Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 99 Rangga dan Rendy


__ADS_3

Hari ini Rangga dan Nabila sudah kembali beraktifitas seperti biasa, saat ini Nabila baru saja selesai makan siang bersama semua pegawai tokonya, menikmati nasi kotak dengan ayam bakar yang ia pesan online.


Ponsel Nabila berdering, dengan cepat ia mengambilnya dari atas meja. Di layar ponsel tampaklah kontak Rangga melakukan panggilan video call dengan cepat Nabila mengangkatnya hingga panggilan itu terhubung.


"Haii sayang," sapa Rangga saat sambungan video call itu terhubung, wajah tampannya memenuhi layar ponsel Nabila.


"Ada apa mas?"


"Kok, ada apa sih? aku mau ngobrol dengan istriku memangnya tidak boleh?"


Ketiga pegawai toko Nabila hanya senyum senyum melihat keromantisan Rangga dan Nabila.


Nabila jadi merasa malu dan merasa tidak nyaman, akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke lantai atas agar lebih privat.


"Kalian lanjutkan istirahatnya ya, aku ke atas dulu," tutur Nabila.


"Iya mbak, mau mesra mesraan ya?" ledek Dea, hingga membuat Nabila tersenyum malu, kedua pegawai lainnya pun terkekeh.


"Kamu sudah makan mas,?" tanya Nabila sambil berjalan menaiki tangga.


"Sudah, kamu sendiri sudah makan belum?"


"Sudah mas, bagaimna pekerjaanmu hari ini?" Nabila merebahkan tubuhnya di sofa setelah ia sampai di lantai dua.


"Pekerjaanku ya begitu, hari ini aku sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku urus," jawab Rangga sambil melonggorkan dasinya, merenggangkan otot lehernya lalu merebahkan punggungnya di sandaran kursi.


"Semangat ya sayangku," tutur Nabila tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.


"Cium dong sayang biar aku semangat," ujar Rangga sambil menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.


Cup, Nabila mengecup sekilas layar ponselnya yang menampakkan wajah tampan suaminya.


"Terimakasih sayang, bagaimana dengan tokomu hari ini, ramai?"


"Lumayan lah mas, tapi tidak terlalu ramai."


"Oiya sayang, nanti sore kamu pulang di jemput supir kantor saja ya, karena masih ada pekerjaan yang harus diurus. Mungkin aku akan pulang terlambat," ujar Rangga.

__ADS_1


"Kamu jangan pulang sendiri, jangan naik taksi. Tunggu saja pak Kasim menjemputmu," sambungnya.


"Iya mas, aku mengerti."


"Bagus, gadis pintar," Rangga tersenyum simpul.


"Ya sudah kalu begitu aku kerja lagi ya, jam istirahatnya sudah habis," ujar Rangga sebelum ia mengakhiri panggilannya.


Rangga menyimpan ponselnya kembali di kantong di balik jas yang ia kenakan.


"Tuan, bolehkah saya masuk?" tanya Leon dari balik pintu setelah beberapa kali mengetuknya.


"Ya masuk."


"Duduklah," Rangga menggerakkan dagunya menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya.


Leon menganggukkan kepalanya lalu menarik kursi di depan meja kerja Rangga dan mendaratkan tubuhnya duduk di sana.


"Gimana lo udah dapet informasi dimana cafe tempat biasa dia nongkrong?" Rangga melipat kakinya di atas kakinya yang lain.


"Sudah, kalau sore dia biasa nongkrong di cafe 'Bugenvil' tuan," jawab Leon.


"Sekarang kembalilah ke ruanganmu," lanjutnya.


*****


Beberapa pemuda tengah duduk duduk di sebuah cafe, mereka tampak sedang asyik bersenda gurau diantaranya ada Rendy yang duduk menyandar mendengarkan celotehan teman temannya.


Rangga baru saja tiba di cafe yang sama kedatangannya ke kafe itu sengaja untuk bertemu dengan Rendy, laki laki yang sudah beberapa hari ini membuatnya naik pitam.


Dengan gontai ia berjalan, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya, wajah dingin dan angkuh begitu terlihat menyamarkan wajah tampannya.


