali kali namun masih belum ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, dua orang laki laki paruh baya berbadan tegap dengan seragam serba hitam datang menghampiri tuan Yudha dan nyonya Dina.
"Tuan, apakah tuan memanggil kami?, Ada yang bisa kami bantu tuan?". Tanya salah satu security setelah membungkuk hormat.
"Dobrak pintu ini cepat!". Titahnya, tak menunggu waktu lagi dua security itu mendobrak pintu kamar Rendy dengan kuat, dorongan ke tiga pintu bercat hitam itu baru bisa terbuka.
Nyonya Dina dan tuan Yudha segera berlari memasuki kamar Rendy yang telah betantakan, membuat mereka benar benar syok dibuatnya pasalnya Rendy adalah anak yang rapi, tapi lihatlah saat ini kamarnya sangat berantakan.
Tunggu ada banyak darah bercecer di lantai membuat nyonya Dina lemas seketika, tubuhnya seperti tak bertulang dengan segera beliau dan suaminya mencari cari keberadaan putra semata wayangnya.
Dan astaga!!, dia terduduk lemas di sudut walk in closet dengan kedua tangan yang bersimbah darah, penampilannya sangat berantakan wajahnya dipenuhi air mata hingga membuat bola matanya memerah, sembab dan menyipit.
Tatapannya kosong menatap foto besar seukuran poster, foto dirinya dan Nabila sedang tersenyum bahagia, nyonya Dina sangat iba melihat kondisi putra nya saat ini, bulir bening itu mengalir begitu saja di wajah cantik yang sudah terdapat garis garis kerutan.
Nyonya Dina menghambur memeluk putranya, menciumi wajahnya yang teramat sedih dan kacau.
Sementara tuan Yudha berlari mengambil kotak obat di lantai bawah.
"Nak kamu kenapa?". Tanya nyonya Dina sambil menangis, tidak bisa lagi menahan tangisnya melihat kondisi putranya yang sangat kacau dan memprihatinkan.
Rendy hanya membisu, air mata itu masih keluar dari mata sembabnya.
Nyonya Dina menyapu air mata itu dengan kedua ibu jarinya, "katakanlah sayang kamu kenapa nak?". Tanya nyonya Dina lagi, sebenarnya dia sudah tahu alasan Rendy bisa seperti ini tentu saja karena gadis yang putranya cintai akan menikah dengan orang lain.
Tak berapa lama tuan Yudha sudah kembali dengan membawa kotak obat diikuti beberapa pelayan yang ia minta untuk membereskan dan membersihkan kamar Rendy, nyonya Dina segera meraihnya mencari obat dan perban untuk membalut luka di kedua tangan Rendy.
Nyonya Dina membalut luka itu dengan sangat hati hati.
"Apa kau seperti ini karena gadis itu akan menikah?". Tanya tuan Yudha geram.
Rendy tetap membisu, hanya menatap sekilas tuan Yudha yang berdiri di hadapannya dengan kedua ekor matanya.
__ADS_1
"Papa kan sudah bilang dari dulu lupakan gadis itu!". Teriaknya membuat Rendy dan nyonya Dina tersentak.
Kedua orang tua Rendy memang tahu betul bagaimana terobsesinya Rendy kepada Nabila, lihat saja kamarnya dipenuhi dengan foto gadis itu dengan dirinya.
Kedua orang tua Rendy tidak membenci Nabila, tidak. Mereka tahu kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan, cinta datang dengan sendirinya tidak bisa di perintah untuk datang kepada siapa dan memilih siapa.
Namun kedua orang tua Rendy hanya iba melihat putranya berjuang selama bertahun tahun untuk mendapatkan cinta Nabila yang tak kunjung di dapatnya, berulang kali kedua orang tuanya menyuruh Rendy untuk melupakan gadis itu namun Rendy selalu murka jika disuruh melupakan gadis itu.
Mereka juga telah mengenal Nabila, karena dulu beberapa kali gadis itu pernah datang ke rumah mereka bersama dengan Lisa dan Maya, mereka akui Nabila adalah gadis yang baik, pantas saja jika Rendy sangat mencintai gadis itu namun sayangnya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Berulang kali juga nyonya Dina mencoba mengenalkan Rendy kepada anak anak dari teman temannya namun Rendy tidak pernah tertarik, padahal anak anak dari teman temannya itu cantik cantik bahkan bisa dibilang lebih cantik dari Nabila, ahh lagi lagi cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Nyonya Dina telah selesai membalut luka di tangan Rendy, kini ia membantu putranya dan memapahnya menuju tempat tidur di bantu tuan Yudha tentunya.
"Nak, kamu sarapan dulu ya nanti mama akan telefon dokter Bara untuk memeriksamu". Nyonya Dina merapikan rambut Rendy yang terlihat sangat berantakan.
Rendy masih membisu.
"Mbak tolong bawakan sarapan Rendy kemari ya". Ucap nyonya Dina kepada salah satu pelayan yang usianya muda yang kini sedang membereskan kamar Rendy.
Pelayan itu mengangguk kemudian bergegas keluar dari kamar Rendy turun untuk mengambil sarapan untuk tuan mudanya.
"Buang semua foto foto itu!". Titah tuan Yudha kepada beberapa pelayan yang masih sibuk membereskan kamar Rendy.
Pelayan itu mengangguk mengiyakan, namun dengan sigap Rendy berdiri dengan sisa tenaganya ia berkata.
"Jangan lakukan itu pa!". Ucapnya kesal.
"Cihh, bahkan saat kondisi kamu yang sudah menyedihkan seperti ini kamu masih belum mau melupakannya!". Kesal tuan Yudha, beliau benar benar tidak habis pikir kenapa anaknya susah sekali di suruh melupakan gadis itu, jika foto foto itu masih berada di kamar ini tentu saja akan semakin sulit melupakannya.
