Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 117 mencari tahu tentangmu


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu dari malam yang tragis di hotel waktu itu, Rendy masih belum bisa menghubungi Rania karena gadis itu belum membuka blokirannya, saat Rendy mencoba menghubungi menggunakan nomer lain kontak gadis itu sudah tidak aktif lagi.


Sepertinya Rania sengaja menghindar dari Rendy, semenjak kejadian malam itu Rendy selalu dihantui rasa bersalahnya kepada Rania.


Setiap hari Rendy mencoba menghubungi gadis itu namun hasilnya nihil, ingin sekali dirinya mendatangi kediaman Pramudita tentu saja Rangga akan marah besar kepadanya jika laki laki iti tahu Rendy datang ke rumahnya.


Rendy juga tak ingin menimbulkan salah paham lagi antara Nabila dan Rangga.


Saat ini Rendy sedang bermain billiard di rumahnya namun pikirannya melayang layang kepada Rania. Ia tak berhenti memikirkan Rania.


"Sedang apa gadis itu? Apa dia baik baik saja?" Gumam Rendy, meletakkan stik billiarnya sembarang lalu melenggang menuju kamarnya mengambil ponselnya mencari cari akun media sosial milik Rania, mulai stalking akun media sosial Rania mencari tahu kegiatan apa saja yang dilakukan gadis itu selama dua minggu terakhir, dan ternyata sudah satu bulan juga gadis itu tak pernah memposting apapun disana, apa yang terjadi? Biasanya dia paling rajin memposting setiap kegiatannya. Sosial media sudah seperti daily activity gadis itu namun satu belakangan ini Rania enggan memposting apapun di akun sosial media miliknya


****


Rania sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba tiba saja perutnya terasa sangat lapar, padahal baru satu jam yang lalu dirinya makan siang.


"Aduuh perutku lapar sekali," gumam Rania, ia menutup berkas berkas laporan yang sedang di ceknya sebelum ia berikan kepada Rangga.


Rania beranjak dari duduknya menuju ruangan Rangga, membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dulu.


"Kak, aku lapar sekali, boleh ya aku mau pesan makanan," Rania merengek memegangi lengan Rangga yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Bukannya kamu baru saja makan siang, baru satu jam yang lalu masa sudah lapar lagi," ujar Rangga tak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Entahlah kak, akhir akhir ini aku gampang lapar," sahut Rania.


"Boleh ya aku pesan makanan," tambahnya.


"Boleh, asal nanti makannya disini jangan di ruanganmu, kalau karyawan lain tahu bisa iri," tutur Rangga, wajah Rania langsung sumeringah, ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku blazernya dan memesan beberapa makanan lewat online untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Tak berapa lama makanan pun sudah berada di atas meja di ruangan Rangga, Rania duduk di sofa memakan makanannya tanpa menawari Rangga.

__ADS_1


Rangga menggeleng gelengkan kepalanya melihat Rania makan dengan lahapnya seperti orang yang sudah bertahun tahun tidak makan.


"Makannya pelan pelan dek, nanti kamu tersedak loh," Rangga memperingati dan Rania hanya manggut manggut saja sambil menikmati makanannya.


"Kamu pesan makanan sebanyak itu mau kamu habiskan semua? Sudah seperti orang hamil saja," tutur Rangga dan kata katanya itu sukses membuat Rania tersedak.


Uhhuk.. Uhuuk..


Rania segera mengambil air mineral yang masih utuh dalam kantong plastik di hadapannya. Meneguknya sampai tenggorokannya terasa lebih baik.


"Hamil?" Gumam Rania dalam hati setelah tenggerokannya merasa lebih baik.


"Ngga ini ngga mungkin, aku baru melakukannya sekali mana mungkin hamil, lagian aku tidak mual dan muntah seperti kakak ipar dulu," gumamnya lagi.


Rania menggeleng cepat menepis pikiran buruknya, ada rasa takut dalam hatinya, takut jika apa yang dipikirkannya itu benar terjadi, sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti.


"Dek, kamu kenapa?" Tanya Rangga yang melihat Rania termenung dan sesekali menggelengkan kepalanya.


"Mmm kepalaku sedikit pusing kak," jawabnya bohong.


"Ngga usah kak, aku mau balik kerja saja," sahut Rania membereskan semua bungkus makanannya, gadis itu benar benar mengahabiskan semua makanannya tanpa sisa.


