
Nabila Ramadani Gunawan
Rangga Pramudita
Rendy Malik Alfarizy
Waktu bergulir begitu cepat, 3 bulan sudah berlalu setelah peristiwa buruk yang menimpa Nabila di pesta pernikahan anak tuan Raymond.
Hari ini adalah hari dimana Rangga melakukan upacara wisuda kelulusannya, Rangga termasuk salah satu wisudawan program Sarjana kelas Internasional dengan predikat cumlaud dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan IPK 3,90.
Rangga dan Nabila sedang menunggu kedatangan orang tua Rangga, pria yang kini nampak tampan dengan baju toganya berdiri dengan begitu gelisah, Ia sangat takut jika orang tuanya tidak bisa hadir di moment penting ini, pasalnya kedua orang tua Rangga baru saja tiba di tanah air malam tadi.
Rangga memilih untuk berangkat terlebih dulu dari apartemennya tanpa menunggu kedua orang tuanya, karena Rangga harus menjemput Nabila terlebih dahulu.
Pria itu ingin sekali Nabila menghadiri moment wisudanya itu, hingga membuatnya rela bangun pagi pagi sekali untuk menjemput Nabila, Ia takut Nabila tidak akan datang jika Ia tidak menjemputnya.
"Kenapa mereka lama sekali". Gerutu Rangga yang tengah cemas menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Netranya tak henti hentinya menatap jam tangan ber merk yang melingkar di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah buket bunga nan indah yang baru saja diberikan oleh Nabila pagi tadi.
"Mas sebaiknya kamu duduk dulu". Ucap Nabila yang kini berada di samping Rangga, Ia melihat pria yang ada di sampingnya begitu cemas hingga peluh membasahi dahinya.
"Itu mereka". Rangga tersenyum lega saat sebuah mobil mewah memasuki pelataran kampus yang Ia yakini itu adalah mobil orang tuanya, Nabila yang ada di sampingnya ikut tersenyum lega.
Mobil mewah berwarna hitam itu kini berhenti tak jauh dari tempat Rangga dan Nabila berdiri, sang supir terlihat begitu tergesa gesa meninggalkan kemudi dan membukakan pintu tuannya.
Beberapa detik kemudian turunlah sepasang suami istri dengan tampilan yang begitu formal namun terlihat anggun, tuan besar Angga dan Nyonya besar Rani, mereka berjalan berdampingan tangan Nyonya Rani melingkar indah dilengan suaminya itu, tampilan yang begitu anggun dan berkelas membuat nyonya Rani terlihat sangat cantik, wanita yang memiliki dua anak itu terlihat awet muda bahkan lebih cocok jadi kakaknya Rangga di banding mamanya, mungkin orang yang tidak tahu akan mengira beliau adalah kakak perempuan Rangga.
Sedangkan tuan besar Angga tampak tampan dan berwibawa dengan setelan tuxedo warna hitam, tangan kanannya dimasukkan ke kantong celana Ia berjalan dengan membalas satu persatu senyuman orang yang menyapa. Sungguh sangat ramah dan penuh kharisma.
Rangga yang sejak tadi menunggu kedatangan beliau segera menghambur memeluk orang tuanya dengan tangan yang masih menggandeng erat Nabila.
"Selamat ya sayang atas kelulusannya, mama sama papa bangga sekali sama kamu nak". Nyonya Rani memeluk putra kesayangannya dan menciumi gemash pipinya.
"Makasi ma". Ada rasa haru yang menyusup dalam diri Rangga hingga membuat matanya berkaca kaca.
"Selamat ya nak, kau harus siap membantu papa menjalankan perusahaan". Tuan Angga memeluk putranya sambil menepuk pelan punggungnya.
"Iya pa, Rangga sudah siap bantu papa". Ucapnya sambil menghapus bulir bening yang sempat membasahi kedua sudut matanya.
Atensi kedua orang tua Rangga kini teralih kepada gadis cantik dengan kebaya warna salem di samping Rangga.
"Sayang ini siapa?". Tanya Nyonya Rani dengan senyuman begitu ramah memperhatikan Nabila.
"Oiya ma , pa , kenalin ini Nabila kekasih Rangga". Ucap Rangga memperkenalkan Nabila dengan mantap.
"Kenalkan om, tante saya Nabila". Nabila menyalami kedua orang tua Rangga bergantian.
"Kamu cantik sekali sayang, kalian sudah lama pacaran?, Kenapa mama tidak diberitahu Rangga". Nyonya Rani merangkul Nabila dengan begitu lembut membuat Nabila seperti merasakan kembali sentuhan seorang ibu.
__ADS_1
"Mama sama papa sibuk terus sih jadi Rangga baru sekarang bisa kenalkan Nabila sama mama papa".
