Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 49 Dia bukan wanita penghibur!


__ADS_3

Hampir satu jam Rangga terjebak macet yang panjang membuatnya mengeram kesal, tidak ada jalan lain selain menuggu kemacetan sialan ini terurai.


Setelah 1 jam lebih akhirnya Rangga bisa melajukan mobilnya kembali, ada sedikit rasa lega dalam hatinya setidaknya rasa sesak yang menyelimuti dadanya berkurang sedikit.


Rangga memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju sebuah night club besar di kota ini, night club yang cukup terkenal dan hanya di masuki oleh kalangan elit saja.


Tak butuh waktu lama Rangga telah tiba di sebuah bangunan megah nan mewah namun masih nampak begitu sepi hanya ada beberapa pegawai saja yang berlalu lalang sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


Maklum saja tempat hiburan malam ini jam operasionalnya mulai dari jam 11 malam hingga jam 4 pagi tentu saja saat ini masih terlihat sangat sepi.


Rangga sudah berkali kali datang ke tempat ini bahkan bisa di katakan sering, tapi itu untuk bersenang senang atau sekedar mengusir rasa penat dalam dirinya bersama dengan teman temannya namun lain halnya kali ini ia datang dengan tujuan untuk menemui bos besar pemilik night club yang konon katanya adalah pria gemulai yang menyeramkan.


Sungguh tidak pernah terpikirkan dalam hidup Rangga harus berurusan dengan makhluk jadi jadian seperti itu, belum melihatnya saja sudah membuat Rangga jijik dan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.


Rangga berjalan hendak memasuki tempat itu namun banyak sekali penjaga yang berusaha menghalanginya.


"Saya mau bertemu dengan bos kalian, tolong antarkan saya segera". Ucap Rangga to the point.


"Maaf tuan, kami belum beroperasi silahkan anda kembali lagi malam nanti".


"Kau pikir aku bodoh, aku tahu night club ini belum beroperasi, aku hanya ingin bertemu dengan bos kalian! Cepat antarkan aku sekarang!". Kesal Rangga.


"Maaf tuan, bos kami sangat sibuk anda harus membuat janji terlebih dulu".


"Rupanya kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?, Kau belum tahu siapa aku?". Rangga tersenyum smirk.


Beberapa penjaga itu jelas sudah tahu dengan siapa mereka berhadapan, Rangga Pramudita anak konglomerat , pengusaha nomer satu negeri ini, wajahnya dan keluarganya sering hilir mudik dalam berita tv, media cetak dan elektronik, bagaimana mungkin mereka tidak mengenalnya.


Hanya saja mereka tidak mau kehilangan pekerjaan karena tidak profesional dalam bekerja, mereka tetap harus menjalankan tugas mereka dengan baik.


Tidak membiarkan orang masuk sembarangan diluar jam operasional kecuali sudah membuat janji dulu dengan bos mereka.


"Tentu kami tahu tuan, anda tuan muda Rangga Pramudita yang terhormat, tapi sekali lagi maaf kami hanya menjalankan tugas".


"Banyak omong!!".


Bugghh!!


Bughhh!!


Bughhh!!


Rangga melayangkan pukulan kepada ketiga pengawal di hadapannya.


Pengawal itu sudah mengeram kesal, ingin sekali mereka melawan dan mengeroyok Rangga namun mereka tidak mau membuat masalah dengan keluarga Pramudita yang bisa saja akan menghancurkan hidup mereka setelah ini.


"Tuan muda biarkan kami memberitahu bos kami dulu mengenai kedatangan tuan". Ucap salah satu pengawal saat Rangga masih terus berontak menerobos masuk.


"Ya sudah, cepat lahh!!, Kalian sudah banyak membuang waktuku!".


Salah satu dari mereka kini pergi untuk menemui madam Karla, untuk memberitahu kedatangan Rangga.


"Siall, ternyata ngga gampang bertemu dengan makhluk jadi jadian itu!". Umpat Rangga.


--------


Nabila baru saja tersadar dari pengaruh obat bius, matanya mengerjap mencoba membuka matanya menyapu ruangan dimana ia berada saat ini.


