
Pagi itu terlihat Nabila tengah bersiap siap untuk pergi ke toko bunganya , hari ini Nabila baru akan masuk kuliah sekitar jam 10 pagi, jadi Ia masih memiliki waktu untuk mampir ke toko bunganya terlebih dahulu untuk membantu Dea disana, hari ini begitu banyak pesanan hand bouquet dan karangan standing flower , ada juga 3 pesanan papan karangan bunga yang akan dikirim besok pagi. Nabila sangat bersyukur walaupun baru beberapa hari buka tapi sudah banyak pesanan untuk setiap harinya hal itu karena selain menjual secara offline Nabila juga menjualnya secara online, terlebih lagi banyak yang menyukai karangan bunga milik Nabila yang bisa dibilang memiliki ciri khas sendiri yang tidak bisa di dapatkan di toko bunga lainnya itu menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembelinya. Nabila memang sangat lihai dalam membentuk karangan bunga hal itu Ia pelajari dari almarhumah ibunya dulu yang juga memiliki toko bunga terbesar di Jakarta kala itu.
Nabila terlihat sedang menuggu taksi yang melintas di halaman depan rumahnya, kali ini Ia terpaksa naik taksi karena motor yang biasa Ia pakai dibawa Aditya sekolah. Sesaat kemudian sebuah taksi melintas dihadapannya dengan cepat Nabila mencegat taksi itu , sang supir taksi pun menghentikan mobilnya tepat di hadapan Nabila, Nabila bergegas masuk mobil dan memberikan alamat yang dituju kepada sang sopir , tak menunggu waktu lama sopir taksi itu pun segera mengantarkan Nabila ke tempat tujuan yang tak lain adalah toko bunga miliknya.
Setelah sampai Nabila bergegas memberikan beberapa lembat uang kertas kepada sang sopir taksi dan segera turun memasuki tokonya. Tetlihat disana belum ada pengunjung karena memang masih sangat pagi, Dea pun baru saja memulai untuk membuat beberapa pesanan.
"Pagi Dea". Sapa Nabila dengan begitu ramah.
"Pagi mbak Nabila". Dea mengulum senyum ketika Nabila sudah duduk dikursi yang berada di sampingya.
"Hari ini banyak pesanan De, aku akan membantumu menyelesaikan semua pesanan untuk hari ini". Tutur Nabila.
"Iya mbak , tapi apa mbak Nabil ngga pergi ke kampus ?" .Tanya Dea dengan tangan yang masih sibuk merangkai bunga, gadis itu memang sudah terlihat cukup lihai merangkai bunga setelah beberapa kali diajarkan oleh Nabila.
"Aku baru pergi ke kampus jam 10 nanti, masih ada 2 jam lagi". Ucap Nabila dengan tangan yang sudah sibuk mencatatat beberapa pesanan online yang masuk. Ia pun segera merangkai bunga sesuai dengan pesanan masing masing pembelinya.
"Oo begitu ya". Dea membulatkan mulutnya.
"Kamu sudah sarapan belum De?" . Tanya Nabila tanpa menoleh ke arah Dea, pandangannya masih sibuk menatap bunga bunga yang tengah dirangkainya membentuk habd bouquet.
"Sudah mbak". Jawab Dea singkat.
"Oiya Dea untuk pesanan papan karangan bunga nanti siang Aditya akan membantumu membuatnya, biar besoknya pagi pagi sudah bisa dikirim ke alamat tujuan pemesan ". Ucap Nabila sambil menoleh ke arah Dea yang juga sedang sibuk merangaki bunga pesanan pembeli.
"Iya mbak".
"Dea apa kamu senang bekerja disini membantuku?". Tanya Nabila.
"Aku senang mbak bisa kerja disini, terimakasih ya mbak Nabil sudah mau menerimaku, mbak kan tahu ijazahku cuma SMA itu membuatku sangat sulit untuk mencari pekerjaan, sekarang aku sangat bersyukur bisa diterima kerja disini". Ucap Dea sambil menepiskan senyum kepada Nabila.
