
"Kalau Sania beneran pacarku, kamu mau apa?". Tanya Rangga sambil tersenyum.
"Aku ngga mau apa apa, biarpun nona Sania pacar mas Rangga atau pun bukan aku ngga peduli!". Nabila semakin terlihat kesal.
"Yakin?". Rangga semakin tersenyum puas melihat ekspresi Nabila yang terlihat cemburu.
"Yakin". Nabila mengangguk cepat.
"Aku mau istirahat, lepaskan tanganku!". Nabila mencoba lepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Rangga.
"Duduklah dulu, aku akan jelasin semuanya". Rangga memegang kedua lengan Nabila dan mendudukkannya kembali di sofa begitu juga dengan Rangga, Nabila dengan cepat menggeser tubuhnya yang di rasa terlalu dekat dengan Rangga. Namun Rangga menggeser lebih dekat lagi kepada Nabila.
Rangga memegang kedua lengan Nabila dan sedikit memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya, kini jarak diantara mereka hanya sekitar 10cm saja itu membuat jantung Nabila bekerja lebih cepat dari biasanya.
" Ya Tuhan ada apa dengan jantungku". Gumam Nabila dalam hati.
Nabila berharap Rangga tidak mendengar degupan jantungnya yang semakin kencang, Ia berusaha menyembunyikannya dan memilih menundukkan wajahnya.
Rangga memegang dagu Nabila dang mengadahkannya hingga sejajar dengan wajahnya, satu tangannya lagi menggenggam erat tangan Nabila.
"Sania itu bukan siapa siapa ku, dia bukan pacarku, Dari dulu dia memang menyukaiku tapi aku ngga pernah menanggapinya". Rangga menatap lekat manik hitam gadis di hadapannya itu.
"Aku hanya mencintai kamu Nabila". Rangga tersenyum menatap dalam wajah Nabila, sorot mata yang penuh cinta membuat pipi Nabila bersemu merah.
Entah kenapa rasa sesak yang begitu menyesakkan hatinya saat Sania mengaku sebagai pacar Rangga kini menguap begitu saja, melebur bersama perasaan bahagia atas pernyataan cinta untuk yang kedua kalinya dari bibir manis laki laki itu.
"Tapi aku senang kalau kamu cemburu sama Sania itu artinya kamu memiliki perasaan yang sama denganku, itu artinya kamu juga mencintaiku". Rangga tersenyum lalu menangkup kedua pipi Nabila.
__ADS_1
"Aku ngga bilang begitu". Kilah Nabila sambil melepaskan kedua tangan Rangga dari kedua pipinya.
"Hemmm baiklah , yang penting sekarang aku sudah tau gimana perasaan kamu sama aku". Rangga tersenyum penuh kemenangan.
Nabila berulang kali mencoba meyakinkan Rangga kalau dirinya tidak cemburu namun tidak berhasil sorot mata Nabila tidak bisa membohongi Rangga yang jelas jelas menangkap ada cinta dan cemburu disana.
"Sekarang aku sudah jelasin semuanya sama kamu, sekarang giliran kamu jelasin ke aku kenapa bisa paman kamu menjual rumah kamu itu?". Rangga membelai lembut rambut Nabila yang terurai indah.
Nabila mencoba manarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum menceritakan sepenggal perjalanan hidupnya.
"Sebenarnya itu bukan rumah orang tuaku, itu rumah nenekku". Nabila menyandarkan punggungya di sandaran sofa.
"Entah kenapa aku merasa jalan hidupku begitu sulit, sejak orang tuaku mengalami kecelakaan saat umurku masih 14th dan Aditya masih umur 10th, kami benar benar sangat terpukul kala itu, kami harus menjalani hidup tanpa orang tua yang dulu selalu ada buat kami, setelah kecelakaan maut itu perusahaan papaku terbengkalai dan bangkrut semua aset perusahaan di sita bank beserta rumah juga mobil papa". Nabila menahan bulir bening yang sudah siap tumpah dari pelupuk matanya, namun sia sia saja bulir itu mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya, Rangga yang kala itu sedang menyimak cerita Nabila dengan sigap menangkup kedua pipi Nabila dan menghapus bulir yang mengalir dengan jemarinya.
"Aku dan Aditya mau tidak mau harus tinggal bersama paman Johan, adik kandung dari papaku karena paman Antoni pengacara papaku menitipkan kami kepada pama Johan karena paman Johan adalah satu satunya keluarga kami selain nenek. Di rumah paman kami tidak mendapatkan perlakuan baik dari keluarga paman, dari istri dan anak paman, aku dan Aditya kerap kali dipukul jika kami tidak menuruti perintahnya, aku juga diperlakukan seperti pelayan disana, mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bisa istirahat barang sejenak". Tubuh Nabila bergetar bulir bening itu kian menderas membasahi pipinya.
Rangga merangkul dan mengusap usap pelan punggung Nabila bermaksud menenangkan gadis itu.
"Aku dan Aditya tidak boleh mendahului mereka makan, kami harus makan sisa sisa makanan dari mereka, lebih sering kami hanya makan nasi saja karena mereka tidak pernah menyisakan lauk yang aku masak".
Rangga menatap Nabila dengan haru, matanya mulai berkaca kaca, ada sesak yang merasuk di dalam dirinya, entah kenapa Ia juga ikut merasakan sakit yang teramat dalam mendengar cerita dari Nabila.