"Aku dimana sekarang?". Nabila mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


Saat ini Nabila berada di sebuah kamar yang sangat luas dengan perabotan yang cukup lengkap di dalamnya, dan yang menjadi atensi Nabila adalah ada dua orang pelayan wanita sedang berdiri di ambang pintu yang tertutup rapat.


"Aduuh, kepalaku pusing sekali". Nabila memegangi kepalanya yang seakan masih berputar karena efek obat bius.


Nabila mencoba mengingat ingat kejadian yang terakhir ia alami, astaga Nabila baru menyadari bahwa saat itu dirinya di culik.


Apa jangan jangan yang menculiknya adalah anak buah madam Karla?, Nabila sangat ketakutan dengan pikirannya sendiri.


Tak lama pintu terbuka dengan lebar kedua pelayan wanita membungkuk hormat menyambut pria gemulai yang berpenampilan layaknya wanita dengan make up tebal diiringi dengan dua pengawal berbadan besar di belakangnya.


Tubuhnya meliuk liuk berjalan mendekati Nabila yang masih terduduk di tempat tidur.


Nabila memundurkan tubuhnya saat pria gemulai itu sudah sampai di sisi tempat tidur, tubuh Nabila mulai gemetar. Apa dia adalah madam Karla?, Orang yang sudah membeli dirinya dari paman Johan?, Nabila bergidik ngeri membayangkan kenyataan yang seolah membenarkan bahwa ia adalah madam Karla, pria gemulai yang dikatakan Leon saat di rumah sakit kala itu.


"Kau sudah bangun?". Ucapnya dengan suara mendayu dayu layaknya wanita.


Nabila hanya diam membisu, keringat dinginnya mulai membasahi wajah cantiknya, padahal Ac di ruangan itu berfungsi dengan baik sepertinya Nabila sangat gugup dan takut hingga tubuhnya di penuhi peluh.


"Bantu dia bersiap, ganti bajunya dan dandani dia". Titah madam Karla kepada kedua pelayan wanita.


"Baik madam". Sahut kedua pelayan wanita itu, mereka mulai berjalan mendekati Nabila.


"Aku tidak mau!!". Pekik Nabila.


Madam tersenyum smirk sambil mengangkat satu alisnya.


"Berani sekali kau membantahku!!, Cepat turun dan ganti bajumu!!". Kali ini ucapannya begitu tegas layaknya seorang laki laki normal sedang murka berbeda dengan nada bicara yang pertama kali Nabila dengar.


Sepertinya madam benar benar murka, lihat saja jakunnya sampai naik turun di tempatnya.


Astaga dia benar benar menyeramkan jika sedang marah, jiwa laki laki perkasanya keluar tanpa dikomando.


Nabila menelan salivanya, mulai turun dari tempat tidur dan mengahampiri kedua pelayan yang akan membantunya.


"Bagus, tidak sia sia aku membelimu mahal, kau akan jadi primadona p*lacur elit". Ucapnya kembali mendayu dayu.


"Kau harus melayani pelanggan pertamamu malam ini, service dengan baik dan hasilkan uang yang banyak untukku". Sambungnya.


Air mata Nabila mengalir begitu saja mendengar ucapan madam Karla, apa nasibnya akan berakhir seperti ini?, Sungguh dia tidak pernah membayangkan jika nasibnya seburuk ini.


Lalu bagaimana dengan masa depannya?, Bagaimana dengan impiannya?, Masih adakah orang yang mau menerimanya jika ia bekerja sebagai p*lacur, Nabila menangis tersedu sedu.


Kedua pelayan itu membawa Nabila menuju walk in closet, membantu memilihkan baju seksi yang akan di kenakan Nabila malam ini.


Madam Karla sudah kembali ke ruangannya, duduk di kursi besar berwarna pink menyala yang merupakan kursi kebesarannya dan ada dua pengawalnya berdiri di sisi kanan kirinya.


Tok..


Tok..


Tok..


"Masuk". Ucap madam Karla.


Masuklah seorang penjaga yang sempat menghalangi Rangga di pintu masuk gedung ini.


"Bos, di luar ada tuan Rangga Pramudita ingin bertemu dengan anda". Penjaga itu membungkuk hormat.


Madam Karla tersentak mendengar nama Rangga Pramudita, Ada urusan apa pemuda itu ingin bertemu dengannya?, Madam Karla tersenyum miring, pasti Rangga akan menyewa wanita penghibur untuk one night stand.