"Aku senang bisa membantu kamu De, aku harap kamu betah kerja disini. Kalau kamu butuh apa apa jangan sungkan katakan saja ya". Nabila menatap Dea dengan tersenyum.
"Iya mbak, mbak Nabil baik sekali, aku senang punya bos seperti mbak". Tutur Dea sambil mengulum senyumnya.
"Ah, kamu bisa aja De". Nabila sedikit tersipu atas pujian Dea.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat, Nabila harus segera mengakhiri pekerjaannya itu untuk bersiap pergi ke kampus, sebelum Ia pergi, Ia memberikan beberapa pesan kepada Dea.
"De ini semua pesanan sudah selesai, sebentar lagi akan ada kurir yang menjemputnya tolong kamu atur pengirimannya sesuai dengan alamat tujuan pemesan ya". Ucap Nabila sambil beranjak berdiri dan merapikan bajunya.
"Baik mbak, mbak Nabil hati hati ya".
"Iya, aku tinggal dulu ya De. Nanti siang Aditya akan datang membantumu". Ucap Nabila sambil berlalu meninggalkan toko. Dea hanya membalasnya dengan satu anggukan kepala.
__ADS_1
-------
Universitas Pandawa
"Haii Lis, May". Sapa Rangga yang baru saja menghampiri Lisa dan Maya yang tengah berbincang bincang di cafe kampus.
"Hai mas Rangga". Maya membalas menyapa.
"Dimana Nabila , kok dia ngga bareng kalian?". Tanya Rangga sambil menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya disana.
"Nabila belum datang, mungkin sebentar lagi". Sahut Lisa. Rangga menganggukkan kepalanya
"Apa kalian tahu tempat kerja Nabila yang baru?, Dia kerja dimana sekarang?". Tanya nya lagi.
Lisa dan Maya saling pandang dan hanya diam seribu bahasa, mereka bingung apa harus memberitahu Rangga atau tidak tentang pekerjaan Nabila yang baru. Mereka takut Nabila akan marah jika mereka memberitahu bahwa Nabila sekarang membuka toko bunga.
Rangga yang mengerti akan ekspresi kedua gadis didekatnya itu langsung memilih untuk tidak menanyakannya lagi.
"Kalian tidak mau memberitahuku?, Baiklah aku mengerti. Ya sudah kalau begitu aku cabut dulu ya". Rangga tersenyum kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Lisa dan Maya.
Tak lama dari itu tiba tiba Alan duduk diantara Lisa dan Maya, dan menanyakan keberadaan Rangga.
"Apa kalian melihat Rangga?". Tanya Alan setelah Ia mendaratkan pantatnya dikursi di hadapan kedua gadis itu.
"Benarkah, ya sudah kalau begitu. Oiya apa gue boleh minta nomer ponsel kalian?". Tanya Alan. Lisa dan Maya mengernyitkan dahinya merasa heran.
"Kalian tenang saja, gue cuma pengen berteman dengan kalian". Ucapnya sambil menyodorkan ponselnya kepada Maya dengan maksud untuk meminta Maya memasukkan nomer ponselnya disana, begitu juga kepada Lisa.
"Thanks ya". Ucap Alan lagi setelah Lisa selesai memasukkan nomer ponselnya dan mengembalikkan ponsel milik Alan.
"Oiya Lan , apa cewek yang kemarin ngobrol sama kamu dan ngikutin mas Rangga itu pacarnya mas Rangga?". Tanya Maya kepada Alan.
"Cewek yang mana maksud lo May?". Alan mencoba mencerna pertanyaan Maya.
"Cewek yang kemarin, yang katanya habis operasi plastik itu". Ucap Maya lagi.
"Maksud lo Sania?". Alan mencoba menerka nerka cewek yang dimaksud Maya.
"Iya iya cewek itu, apa benar dia pacarnya mas Rangga ?". Sahut Lisa.
