
Rania Azura Pramudita
Rendy Malik Alfarizy
Rania mencoba mempertajam penglihatannya, memastikan bahwa dirinya memang tidak salah lihat dan buksn sekedar halusinasi dirinya.
"Iya itu benar laki laki penolongku". Netra Rania berbinar, ia beranjak dari duduknya hendak menghampiri meja dimana Rendy berada.
"Ran lo mau kemana?". Teriak sahabat Rania.
"Gue ada urusan, kalian lanjut aja". Tuturnya.
Rendy sedang duduk sendirian sambil menikmati segelas anggur ditangannya, semenjak ia mengetahui Nabila akan menikah Rendy memang sering menghabiskan malamnya dengan mabuk mabukkan, melampiaskan segala sakit hatinya dengan minuman berharap bisa melupakan dan menyembuhkan sakit hatinya namun ternyata itu hanya berlaku sementara esok harinya ia akan kembali tersiksa dengan luka yang semakin menganga di hatinya.
"Haii Ren". Sapa Rania sambil mendaratkan tubuhnya di sofa yang Rendy duduki.
Rendy mengernyit heran dengan kedatangan gadis itu, ia merasa tidak mengenalnya tapi kenapa gadis itu seperti mengenal dirinya.
"Maaf kamu siapa?". Tanyanya membuat hati Rania tercubit, ternyata laki laki itu tidak mengingatnya, itu artinya dia tidak tertarik kepadanya, hatinya merasa sedih akan hal itu.
"Aku Rania, orang yang kamu tolong waktu itu di cafe".
Rendy terdiam, netranya manatap wajah Rania lekat mencoba mengingat apa yang di ucapkan gadis itu.
"Ah iya dia kan cewek alay yang di cafe itu". Batin Rendy.
"Ah maaf aku baru ingat". Ucap Rendy sambil tersenyum.
"Ngapain cewek alay itu ada disini?". Gumam Rendy dalam hati.
"Wajar saja dia ada disini dia kan memang bukan cewek baik baik". Batinnya lagi sambil memperhatikan penampilan Rania yang menggunakan mini dress yang cukup seksi.
"Kamu sendirian?". Tanya Rania.
"Iya, kamu sendiri sama siapa kesini?".
"Itu sama teman temanku, salah satu temanku ada yang ulang tahun dan merayakannya disini, mau ngga mau aku harus datang kesini". Jelas Rania membuat Rendy mengangguk paham alasan gadis itu berada disini.
__ADS_1
"Kamu mau temani aku minum?". Rendy mengangkat gelas ditangannya yang berisi anggur dan dua bongkah kecil es batu.
"Mmmm..". Rania terdiam ia takut dirinya akan mabuk jika menemani Rendy minum, papa dan mama juga Rangga pasti akan menghabisinya jika ia ketahuan mabuk.
"Kenapa?, kamu ngga mau?, baiklah aku ngga akan memaksa". Ucap Rendy sambil menyesap anggurnya.
"Aku mau". Jawabnya cepat membuat Rendy tersenyum senang.
"Tapi, aku ngga ikut minum ya". Tutur Rania.
"Kenapa?, kamu ngga biasa minum?". Tanya Rendy, sepertinya tidak mungkin jika gadis ini tidak suka minum ia terlihat sekali seperti gadis sosialita yang biasa dengan dunia seperti ini, pikirnya.
"Iya, aku paling hanya minum sampai dua gelas saja, aku ngga mau papa dan mamaku marah apalagi kakakku". Cetus Rania membuat Rendy terkesiap, wow sepertinya gadis di depannya ini tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Baiklah, kamu minum dua gelas saja". Rendy memanggil bartender dan meminta dua botol anggur dan satu lagi gelas berisi es batu.
Tak lama pesanan minuman Rendy datang, bartender itu meletakkannya di meja milik Rendy hingga ada 3 botol anggur disana dan dua gelas berisi es batu, satu botol sudah Rendy pesan terlebih dulu sebelum Rania datang.
Mereka berdua mengobrol panjang lebar dari mulai masalah kuliah dan kehidupan Rania di luar negeri hingga tak terasa Rendy sudah hampir menghabiskan tiga botol anggur miliknya, kesadarannya pun sudah tidak terkontrol lagi, ia meracau tidak jelas.
Untung saja Rania hanya meminum dua gelas saja jadi tak sampai membuatnya mabuk.
Saat ini Rendy sudah tak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa berwarna hitam pekat yang ia duduki.
"Bil, jangan tinggalkan aku lagi, kembalilah padaku, lupakan cowok brengsek itu tinggalkan dia". Racau Rendy membuat Rania terkesiap.
"Siapa Bil?, apa itu nama kekasihnya?, apa dia sedang patah hati?". Rentetan pertanyaan muncul di kepala Rania.
Rendy mengangkat kepalanya dari sandaran kursi menatap wajah Rania penuh cinta, membuat pipi Rania bersemu merah.
"Bil, sayang kamu ada disini?, Jangan tinggalkan aku sayang, aku mencintaimu sangat mencintaimu". Rendy memeluk Rania dengan erat.
"Apa?!, dia mengira aku ini kekasihnya?". Hati Rania terasa sangat sakit, ia tidak mengerti dengan dirinya mengapa hatinya merasa sakit saat Rendy menyebut nama wanita lain, saat Rendy menyatakan cintanya untuk wanita lain padahal ia baru mengenal Rendy kemarin apa mungkin ia benar benar telah jatuh cinta padanya.
"Sayang, jangan tinggalkan aku kamu harus janji itu". Rendy melepaskan pelukannya menatap Rania dengan sendu, ada air mata yang mengalir dari kedua mata pria itu.
