
Siang itu Rangga pulang ke rumahnya saat jam makan siang, dirinya berjanji akan membawa Nabila periksa ke Dokter OBGYN. Dokter yang sama, Dokter yang membantu mereka saat melakukan serangkaian program hamil.
Nabila dan Rangga berjalan bergandengan saat sudah sampai di sebuah salah satu rumah sakit besar di kota Jakarta, wajah mereka berseri seri walaupun Nabila terlihat pucat namun senyum bahagianya tak surut ia sunggingkan.
Walaupun ada rasa takut dalam diri Nabila akan hasil alat tes kehamilan yang tidak akurat namun dirinya berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia memang positif hamil, dari semua yang ia rasakan beberapa hari ini memanglah benar tanda tanda kehamilan, semoga saja Nabila tidak salah.
Nabila dan Rangga melangkah dengan mantap menunu ruang praktek Dokter OBGYN yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Leon, kini Sang Dokter wanita itu pun menyambut kedatangan Rangga dan Nabila dengan sangat ramah, senyumannya sedikit menyurutkan ketegangan dalam diri Nabila.
Rangga menggenggam tangan Nabila lalu menepuknya dengan tangan lainnya, menenangkan dan menyalurkan semangat untuk istrinya yang terlihat begitu gugup.
"Tenanglah sayang," ucapnya sambil tersenyum.
"Mari silahkan masuk tuan, nona," ujar Dokter yang bernama Tara itu.
Nabila dan Rangga pun memasuki ruangan praktek Dokter Tara di ikuti sang Dokter dan seorang perawat di belakangnya, duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerja Dokter.
"Baik, apa keluhan yang nona rasakan?" Tanya Dokter ramah, dengan senyuman menghiasi di wajah wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
"Sudah beberapa hari ini mual dan pusing Dok," jawab Nabila.
"Kapan terakhir nona Nabila datang bulan," tanya Dokter lagi.
"Seingat saya, sudah hampir dua bulan saya belum datang bulan Dok," sahut Nabila.
Dokter Tara tersenyum hangat, membuat hati Nabila sedikit merasa bahagia, apa itu artinya ada kabar baik untuknya?
"Sudah melakukan tes kehamilan, sebelumnya?"
"Sudah Dok, tadi pagi dengan tiga alat tes sekaligus dan semua hasilnya positif," papar Nabila, Rangga hanya mendengarkan saja sesi tanya jawab antara Dokter dan Nabila, tangannya masih menggenggam erat tangan Nabila yang gugup.
"Dari semua yang anda sampaikan kemungkinan besar anda hamil nona, untuk memastikannya mari kita melakukan USG," ujar Dokter. Beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Nabila untuk berbaring di sebuah brankar yang berada di sana.
Nabila pun berbaring, sementara Rangga masih duduk hanya memutar sedikit tubuhnya untuk menghadap ke tempat Nabila berbaring.
__ADS_1
Dokter pun sudah duduk di kursi yang berada di samping brankar yang Nabila tempati.
"Maaf, tolong naikkan bajunya ke atas sebagian," tutur dokter.
Dibantu sang perawat Nabila pun menyingkap sebagian bajunya hingga perutnya yang masih rata pun terekspos, perawat menutupi kaki Nabila dengan selimut lalu mengoleskan gel berwarna bening di bagian perut Nabila guna mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transducer, gel tersebut juga memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh, setelah itu perawat mundur beberapa langkah untuk memudahkan Dokter Tara memeriksa Nabila.
Dokter Tara mulai menggerakkan transducer yang ditempelkan di perut Nabila, bersamaan dengan itu muncullah gambar di layar monitor besar yang terdapat di tembok sisi kanan tempat Nabila berbaring.
Rangga dan Nabila memusatkan perhatiannya pada layar monitor besar itu.
"Selamat ya nona Nabila dan tuan Rangga, memang betul kalian akan menjadi orang tua," ujar Dokter Tara sambil menggerak gerakkan transducer di perut Nabila, pandangannya juga terfokus pada layar monitor besar yang menampilkan gambar rahim Nabila.
