
Hari ini adalah hari ke 4 Nabila tinggal di apartemen Rangga, walaupun mereka sepasang kekasih tapi sejauh ini tidak ada kejadian yang melebihi batas diantara mereka.
Rangga dengan susah payah selalu mengontrol dirinya agar tidak bertindak berlebihan kepada Nabila, mengontrol hasrat dan nafsu laki lakinya.
Memang tidak mudah saat dua orang lawan jenis tinggal dalam satu atap, pasti banyak sekali godaan setan yang menghampiri keduanya untuk berbuat zinah, sungguh sangat tersiksa jika godaan itu datang namun mereka harus bisa menahan diri.
Rangga tidak mau membuat Nabila kecewa kepadanya bahkan ia masih ingat jelas bagaimana marahnya Nabila saat dulu dirinya khilaf mencium bibirnya di rooftop kampus, saat itu ia benar benar kemakan api cemburu membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Yang ada di dalam pikirannya hanya ingin mendapatkan Nabila gadis yang sangat dicintainya, tapi sekarang Rangga berusaha tidak mengulang kejadian itu lagi ia tidak mau membuat Nabila marah dan kecewa hanya karena dia mencium bibirnya walaupun status mereka sepasang kekasih.
Sudah 4 hari juga anak buah madam Karla tidak pernah muncul lagi setelah dua bodyguard Nabila menghajarnya beberapa hari yang lalu membuat Rangga dan Nabila bernafas lega.
Walaupun begitu Rangga masih tidak mengijinkan Nabila keluar dari apartemennya, karena ia masih belum yakin jika madam Karla menyerah begitu saja.
Nabila masih dikawal dua bodyguard seramnya, seperti saat ini Nabila sedang duduk sendiri di taman kampus menunggu ketiga sahabatnya sembari memainkan ponselnya mengecek toko onlinenya, kedua bodyguardnya berdiri mengawasi dari jarak yang tidak jauh dari Nabila.
Rendy datang menghampiri Nabila yang tengah duduk, tentu saja membuat kedua bodyguard itu menajamkan pandangannya, mengawasi dengan tajam setiap gerak gerik pemuda yang kini duduk di samping Nabila.
"Haii Ren, mana yang lainnya?". Tanya Nabila tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.
"Sepertinya mereka masih di kelas".
"Ouhh". Nabila hanya ber oh ria.
"Bil, ada yang mau aku tanyakan sama kamu?. Rendy memutar sedikit tubuhnya menghadap Nabila yang masih asyik dengan ponselnya.
Dari nada Rendy berbicara sepertinya ia ingin menanyakan hal yang serius, Nabila memasukkan ponselnya ke dalam tas nya.
"Apa Ren?". Nabila menatap Rendy dengan penuh tanya.
"Kamu selama ini tinggal dimana?". Tanya Rendy penuh selidik.
Degggg!!
Jantung Nabila seperti di hantam batu besar mendengar pertanyaan Rendy, bagamana mungkin dia tiba tiba menanyakan hal ini lalu Nabila harus jawab apa?, Apa Rendy sudah mulai curiga dengannya?, Apa Rendy tahu kalau dirinya tinggal di apartemen Rangga?.
Nabila terdiam cukup lama memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan sahabatnya itu.
"Bil?, Kenapa kamu ngga jawab pertanyaanku?".
"Sebenarnya selama beberapa hari ini kamu tinggal dimana?". Rendy kembali mengulangi pertanyaannya.
"Apaan sih kamu Ren, ya jelas jelas aku tinggal di rumahku rumah peninggalan nenek, kenapa kamu tiba tiba nanyain itu?". Nabila mencoba berkilah, ia tidak mau Rendy atau siapapun berpikiran jelek tentangnya dan juga Rangga.
Meski ia yakin, semua orang akan berpikiran jelek jika mengetahui dia dan Rangga tinggal bersama, tapi mereka melakukan itu bukan tanpa alasan justru itu untuk kebaikan dirinya, oleh sebab itu Nabila tidak mau siapapun mengetahui hal ini.
"Jangan bohong Bil, aku sudah tahu semuanya!". Nada Rendy sedikit kesal, matanya juga sudah memerah menahan marah.
Nabila terkesiap, apa benar Rendy sudah tahu semuanya?, Rendy sudah tahu kalau dirinya tinggal di apartemen Rangga?.