"kau kasih pelet apa sampai sampai Nabila bisa mau jadi pacar kau Rangga?, Kalau papa jadi Nabila sih pikir pikir lagi punya pacar begajulan seperti preman pasar". Seloroh tuan Angga membuat Nabila dan Rangga terkekeh, begitu juga Nyonya Rani.
"Ternyata kedua orang tua mas Rangga, sangat ramah dan baik, jauh sekali dari bayanganku". Batin Nabila.
"Bahkan Tuan besar Angga sempat mengeluarkan candaan untuk mencairkan keteganganku dan Rangga". Gumam dalam hati.
Nabila sempat berpikiran kalau orang tua Rangga tidak akan welcome dengan kehadirannya bahkan Ia pikir akan di maki habis habisan karena berani beraninya mendekati anaknya, seperti yang sering Nabila lihat di sinetron sinetron. Tapi kenyataannya malah berbanding terbalik dari yang Ia bayangkan.
Perbincangan ringan mereka terhenti saat seorang rektor dan wakil rektor datang menghampiri dan menyambut kedua orang tua Rangga sebagai tamu kehormatan sekaligus pemilik universitas tersebut.
Mereka mempersilahkan Tuan Angga dan Nyonya Rani memasuki aula dan mengantarkan mereka ke kursi khusus yang telah disediakan.
-------
Setelah melakukan serangkaian acara wisudanya, kini Rangga terlihat sedang bersua foto bersama kedua orang tuanya, dan juga Alan dan Nabila.
"Alan lo fotoin kita ya". Rangga menarik tangan Nabila agar ikut foto bersamanya dan kedua orang tuanya.
Entah sudah berapa puluh foto diambil dengan berbagai gaya, begitu juga dengan Alan yang juga lulus kala itu ikut heboh berfoto dengan kedua orang tuanya.
Ada rona bahagia di wajah Rangga, bagaimana tidak setelah 4 tahun perjuangannya menuntut ilmu kini Ia telah siap bergabung dengan Papa nya menjalankan dan membangun kerajaan bisnis yang kini telah berjaya. Pradaipta Corporation, Perusahaan besar yang bergerak di berbagai lini kehidupan, yang memiliki puluhan anak perusahan baik di dalam maupun luar negeri.
"Rangga, papa dan mama harus pulang sekarang ada pekerjaan yang harus di selesaikan". Ucap tuan Angga.
"Baiklah pa, papa dan mama hati hati ya".
"Nanti malam papa tunggu dirumah, ada yang ingin papa bicarakan denganmu". Tutur tuan Angga sambil menepuk bahu anak sulungnya itu.
"Sayang tante sama om pulang dulu ya, nanti kapan kapan kamu berkunjunglah ke rumah". Nyonya Rani memeluk Nabila dan mengusap usap punggung gadis itu, terlihat senyuman yang begitu ramah.
"Tante hati hati ya". Tambahnya.
-----------
Hari ini berhubung kedua orang tuanya berada di Indonesia Rangga memutuskan untuk pulang ke rumah besar, Rangga memasuki pintu utama kediaman Rangga setelah memarkirkan mobilnya.
Rangga disambut Bi Minah, dengan tergopoh gopoh Bu Minah membukakan pintu.
"Bibik sehat?", Rangga kangen sama Bik Minah". Rangga memeluk Bi Minah saat wanita paruh baya itu membukakan pintu untuknya.
"Alhamdulilah bibik sehat, aden bagaimana?". Tanya Bi Minah.
"Rangga juga sehat Bik". Rangga berjalan sambil merangkul Bi Minah satu satunya pelayan yang Ia sayangi dan Ia hormati, wanita yang mengurusnya sejak Ia masih bayi karena Nyonya Rani dan Tuan Angga sangat sibuk jadi dari kecil Rangga memang dekat dengan Bi Minah.
"Aden sudah makan?". Tanya Bi Minah.
"Sudah Bik, Rangga mau ketemu papa sama mama. Mereka ada dimana Bik?".
"Ada di ruang keluarga den, aden mau bibik buatkan jus alpukat?". Bi Minah tahu betul Rangga sangat menyukai jus alpukat.
"Boleh, nanti tolong bibik bawa ke ruang keluarga ya, Rangga mau nemuin papa sama mama dulu". Rangga berjalan menuju ruang keluarga, disana terlihat tuan Angga sedang membaca koran ditemani nyonya Rani.
"Pa, Ma". Sapa Rangga yang baru saja memasuki ruang keluarga, Ia memberi ciuman singkat di kedua pipi mamanya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di depan nyonya Rani dan tuan Angga.
"Kamu udah makan siang sayang?". Tanya Nyonya Rani.
