
"Eh, iya May aku dan mas Rangga memang akan menikah minggu depan". Tutur Nabila membuat Maya terkejut hingga mulutnya terlihat menganga tak percaya, ia tak percaya jika Nabila dan Rangga akan menikah secepat ini, namun ia sungguh sangat bahagia mendengar kabar Nabila akan menikah.
"Kenapa ngga pernah cerita sama aku dan Lisa?". Tanya Maya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Maaf aku cuma ngga mau ngrepotin kalian aja May". Kilah Nabila, kalau boleh jujur ia sendiri juga masih sedikit terkejut kenapa semuanya jadi mendadak begini.
"Apa Rendy udah tahu Bil tentang hal ini?". Celetuk Maya, membuat Nabila merasa bersalah ia tidak bisa membayangkan hancurnya hati Rendy saat mendengar kabar pernikahan dirinya dan Rangga.
Laki laki yang sudah tiga kali menyatakan perasaannya itu pasti sangat hancur jika mendengar kabar ini, Nabila berharap tidak ada yang mengirimkan undangan itu ke Rendy, tapi tunggu sepertinya semuanya sudah diatur dengan baik oleh mamanya Rangga bahkan teman teman dekat Nabila saja sudah mendapatkan undangan, itu artinya semua orang terdekat Nabila akan menerima undangan itu termasuk Rendy.
"Bil?". Suara Maya membuyarkan lamunan Nabila.
"A..aku ngga tahu May Rendy sudah mendengar kabar ini belum, aku harap Rendy ngga mendapat undangannya jika iya tolong kalian jangan beritahu hal ini kepadanya". Tutur Nabila di akhiri nada mengancam di kalimat terakhirnya.
"Aku rasa Rendy akan tahu sendiri Bil, Rendy juga kan punya sosial media!". Seru Maya sambil menyandarkan tubuhnya di bahu tempat tidur, sepertinya gadis itu juga baru bangun dari mimpinya dan masih bergelung di dalam selimut.
Nabila mengernyitkan keningnya tidak mengerti, apa hubungannya hal ini dengan sosial media?, pikirnya.
"Maksudmu apa May?, Apa hubungannya hal ini dengan sosial media?". Tanya Nabila dengan polosnya.
Maya terlihat menepuk keningnya, lalu menggeleng geleng pelan.
"Ya jelas ada dong sayang, kamu kan akan menikah dengan Rangga anak konglomerat negeri ini sudah pasti ini akan menjadi pemberitaan di media Bil, undangan pertunangan dan pernikahan kalian juga sudah banyak yang bagikan di sosial media".
"Benarkah?!". Nabila tidak percaya dengan apa yang barusan Maya katakan, undangan itu sudah menyebar di sosial media, bagaimana bisa??.
Ah lagi lagi Nabila lupa dirinya akan menikah dengan siapa, Rangga Pramudita anak pengusaha ternama, pun wajah Rangga hampir setiap hari nongol di media cetak maupun elektronik, sosial media juga tentu saja, karena keberhasilannya dalam menjalankan kerajaan bisnis keluarganya, jadi wajar saja jika undangan mereka jadi pemberitaan.
Nabila berharap jika Rendy mengetahui hal ini dia bisa menerimanya dengan ikhlas, ia juga berharap Rendy bisa melupakan dirinya dan menemukan pendamping hidup yang jauh lebih baik darinya.
"Ya sudah ahh May, aku mau mandi dulu kita ketemu di kampus saja ya. Bye". Nabila mengakhiri panggilan video callnya.
Setelah panggilan video call berakhir dengan cepat Nabila berselancar ke akun sosial media miliknya, manik hitam Nabila mbeliak saat melihat akun sosial media miliknya dipenuhi dengan postingan orang yang membagikan undangan pertunangan dan pernikahan mereka tidak lupa disana juga mereka tag akun milik Rangga.
Namun tidak ada yang tag akun miliknya apa itu berarti mereka tidak tahu dengan siapa Rangga akan menikah?, Mereka tidak tahu dengan dirinya?, bisa jadi seperti itu karena dirinya hanyalah orang biasa mana mungkin mereka mengenalinya, kecuali teman teman satu kampusnya mungkin mereka sudah tahu hubungan Nabila dan Rangga tapi tidak dengan masyarakat lainnnya.
