Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode22 selalu ribut


__ADS_3

Nabila masih larut dalam kesedihannya, baru kali ini Ia mau memceritakan kisah hidupnya yang tidak mudah itu kepada orang lain, Nabila merasa beban yang Ia pendam selama ini berangsur memudar seiring dengan isak tangisnya.


Rangga memeluk erat Nabila seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk gadis yang sangat Ia cintai itu.


"Selama ini aku hanya berpura pura tegar, aku berusaha kuat menjalani ini semua semata mata karena Aditya, dia adalah alasan aku untuk bisa tetap tersenyum disaat saat sulitku, beruntung aku punya sahabat sahabat yang baik yang selalu ada buat aku". Ucap Nabila sambil terus menghapus air mata di pipinya yang tak kunjung berhenti.


"Sekarang ada aku juga yang akan selalu ada buat kamu, kalau kamu ada masalah jangan sungkan cerita sama aku, aku akan membantumu". Rangga melepaskan dekapannya untuk bisa menatap wajah Nabila lebih dalam lalu kembali mendekap Nabila penuh sayang sembari mengecup sekilas di puncak kepala Nabila.


Nabila begitu lega setelah menceritakan sepenggal perjalanan hidupnya kepada Rangga, seperti telah melepaskan setumpuk beban yang begitu berat yang selama ini Ia pikul sendiri, hingga Ia benar benar tidak menyadari posisi saat ini tengah berpelukan dengan Rangga.


Nabila terlalu terbawa suasana merasa benar benar membutuhkan sandaran untuk melepaskan kepiluan yang selama ini melingkupi hatinya.


Nabila mengerjapkan matanya ketika Ia menyadari posisinya yang berada di dalam dekapan Rangga, Ia terperanjat memundurkan tubuhnya dan berusaha melepaskan pelukan Rangga.


Rangga yang memahami hal itu segera melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku ngga bermaksud mencari kesempatan , aku hanya ingin menenangkan kamu sekaligus memberi kamu kekuatan, itu saja". Ucap Rangga lirih.


"Aku..aku..mau istirahat". Ucap Nabila tergagap dan langsung pergi meninggalkan Rangga yang tersenyum simpul sembari memandangi punggung Nabila yang telah berlalu.


"Nabila , aku janji aku akan menjaga dan melindungi kamu dari orang orang yang berniat jahat kepadamu, aku tidak akan biarkan ada orang yang menyakitimu atau melukaimu". Gumam Rangga dalam hati.


------


Waktu sudah menunjukkan pukul 04.35 sebelum matahari menampakkan sinarnya Nabila dan Aditya terlihat baru saja selesai mandi dan akan melaksanakan sholat shubuh berjamaah, namun Nabila teringat Rangga yang belum juga keluar dari kamarnya, Nabila bermaksud untuk mengajaknya sholat berjamaah.


Tok..


Tok.


Tok..


"Mas Rangga, mas ayo bangun kita sholat subuh berjamaah". Ucap Nabila dengan nada sedikit berteriak.


Tidak ada jawaban ataupum sahutan dari balik pintu kamar, benar saja Rangga masih tidur dengan lelapnya.


Nabila mengulangi mengetuk pintu dan memanggilnya.


Tok..


Tok..


Tok..


"Mas apa kamu belum bangun?, Ayo bangun dulu kita sholat subuh berjamaah".


Rangga mengerjap, sambil mencoba meraih jam weker yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Astaga ini masih pagi sekali, kenapa dia sudah berisik seperti itu". Gumamnya sambil beranjak dari tempat tidurnya hendak membuka pintu kamarnya.


Nabila hendak pergi dari depan kamar Rangga namun tiba tiba pintu itu terbuka, sontak membuat Nabila menoleh dan memundurkan tubuhnya untuk kembali.


"Ada apa?". Tanya Rangga sambil menguap dan mengerjapkan matanya yang masih sulit dibuka itu, Ia menyandarkan kepalanya di pinggiran pintu kamar yang sudah terbuka itu.


"Ayo kita sholat berjamaah, mas Rangga mandi dulu dan ambil air wudhu. Aku dan Aditya akan menunggunya".


"Kalian saja, aku masih ngantuk". Rangga berbalik badan hendak menjatuhkan tubuhnya kembali di kasur.


"Sholat lah dulu mas, nanti bisa tidur lagi". Ucap Nabila.


"Hmmm, baiklah tunggu aku mandi sebentar". Rangga melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan mata masih terpejam.

