
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk". Ucap madam Karla.
Madam Karla beranjak dari singgasananya berjalan menuju pintu dengan tubuh yang meliuk liuk hendak menyambut sang tamu, sepertinya dia sudah tahu siapa yang mengetuk pintu ruangannya.
Ceklek..
Suara pintu berderit membuat Rangga segera memfokuskan pandangannya ke arah pintu, ia berharap yang datang adalah Leon dan pengacaranya namun Rangga harus menelan kekecewaannya karena yang datang adalah laki laki tua dengan rambut yang sudah di penuhi uban.
Jika Rangga lihat sepertinya dia seumuran dengan opanya jika masih hidup, dari gaya berpakaian kakek ini bisa di bilang orang sangat kaya dilihat dari mahalnya semua barang barang yang melekat di tubuhnya dari mulai kemeja putih, vest dan celana warna coklat, jam tangan branded yang melingkar di tangannya serta sebuah tongkat di tangannya, semua barang barang mahal.
Madam menyambut kakek itu dengan hangat, Rangga jadi berpikir apa dia adalah klien VVIP yang dimaksud madam Karla?.
Pikiran Rangga terpecah saat ponsel miliknya berdering, ternyata itu adalah panggilan dari Leon, asisten dan pengacarnya sudah sampai mereka juga sudah berhasil naik ke lantai tempat dimana
ruangan madam Karla berada, hanya saja mereka tidak tahu pasti lokasi ruangan madam Karla ada di sebelah mana bermaksud menanyakannya pada Rangga.
Dengan detail Rangga menjelaskan letak ruangan madam Karla, ia juga meminta kepada mereka untuk berjalan dengan cepat.
Rangga memutuskan panggian telefonnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam.
Rangga mencari cari keberadaan kakek tua dan madam Karla, namun ia tak menemukan keberadaan mereka di ruangan itu, kemana perginya mereka?.
"Kemana kakek tua dan makhluk jadi jadian itu?". Rangga mengedarkan pandangannya menyapu ruangan.
"Bos sedang mengantarkan kliennya tuan". Jawab salah satu pengawal yang berada di ruangan madam Karla.
"Apa?, Klien?, Mengantarkan kemana?". Tanya Rangga dengan bingung.
"Iya tuan, laki laki tua tadi adalah klien VVIP bos kami".
"Apa?!, Jadi benar dia klien VVIP yang dimaksud laki laki gemulai itu?, Dia yang akan...". Rangga tak sanggup melanjutkan kata katanya.
Nabila harus menemani kakek tua itu?, Astaga Rangga benar benar tidak habis pikir ternyata masih ada kakek kakek yang jiwa bercintanya masih bergelora.
Rangga berlari keluar ruangan mencoba mencari keberadaan mereka, lebih tepatnya ingin menyelamatkan Nabila dari kakek tua itu.
Rangga berlari kesana kemari meyusuri koridor gedung itu namun tidak juga menemukan mereka, hingga akhirnya dia sampai pada koridor dengan beberapa ruangan berjejer dengan pintu tertutup sepertinya itu adalah kamar kamar sewa yang di sediakan night club ini.
Rangga hendak memeriksa satu persatu kamar itu untuk mencari keberadaan Nabila namun tiba tiba tangan yang sudah sempat memegang handle pintu di tepis oleh seseorang.
Dengan cepat Rangga menoleh kebelakang ingin tahu siapa orang yang sudah menepis tangannya, Rangga terkesiap saat melihat madam Karla sudah berdiri di belakangnya.
Dari mana datangnya dia?, Kenapa bisa tiba tiba ada di belakang Rangga?, Apa dia memang benar makhluk jadi jadian?, Bisa tiba tiba muncul begitu saja tanpa diketahui kapan datangnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang anda lakukan tuan?". Madam Karla tersenyum genit membuat Rangga bergidik ngeri.
Rangga memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari madam, rasanya sungguh menjijikan harus terus berdekatan dengan pria gemulai ini.
Bukannya menjawab pertanyaan madam Karla justru ia balik bertanya.
