Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 95 Masker


__ADS_3

Nabila berbalik memunggungi tersenyum penuh kemenangan, ternyata bisa juga dirinya mengerjai suaminya itu, seorang Rangga mana pernah repot repot membawa barang barang belanjaan tapi sekarang lihatlah pria itu sangat kerepotan.


"Mas lihat disana ada penjual es krim, kayaknya enak sekali". Nabila mencecap mulutnya membayangkan lelehan es krim yang begitu lezat masuk ke dalam mulutnya sambil menunjuk tempat penjual es krim berada.


"Ayo kita kesana". Sambungnya.


"Kamu disini saja, disana banyak laki laki berkerumun biar aku yang belikan".


"Ya sudah aku tunggu disitu ya mas". Nabila menunjuk sebuah bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rangga mengangguk, berjalan mengikuti Nabila menuju bangku taman. Meletakkan semua kantong belanjaan di bangku taman.


"Aku kesana dulu ya, kamu jangan kemana mana". Ucapnya sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Nabila yang sudah duduk di bangku taman.


Nabila mengangguk.


Nabila duduk sambil memperhatikan lalu lalang orang orang yang lewat di depannya, pasar malamnya sangat ramai dari pengunjung yang berusia lanjut, dewasa, muda dan anak anak. Mereka semua menikmati keramaian pasar malam dengan bersuka cita ada yang naik beberapa wahana permainan, ada yang hanya sekedar jalan jalan saja, berbelanja atau hanya menikmati jajanan pasar malam sambil duduk duduk di bangku taman.


Saat Nabila sedang sibuk memperhatikan keramaian pasar malam tiba tiba saja ada seorang pemuda yang menghampiri Nabila.


"Permisi nona". Ucap seorang pemuda yang mengenakan jaket berwarna hijau botol itu.


"Iya?". Nabila menoleh menatap pemuda itu, ada perasaan takut dalam diri Nabila pasalnya ia tidak kenal dengan pemuda tersebut lagi pun ia sedang berada di tempat yang baru saja ia kunjungi.


"Maaf, saya mau tanya kalau toilet di sebelah mana ya?". Tanyanya sambil tersenyum ramah.


Rasa takut dalam diri Nabila menguap seketika saat melihat keramahan pemuda itu, ya Nabila bisa menilai kalau pemuda itu adalah orang baik baik dan tidak akan berniat jahat kepadanya, apalagi saat mendengar ucapannya, ternyata dia hanya menanyakan letak toilet.


"Oh toilet ya, kalau saya tidak salah tadi saya lihat di sebelah sana tuan". Nabila menunjuk dimana letak toilet berada, pasalnya tadi dirinya sempat melihat papan bertuliskan toilet saat berjalan mengelilingi pasar malam.


"Disebelah sana ya?, baiklah kalau begitu terimakasih banyak nona". Ujar pemuda tersebut tersenyum ramah.


"Iya sama sama tuan". Nabila membalas dengan senyum simpul.


Pemuda itu sudah pergi meninggalkan Nabila menuju toilet yang sejak tadi di carinya.


Rangga yang berada di seberang jalan hendak menyebrang menatap Nabila dengan tajam, dengan dua cone besar es krim di tangannya.


Mata Nabila berbinar saat melihat Rangga datang membawa dua cone besar es krim dengan taburan coklat dan kacang di atasnya.


Nabila segera mengambil satu cone es krim dari tangan Rangga.


Saat Nabila hendak menjilat es krim yang sudah sangat menggoda itu Rangga berkata, "Siapa laki laki tadi?". Tanyanya dengan nada kesal, sorot matanya mengintimidasi membuat Nabila mengurungkan niatnya menjilat es krimya.

__ADS_1


"Laki laki yang mana?". Nabila mengernyit bingung.


"Jangan pura pura lupa, tadi kamu ngobrol sama laki laki kan?". Tanyanya marah.


"Laki laki?". Nabila sejenak berpikir.


"Astaga laki laki yang tadi?". Nabila menunjuk arah toilet berada.


Rangga tak menjawab hanya menatap tajam Nabila. Nabila tertawa.


"Jadi dia marah gara gara aku ngobrol sama laki laki tadi?, dia cemburu buta sama laki laki yang cuma menanyakan toilet?". Gumam Nabila dalam hati.


"Kenapa kamu tertawa?". Kesal Rangga.


Nabila tersenyum, menyenggol perut Rangga dengan sikunya "Kamu cemburu mas?". Goda Nabila menaik turunkan alisnya membuat Rangga semakin kesal.


Rangga mendesah frustasi.