"Astaga, dia menangis sepertinya dia sangat mencintai kekasihnya, lantas kemana kekasihnya itu pergi". Gumam Rania dalam hati.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?, kamu tidak mencintaiku?, iya benar kamu tidak mencintaiku". Rendy tertawa sumbang namun detik berikutnya ia kembali menangis.
Rania merasa sangat sedih melihat Rendy seperti ini, ia merasa iba kepadanya.
"Ren, ayo aku antar kamu pulang". Rania mencoba mengangkat tubuh Rendy yang sudah oleng sana oleng sini.
Rendy kembali menegakkan tubuhnya walau nanti akan kembali oleng, ia menggenggam kedua tangan Rania dengan erat, sorot mata penuh cinta itu kembali menitikan air mata.
"Sayang, aku mohon kepadamu jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu hidupku hancur tanpamu, aku gila karenamu". Rendy meluruh ke lantai memohon di kaki Rania yang masih duduk di sofa.
"Ren, jangan seperti ini, bangunlah". Rania mencoba membangungkan Rendy namun sangat sulit laki laki itu tidak mau bangkit dari lantai.
__ADS_1
"Kamu harus janji tidak akan pergi dari hidupku". Ucap Rendy tergugu karena tangisnya, tak terasa Rania pun ikut berkaca kaca, sungguh kasihan laki laki yang ada di hadapannya itu.
Rania mengangguk cepat, lalu ia berkata dengan ragu.
"A..aku..janji tidak akan meninggalkanmu". Ucap Rania terbata.
Rendy tersenyum lebar, ia bangkit dan memeluk Rania erat.
"Terimakasih, terimakasih sayang". Ucapnya.
Rania mengangguk dalam dekapan Rendy.
Rendy melepas pelukannya lalu ia mencium bibir Rania, m*lumatnya pelan ciuman penuh cinta itu bisa Rania rasakan, betapa besarnya cinta laki laki itu kepada kekasihnya.
Ingin Rania mendorong tubuh Rendy agar laki laki itu melepas ciuman yang bukan untuk dirinya, namun ia tak kuasa ia tidak mau melihat Rendy kembali menangis.
Setelah puas mencium bibir Rania yang ia pikir adalah Nabila Rendy melepaskan pagutan bibirnya, dengan nafas terengah engah ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih tiada henti.
Rania menangis, ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya menangis apa karena ia merasa begitu iba dengan keadaan Rendy yang menyedihkan itu atau karena ia tahu bahwa laki laki itu sangat mencintai wanita lain, entahlah yang ia tahu hanyalah saat ini ia ingin menangis menumpahkan sesak yang tiba tiba menyelimuti dadanya.
Rendy kembali oleng, ia menyandarkan tubuhnya di sofa, mulutnya masih tidak berhenti meracau tak jelas.
Rania meminta temannya untuk membantunya memapah Rendy menuju mobilnya, setelah ia berhasil membawa Rendy ke mobilnya Rania dengan cepat mamacu mobilnya keluar dari pelataran night club.
Ia sendiri bingung harus membawa Rendy kemana, ia melirik Rendy yang sepertinya sudah tak sadarkan diri.
"Aku harus membawanya kemana?, ke rumah tidak mungkin, ke apartemen juga tidak mungkin papa dan kak Rangga pasti akan murka jika tahu aku membawa laki laki ke dalam apartemenku". Gumam Rania.
Rania mengurut pangkal hidungnya sambil berpikir keras, dan senyum mengembang saat sebuah ide melintas di kepalanya.
"Aku akan membawanya ke hotel milik keluargaku yang berada dekat sini". Gumamnya.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di sebuah hotel mewah bintang lima milik keluarga Pramudita, Rania segera keluar dari mobil untuk meminta bantuan pegawai hotel yang bekerja sebagai porter alias pengangkut barang untuk memapah Rendy menuju kamar yang telah dipersiapkan tanpa harus memesan terlebih dulu.
Setelah sampai dikamar yang dituju, Rania menyuruh kedua porter itu untuk meninggalkannya.
Dengan susah payah Rania memapah Rendy memasuki kamar yang telah disiapkan, sial! Rendy kembali membuka matanya dan meracau tak jelas.
Bahkan Rendy menciumi wajah dan leher Rania saat wanita itu memapahnya menuju tempat tidur, membuat Rania meremang, sekuat tenaga ia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan lenguhan yang ditimbulkan oleh ulah Rendy.
"Rendy hentikan!". Seru Rania.
"Sayang, aku mencintaimu". Rendy masih tak henti menciumi leher Rania.
Saat Rania berhasil menjatuhkan tubuh Rendy di atas tempat tidur ia bernafas lega.
Namun apa yang terjadi Rendy menarik tubuh Rania hingga kini ia menindih tubuh Rendy, tatapan mereka saling mengunci nafas mereka beradu memecah keheningan di ruangan itu.
Saat Rendy hendak mencium bibirnya dengan cepat Rania bangkit, Rendy ikut bangkit dan menarik lengan Rania agar gadis itu tidak pergi, dengan sekuat tenaga Rania mendorong tubuh Rendy yang sudah tak berdaya itu hingga laki laki itu kembali terjatuh di atas kasur.
__ADS_1
Rania bergegas pergi meninggalkan kamar itu meninggalkan Rendy yang masih meracau memanggilnya dengan sebutan sayang, hatinya kembali sakit mengingat kata sayang itu bukan ditujukan padanya, melainkan ditujukan kepada wanita lain.