"Astaga bagaimana dia bisa tahu, lalu apa yang harus aku katakan". Batin Nabila sambil mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Ren maksudmu apa?, Aku ngga ngerti!". Tutur Nabila.
"Selama ini kamu tinggal di apartemen cowok kamu kan?!". Tanya Rendy kesal. Tangannya mengepal kuat tatapan mengintimidasi sekaligus kecewa terpancar dari manik hitamnya.
"Aku sudah tahu semuanya, jadi jangan coba coba membohongiku lagi!!". Seru Rendy.
Nabila hanya terdiam tanpa mau membalas ucapan Rendy, dia bingung apa yang harus di katakan karena semua ucapan Rendy memang benar adanya, dirinya memang tinggal di apartemen milik Rangga.
"Aku benar benar kecewa sama kamu Bil, aku pikir kamu perempuan baik baik nyatanya kamu mau aja disuruh tinggal bareng sama cowok kamu!!". Seru Rendy sambil tersenyum miring.
PLAKK!!!
Tanpa aba aba Nabila menampar Rendy.
"Apa maksudmu?". Nabila mengeram kesal, baru kali ini ia menampar sahabatnya itu karena kata katanya baru saja menyakiti hatinya.
Bagaimana bisa dia berpikiran serendah itu tentangnya, bukankah mereka bersahabat sudah 4 tahun lebih harusnya Rendy tahu bagaimana sifat Nabila tidak mungkin gadis itu melakukan hal itu tanpa dasar dan alasan yang kuat.
Bulir bening kini membasahi pipi Nabila ada rasa bersalah dalam diri Rendy telah mengatakan hal buruk kepada Nabila namun rasa kecewa dan sakit begitu besar dalam dirinya mengalahkan rasa bersalah itu.
"Kenapa kamu mau aja disuruh tinggal beramanya?!, Apa kamu sudah kehilangan akal?, Kamu rela dia berbuat macam macam sama kamu?". Rendy memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Nabila.
"Kalian belum menikah dan kalian sudah tinggal satu atap!!". Jujur aku sangat kecewa sama kamu Bil!". Tambahnya.
Nabila menghela nafas berat.
"Kalau memang kamu pikir aku bukan perempuan baik baik ya sudah tinggalkan aku, lupakan aku jangan lagi mendekatiku!!". Seru Nabila sambil menatap tajam pria yang ada di sampingnya.
"Jangan sentuh aku, aku bukan perempuan baik baik!!". Nabila menepis tangan Rendy dengan kasar.
"Bukankah kamu tahu Ren apa alasanku tinggal bersama mas Rangga?, Aku sudah menceritakan masalahku sama kamu, Lisa dan Maya harusnya kamu tahu Ren aku ngga punya pilihan lain, bukannya malah menuduhku seperti itu!!".
"Maafkan aku Bil, tapi dua orang lawan jenis yang sudah dewasa tinggal satu atap dan sama sama memiliki rasa cinta apa tidak akan berakhir pada perzinahan!!".
Nabila hanya tertunduk sambil mencoba menahan tangisnya.
Kedua bodyguard yang sejak tadi memperhatikan mereka kini datang menghampiri Nabila dan Rendy saat melihat majikannya menangis.
Dengan cepat pria bebadan besar itu menarik kerah baju yang di kenakan Rendy hingga membuat Rendy berdiri dari duduknya.
"Stop pak, jangan lakukan itu!, Dia sahabatku kita hanya sedang mengobrol". Ucap Nabila mencoba menghentikan tindakan yang dilakukan bodyguardnya kepada Rendy.
"Tapi nona..".
"Tidak apa apa pak, silahkan kalian mengawasi kami dari sana saja". Nabila menunjuk tempat semula bodyguardnya berdiri.
Dengan berat hati dua pria seram itu menuruti permintaan majikannya, mereka kembali berdiri di tempatnya semula mengawasi Nabila dan Rendy dengan tajam.
Rendy kembali duduk di samping Nabila dengan perasaan kesal dan marah yang membuncah mengingat kenyataan Nabila dan Rangga tinggal satu atap.
Bagaimana tidak ia sangat mencintai Nabila, ia harus merelakan wanita yang dicintainya selama bertahun tahun menjadi kekasih orang lain, dan sekarang menerima kenyataan bahwa Nabila tinggal bersama pria lain membuatnya sangat sakit hati, entah apa yang sudah dilakukan mereka berdua, Rendy tak sanggup membayangkannya apalagi tadi dia diperlakukan seperti itu oleh bodyguard sialan itu membuatnya semakin berapi api.