"Dimana Nabila?!". Seru Rangga.
Belum sempat madam menjawab suara hentakan sepatu pantofel menggema di sepanjang koridor membuat Rangga dan madam reflek menoleh ke arah sumber suara.
Leon dan pengacara John, pengacara keluarga Pramudita datang menghampiri madam Karla dan Rangga.
"Dari mana saja kalian?, Kenapa lama sekali!". Seru Rangga kepada dua orang yang d
sangat dikenalnya itu.
"Tuan inikah asisten dan prngacaramu itu?". Tanya madam sambil berjalan mendekati Leon dan hendak menggodanya.
"Iya, cepat kita selesaikan urusan kita, aku tidak mau lama lama brurusan dengan makhluk jadi jadian sepertimu!".
"Tunggu, dimana Nabila?, Cepat lepaskan dia! Ucap Rangga kepada madam.
"Kita selesaikan dulu urusan kita tuan, jika cek itu sudah di tanganku, aku akan melepaskan kekasihmu".
"Tapi kau sudah mengntarkan tua bangka itu bertemu dengannya! Kau memang benar benar licik". Rangga mengepalkan tangannya.
"Kalau anda ingin masalah ini cepat selesai mari kita selesaikan sekarang". Ucap madam Karla melenggang ke ruangannnya diikuti Rangga, Leon dan pengacara John.
Setelah sampai di ruangan madam Kala mereka duduk melingkar di sofa besar yang berada di ruangan itu, tanpa mau membuang waktu lagi Rangga dengan cepat menandatangani ceknya dan segera memberikan ceknya kepada pria gemulai itu, Rangga ingin segera melepaskan Nabila dari kakek tua itu.
Setelah menyerahkan cek itu lalu Rangga segera membaca isi surat perjanjian yang dibuatkan pengacara John sesuai permintaannya, lalu dengan cepat ia menandatangani surat perjanjian itu sebagai pihak pertama.
"Kau sudah mendapatkan cek nya, sekarang cepat lepaskan Nabila". Rangga berdiri dari duduknya, dia sungguh tidak sabar untuk bertemu Nabila dan membawa Nabila pergi dari tempat terkutuk ini.
"Nanti biar asistenku dan pengacaraku yang akan menjelaskan perihal perjanjiannya". Imbuhnya.
"Baiklah tuan, sepertinya kau sudah sangat tidak sabar bertemu dengan gadis itu". Ucap madam dengan suara yang mendayu dan mendesah membuat Rangga, Leon dan pengacara John bergidik ngeri.
"Pengawal bebaskan gadis itu dan antarkan tuan ini ke kamarnya!". Titah madam Karla kepada salah satu pengawalnya.
Rangga dengan cepat mengikuti langkah pengawal itu menuju tempat Nabila berada, sedangkan Leon dan pengacara John harus menyelesaikan tugas mereka dengan madam Karla, sungguh sangat menjijikan harus berurusan dengan pria gemulai ini begitulah pikiran mereka.
Nabila duduk di sisi tempat tidur yang begitu besar, ia menangis tersedu sedu, apa jadinya jika Rangga tidak berhasil membebaskannya dari tempat ini Nabila sungguh tidak sanggup membayangkannya.
Nabila meratapi nasib yang dia alami seorang diri dalam kesunyian kamar ini, dua orang pelayan dan pengawal yang sejak tadi menemaninya kini sudah tak terlihat lagi, entah kemana perginya mereka Nabila tidak tahu.
Ceklek..
__ADS_1
Suara pintu terbuka membuat Nabila segera memfokuskan pandangannya kepada gerakan pintu yang mulai terbuka lebar, berharap Rangga yang datang menemuinya dan akan segera membawanya pergi dari tempat ini.
Namun Nabila begitu terkejut saat yang datang adalah seorang kakek kakek dengan seringai menakutkan di wajahnya, sorot matanya penuh kabut gairah membuat Nabila sangat ketakutan.
