
"Kenapa kamu menangis?" Rangga kembali membuka matanya, menopang kepalanya dengan tangan sambil menatap Nabila dengan posisi tubuh miring.
"Kamu jahat mas hikks, kamu ngga mau beliin aku rujak buah hikks," ujarnya sambil menangis.
"Kenapa dia jadi manja begini sihh, lagian ada ada saja mau makan rujak buah tengah malam begini," Rangga bersungut sungut dalam hati.
Sudah segala cara ia coba untuk membujuk istrinya namun Nabila sangat keras kepala masih kekeh ingin makan rujak buah malam ini juga.
Rangga berdecak kesal, ia meraih ponselnya mulai menghubungi Leon. Berkali kali panggilan namun tak ada jawaban juga, setelah panggilan ke lima baru terdengar suara Leon dari balik telefon dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya tuan muda ada apa?" Tanya Leon sedikit panik. Pasalnya Rangga tak pernah menelponnya tengah malam begini, ia khawatir terjadi hal buruk dengan bosnya itu.
"Yon lo carikan rujak buah ya sekarang, dan antar ke rumah!" Titahnya.
"Rujak buah?" Leon balik bertanya merasa aneh dengan permintaan tuannya itu.
"Iya, sudah jangan banyak nanya. Cepat cari sekarang juga," tanpa menunggu jawaban Leon Rangga sudah memutus panggilannya.
Rangga mengembalikan ponselnya kembali ke atas nakas, dan merebahkan tubuhnya sambil memeluk Nabila.
"Sudah tidur saja dulu, Leon sedang mencarinya," ujar Rangga sambil mengusap usap kepala Nabila seperti sedang menidurkan anak kecil.
Tapi bukannya Nabila yang tidur justru Rangga yang sudah terbang kembali ke alam mimpinya.
Setengah jam berlalu Nabila masih belum bisa tidur, menunggu rujak buahnya.
"Mas, bangun mas kenapa mas Leon lama sekali," rengeknya. Menggoyang goyangkan tubuh Rangga.
"Hemmm" hanya itu yang keluar dari mulut lelaki itu, Nabila berdecak kesal, berbalik memunggungi Rangga.
Setengah jam lagi berlalu, ponsel milik Rangga berdering membuat Nabila begitu senang, ia duduk dan meraih ponsel milik Rangga lalu dengan cepat ia menggeser tombol hijau pada layar ponsel.
"Halo mas Leon? Mana rujak buahnya," cerocos Nabila sebelum Leon sempat berbicara.
"Iya nona, ini saya sudah di depan pintu utama," sahut Leon dari balik telefon.
"Baiklah tunggu sebentar," Nabila mematikan ponselnya lalu kembali menggoyang goyangkan tubuh Rangga.
"Mas bangun, mas Leon sudah di depan cepat ambil rujak buahnya," ucap Nabila sambil terus menggoyang goyangkan tubuh Rangga.
"Hmmm, cepat sekali," sahut Rangga dengan mata masih enggan terbuka.
"Cepat apanya, aku nunggunya sudah satu jam. Sudah cepat sana turun," ucap Nabila kesal.
"Iya, iya baiklah," Rangga bangun. Memakai baju tidur miliknya sambil bersungut sungut.
__ADS_1
"Istri siapa sih ini, menyebalkan sekali," gerutu Rangga.
"Apa kamu bilang mas?" Nabila berkacak pinggang.
"Ngga sayang, maksudku menggemaskan sekali," ralatnya sambil menerbitkan senyum terbaiknya. Berjalan keluar dari kamar untuk menemui Leon.
Beberapa saat kemudian Rangga sudah kembali dengan membawa satu tepak rujak buah lengkap dengan saus kacangnya.
Nabila tersenyum senang, segera meraih tepak yang ada di tangan Rangga. Berjalan menuju sofa kemudian memulai memakannya.
"Kamu ngga mau mas?" Tanyanya.
"Ngga, sudah cepat makanlah terus tidur lagi," ujar Rangga. Dirinya pun kembali tertidur.
****
Keesokan paginya Nabila sudah berada di kamar mandi, muntah muntah hingga membuatnya lemas.
Hoooeekk...
Hoooeekk...
Nabila mencuci mulutnya, lalu mencuci wajahnya. Kenapa rasanya perutnya sangat tidak enak, mual dan ada rasa begah juga. Kepalanya seperti berputar putar, pusing.
Nabila menyandarkan tubuhnya di tembok, terduduk lemas. Ingin kembali ke tempat tidur namun rasa mualnya tak kunjung pergi, dirinya takut kalau kalau akan muntah lagi.