Rania keluar dari ruangan Rangga dengan langkah gontai, pikirannya di penuhi ucapan Rangga yang menyebutnya seperti orang hamil.


Walaupun Rangga memang tidak sengaja mengucapkan kata kata itu justru membuat Rania jadi kepikiran hingga membuatnya tak fokus dalam bekerja.


Rania mulai was was dengan dirinya, seingatnya ia pun belum datang bulan satu bulan ini, Bagaimana jika sampai dirinya hamil? Tuan Angga dan Rangga pasti sangat marah kepadanya, bisa jadi dirinya di coret dari daftar keluarga pramudita.


Rania tidak sanggup membayangkannya, ia terus mencoba menghalau segala pikiran buruknya, mulai menyibukkan dirinya dengan setumpuk pekerjaannya.


****

__ADS_1


Nabila sedang menikmati spaghetti seafood marinara yang baru saja dibuatkan oleh chef yang bertugas malam, ya waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan ibu hamil itu tiba tiba saja ingin memakan spaghetti.


Nabila memakan dengan lahapnya tanpa menawari Rangga yang menemaninya makan, Rangga yang sudah mulai mengantuk itu di paksa menemaninya makan, laki laki itu pun menurut saja walaupun dalam hatinya bersungut sungut mengumpati istrinya yang menyebalkan, ada saja yang diminta ketika malam hari atau tengah malam bahkan waktu itu pernah juga sudah menjelang pagi Nabila meminta Rangga membuatkan nasi goreng untuknya padahal seumur dia hidup Rangga tak pernah yang namanya memasak. Dan saat itu lah kali pertamanya Rangga memasak nasi goreng untuk Nabila dengan tambahan bumbu cinta tentunya.


"Sayang cepat makannya, aku sudah ngantuk nih," gerutu Rangga, matanya sudah mulai berat. Kelopak matanya sudah buka tutup buka tutup.


"Isshh, sabar dong mas. Aku dan anak kita kan sedang menikmati spaghettinya," tutur Nabila dengan mulut penuh, matanya melotot menatap Rangga yang sudah tidak bisa melek lagi.


Rangga pun mendengus kesal, akhirnya ia merebahkan kepalanya di atas meja makan, tak berapa lama Rangga pun tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang menyandar di meja.


"Wahhh kakak ipar makan apa? sepertinya enak tuh," ucap Rania yang tiba tiba saja muncul sambil menarik kursi yang ada di samping Nabila.


"Spaghetti dek, kamu mau? sini aku suapin. Buka mulutnya," satu suapan sukses mendarat di dalam mulut Rania.


"Hmmm enak kak, aku juga mau lah," Rania beranjak berlalu ke dapur menemui chef dan memintanya untuk membuatkan dua porsi spaghetti seafood marinara.


Sementara menunggu spaghetti miliknya siap Rania menemani Nabila di meja makan sambil berbincang bincang.


Tak lama kemudian datang chef yang bertugas dengan membawa sebuah nampan berisi dua piring spaghetti dan meletakkannya di depan Rania yang sedang asyik mengobrol dengan Nabila.


"Eh sudah jadi ya? Makasi ya chef," tuturnya.


"Dek, satunya buat mas Rangga?" Tanys Nabila saat melihat dua piring spaghetti di depan Rania.


"Ngga, ini buat aku semua kak," sahutnya sambil mulai memakannya.


Nabila membeliak tak percaya, pasalnya setahu Nabila Rania itu sangat menjaga pola makannya, gadis itu tidak mau menyentuh makanan di atas jam 7 malam, tapi sekarang malah mau makan dua piring spaghetti, ada apa dengannya?


"Kamu ngga salah dek? Ini sudah hampir jam 12 loh, kamu ngga takut gemuk? Biasanya kamu paling anti makan makanan berat di atas jam 7 malam," cecar Nabila.


"Entahlah kak aku tidak peduli lagi dengan badanku, aku hanya ingin makan perutku lapar sekali," jawab Rania.

__ADS_1


Nabila menggeleng gelengkan kepalanya melihat Rania makan dengan lahapnya, ia menemani Rania makan sambil melanjutkan obrolan mereka.


Nabila membangunkan Rangga yang tertidur, memintanya untuk kembali ke kamar mereka lebih dulu.


__ADS_2