Kakek tua itu memasuki kamar lalu ia mengunci pintunya, sang kakek tersenyum puas saat melihat gadis cantik yang sedang duduk di sisi ranjang berbalut dress seksi berwarna merah, kakek tua terus melangkahkan kakinya mendekati partner kencannya kali ini, ia sudah tidak sabar untuk mendekap tubuh gadis itu.
Nabila bangkit dari duduknya dan meraih bantal untuk mrnutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun seksi, air mata Nabila semakin deras membanjiri pipinya.
Laki laki tua yang pantasnya menjadi kakek Nabila itu kini melangkah mendekati Nabila tak lupa tongkat di tangannya membantunya berjalan, membuat Nabila tak habis pikir apa maksud kedatangannya?, Apa benar dia klien VVIP yang dimaksud madam Karla?, Untuk berjalan saja dia membutuhkan bantuan tongkatnya bagaimana bisa dengan usia yang sudah lanjut dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan masih saja mencari wanita pemuas nafsu dan hasrat laki lakinya.
"Sayang kamu cantik sekali, kenapa kamu tutupi tubuh indahmu dengan bantal ini". Ucap kakek tua itu sambil menarik bantal yang menutupi tubuh Nabila dan melemparkannya sembarang.
"Mundur!". Teriak Nabila sambil menangis.
Kakek itu bukannya mundur malah terus melangkah maju semakin mendekati Nabila yang ketakutan, kabut gairah makin terlihat jelas di mata tua yang sudah mengendur itu.
"Mu...Mundur!!". Teriak Nabila lagi.
Tangan kakek yang sudah keriput dan kendur itu menjulur hendak menarik tubuh Nabila dengan cepat Nabila menepisnya dengan kuat lalu ia berlari menghindari kakek tua itu, kamar yang cukup luas membuat Nabila bisa dengan leluasa berlarian kesana kemari menghindari laki laki itu.
Kakek itu tersemyum saat melihat Nabila berlarian menghindarinya, ia tidak menyerah terus berusaha mendekati Nabila.
Nabila melemparkan semua barang barang yang ada di dekatnya ke arah kakek tua yang terus saja melangkah mendekat, Nabila meraih apa pun yang ada di dekatnya dan melemparkan ke arah kakek tua termasuk beberapa vas bunga kecil yang sempat menghiasi kamar itu.
Sialnya kakek tua dengan begitu lincah menghindari serangan demi serangan Nabila.
Nabila terus memundurkan tubuhnya saat tidak ada lagi senjata (barang barang untuk di lemparkan) kakek itu terus mendekat dan makin mendekat.
"Kakek aku mohon mundur, jangan mendekat". Nabila mengatupkan kedua tangannya memohon.
Kakek itu menyeringai, semakin menakutkan saja Nabila terus beringsut mundur dan kembali berlari menghindari sang kakek, sial Nabila malah lari ke sudut kamar membuatnya tidak bisa berlari lagi saat kakek itu kembali mendekat.
Nabila berteriak meminta tolong, berharap ada yang mrndengatnya dan segera menolongnya.
"To..tolong..tolong!!". Teriak Nabila.
Sang kakek tertawa mendengar Nabila meminta tolong.
"Sayang teriaklah sepuasmu, tidak akan ada yang mendengarnya karena kamar ini kedap suara". Ucap kakek tua yang masih saja terus mendekat.
Nabila terkesiap, benarkah ruangan ini kedap suara?, Lalu siapa yang akan menolongnya?, Apa nasibnya benar benar berakhir hari ini?, Apa dia benar benar akan kehilangan harga dirinya saat ini?, Nabila kembali menangis tersedu sedu.
"Ya Tuhan tolong aku".
"Ya Tuhan kirimkan dewa penolong untukku".
"Mas Rangga tolong aku". Gumam Nabila di sela tangisnya.
****
__ADS_1
Haii Readers terimakasih sudah mampir ke novel ku, jika kalian suka novel ini saya minta dukungannya jangan lupa vote dan like yaa😁😁.
Tinggalkan komentar kalian sebagai penyemangat author untuk rajin update, sekali lagi terimakasih Happy Reading 😄😄.