Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 87 Sakitnya cinta tak terbalas


__ADS_3

"Mungkin semua orang yang tahu masalah ini akan berpikiran seperti itu, aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendamku kepada kakakmu, tapi sungguh aku ngga pernah berpikiran seperti itu".


Rendy menghela nafas berat, dirinya merasa keberatan dengan tuduhan Rangga tentang dirinya yang memanfaatkan Rania untuk membalas dendam kepada Rangga, orang yang sudah merebut cintanya, orang yang sudah mengambil kebahagiaannya, mengambil orang yang sangat di cintainya.


Karena semua yang dituduhkan Rangga itu tak pernah terpikirkan sama sekali di kepala Rendy, ia hanya ingin berteman dengan Rania gadis ceria yang mampu mengalihkan pikiran dan hatinya dari Nabila, memang sampai saat ini cintanya hanya untuk Nabila karena cintanya yang begitu besar pada Nabila membuatnya tak bisa semudah itu melupakan Nabila.


Bertahun tahun lamanya ia memendam perasaan cinta yang begitu besar kepada Nabila, perasaan sayang yang tak bisa diukur membuatnya kesulitan untuk lepas dari jerat cinta yang sudah tersimpan bertahun tahun lamanya di hatinya.


Ucapan Rendy terjeda saat seorang pelayan datang membawakan pesanan miliknya, meletakkannya di meja lalu mempersilahkannya.


"Terimakasih". Ucap Rendy tersenyum tipis kepada pelayan cafe.


Rendy menyesap kopi miliknya sebelum ia kembali melanjutkan perbincangannya dengan Rania, sementara Rania hanya memperhatikan Rendy dengan ekor matanya masih tak berani menatap seksama wajah Rendy, ia takut rasa cintanya akan semakin bergejolak di dalam sana.


"Menurutmu apa aku salah karena sudah mencintai sahabatku sendiri?, menurutmu apa aku salah kalau aku masih belum bisa melupakannya?".


"Ran, asal kamu tahu hati ini sangat tersiksa dengan rasa cinta yang begitu besar kepada orang yang tak pernah mencintai kita, rasanya sangat sulit untuk diceritakan bagaimana aku merasakan sakitnya cinta tak terbalas hingga bertahun tahun lamanya". Sambungnya, Rendy menghbuskan nafas berat.


"Aku sendiri ingin sekali lepas dari semua ini, tapi itu tidaklah mudah". Rendy menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Cinta ini datang dan tumbuh dengan sendirinya di dalam sini Ran, aku tidak bisa mencegahnya, kalau saja aku bisa milih mungkin aku akan milih untuk jatuh cinta sama orang yang juga mencintaiku yang juga menyayangiku". Rendy mengerjapkan matanya, menahan buliran air mata yang tiba tiba saja memenuhi matanya.


Rania ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Rendy, ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Rendy hidup dengan cinta yang bertahun tahun tak terbalaskan, menyaksikan kebahagiaan orang yang dicintainya dengan orang lain.

__ADS_1


Mungkin rasa sakit hati Rania belum ada apa apanya, dengan rasa sakit yang Rendy rasakan selama bertahun tahun mencintai Nabila. Dada Rania menyesak membayangkan bagaimana terluka dan hancurnya hati Rendy saat orang yang di cintainya menjadi milik orang lain.


Rania memberanikan diri menatap wajah Rendy, sorot matanya menyendu Rania bisa melihat begitu besarnya cinta Rendy untuk Nabila, cinta yang tulus dan tak mengharapkan balasan.


"Ren, maafkan aku karena sudah salah paham sama kamu". Ucap Rania.


Rendy tersenyum, dia senang Rania sudah mau bicara dan menatapnya lagi, jujur ia hanya ingin dekat dengan Rania, tulus berteman tanpa ada maksud jelek apapun.


Rania berpamitan kepada Rendy karena teman temannya mengajaknya pulang.


"Ren, aku pulang dulu ya". Rania beranjak dari kursinya, kembali ke meja dimana teman temannya berada.