Hooeekk..
Hoeeekk..
Rangga tergopoh gopoh berlari menyusul Nabila ke kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya panik, memijat tengkuk leher Nabila secara perlahan.
"Entahlah aku rasa masuk angin, rasanya mual sekali, kepalaku juga berputar putar," ujar Nabila wajahnya sudah terlihat pucat.
"Ya sudah, ayo istirahat dulu," Rangga menggendong Nabila ala bridal style dan membaringkannnya di tempat tidur.
Menyelimutinya dan membelai rambutnya lembut,"Aku akan memanggilkan dokter," ujar Rangga hendak beranjak dari duduknya.
"Tidak usah mas, aku hanya butuh istirahat saja," Nabila menahannya, "Kamu yakin? kamu harus diperiksa oleh dokter yank," bujuknya.
"Tidak perlu mas, aku baik baik saja," kekeh Nabila.
"Sudah sana, buruan mandi nanti kamu telat ke kantor," sambungnya.
__ADS_1
"Iya, tapi hari ini jangan kuliah dulu ya," tandasnya. Nabila mengangguk mengiyakan
"Baiklah, aku mandi dulu," Rangga bergegas menuju kamar mandi, berjalan menuju lemari mengambil handuk baru dari beberapa tumpukan handuk di dalamnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Sebenarnya aku sakit apa ya? Kalau dilihat dari semua keluhan yang aku rasakan itu seperti menandakan kalau aku hamil, apa aku memang hamil?" Gumam Nabila.
Bagaimanapun juga Nabila adalah mahasiswa kedokteran tentu saja dirinya paham tentang ilmu kehamilan ya walaupun tidak secara mendetail tapi setidaknya sedikit banyak ia tahu tentang ilmu kehamilan.
Nabila mencoba mengingat ingat kapan terakhir dia datang bulan, ah sepertinya dia sudah lama tidak datang bulan.
"Sepertinya sudah hampir dua bulan aku tidak datang bulan," gumam Nabila, ada senyuman yang terbit dari bibirnya yang pucat.
Sesaat kemudian Nabila menggeleng cepat, ia tidak mau terlalu berharapa banyak takut dirinya kecewa.
"Aku harus beli alat tes kehamilan," gumamnya lagi.
Rangga sudah keluar dari kamar mandi, dengan handuk melilit di pinggangnya, rambutnya yang basah masih meneteskan air.
"Sayang, nanti kamu tidak boleh kemana mana selama aku kerja, jika butuh sesuatu kamu panggil saja Bi Minah atau yang lainnya," cetus Rangga, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada di tangannya.
"Iya cerewet sekali suamiku ini," protes Nabila, dengan mata terpejam
"Tapi cinta kan sayang?" Godanya, tiba tiba saja Rangga sudah ada duduk di tepi tempat tidur dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nabila, Nafas Rangga mengenai wajah Nabila membuat Nabila membuka matanya, Nabila terperanjat saat wajah Rangga berada tepat di depan wajahnya.
Rangga tertawa, ia memundurkan tubuhnya. Mengusap sayang rambut Nabila.
Beranjak dari duduknya lalu mulai bersiap memakai pakaian kerja yang sudah Nabila siapkan.
"Nanti aku suruh Bi Minah membawakan sarapanmu kesini, aku harus berangkat sekarang. Ada meeting pagi hari ini," ujar Rangga mengecup puncak Nabila sekilas.
"Makan yang banyak, istirahat yang cukup nanti siang aku usahakan untuk pulang melihat keadaanmu," tambahnya, mengusap lembut pipi Nabila.
"Iya cerewet,"
Rangga tersenyum lalu pergi meninggalkan Nabila, berangkat ke kantor.
****
"Nona Nabila mau pergi kemana? Den Rangga melarang nona untuk keluar rumah sampai nona sembuh," ujar Bi Minah saat berpapasan dengan Nabila yang sudah rapi dan membawa tas seperti hendak pergi.
"Aku cuma mau ke apotek, Bik. Aku tidak apa apa, tidak usah khawatir," Nabila mengusap lembut lengan wanita paruh baya itu.
"Tapi nona, nanti den Rangga marah," ujarnya lagi.
"Aku cuma sebentar Bik, tidak akan lama," sahut Nabila.
__ADS_1
"Tapi nona Nabila di antar supir kan?" Tanya Bi Minah cemas.
"Iya, Bik. Aku diantar supir. Ya sudah aku pergi dulu ya, Bik." Nabila tersenyum lalu melanjutkan langkahnya keluar rumah.