
Nabila dan Rania kini sedang berada di salah satu mall terbesar di kota Jakarta, setelah melakukan serangkaian perawatan wajah dan badan mereka berdua melanjutkan dengan shoping, memasuki sebuah toko ternama dunia.
Sebenarnya Rania yang sejak tadi heboh mengambil semua barang yang ia sukai, gadis itu seperti orang kalap, dia membeli barang tanpa melihat harganya terlebih dulu bahkan tanpa mencobanya Nabila sendiri terbengong bengong melihat kelakuan adik iparnya itu, apa memang seperti itu jika dia brbelanja?.
"Kakak ipar ngga belanja?, kenapa dari tadi cuma liatin aku belanja". Rania sejenak menghentikan tangannya yang sedang memilih milih.
"Dek kamu belanja ngga dilihat dulu haraganya?". Nabila masih bengong.
"Aku sudah hafal kak estimasi harga barang barang di toko ini". Tutur Rania sambil berjalan menuju display tas bermerek yang tertata rapi, diikuti seorang sales asisten yang sejak tadi melayani Rania dengan sangat baik.
"Tapi kamu juga ngga mencobanya dulu dek?, kamu ngga takut nanti ngga muat atau ngga cocok?".
"Isshh, kakak ipar ini cerewet sekali ya seperti papa. Sudah ayo belanja kakak ipar mau yang mana?".
"Astaga kenapa malah aku disamain sama tuan Angga sihh". Gerutu Nabila dalam hati.
"Ayo kakak ipar mau yang mana?, Masa kakak ipar ngga belanja, nanti kak Rangga marah karena aku yang habisin uangnya". Rania menarik tangan Nabila memaksanya untuk belanja.
"Iya iya dek, aku belanja lepaskan dulu tanganmu". Nabila melirik tangannya yang masih di tarik tarik adik iparnya itu.
"Nah gitu dong, yang banyak ya kak". Rania tersenyum puas.
Nabila berjalan mengelilingi toko mencari cari barang yang memang sekiranya ia butuhkan dan harganya tidak terlalu mahal, bagi Nabila rasanya sayang jika harus menghambur hamburkan uang untuk hal yang kurang penting.
Karena dirinya tahu bagaimana susahnya nyari uang, bahkan kekurangan uang pun ia sudah sering mengalaminya dulu.
Nabila akhirnya membeli sebuah heels yang harganya sekitar 3 jutaan, itulah yang paling murah yang Nabila temui sepanjang ada disana.
****
__ADS_1
Puas berbelanja Rania mengajak Nabila makan siang di food court yang ada di sana.
Nabila dan Rania duduk saling berhadapan menikmati makan siang mereka.
Ada perbincangan ringan di sela sela makan siang mereka.
"Kakak ipar kenapa kakak cuma beli sepatu aja tadi?". Tanya Rania dengan mulut penuh makanan.
"Aku cuma butuh sepatu dek, lagian kakakmu sudah belikan baju, tas, sepatu, acesories hampir satu toko dirumah yang belum pernah ku pakai". Jawab Nabila sambil memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
"Tapi kan trend selalu berjalan kak, kakak ipar mau pakai baju yang sudah mulai ketinggalan jaman?".
"Itu ngga masalah dek, yang penting aku suka dan aku nyaman ya aku pakai". Rania hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban kakak iparnya.
"Kak, menurut kakak ipar Rendy suka ngga ya sama aku". Tiba tiba saja Rania menanyakan hal itu.
"Bukan itu maksudku kak, menurut kakak ipar apa mungkin Rendy bisa mencintaiku?".
Nabila membisu, suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
Dengan susah payah ia berkata, "Bisa saja dek, namanya cinta ngga tahu mau datang dan perginya, bisa saja sekarang dia sudah mulai jatuh cinta sama kamu?".
Mendengar ucapan Nabila wajah Rania berbinar seketika, senyuman manisnya tak surut dari wajah cantiknya.
"Apa kakak ipar tahu hal apa yang di sukai dan ngga di sukai Rendy?".
"Mmmm...kalau itu aku ngga begitu tahu dek, setahu ku sih Rendy menyukai fotografi, untuk yang ngga disukainya aku ngga tahu dek".
"Kakak ipar dukung aku ngga kalau aku pacaran sama dia?".
__ADS_1
"Aku pasti akan dukung kamu dek kalau memang itu bisa buat kamu bahagia, Rendy laki laki yang baik dan bertanggung jawab". Nabila tersenyum tipis.
"Tentu saja aku bahagia kak, kalau aku bisa menjadi kekasihnya atau bahkan istrinya". Rania tersipu dengan ucapannya sendiri yang baru saja ia ucapkan
Tiba tiba saja ada seorang laki laki yang ikut duduk bergabung dengan Nabila dan Rania, kedua gadis itu terkesiap melihat siapa yang baru saja duduk bergabung di meja mereka.
Wajah Rania memerah menahan malu, takut kalau kalau Rendy mendengar apa yang baru saja di ucapkannya beberapa detik yang lalu, Rania berharap menjadi istri Rendy apa Rendy mendengar semuanya?, Rania menunduk tak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap manik hitam Rendy yang kini sedang menatapnya intens.
"Aku boleh kan gabung dengan kalian?". Cicitnya.
Nabila tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa?, karena ia memang sedang menjaga jarak dengan pria itu namun sepertinya Rania sangat senang dengan kehadiran Rendy.
"Dek, gimana?". Nabila meminta pendapat Rania yang tiba tiba menundukkan wajahnya, sambil tangannya memainkan sendok dan garpu di piringnya.
"Tentu boleh, siapa yang melarang". Rania mencoba mengangkat wajahnya, saat kedua manik hitamnya bersiborak dengan manik Rendy gadis itu kembali menundukkan wajahnya.
"Aaaaa, aku malu sekali. Apa Rendy mendengar semua ucapanku tadi ya?, Aku berharap menjadi istrinya, perempuan macam apa aku ini terlihat tidak tahu malu begitu, pasti Rendy sedang berpikiran buruk tentangku". Gumam Rania dalam hati.
"Kalian habis shoping?". Ucap Rendy saat dirinya melihat ada banyak paper bag di dekat Rania dan Nabila duduk, ucapan Rendy membuyarkan lamunan Rania.
"Iya Ren". Nabila menyahut karena Rania tak kunjung menjawab.
Rendy menatap Nabila dengan tatapan penuh cinta membuat Nabila merasa tidak enak, akhirnya dia pamit ke toilet untuk menghindari Rendy yang sepertinya sengaja menatapnya seperti itu.
"Aku ke toilet dulu ya". Nabila beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Rendy dan Rania yang masih dalam kebisuan.
Rendy menatap sendu kepergian Nabila hingga gadis itu tak terlihat lagi dari pandangannya.
Rania melihat hal itu merasa heran dengan tatapan yang tak biasa itu.
__ADS_1