__ADS_1


"Suruh dia masuk".


Pengawal itu segera turun ke lantai bawah menemui Rangga dan membawanya masuk menemui madam Karla.


Setelah beberapa saat sampailah Rangga di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat menjulang tinggi di depannya.


Rangga memasuki ruangan madam Karla di ikuti satu orang penjaga yang mengantarnya tadi.


Penjaga itu kini keluar ruangan setelah mendapat isyarat dari bosnya.


Madam Karla bangkit dari kursinya, berjalan meliuk liuk sambil menggigit bibir bawahnya mencoba menggoda Rangga.


Melihat pemandangan yang menjijikan di depannya, Rangga benar benar ingin memuntahkan seluruh isi perurnya di wajah pria gemulai itu.


Rangga menutup mulutnya merasa mual melihat tingkah madam Karla yang kini semakin mendekatinya, memegang dada bidang Rangga dengan telunjuknya, namun segera di tepis dengan kuat oleh Rangga.


"Suatu kehormatan saya bisa bertemu dengan anda tuan". Ucap madam Karla sambil memainkan telunjuknya di dada bidang Rangga.


"Jangan kurang ajar!!". Rangga menepis tangan madam Karla yang sudah mulai menggoda tubuhnya.


"Wow, slow baby aku hanya ingin berkenalan denganmu, bukankah kita belum pernah berkenalan?". Ucap madam Karla dengan suara mendesah dan mendayu dayu membuat Rangga bergidik ngeri.


"To the point saja, aku kesini ingin menjemput Nabila cepat bawa dia kemari!". Ucap Rangga tegas.


"Dari mana kau tau aku punya barang baru?, Kau juga tahu namanya?".


"Bedebah!!, Cepat bawa dia kemari!!".


"Sepertinya kau sudah tidak sabar berkencan dengannya, kita sepakati harganya dulu tuan baru kau boleh membawanya".


"Sialan!!, Aku kesini bukan untuk menyewanya karena dia bukan wanita penghibur!, Aku akan membawanya pulang bersamaku keluar dari tempat terkutuk ini!".


"Apa maksudmu tuan, aku sudah membelinya mahal dan kau seenaknya saja mau membawanya pergi dari sini".


"Sebenarnya apa hubungan gadis itu dengan tuan muda Rangga?, Sepertinya dia sangat mengkhawatirkannya". Batin madam Karla.


"Cepat bawa dia kemari!". Teriak Rangga sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Baiklah tuan, tenangkan dirimu aku akan membawanya kemari". Madam Karla semakin pensaran dengan hubungan Rangga dan Nabila.


"Cepat bawa gadis itu kemari". Titah madam Karla kepada salah satu pengawalnya.


Pengawal itu segera keluar ruangan dan menuju ruangan Nabila.


"Duduklah dulu tuan, kita minum minum dulu". Madam Karla menggandeng lengan Rangga hendak menuntunnya menuju sofa mewah yang ada di sana.


"Lepaskan tanganmu, lancang sekali kau!!". Rangga melemparkan tangan madam Karla dengan kuat hingga membuat pria gemulai yang memakai high heels itu sempoyongan.


Madam Karla mengeram kesal atas perlakuan Rangga, namun ia mencoba menahannya ia tahu Rangga akan memberikannya banyak uang saat ini jadi ia harus menghormati pemuda itu.


Tok..


Tok..


Tok..


"Masuk".


Terbukalah pintu dan menampakkan Nabila berbalut dress yang sangat seksi, dress tanpa lengan berwarna merah, membuat bagian dadanya sebagian seperti hendak mencolot keluar, dress sangat mini panjangnya hanya sebatas paha Nabila hingga membuat kaki mulus jenjangnya terekspos dengan jelas.

__ADS_1


Wajah dengan make up tebal warna bibir merah menyala senada dengan warna dress, heels dan aksesorisnya, sosok Nabila yang berbeda bukan seperti Nabila yang biasa Rangga lihat.


Rangga sempat terpaku dengan penampilan Nabila saat ini, penampilan yang sangat seksi membuatnya susah payah menelan salivanya, penampilan yang sangat menggoda bagi semua pria normal seperti dirinya.


__ADS_2