"Kenapa paman kamu begitu tega!!". Ucap Rangga kesal. Nabila hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Paman memang sejak dulu tidak pernah suka dengan papaku, karena papa bisa punya perusahaan yang bisa dibilang sukses kala itu, sedangkan paman selalu saja gagal jika memulai usahanya". Kini Rangga mengangguk paham.
"Waktu itu aku dan Aditya juga tidak boleh meneruskan sekolah kami karena paman tidak mau membiayai uang sekolah kami, dari situlah aku harus berjuang mencari uang untuk biaya sekolahku dan Aditya, sepulang sekolah aku bekerja di sebuah laundry yang tak jauh dari rumah paman, pemilik laundry itu sangat baik bahkan setiap hari selalu memberiku uang jajan diluar gajiku, dari situ aku bisa tetap melanjutkan sekolah".
__ADS_1
Nabila melirik sekilas ke arah Rangga yang sepertinya terlihat antusias mendengarkan kisah hidupnya.
"Sampai pada akhirnya paman mulai merampas uang gajiku setiap bulan, aku dan Aditya tidak bisa lagi membayar uang sekolah, bahkan untuk ongkos pergi ke sekolah pun kami tidak punya, hiksss..". Satu isakan lolos begitu saja dari mulut Nabila.
"Karena aku benar benar sudah tidak tahan dengan semua perlakuan paman dan keluarganya akhirnya aku dan Aditya memutuskan untuk kabur dari rumah paman, setelah pulang sekolah kami tidak pulang ke rumah paman tapi kami pulang ke rumah nenek dengan berjalan kaki, rumah nenek cukup jauh dari sekolah sekitar 50km, dan kami baru sampai dirumah nenek tengah malam". Nabila mengambil nafas sejenak dan membuangnya pelan.
"Sejak saat itu aku dan Aditya tinggal bersama nenek, paman juga tidak pernah mencari kami. Aku dan Aditya bisa hidup tenang bersama nenek tapi aku harus tetap bekerja untuk membantu biaya hidup kami, nenekku hanya seorang penjahit dengan penghasilan yang pas pasan jadi aku tidak mau menambah beban nenek, aku memutuskan untuk bekerja di toko kue yang letaknya di belakang rumah nenek".
"Kamu wanita yang hebat sudah bekerja keras diusia kamu yang masih terbilang dini". Rangga mengusap lembut puncak kepala Nabila.
Nabila tersenyum simpul lalu kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah aku kelas 2 SMA aku mencoba melamar kerja paruh waktu di salah satu restoran milik kerluarga kamu mas, dan alhamdulilah aku diterima". Nabila kembali melirik Rangga sekilas.
"Entah paman tau dari mana aku bekerja di restoran kamu aku ngga tau tapi setiap bulan paman akan minta jatah uang bulanan dari gajiku itu dengan dalih untuk mencicil hutang papaku padanya, aku sendiri tidak pernah tahu papaku benar benar memiliki hutang pada paman atau tidak". Pungkas Nabila dengan mata yang kembali berkaca kaca.
"Sampai pada akhirnya nenekku meninggal dan malam harinya paman mengambil sertifikat rumah nenek, aku pikir tidak akan secepat ini dia menjual rumah nenek karena setahu ku menjual rumah bukanlah hal yang mudah tapi nyatanya aku salah, sekarang paman sudah menjual rumah itu aku dan Aditya benar benar sudah kehilangan semuanya, hikkss..".
"Kadang aku berpikir kenapa Tuhan begitu tidak adil padaku, jalan hidupku terlalu rumit untuk kujalani, aku harus berjuang untuk menyambung hidupku, bekerja keras disela sela waktu sekolahku, kadang juga aku iri melihat teman temanku yang bisa menjalani hidupnya tanpa beban tidak sepertiku yang harus menjalaninya dengan ribuan tetes air mata, hikkss.., hikkss". Nabila kembali terisak , tubuhnya bergetar menahan tangis , air mata yang Ia coba tahan menerobos keluar dan membanjiri pipi mulusnya.
Rangga menggeser duduknya, merapatkannya dengan Nabila, memeluk Nabila sembari membenamkan wajah gadis itu pada dada bidangnya, sesekali mengecup lembut puncak kepala Nabila.
"Kamu wanita yang hebat, aku salut sama kamu. Aku saja yang laki laki belum tentu sanggup menjalani kehidupan seperti yang kamu jalani". Rangga membelai rammbut gadis yang ada dalam dekapannya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku tidak menyangka ternyata perjalanan hidup Nabila sangat sulit, nasibnya begitu malang. Tapi dia benar benar wanita yang hebat ". Batin Rangga.
"Aku merasa malu kepada Tuhan, aku selalu mengeluh karena orang tuaku tidak pernah punya waktu untukku, aku merasa tidak pernah mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, aku pikir hidupku sangat memprihatinkan dan sangat buruk tapi ternyata aku lebih beruntung , ternyata masih banyak diluar sana yang tidak bernasib baik, tidak seberuntung aku". Sambungnya dalam hati Rangga.
__ADS_1
Nabila masih larut dalam kesedihannya, baru kali ini Ia mau menceritakan kisah hidupnya yang tidak mudah itu kepada orang lain, Nabila merasa beban yang Ia pendam selama ini berangsur memudar seiring dengan isak tangisnya.
Rangga memeluk erat Nabila seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk gadis yang sangat Ia cintai itu.