"Lihat ini kantong janinnya, dan ini janinnya masih sebesar buah ceri," tambah Dokter Tara.
Nabila tersenyum bahagia, bulir bening dari matanya menetes begitu saja membasahi pipinya, ia sangat bahagia setelah penantian satu tahun lebih akhirnya Tuhan memberinya buah hati, buah cintanya dengan Rangga suami yang sangat di cintainya.
Rangga menajamkan penglihatannya, tapi sepertinya masih kurang jelas di matanya ia pun beranjak dari duduknya, melangkah mendekatkan diri ke arah monitor.
Nabila dan Dokter Tara pun tersenyum menahan tawa.
"Tentu saja belum terlihat seperti bayi tuan, semuanya akan berkembang sesuai dengan waktunya," Jelas Dokter Tara. Entahlah Rangga yang terlalu polos atau memang tidak terlalu pintar untuk masalah seperti ini, beda sekali jika berhubungan dengan masalah bisnis kemampuan dan keahliannya dalam berbisnisnya bahkan sudah melebihi tuan Angga.
Ranggapun tersenyum paham, netranya sudah mulai berkaca kaca, ada genangan bulir benang di kedua netranya. Dirinya sangat bahagia ternyata benar dirinya akan menjadi seorang ayah.
Dokter pun kembali ke meja nya, sementara perawat membantu Nabila membersihkan perutnya dari gel dengan menggunakan tisu.
Nabila dan Rangga sudah kembali duduk di hadapan meja Dokter.
"Usia kehamilan nona baru 7 minggu dan semuanya baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawartirkan, kalian bisa melakukan pemeriksaan sebulan sekali untuk mengetahui perkembangan janinnya," papar Dokter Tara.
"Usahakan minum air yang cukup setiap harinya 2,5 - 3 liter air, istirahat yang cukup hindari stres berlebihan, dan jika mau olahraga cari olahraga yang aman dan ringan saja seperti yoga, berenang dan berjalan," Jelas Dokter Tara panjang lebar.
Rangga dan Nabila menyimaknya dengan baik.
__ADS_1
"Apa ada yang mau di tanyakan?" Tanya Dokter Tara.
"Itu Dok, apa kita masih boleh melakukan itu?" Tanya Rangga malu malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dokter Tara pun tersenyum, "Maksud anda hubungan suami istri?" Tanya Dokter Tara, membuat wajah Nabila merona menahan malu.
"Ya ampun kenapa mas Rangga menanyakan hal itu sih," gerutu Nabila dalam hati. Tangannya sudah mencubit lengan Rangga.
"Awww," pekik Rangga.
Dokter Tara pun semakin tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya.
"Tidak apa apa nona, hal itu sudah biasa ditanyakan oleh pasangan yang akan menjadi orang tua," tutur Dokter Tara.
"Tuh dengar, aku tidak salah kan, Dok?" Bangga mendapat pembelaan dari Dokter.
"Sebenarnya tidak masalah melakukan hubungan suami istri asalkan diperhitungkan posisinya jangan sampai terlalu menekan perut," pungkas Dokter Tara sambil meresepkan obat anti mual dan vitamin untuk Nabila. Rangga pun mengangguk paham atas penjelasan Dokter berkaca mata itu.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"
"Cukup Dok, Terimakasih," Rangga dan Nabila berdiri.
"Terimakasih kembali," Dokter menyalami Rangga dan Nabila bergantian.
Mengantar Nabila dan Rangga hingga keluar ruangannya.
Rasa bahagia menyelimuti Rangga dan Nabila, senyum bahagia terpancar begitu indah di wajah keduanya.
Rangga memegang kedua bahu Nabila, "Terimakasih sayang sudah memberikan anak untuku," Rangga mencium kening Nabila dalam. Rangga berlutut mengusap perut Nabila yang masih rata.
"Haii nak baik baik ya disana jangan menyakiti mommy, Daddy janji akan menjagamu dan mommymu dengan baik," cup Rangga meninggalkan ciuman di perut Nabila yang masih rata.
Air mata Nabila pun kembali mengalir, mengusap rambut Rangga yang masih berlutut di hadapannya
__ADS_1