Tapi entahlah, Rendy sangat keras kepala ia lebih memilih terus berada dalam kesakitan luka yang menganga di hatinya, memperjuangkan cinta yang entah kapan akan terbalas.
"Pa, biarkan saja dulu". Nyonya Dina membujuk suaminya untuk tidak membuang foto foto itu.
Tuan Yudha sangat kesal terhadap Rendy yang sangat keras kepala.
"Pa, sudahlah papa berangkat kerja saja nanti papa bisa terlambat". Tutur nyonya Dina.
Tuan Yudha melirik jam tangan miliknya, ah benar dia tidak boleh terlambat, pagi ini ada meeting penting yang tidak bisa dibatalkan.
"Rendy papa harap kamu segera melupakan gadis itu". Ujar tuan Yudha kepada Rendy.
Rendy yang kini telah duduk kembali di tempat tidurnya acuh saja dengan ucapan sang papa.
"Ma, papa berangkat kerja dulu ya mama jagain Rendy jangan sampai anak ini berbuat nekat". Ujar tuan Yudha.
"Iya pa, papa hati hati ya".
Tuan Yudha berlalu pergi meninggalkan kamar Rendy, bersamaan dengan itu masuklah seorang pelayan membawakan nampan berisi sandwich dan segelas susu hangat.
Pelayan itu meletakkannya di atas nakas lalu ia kemabali bergabung dengan pelayan yang lain membersihkan kamar Rendy.
"Nak kamu sarapan dulu ya". Nyonya Dina sudah mengambil nampan dari atas nakas dan meletakkannya di pangkuannya.
"Rendy tidak selera makan ma". Ucapnya lirih, wajahnya sudah terlihat pucat tubuhnya juga lemas mungkin karena sudah banyak mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Nak kamu harus makan, kamu ngga boleh seperti ini sayang".
"Ayo mama suapin". Imbuhnya beliau sudah menyodorkan potongan sandwich ke mulut Rendy.
Rendy menggeleng dia tidak selera makan, hidup pun ia sudah tidak ingin entahlah Rendy sudah putus asa.
Mama meletakkan kembali nampan itu ke atas nakas, beliau mulai menelpon dokter Bara untuk memeriksa keadaan Rendy.
Setelah beliau selesai menelfon dokter ia kepikiran untuk menelfon Nabila, tapi sayang beliau tidak punya nomer gadis itu mau tidak mau beliau harus meminta nomer gadis itu pada Rendy.
"Nak, mana nomer Nabila mama ingin menelfonnya".
Rendy terperanjat, ia menoleh penuh tanya kepada mamanya.
"Untuk apa mama mau menelfonnya?!". Ucap Rendy dengan nada penuh kekesalan.
"Mama mau memberitahu keadaanku yang menyedihkan ini?". Sambungnya.
"Bukan begitu nak, mama hanya ingin gadis itu tahu kondisi kamu agar dia bisa memikirkan perasaanmu, siapa tahu dia bisa membatalkan pernikahannya". Ucap nyonya Dina yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rendy.
"Ma, aku ngga mau merusak kebahagiaan Nabila, dia hanya bahagia dengan laki laki itu bukan dengan Rendy". Kata katanya terdengar menyayat hati, bagaimana bisa disaat kondisinya sekacau ini tapi dia masih memikirkan kebahagiaan gadis itu tanpa memikirkan kan betapa hancurnya dirinya sekarang.
Nyonya Dina kembali menitikan air mata, memeluk putranya dengan erat penuh kasih sayang.
"Kamu memang anak yang baik nak, mama doakan kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik, jadi mama harap lupakan gadis itu, pelan pelan saja nak tapi niatkan dalam hatimu untuk melupakannya". Rendy melepaskan pelukan mamanya.
"Kalau mama terus memaksaku untuk melupakannya mending mama keluar dari kamarku dan jangan ikut campur lagi urusanku!". Ucap Rendy penuh penekanan, membuat mamanya menghembuskan nafas berat.
"Baiklak nak, mama tidak akan memaksamu lagi, tapi mama mohon makanlah dulu kalau kamu tidak mau mama akan tetap menghubungi gadis itu". Ancamnya.
Rendy berdecak kesal, memang bukan tidak mungkin mamanya akan menghubungi Nabila, beliau akan mencari tahu sendiri nomer Nabila dari orang kepercayaannya atau bahkan bisa jadi langsung menemui Nabila.
Rendy tidak mau Nabila mengetahui kondisinya yang menyedihkan ini, Rendy tidak mau merusak kebahagiaan Nabila.
"Ya sudah aku akan makan tapi mama suapin ya". Ucapan Rendy mendapat anggukan antusias dari mamanya.
"Tentu nak". Nyonya Dina kembali meraih nampan berisi sarapan itu lalu mulai menyuapinya.
"Nak, kamu harus janji sama mama jangan berbuat nekat dan jangan berbuat seperti ini lagi". Tutur nyonya Dina.
Rendy hanya diam tak mau menjawab.
"Nak, berjanjilah". Nyonya Dina menatap Rendy penuh permohonan, bulir bening itu mengalir lagi di pipinya membuat Rendy tidak tega melihatnya.
"Iya ma". Jawab Rendy, ia hanya tidak mau melihat mamanya menangis.
"Terimakasih sayang". nyonya Dina mencium kening Rendy cukup dalam.
***
Jangan lupa like dan Vote novel ini ya kakak..
tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author..
terimakasih sudah mampir, happy reading❤️😘
__ADS_1