Sudah lah Nabila ingin segera menyegarkan pikirannya dengan mandi di bawah air shower, ia mengambil handuk dari lemari tak lupa membawa baju ganti lalu keluar kamar dan pergi ke kamar mandi, melakukan ritual mandi mungkin bisa sejenak merilekskan pikirannya.
__ADS_1
Di sebuah kamar yang nampak luas dengan nuansa kamar yang didominasi dengan warna warna netral membuat kesan maskulin, dekorasi yang apik dan pas tidak berlebihan serta dipenuhi dengan foto foto Nabila dengan dirinya menempel di dinding, dari foto dengan figura kecil hingga beberapa foto yang berukuran besar seperti poster menempel indah menghiasi kamar itu, bahkan hampir memenuhi dinding kamar.
Terlihat seorang pemuda yang tengah mengeram menahan amarah yang memuncak dalam dirinya, berkali kali ia meneriakkan suaranya melepas segala sesak dan kesakitan yang mendera dirinya.
Semua barang barang yang tertata rapi kini berhamburan di lantai sudah tak berbentuk lagi karena ulah sang pemilik kamar yang melemparkan apa saja yang ada di sekelilingnya untuk melepas kekesalannya.
"Aaaarggghh!!".
"Arrgghhhhh!!".
Berulang kali Rendy berteriak kesal, sesaat setelah dirinya tahu kabar pertunangan dan pernikahan Nabila, tentu saja ia tahu dari sosial media dan pemberitaan disana sini tentang menyebarnya undangan sialan itu.
Ia juga mendapatkan undangan itu, pagi pagi sekali entah jam berapa pengantar undangan itu datang kerumahnya yang jelas saat ini undangan itu sudah teronggok tak berbentuk setelah dirinya meremas dan menghempaskannya kuat.
Hatinya teramat sakit, rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan lagi sungguh sangat sakit melihat wanita yang selama bertahun tahun ia perjuangkan akan bersanding di pelaminan dengan laki laki lain.
Untuk menerima kenyataan bahwa cinta yang ia perjuangkan tak terbalas saja sudah membuatnya sangat tersiksa apalagi untuk menerima kenyataan bahwa harapannya untuk memiliki wanita yang sangat dicintainya kini harus benar benar kandas dan pupus.
Perjuangannya harus berakhir sampai disini, ia telah kalah, ia tidak bisa lagi berjuang, cinta yang semakin tumbuh subur dihatinya kini benar benar harus dilenyapkan.
Air mata mengalir deras dari manik hitam Rendy, berkali kali ia mengerjapkan matanya menahan bulir bening itu agar tidak terjun bebas membasahi pipinya namun sia sia saja rasa sakit dan sesak yang ia rasakan teramat dalam, luka di hatinya semakin menganga menyisakan perih yang sangat hebat membuatnya tak bisa lagi menahan air matanya.
Rendy bersimpuh di lantai yang beralaskan permadani berwarna kelabu menangis meraung raung dan menjerit jerit mengeluarkan kesakitan dalam dirinya.
Dadanya begitu sesak, seperti tidak mendapat pasokan oksigen dalam dirinya, hatinya seperti tersayat sayat sembilu, sungguh sangat sakit dan perih.
Kamar yang sudah terlihat berantakan itu terlihat begitu pilu saat sang pemiliknya menangis meringkuk dengan kedua kepalan tangan yang dipenuhi darah segar setelah ia memukulkan kepalan tangannya berkali kali di cermin dan tembok.
"Nabila...kenapa kamu melakukan ini padaku". Gumamnya lirih, terdengar sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Laki laki tampan yang selama ini terlihat tegar memperjuangkan cintanya kini berubah melow tak berdaya, hidupnya terasa berhenti tak ada semangat lagi dalam dirinya untuk melanjutkan hidup.
Rendy bangkit dan berjalan menuju walk in closet, kembali melayangkan pukulan berkali kali di kaca yang ada disana hingga darah segar kembali mengalir deras dari setiap buku buku jarinya, rasa sakit dari luka itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakit hati yang saat ini ia rasakan.