__ADS_1


Setelah selesai mandi Rangga langsung menghampiri Nabila dan Aditya di mushola mini yang ada di apartemennya, Rangga memang menyediakan ruang kecil untuk dijadikan mushola yang tak jauh dari kamar yang ditempati Aditya.


" Kak Rangga yang jadi imam ya". Ucap Aditya sambil menggelar sajadahnya.


Rangga membeliak, rasa kantuknya tiba tiba hilang begitu saja.


"Aku..aku..masih ngantuk sekali takutnya aku ngga khusuk, mending kamu saja dit". Kilah Rangga. Sebenarnya dia takut salah membaca doanya karena sudah lama sekali Ia tidak menjalankan ibadah kepada Tuhannya, entah kapan terakhir kali Ia saja sampai tidak mengingatnya.


"Sebaiknya kamu saja dit". Ucap Nabila menengahi.


"Ya sudah biar Adit saja". Adit maju memposisikan dirinya sebagai Imam dan diikuti Rangga di shaf depan, dan Nabila di shaf belakang.


Mereka bertiga beribadah dengan khusuk ditutup dengan doa yang mereka panjatkan kepada Sang Maha kuasa.


Setelah selesai beribadah Rangga merasa sangat tenang dan damai, rasa yang sudah lama Ia rindukan. Kantuk yang Ia rasakan tiba tiba muncul kembali membuat Ia menyeret kakinya menuju kamarnya dan menjatuhkannya di atas kasur, melanjutkan mimpi indah yang sempat terpotong.


Aditya terlihat sedang mempersiapkan buku buku sekolahnya dan menyelesaikan tugas sekolah yang belum selesai Ia kerjakan tadi malam.


Sedangkan Nabila, sudah terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.


Setelah ketiganya menyantap sarapan, Aditya pergi lebih dulu meninggalkan sekolah untuk berangkat sekolah naik motornya, disusul oleh Rangga dan Nabila yang terlihat bareng menggunakan mobil Rangga.


Sebenarnya Nabila sudah kekeh menolak tawaran Rangga untuk berangkat bareng, Ia takut teman temannya curiga tentang keberadaannya, tapi Rangga tidak mau mengalah dia tetep saja memaksa Nabila untuk berangkat ke kampus bareng, dia juga berjanji tidak akan bilang kepada siapapun mengenai keberadaan Nabila di apartemennya.


Kesunyian menyergap suasana mobil mewah milik Rangga, tidak ada percakapan apapun diantara mereka, hingga Rangga memutuskan untuk menyalakan audio mobil , memutar lagu kesukaannya hingga menikmati setiap lirik lagunya dan ikut larut bernyanyi, sesekali mengetukan jemarinya di kemudi.


Nabila hanya tersenyum simpul manatap sekilas pria yang ada disampingnya itu, lalu kembali menatap jalanan ibu kota dari balik kaca mobil.


Rangga mengecilkan volume audio mobilnya, lalu membuka percakapan untuk mencairkan kesunyian yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Eheemmm". Rangga berdehem hingga membuat Nabila menoleh ke arahnya lalu menatap lurus jalanan di depannya.


"Aku dengar sekarang kamu buka toko bunga ya?". Rangga melirik ke arah Nabila sekilas lalu kembali fokus kepada kemudinya.


"Syukurlah aku ikut senang akhirnya kamu bisa wujudkan impian kamu untuk buka toko bunga seperti almarhum ibu kamu". Rangga tersenyum simpul.


"Kalau kamu butuh apa apa jangan sungkan katakan saja, aku akan membantumu". Sambungnya.


"Iya, terimakasih banyak mas".


"Oiya kamu pulang jam berapa biar kita bisa pulang bareng". Rangga menoleh ke arah Nabila.


"Ngga usah mas, pulang kuliah aku mau cari kontrakan jadi mas Rangga pulang duluan saja".


"Cari kontrakan?".


"Iya, aku ngga mau terlalu lama merepotkan mas Rangga, lagian aku takut orang akan berpikiran jelek tentangku yang tinggal di apartemen mas Rangga". Nabila menunduk sorot matanya menyendu.


"Biar aku yang urus itu semua, aku akan carikan rumah kontrakan buat kamu, serahkan saja semuanya padaku".


"Tidak usah , mas Rangga sudah terlalu banyak membantuku".