"Sini duduk dulu sayang". Nabila menuntun Rangga untuk duduk di bangku taman yang sempat ia duduki.


Rangga mengikuti Nabila duduk, namun raut wajahnya masih terlihat begitu kesal.


"Sayang". Nabila menggengam tangan Rangga yang tak memegang es krim.


"Laki laki tadi cuma menayakan letak toilet saja sayang, aku juga ngga kenal, kenapa kamu cemburu sama dia?". Ucap Nabila sambil menahan tawa, sungguh ia ingin sekali tertawa melihat suaminya yang cemburu buta sama laki laki yang hanya menanyakan letak toilet.


"Tetap saja dia laki laki, kamu juga ngapain senyum senyum sama dia!". Serunya masih dengan nada kesal.


"Senyum?". Nabila terdiam, berpikir sejenak.


"Memangnya aku senyum sama dia?, kapan?".


"Aku tahu kamu senyum senyum sama dia sebelum dia pergi, aku memperhatikanmu dari seberang jalan aku mau nyebrang tapi banyak sekali kendaraan si*lan yang lewat". Masih tak mau menurunkan nada bicaranya.


"Ya ampun mas, itu karena dia mengucapkan terimakasih sambil tersenyum jadi ya aku balas senyum". Sahut Nabila.


"Ooo jadi begitu?, kalau ada laki laki senyum sama kamu, kamu balas senyum, iya?. Kalau ada laki laki yang menggodamu kamu juga akan balas menggodanya begitu?". Tuturnya dengan sorot tajam menghujam Nabila.


"Salah lagi". Batin Nabila.


"Bukan begitu mas, dia tersenyum karena mengucapkan terimakasih bukan mau menggodaku".


"Tetap saja dia kan laki laki, bisa saja dia sedang menggodamu".

__ADS_1


Nabila mendesah frustasi, entahlah harus bagaimana lagi menjelaskan kepada suaminya itu kalau senyumnya itu bukan semyum untuk menggoda, konteksnya sangat berbeda. Ia tersenyum karena menghormati dan menghargai lawan bicaranya.


"Mas aku tersenyum karena menghormati dan menghargai dia sebagai lawan bicaraku". Kesal Nabila.


"Memangnya dia siapa harus kamu hormati dan hargai?".


"Sudahlah mas, aku memang selalu salah kalau berdebat masalah laki laki dengamu". Gerutu Nabila namun masih bisa di dengar Rangga.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh tersenyum kepada laki laki manapun". Ujar Rangga penuh peringatan.


"Baiklah". Mengalah lebih baik, menghindari perdebatan yang tidak akan ada habisnya.


Nabila tak mau menghiraukan lagi Rangga yang masih sibuk mengoceh melarangnya ini dan itu.


Nabila menikmati es krim di tangannya yang sudah hampir meleleh.


"Kamu tunggu disini sebentar, jangan bicara dengan laki laki lain!". Seru Rangga penuh ancaman.


"Kamu mau kemana?". Tanya Nabila, Rangga tak menghiraukannya ia berjalan menuju penjual masker yang berada beberapa langkah dari tempat mereka.


Nabila tak peduli lagi saat Rangga tak menjawab pertanyaannya, ia asyik menikmati es krim miliknya.


Sesaat kemudian Rangga sudah kembali dengan membawa sebuah masker berwarna merah jambu yang masih di dalam plastik.


"Pakai ini". Rangga menyerahkan masker itu kepada Nabila setelah dirinya membuka pembungkus plastiknya.


"Masker?". Nabila mengambilnya dari tangan Rangga namun ia bingung untuk apa Rangga membelikannya masker itu.


Di tatapnya masker merah jambu di tangannya setelah ia menerimanya.


"Untuk apa ini mas?". Ucapnya sambil melanjutkan menikmati es krimnya.


"Untuk kamu pake dong yank, nutupin wajah kamu".


"Memangnya kenapa wajahku?". Nabila meraba wajahnya.


"Untuk nutupin senyum kamu biar tidak ada laki laki yang lihat". Ujar Rangga, mulai menikmati es krim miliknya yang sudah leleh.


"Astaga!, aku ngga mau!". Nabila menyerahkan masker itu kembali kepada Rangga.


"Aku ngga akan senyum kepada laki laki lain aku janji, tapi aku ngga mau pake masker, kamu mau aku sesak nafas mas?".


"Bagus, pegang janjimu gadis pintar". Rangga mengacak puncak kepala Nabila sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aneh aneh saja dia ini!". Gumam Nabila dalam hati, geram.


__ADS_2