Patah hati? bukan ini bukan hanya sekedar patah hati, ia sudah sudah berulang kali merasakan patah hati, merasakan sakitnya cinta tak terbalas sejak ia mencintai Nabila kurang lebih 4 tahun yang lalu, bisa dibayangkan berapa ratus kali ia merasakan patah hati selama 4 tahun memperjuangkan cintanya, dan kini ia benar benar telah kalah.
__ADS_1
Tubuhnya merosot kembali luluh tak berdaya ke lantai, ia terduduk menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas di sudut walk in closet, kembali menjerit pilu, tangisnya menggema memenuhi ruangan kamarnya, jemarinya yang telah dipenuhi darah itu menarik narik rambutnya frustasi.
Sedangkan dilantai bawah terlihat kedua orang tua Rendy Tuan Yudha Malik Pranaja dan nyonya Dinarinta Malik sedang menunggu putra semata wayangnya untuk sarapan bersama.
"Ma, anaknya tuan Angga Pramudita kabarnya akan menikah minggu depan, beliau mengundang kita sekeluarga untuk menghadiri pestanya". Tutur tuan Yudha sambil memasukkan suapan demi suapan ke mulutnya.
"Anak sulung tuan Angga maksud papa?". Jawab nyonya Dina sambil memotong sandwich miliknya lalu memasukkanya ke dalam mulut.
"Iya, Rangga yang akan menikah". Sahut tuan Yudha.
"Dengan siapa dia menikah pa?, Apa dia di jodohkan?". Tanya nyonya Dina.
"Papa tidak tahu ma, mereka tidak dijodohkan, papa tahu benar siapa tuan Angga dia tidak akan mau menjodohkan anak anaknya, beliau ingin anak anaknya bahagia dengan pilihan mereka sendiri". Nyonya Dina manggut manggut merespon ucapan suaminya.
"Permisi tuan, nyonya". Datang seorang pelayan membawa sebuah undangan ditangannya. Membuat tuan Yudha dan nyonya Dina menoleh bersamaan menatap pelayan itu.
"Ini nyonya tadi pagi ada yang mengantar undangan ini untuk tuan dan nyonya". Pelayan memberikan undangan tersebut kepada nyonya Dina.
"Oh, iya terimakasih bik". Nyonya Dina meletakkan pisau dan garpu yang dipegangnya lalu meraih undangan itu dari tangan sang pelayan.
Pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruang makan menuju dapur.
"Sepertinya ini, undangan yang papa maksud". Nyonya Dina membolak balik undangan itu lalu ia membukanya perlahan.
Mata nyonya Dina membeliak saat mengetahui siapa yang menjadi calon istri Rangga, dia memfokuskan pandangannya, memastikan ia tidak salah membaca dan tidak salah melihat.
Ah, benar dirinya tidak sedang salah lihat ini adalah Nama lengkap Nabila sahabat Rendy sekaligus gadis yang sangat dicintai putranya.
Bagaimana dengan Rendy?, Pantas saja anak itu sejak tadi tak kunjung turun dari kamarnya, apa dia sudah mengetahui hal ini?, apa yang terjadi dengannya?.
Nyonya Dina seketika menjadi cemas dengan putranya, beliau memang tahu betul bagaimana perasaan Rendy terhadap Nabila, bagaimana tidak kamarnya saja dipenuhi dengan foto gadis itu jadi orang tua Rendy memang sudah tahu kalau putranya itu sangat mencintai Nabila.
Lalu bagaimana ini?, Gadis itu akan menikah?, Rendy pasti sangat sedih.
Nyonya Dina meletakkan undangan itu lalu beranjak dari kursinya hendak melihat Rendy yang sejak pagi tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Mama mau kemana?". Tanya tuan Yudha saat istrinya beranjak dari kursi dengan raut wajah yang tiba tiba berubah cemas.
__ADS_1
"Pa, yang menikah dengan Rangga itu Nabila sahabat Rendy, mama mau lihat keadaan Rendy sekarang". Ucap Nyonya Dina sebelum melangkahkan kakinya dari ruang makan.
"Uhuk.uhukk..". Tuan Yudha tersedak mendengar ucapan istrinya, benarkah begitu?.