Rendy menatap Rania dan teman temannya keluar dari cafe, ada perasaan lega di hatinya karena Rania sudah mau memaafkannya, sudah mau berbicara lagi dengannya.


Di dalam perjalanan pulang, semua kata kata Rendy masih terngiang jelas di telinganya, laki laki itu hanya ingin berteman dengannya ah selama ini dirinya terlalu berharap banyak pada laki laki itu, ini semua bukan kesalahan Rendy tapi dirinya lah yang terlalu mengharapkan cinta laki laki itu hingga yang ia dapat sekarang hanya rasa sakit yang menyisakan luka di hatinya.


Setelah beberapa hari pertemuannya di cafe itu Rania dan Rendy kembali menjalin komunikasi, chat dan telefon bahkan video call, Rania sudah memutuskan untuk mulai menerima Rendy sebagai temannya, ya walaupun dirinya menginginkan yang lebih dari itu namun ia kembali sadar jika cinta itu tidak bisa di paksakan.


Hari ini adalah hari terakhir Rania di tanah air, besok pagi ia akan terbang ke Amrik untuk melanjutkan pendidikannya, walaupun berat namun Rania harus melakukannya.


Hari ini ia tengah menghabiskan waktu dengan membuat kue, sepulang kuliah Nabila sengaja tidak pergi ke toko karena ia sudah janji dengan Rania akan mengajarinya membuat kue, dan kedua sahabatnya Lisa dan Maya juga janji akan datang ke kediaman Pramudita siang ini.


Mereka berdua membuat kue sambil berceloteh, mengobrol kesana kemari dan bercanda tawa.

__ADS_1


Kali ini mereka berdua membuat red velvet chesee brownie dan red velvet cup cake, Rania tengah menyemprotkan frosting di atas cup cake yang sudah dingin, dihiasi remahan cup cake di atas frostingnya membuat tampilannya menjadi lebih menarik, aroma kuenya sangat lezat membuat Rania berkali kali menelan salivanya sudah tidak sabar untuk segera menyantap cup cake yang ada di hadapannya.


Sementara Nabila sedang memotong red velvet cheese brownie dan menatanya di piring.


"Kakak ipar, katanya teman teman kakak ipar mau datang?, jam berapa?". Nabila memang sudah mengatakan kepada Rania bahwa Lisa dan Maya akan datang ke rumah.


"Oh iya, sekarang jam berapa ya?, kok mereka belum datang". Nabila mencoba mencari cari jam dinding di dapur.


"Jam dua kak, itu jam nya ada di sebelah sana". Sahut Rania sambil menunjuk dimana jam dinding berada.


"Mungkin sebentar lagi dek".


"Kakak ipar habis ini kita nonton drakor ya". Tutur Rania yang masih sibuk menghias cup cakenya.


"Permisi nona, di depan ada tamu. Mereka mencari nona Nabila". Tutur Bi Minah yang baru saja muncul di dapur.


"Iya itu teman teman saya bik, bik Minah tolong buatkan minum untuk mereka, sebentar lagi saya ke depan". Ucap Nabila kepada Bi Minah, beliau pun segera membuatkan minuman untuk kedua tamu nona nya.


"Dek, aku tinggal sebentar ya". Nabila berlalu meninggalkan Rania menuju ruang tamu.


"Kak, nanti aku tunggu di ruang tv aja ya kita nonton drakor". Seru Rania setengah berteriak karena Nabila sudah menjauh dari dapur.


"Iya dek". Sayup sayup suara Nabila masih terdengar dari dapur.

__ADS_1


"Selesai". Rania tersenyum puas saat dirinya telah selesai menghias cup cake, ia melepas apron berwarna merah jambu yang ia kenakan selama berkutat membuat kue.


Menyuruh salah satu pelayannya merapikan dapur yang telah berantakan akibat ulah dirinya dan Nabila, Rania membawa cup cake dan red velvet cheese browny ke ruang tv.


__ADS_2