__ADS_1
"Sudah Ma". Jawabnya singkat sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Apa ada hal penting yang mau papa mama bicarakan sama Rangga?". Tanyanya.
Tuan Angga melipat korannya lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu Ia menyeruput teh hijau miliknya yang ada di meja.
"Permisi tuan, nyonya". Bi Minah masuk membawa jus alpukat untuk Rangga dan meletakkannya di meja.
"Terimakasih Bik". Rangga mengusap usap punggung Bi Minah sambil tersenyum, Bi minah membalasnya dengan senyuman lalu dia keluar setelah membungkukkan badannya pamit kepada tuan dan nyonya Rani.
Setelah tubuh Bi Minah menghilang dari balik pintu tuan Angga membuka percakapan diantara mereka.
"Papa dengar kau membatalkan semua kerja sama dengan tuan Raymond ya". Tuturnya.
"Apa alasanmu Rangga?". Imbuhnya.
"Papa ngga usah pura pura tidak tahu, Rangga yakin Leon sudah menceritakan semuanya sama papa".
Tuan Angga memang sudah mengetahui semuanya mengenai alasan Rangga membatalkan kerja sama dengan perusahaan tuan Raymond bahkan apa yang terjadi di pesta malam itu pun beliau sudah mengetahuinya. Namun tuan Angga sengaja ingin mendengar langsung penjelasan dari Rangga.
"Pa, ngga mungkin Rangga diam saja melihat kekasih Rangga di lecehkan oleh orang lain!!". Seru Rangga dengan nada penuh kekesalan.
"Memangnya kau tahu kalau tuan Raymond terlibat dalam hal itu?". Tanya tuan Angga dengan begitu tenangnya.
"Anak tuan Raymond yang menyuruh pria brengsek itu melecehkan Nabila!!, Mana mungkin Rangga tinggal diam pa!!".
Elsa anak dari tuan Raymond memanglah dalang dari peristiwa pelecehan yang menimpa Nabila di pesta malam itu, Elsa mendapatkan ide itu dari Sania namun kedua wanita itu bisa bebas dari tuntutan hukum lantaran menyewa kuasa hukum yang cukup handal yang bisa membebaskan dua wanita itu dari segala tuntutan dan melimpahkannya kepada pelaku pelecehan.
"Papa dengar kau juga akan menghancurkan perusahaan tuan Raymond ya?".
"Iya, tapi Rangga tidak bisa melakukan itu tanpa bantuan papa". Tutur Rangga sambil menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa, menandakan pembicaraan ini bukanlah pembicaraan yang sepele.
"Rangga, papa akan sangat menentang jika kau melakukan hal itu, papa tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat kotor dan licik seperti itu".
Rangga terkesiap, Ia pikir papanya akan sangat mendukungnya namun yang terjadi malah sebaliknya.
"Untuk masalah pembatalan kerja sama papa setuju saja karena kita bisa mencari alasan yang masuk akal tentang motif pembatalan kerja sama itu kepada mereka, tapi tidak untuk menghancurkan perusahaannya".
"Kita sebagai pengusaha harus selalu bersikap profesional tidak boleh bermain kotor atau licik hanya demi kepentingan peibadi ataupun kepentingan perusahaan, kita bisa menggunakan cara yang fair untuk mengalahkan rival kita dengan strategi bisnis ataupun lainnya yang kita bisa". Jelas tuan Angga.
"Apa kau mengerti Rangga?". Tanya tuan Angga kepada putranya yang tengah mendengarkan semua nasehatnya.
"Rangga mengerti pa". Tutur Rangga dengan nada cukup lirih.
"Besok kau akan papa perkenalkan sebagai wakil direktur utama di kantor, menggantikan Dion biar Dion fokus dengan tugasnya sebagai asisten pribadi papa sekaligus tangan kanan papa saja".
"Terimakasih pa". Rangga berhambur memeluk tuan Angga.
"Jika kau bekerja dengan baik sebagai wakil direktur utama, maka papa akan menyerahkan jabatan sebagai direktur utama padamu, kau yang akan menjalankan perusahaan raksasa keluarga Pradipta tapi dengan syarat kau harus melanjutkan S2 mu dulu di luar negeri".
"Baik pa".
"Nanti papa yang akan atur kapan waktunya kamu melanjutkan pendidikanmu, sementara fokus saja dulu dengan pekerjaanmu di kantor". Pungkas tuan Angga lalu mengambil teh hijau miliknya lalu menyesapnya.
"Iya pa, Rangga mengerti".
"Selamat ya sayang atas jabatan kamu sebagai wakil direktur utama, mama harap kamu bisa bekerja dengan baik menjalankan perusahaan". Nyonya Rani memeluk putra kesayangannya lalu menghadihkan ciuman di pipinya.
__ADS_1
"Terimakasih ma, Rangga akan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan".