
Menikmati suasana senja di pantai memang sangat menyenangkan dan menenangkan, terlebih lagi menikmatinya dengan pasangan akan terasa sangat romantis.
Rangga dan Nabila juga tak mau melewatkan moment yang sangat jarang mereka saksikan itu begitu saja, mereka ingin mengabadikan setiap moment indah saat sang mentari kembali ke peraduannya itu menjadi sebuah kenangan indah nan romantis.
Rangga meminta salah satu wisatawan untuk membantunya memotret dirinya dan Nabila saat langit menjingga dengan sempurna, Rangga dan Nabila berdiri berhadapan.
Rangga memeluk pinggang Nabila dan mencium keningnya, sementara Nabila melingkarkan tangannya di leher Rangga dengan background view sunset yang tampak memukau, sang mentari yang terlihat sebagian dengan latar langit yang menjingga sangat sempurna menjadi sebuah foto yang berhasil diabadikan.
Satu foto terakhir bercumbu di tengah debur ombak disiram cahaya senja samar samar memberikan efek dramatis dan tak terlupakan bagi Rangga dan Nabila, juga berhasil diabadikan menjadi sebuah foto.
Efek sinar matahari keemasan yang jatuh dengan dramatis bisa memberikan efek romantis penuh cinta. Rangga dan Nabila begitu menikmatinya pemandangan yang sangat jarang mereka lihat dan rasakan, menikmati sunset di tepi pantai bersama pasangan.
Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan bagi Rangga dan Nabila namun juga sangat menyenangkan dan mengesankan, matahari sudah menghilang digantikan sang rembulan yang siap menemani pekat dan dinginnya malam. Rangga dan Nabila memutuskan untuk kembali ke villa, tempat mereka tinggal selama menghabiskan waktu di Bali.
****
Rangga dan Nabila telah kembali ke villa, mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka, kini mereka berdua tengah berada di atas tempat tidur melihat lihat foto foto mereka saat di pantai.
Merasa puas dan bahagia bisa mengabadikan moment moment indah saat bermain di pantai.
"Mas yang ini di hapus ya, aku kelihatan jelek sekali terlihat melongo gitu". Nabila hendak menekan tombol bergambar tong sampah di layar ponsel milik Rangga.
"Jangan sayang, biarkan saja jangan ada yang di hapus. Aku juga terlihat sangat tampan di foto itu". Ujar Rangga sambil menghentikan tangan Nabila yang hendak menghapus foto itu.
"Ya kamu tampan, tapi aku terlihat jelek sekali disini. Hapus ya kan masih banyak yang foto yang lainnya".
"Jangan yank, mau bagaimanapun foto kamu kamu tetap terlihat cantik sayang apalagi kalau kamu menyenangkan suami kamu". Rangga menyeringai sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu mau apa?!". Nabila segera memalingkan wajahnya dari mata Rangga yang sudah mengerling nakal.
Rangga mengambil ponsel yang di pegang Nabila lalu meletakkannya di atas nakas.
Nabila sudah tahu apa yang diinginkan suaminya itu, dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hanya menyisakan sedikit rambutnya di puncak kepalanya.
"Sayang kenapa kamu tutupan begitu?!". Kesal Rangga.
"Aku ngga mau melakukannya malam ini, aku capek mas". Sahut Nabila dari balik selimutnya.
"Ck". Rangga berdecak kesal.
"Ayolah sayang sebentar saja". Tutur Rangga memelas.
"Mas aku capek, besok lagi ya. Memangnya kamu ngga capek mas kita kan habis main seharian di pantai!". Ujar Nabila dari dalam selimut yang membungkusnya.
Rangga mendengus kesal sambil menyibakkn selimut yang menutupi tubuh Nabila.
"Sayang kamu ngga kasian, lihat dia sangat tersiksa di bawah sana". Ekor matanya menunjuk area sensitif miliknya.
"Dia siapa?". Nabila mengernyitkan alisnya.
"Raju sayang, ayolah sebentar saja". Rangga kembali memelas.
__ADS_1
"Baik, satu kali saja". Nabila mengacungkan telunjuk membentuk angka 1.
Sebenarnya Nabila malas sekali melakukan ha itu, tubuhnya sudah terlalu capek karena bermain di pantai seharian namun ia juga tidak tega melihat suaminya tersiksa karena hasrat yang tak bisa tersalurkan, akhirnya ia mengalah pasrah.
"Iya sayang". Rangga tersenyum senang.
Ia mulai melucuti baju tidur milik Nabila, hanya dengan satu tarikan istrinya sudah polos tanpa busana.
Rangga mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum ia memainkan permaianannya.
Menciumi setiap inci tubuh istrinya yang terlihat putih mulus, meniggalkan beberapa tanda merah di area kesukaan Rangga.
Saat Nabila sudah terlihat b*rgairah ia segera melucuti baju tidur yang masih melekat di tubuhnya melemparnya sembarang hingga teronggok di lantai.
Terjadilah pergumulan panas dengan penuh cinta malam itu.
#sensor yaa
Rangga terjatuh lemas di atas tubuh Nabila dengan peluh membasahi tubuhnya.
Membenarkan posisinya berbaring di samping Nabila yang terlihat tak kalah lemas darinya, nafas mereka memburu saling bersahutan.
Sejenak mereka terdiam hanyut dalam keheningan yang menyergap, mengatur nafas yang tak beraturan.
Beberapa saat kemudian setelah nafas mereka kembali normal Rangga meraih ponselnya dari atas nakas dan melanjutkan kembali melihat lihat foto foto mereka di galeri ponselnya, masih dalam keadaan tubuh yang polos hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.
"Kita lanjutkan lagi lihat fotonya". Ujarnya sambil menggeser pelan foto demi foto di galeri nya.
"Biar aku saja yang pegang ponselnya mas". Nabila hendak meraih ponsel yang ada di tangan Rangga namun dengan cepat Rangga menepisnya.
"Kenapa memangnya?". Nabila mencebik kesal.
"Nanti kalau kamu yang pegang, kamu akan menghapus fotonya". Tutur Rangga.
"Ngga mas, aku akan menghapus fotonya kalau aku terlihat jelek di foto, eh maksudku kalau fotonya terlihat jelek".
"Ya itu sama saja namanya menghapus fotonya, sudah biar aku saja yang pegang. Dan satu lagi jangan coba coba menghapus fotonya biarkan saja semuanya jadi kenangan". Ucap Rangga penuh peringatan.
Nabila mendengus kesal, meremas ujung selimut yang menutupi tubuhnya dan suaminya.
"Baiklah". Ucapnya lirih.
"Bagus, gadis pintar". Ujar Rangga sambil mengacak puncak kepala Nabila dan meninggalkan ciuman singkat disana.
Rangga dan Nabila mulai melihat lihat satu persatu foto foto mereka, tak lupa mereka mengomentari foto foto itu dan jika ada foto yang menurut mereka lucu mereka akan menertawakannya.
Setelah hampir satu jam melihat foto foto, mereka melanjutkannya dengan mengobrol.
"Sayang besok kita mau kemana?". Tanya Nabila antusias, rasanya ia tak sabar untuk kembali menikmati liburannya besok pagi.
"Kamu maunya kemana?".
__ADS_1
"Aku maunya jalan jalan sambil berwisata kuliner mas".
"Baiklah, besok kita akan jalan jalan dan berwisata kuliner". Sahut Rangga.
Mereka menghabiskan malam dengan berbincang ringan tentang banyak hal hingga tak terasa mereka terlelap dalam tidur mereka, memasuki alam mimpi yang siap menyambut dan menemani tidur mereka.
****
Nabila dan Rangga terlihat masih terlelap dalam tidurnya, jam weker yang sejak tadi berbunyi tak membuat mereka terbangun.
Beberapa menit kemudian Nabila tersentak saat indera pendengarannya sayup sayup mendengar alarm dari jam weker yang berada di atas nakas.
Dengan berat Nabila mencoba membuka matanya tangannya meraih jam weker yang masih berbunyi mematikannya lalu meletakkan kembali ke tempatnya.
Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi, beberapa saat kemudian Nabila keluar dengan tubuh yang sudah terbalut piyama mandi dengan handuk membalut rambut basahnya.
Ia berjalan mendekati Rangga yang masih tertidur lelap.
"Mas bangun sholat subuh dulu". Nabila menggoyang goyangkan tubuh suaminya.
"Hemmm". Hanya itu kata yang terlontar dari mulut Rangga.
"Cepat bangun kita sholat subuh berjamaah mas". Menggoyangkan tubuh Rangga kembali.
Rangga bergeming ia semakin menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Kenapa dia selalu susah sekali dibagunkan". Gumam Nabila kesal.
Nabila menyibak selimut Rangga, menarik tubuh suaminya dengan sekuat tenaganya hingga Rangga terduduk namun matanya masih terpejam dengan posisi kepala miring ke kanan.
"Astaga!". Nabila memukul pelan keningnya sendiri.
"Mas Rangga bangun mas, buka matanya!". Nabila merangkak naik ke atas tempat tidur lalu mencoba membuka mata Rangga dengan jemarinya.
"Baiklah sayang, tapi kita lakukan dulu satu kali lagi". Ucapnya setelah matanya terbuka, bibirnya menyeringai penuh maksud.
"Lakukan apa?!, sudah cepat mandi nanti waktu subuhnya keburu habis". Nabila beranjak dari tempat tidur namun Rangga menarik tubuh Nabila hingga ia jatuh ke dalam pelukan Rangga.
"Satu kali lagi sayang, setelah itu aka akan mandi". Bujuk Rangga.
"Aku ngga mau, sudah lah aku mau sholat subuh sendiri saja". Nabila melepaskan tubuhnya dari dekapan Rangga.
"Iya, iya aku mandi sekarang". Rangga bangkit dari tempat tidur berjalan ke kamar mandi.
Nabila tersenyum lega, membangunkan Rangga dari tidurnya sudah seperti habis membangun tembok Cina, butuh perjuangan dan sangat melelahkan.
Nabila mengganti piyama mandinya dengan baju rumahan dan kini ia sudah cantik dengan mukenahnya yang berwarna putih menunggu suaminya untuk sholat berjamaah.
Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi bergegas memakai baju koko dan sarung tak lupa kopiah berwarna hitam menutupi kepalanya.
Mereka berdua menunaikan sholat shubuh berjamaah, Rangga mengimami Nabila dengan sangat khusuk. Sepertinya ia sudah kembali mempelajari tata cara sholat dengan benar sehingga bisa menjadi imam dengan baik.
__ADS_1
Setelah salam, Nabila mencium punggung tangan suaminya dan Rangga mencium kening Nabila dengan begitu dalam, mereka terlihat sangat romantis.
Mereka melanjutkan denagn memanjatkan doa kepada Sang Pencipta dengan penuh haru.