"Dia bukan siapa siapanya Rangga, Sania Q amemang sudah lama naksir Rangga tapi Rangga ngga pernah nanggepin, memangnya kenapa kalian tiba tiba nanyain itu ?" . Tanya Alan penasaran.
"Kemarin dia tiba tiba labrak Nabila, ngatain Nabila pelakor. Dia juga bilang kalau dia itu pacar mas Rangga". Ucap Lisa dengan nada kesal saat teringat kejadian kemarin.
__ADS_1
"Bukan itu saja, dia juga minta Nabila jauhin mas Rangga". Imbuhnya.
"Lo seriuss ??!". Alan membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Seriuslah ngapain juga aku bohong". Lisa mencebikkan bibirnya.
"Berani sekali tu cewek, kalau Rangga tahu habis tu cewek". Ucap Alan.
"Apa maksud kamu Lan ?". Tanya Maya sambil memakan kentang goreng miliknya.
"Kalau Rangga tahu Sania labrak Nabila pasti Rangga akan buat perhitungan sama Sania, Rangga paling ngga suka kalau orang yang dia sayangi dan cintai disakitin orang lain". Jelas Alan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, mencari posisi duduk ternyaman.
"Jadi menurut kamu bagaimana perasaan mas Rangga sama Nabila?". Tanya Lisa.
"Apa mas Rangga benar benar cinta sama Nabila?". Tanyanya lagi.
"Kalau gue sih lihatnya gitu, Rangga itu tipe cowok yang tidak gampang jatuh cinta. Bahkan bisa dibilang acuh hampir sama semua cewek termasuk sama semua cewek yang ngejar ngejar dia itu". Tutur Alan.
"Tapi ngga tahu kenapa, dia sama Nabila malah jadi bucin". Imbuhnya sambil terkekeh.
"Emang mas Rangga ngga pernah jatuh cinta sebelumnya?, apa dia tidak pernah punya pacar?". Tanya Maya sambil memajukan kursi beserta dirinya, merasa sangat tertarik akan pembicaraan mereka.
"Pernah, justru gue pikir dia ngga akan bisa move on dari mantannya itu karena selalu menolak cewek yang mendekatinya, tapi sejak hadirnya Nabila gue lihat dia kembali jatuh cinta, gue rasa sihh dia benar benar tulus sama Nabila". Jawab Alan dengan penuh keyakinan.
"Penyebab mereka putus apa Lan ". Tanya Lisa.
"Karena Rangga ngga bisa jalanin hubungan jarak jauh, mereka harus LDR ketika Rangga kembali ke Indonesia". Jelas Alan.
"Maksudmu mantannya mas Rsngga itu ngga tinggal di Indonesia?, Lantas tinggal dimana dia?". Tanya Maya yang semakin penasaran.
" Jadi dulu waktu Rangga SMA kelas 1 dia sama orang tuanya tinggal di Jepang karena ada beberapa perusahaan milik orang tuanya disana, nah saat itulah Rangga pacaran dengan Seira cewek keturunan jepang tapi masih ada darah Indonesia, neneknya Seira orang Indonesia". Jelas Alan setelah menghela nafas panjang terlebih dulu.
"Ketika Rangga kelas 2 SMA orang tua Rangga harus kembali ke Indonesia begitu juga Rangga, jadi mau ngga mau ya mereka harus putus karena itu tadi , Rangga paling ngga bisa jalanin hubungan jarak jauh karena Rangga orang nya cemburuan". Imbuhnya.
"Oo gitu". Lisa dan Maya manggut manggut.
"Eh, gue harus cabut sekarang nih. Rangga nyariin gue , barusan dia SMS". Ucap Alan setelah menerima pesan singkat dari Rangga.
"Okay, thanks ya udah mau ngobrol -ngobrol sama kita". Maya melempar senyum kepada Alan yang sudah beranjak dari duduknya.
"Yoi, nanti kapan kapan kita ngobrol lagi". Alan menatap Lisa dan Maya bergantian seraya menepiskan senyumnya.
"Gue cabut ya , Bye". Alan melambaikan tangannya kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua gadis itu.
__ADS_1