"Ngga usah sungkan, aku akan selalu membantumu kalau kamu butuh bantuan". Rangga mengembangkan senyum terbaiknya.


"Tapi...".


"Ssstttt, tidak ada penolakan". Rangga menempelkan telunjuknya di bibir Nabila, mencegah gadis itu untuk menolaknya.


"Baiklah". Nabila mengerucutkan bibirnya merasa kesal.


Rangga terkekeh melihat ekspresi Nabila yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Lucu sekali". Mencubit gemash pipi Nabila.


"Awww, sakit tau!". Pekik Nabila lalu mengerucutkan kembali bibirnya itu.


Membuat Rangga merasa semakin gemas.


Mobil mewah Rangga telah memasuki pelataran kampus, Rangga segera menepikan mobilnya di parkiran. Lalu dengan cepat membuka pintunya dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil di sisi Nabila.


"Silahkan tuan putri". Rangga membukakan pintunya sambil sedikit membungkukkan badannya, tidak lupa Ia menyelipkan senyum terbaiknya.


Nabila hanya terkekeh geli melihat kelakuan Rangga.


"Apaan sih kamu mas". Nabila mencubit perut Rangga hingga dia meringis kesakitan.


"Awww". Pekik Rangga sontak membuat Nabila khawatir dan merasa bersalah.


"Apa aku terlalu keras menyubitnya?". Tanyanya dengan wajah cemas.


"Hahaha, kena dehh". Rangga tertawa begitu lepas seperti sangat puas sudah mengerjai Nabila.


Nabila ikut tertawa bersama Rangga, namun tawa itu seketika hilang saat Nabila melihat Rendy sedang memperhatikan dirinya dan Rangga dengan tatapan penuh selidik.


Rangga yang menyadari itu mengikuti arah sorot mata Nabila, dan matanya membeliak saat di dapati Rendy sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tak ramah.


Rendy berjalan menuju arah Nabila dan Rangga setelah selesai memakirkan mobilnya, iya hari ini Ia membawa mobil dengan tujuan ingin mengajak Nabila pulang bareng saat jam kuliah usai, dan Ia tidak mau Nabila panas panasan di atas motornya saat terik matahari yang menyorot nanti.


"Pagi Bil". Sapa Rendy saat sudah berada diantara Nabila dan Rangga. Rangga hanya tersenyum kecut melihat Rendy yang mulai mendekati Nabila.


"Pagi Ren". Nabila mengulas senyuman di wajahnya.


Mereka bertiga berjalan meninggalkan area parkir.


"Bil, kamu sudah sarapan?". Tanya Rendy sambil berjalan beriringan dengan Nabila.


"Sudah!!". Ucap Rangga ketus mewakili Nabila.


Rendy mendelik ke arah Rangga, lalu mencoba mengabaikannya.


"Ayo kita sarapan bareng". Ucapnya lagi.


"Tidak perlu!". Rangga kembali menjawab dengan ketus alih alih mewakili Nabila.


Hingga membuat Rendy menatapnya tajam.


"Sudah Ren, aku sudah sarapan". Sahut Nabila.


"Ya sudah kalau begitu, oiya nanti pulang bareng ya". Rendy masih terus mencoba mengajak Nabila.


"Tidak mau!!". Sahut Rangga kembali mewakili Nabila, tentu saja hal itu membuat Rendy geram.


"Kenapa jadi lo terus yang jawab?!, Gue ngomong sama Nabila bukan sama lo!!". Sungut Rendy sambil menatap tajam Rangga. Yang dibalas senyuman penuh ejekan oleh Rangga.


"Astaga, pagi pagi sudah ribut. Kenapa sih mereka kalau ketemu selalu saja ribut, bikin pusing saja". Batin Nabila.


"Sudah sudah, kenapa jadi berantem sihh". Nabila mencoba menengahi sambil menatap kedua laki laki yang ada disampingnya itu bergantian.


"Dia tu Bil mulai duluan". Ucap Rendy sambil menunjuk tajam wajah Rangga.


"Lo aja kali yang baperan, gue kan cuma wakilin Nabila buat jawab pertanyaan lo!".


"Kalian ini selalu saja berantem, aku pusing dengarnya!!". Sahut Nabila lalu berjalan cepat meninggalkan kedua laki laki itu yang masih belum selesai berdebat.

__ADS_1


"Lo sih, lihat Nabila pergi kan!". Ucap Rangga.


"Lo duluan yang mulai!". Ucap Rendy tak mau kalah.


__ADS_2