Leon mengikutinya dari belakang, berkali kali laki laki itu mencoba mengingatkan tuannya agar tidak gegabah dalam bertindak, sebelumnya Leon sudah meminta manager kafe mengosongkan kafe tersebut dari para pengunjung lain dan saat ini hanya tersisa beberapa meja saja termasuk meja yang Rendy tempati, lebih baik membayar ganti rugi daripada nama baik Rangga harus tercoreng.


Dengan emosi yang meletup letup ia berjalan menghampiri meja dimana Rendy berada, tanpa basa basi ia menarik satu kursi yang kosong lalu mendaratkan tubuhnya di kursi bergabung dengan Rendy dan kawan kawannya.


Semua teman Rendy terlihat bingung dengan kedatangan Rangga secara tiba tiba, berbeda dengan teman temannya Rendy justru terlihat tenang, ya karena Rendy sudah menduga Rangga tidak akan tinggal diam perihal pesan pribadi yang ia kirim kepada Nabila.

__ADS_1


"Apa saya boleh duduk disini?" Rangga menatap ketiga teman Rendy bergantian.


Mereka yang bingung hanya mengangguk mengiyakan, sementara Rendy menatapnya tajam.


"Saya ada perlu dengan temanmu ini, apa bisa kalian tinggalkan kami berdua?". Rangga menunjuk Rendy dengan dagunya.


Ketiga teman Rendy menatap Rendy seolah meminta jawaban, laki laki itu mengangguk mengiyakan lalu mereka pergi meninggalkan Rendy dengan Rangga dan juga Leon yang berdiri di belakang kursi Rangga.


Leon segera undur diri untuk membereskan beberapa pengunjung lagi yang masih ada disana, kini tinggal Rangga dan Rendy saja.


Kedua pria itu saling tatap dengan tatapan penuh kebencian, Rangga menatap Rendy bak seekor elang yang hendak menerkam mangsanya, begitu pun Rendy menatap Rangga bak pemburu yang akan membidik buruannya.


Rangga mengetuk ngetukkan jemarinya di atas meja sorot matanya tak berpindah sedikitpun dari rivalnya itu.


Beberapa saat kemudian Rangga berdiri, dengan gerakan cepat ia menarik kaos yang dikenakan Rendy dengan begitu kuat, menatapnya tajam mengertakkan giginya dan....


Buuuuugggghhhhh!!


"Itu balasan untuk pesan yang lo kirim sama istri gue!" seru Rangga memukul rahang kokoh Rendy hingga pria itu tertoleh dan mengeluarkan sedikit darah di sudut bibirnya.


Rendy memegang sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya, menatap Rangga lalu tersenyum miring.


"Kenapa?, lo ngga bisa bahagian istri lo?, lepaskan dia biar gue yang bahagian dia," tuturnya membuat Rangga semakin naik pitam.


"Br*ngs*k lo!!" Rangga melayayangkan pukulan bertubi tubi kepada Rendy, namun Rendy tak mau hanya pasrah ia pun melawan hingga terjadilah pergulatan yang menegangkan di dalam sebuah cafe yang terlihat hanya mereka berdua, sepertinya Leon sudah berhasil mengaturnya dengan baik.


"B*jing*n lo!!


Rangga melampiaskan semua emosi yang ia tahan selama beberap hari ini, memukuli Rendy dengan membabi buta tanpa ampun, mereka bergantian saling menjatuhkan dan memukuli satu sama lain.


Leon datang dengan tergopoh gopoh saat mereka berdua sudah sama sama babak belur, luka lebam dan darah yang memenuhi wajah tampan keduanya.


"Tuan, cukup tuan behenti tuan!" Leon melerai keduanya. Sang pemilik cafe pun datang membantu melerai Rangga dan Rendy.


Pemilik cafe yang sebelumnya telah di beritahu oleh Leon sehingga ia tak begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Dengan susah payah Leon dan sang pemilik cafe itu melerai mereka berdua yang sulit sekali dipisahkan, emosi keduanya sama meledak ledak membuat mereka tak menghiraukan apa pun yang ada di dalam pikiran mereka hanya melampiaskan kemarahan satu sama lain.

__ADS_1


Tiba tiba saja mereka dibuat terkejut oleh teriakan seorang wanita.


__ADS_2