__ADS_1
"Ren asal kamu tahu aku dan mas Rangga tidak pernah melakukan seperti apa yang ada di dalam pikiranmu, aku masih tahu batasan Ren aku juga tidak mau melakukan hal hal yang tidak seharusnya kita lakukan!!". Kesal Nabila dituduh yang tidak tidak oleh sahabatnya sendiri.
"Aku percaya sama kamu Bil, tapi ngga dengan cowok br*ngsek itu!!". Tuturnya berapi api.
"Bisa saja dia memanfaatkan moment ini untuk mendapatkan mu seutuhnya!!". Sambungnya.
"Ren, aku ngga suka ya kamu menuduh ku dan mas Rangga yang tidak tidak!!, Aku kan sudah bilang kita tahu batasan Ren, aku terpaksa tinggal bersamanya, kenapa kamu masih saja menuduh kita seperti itu!!". Ucap Nabila dengan tegas, air mata yang ia tahan kini kembali mengalir begitu saja membasahi wajah cantiknya.
Rendy tersenyum miring, dia benar benar tidak bisa mengerti jalan pikiran kedua manusia yang sedang di mabuk cinta itu, biarpun mereka bilang tidak akan melakukannya tapi dia benar benar tidak percaya.
Mungkin saat ini tidak tapi apa bisa jamin kedepannya juga tidak akan melakukannya, godaan setan siapa yang akan tahan jika mereka terus satu atap bisa jadi setan akan membutakan pikiran mereka.
"Aku sudah ngga bisa berbuat apa apa lagi Bil, kalau memang itu keputusan kamu, tapi tolong kalau si br*ngsek itu berbuat macam macam dan kurang ajar cepat beritahu aku, aku akan menghabisinya!!". Tutur Rendy sambil mengepalkan kedua tangannya dan menggertakakkan giginya.
Lalu Rendy pergi meninggalkan Nabila begitu saja, merasa sangat kecewa dengan keputusan yang di ambil gadis itu.
Nabila terisak mengingat semua ucapan Rendy, apa benar dirinya bukanlah perempuan baik baik?, Rasanya sangat menyayat hati kata kata itu keluar dari mulut orang yang sudah ia percaya selama bertahun tahun.
Siang itu Nabila memutuskan untuk langsung pulang ke toko bunganya tanpa menunggu Lisa dan Maya, Nabila hanya ingin menenangkan hatinya saat ini.
Mungkin dengan menyibukkan diri di toko akan sedikit membuatnya lebih tenang.
-------
Rendy berjalan dengan langkah lebar mendekati sebuah bangunan gedung tua yang sepertinya sudah lama tidak terpakai.
Pria itu berjalan memasuki gedung dengan ekspersi marah yang masih hinggap di wajah tampannya.
Setelah sampai di dalam gedung yang cukup kotor dan tidak terawat itu ia disambut oleh 4 orang laki laki bertubuh besar dan berpakaian layaknya preman.
Keempat laki laki itu membungkuk memberi hormat kepada Rendy seolah menganggap pemuda itu adalah bosnya.
"Selamat siang bos".
"Hemmm". Rendy sangat malas menjawab sapaan dari laki laki itu.
"Aku ngga mau buang buang waktuku, cepat bawa dia kemari!!". Titah Rendy dengan tegas.
"Baik boss!!". Dua orang dari mereka berjalan memasuki gedung lebih dalam lagi sedangkan Rendy masih berdiri melipat tangan di dada seperti sedang menunggu sesuatu.
Beberapa saat kemudian dua pria itu kembali dengan membawa seorang laki laki paruh baya dengan kedua tangan yang teriikat di belakang dan mulut yang tertutupi lakban hitam.
Dua pria itu mendorong laki laki paruh baya yang di bawanya hingga tersungkur di bawah kaki Rendy.
Rendy menyeringai sadis, ia menarik rambut laki laki itu dengan kasar hingga membuatnya mendongak menatap wajah Rendy.
Rendy kembali tersenyum licik saat melihat luka lebam dan memar di wajah tua laki laki itu.
Dengan kasar tangan Rendy menarik lakban hitam yang menutupi mulut laki laki itu hingga membuat laki laki yang sudah beruban itu mengaduh kesakitan.
Bukannya meminta maaf Rendy justru tertawa terbahak bahak melihat laki laki itu kesakitan.
__ADS_1