
Rania berjalan tanpa semangat dari pintu gerbang menuju pintu utama, cukup lama ia berjalan karena memang jaraknya cukup jauh ditambah ia berjalan dengan malas mlasan, pikirannya melayang jauh kemana mana.
Setelah beberapa saat kemudian ia sampai di depan pintu, ia menekan bel dengan sangat malas.
Ting...
Tong..
Ting..
Tong..
Tak lama kemudian muncullah Nabila dari balik pintu setelah pintu itu terbuka.
"Rania," teriaknya sambil memeluk Rania yang tampak tak bersemangat itu.
"Akhirnya, kamu pulang juga aku kangen banget sama kamu," ujar Nabila.
Rania hanya tersenyum tipis, tidak ada keceriaan lagi dalam dirinya.
"Selamat ya dek, akhirnya kamu lulus juga," ujar Nabila lagi.
"Terimakasih kakak ipar," jawab Rania.
Nabila menyadari Rania tidak seceria biasanya.
"Ayo masuk dek, sini kopernya biar aku yang bawa," Nabila mengambil alih koper yang di bawa Rania. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki rumah.
"Dek, mama sama papa ngga ikut pulang?, katanya mereka juga di Amrik kan?" Nabila menoleh menunggu jawaban Rania.
"Mama sama papa masih ada kerjaan disana," jawabnya malas.
"Dek, kamu kenapa?, kamu ada masalah?" Nabila menghentikan langkahnya menatap lekat wajah Rania yang terlihat sedih.
Rania menggeleng.
"Dek cerita saja kalau kamu punya masalah, setidaknya bisa mengurangi beban di hati kamu. Jangan di pendam sendiri seoerti itu," Nabila sedikit memutar tubuh Rania hingga mereka saling berhadapan.
Rania masih tak mau bicara, matanya sudah mulai berkaca kaca.
"Hey, kamu kenapa? jangan menangis," Nabila memeluk Rania.
Tangis Rania pecah, "Kakak, apa benar Rendy masih mencintai kakak ipar?, apa benar Rendy masih mengejar cinta kakak ipar?"
Nabila terkesiap, "Jadi ini yang membuatnya sedih," gumam Nabila dalam hati.
"Kakak ipar, jawab kak!"
Nabila melepaskan pelukannya, "Sebaiknya kamu istirahat dulu dek kamu pasti capek."
"Aku tidak mau!" seru Rania.
"Kakak ipar jawab pertanyaanku," sambungnya.
"Kita duduk dulu ya, " Nabila mengajak Rania duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Raniapun mengikutinya, mereka duduk berdekatan, Nabila merangkul pundak Rania lalu berkata, "Kenapa kamu bisa berpikiran kalau Rendy masih mencintaiku?"
"Kak Rangga yang bilang, waktu itu Rendy mengirim pesan kepada kakak ipar, dan isi pesannya menyiratkan kalau dia akan merebut kakak ipar dari kakak jika kakak ipar tidak bahagia," Rania menatap Nabila dengan berkaca kaca.
"Astaga! Kenapa mas Rangga menceritakan itu sama Rania sih," gumam Nabila dalam hati.
"Dek, jujur ya aku tidak tahu bagaimana perasaan Rendy kepadaku saat ini, tapi aku sudah peringatkan dia untuk tidak mengganggu rumah tanggaku lagi, dan setelah kejadian itu memang dia tidak pernah menghubungiku lagi,"
"Kamu sedih karena msalah itu?"
Rania mengangguk, "Selama ini dia sangat baik kepadaku kak, dia sangat perhatian, dan dia selalu bilang ingin cepat bertemu denganku," Rania mengusap air matanya yang masih mengalir.
"Lalu kenapa kamu sedih, itu artinya dia menyukaimu dek," Rania mengelus pelan pundak Rania.
"Tapi dia tidak mencintaiku kak, kak Rangga juga menyuruhku menjauhinya,"
"Kalau itu aku serahkan kepadamu dek, kamu mau jauhi dia atau tidak itu semua keputusan ada ditanganmu, aku yakin kamu tahu mana yang terbaik buat kamu,"
"Aku bingung kak, aku tidak bisa kalau harus melupakannya tapi untuk menjauhinya mungkin akan aku usahakan," tuturnya.
Nabila tersenyum, "Ya sudah sebaiknya, kamu istirahat dulu jangan pikirkan hal itu dulu."
****
Rania mematut diri di depan cermin, malam ini harusnya malam bahagianya karena akan makan malam bersama Rendy namun ia sudah memutuskan untuk membatalkannya.
Beberapa saat yang lalu, ia sudah mengirimkan pesan kepada Rendy bahwa dirinya tidak bisa makan malam dengan pria itu.
Dan sejak tadi ponselnya tak henti berdering, Rendy tak hentinya menghubunginya namun Rania tak berniat mengangkatnya, dia lebih memilih mengabaikannya.
Rania takut jika ia mengangkat telefon dari Rendy hatinya akan kembali goyah dan galau, yang ada dia akan terus sakit hati karena cintanya yang tak terbalas.
Rania meninggalkan ponselnya yang masih berdering, ia pergi keluar dari kamarnya menuju kamar Rangga mencari Nabila.
"Kakak ipar!" Teriaknya setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Rangga.
Tak lama kemudian Nabila muncul, membukakan pintu.
"Kakak ipar sambil menunggu makam malam kita nonton drakor yukk," ajak Rania.
"Boleh juga, ayo."
Nabila menutup pintu kamarnya lalu turun bersama Rania menuju ruang tv.
Nabila dan Rania menghabiskan waktu mereka dengan menonton drama korea hingga waktu makan malam tiba.
Saat adegan sedih Rania akan menangis tergugu seolah menumpahkan semua air mata kesedihannya, ah sepertinya dia sedang memanfaatkan moment agar orang lain mengiranya ia menangis karena filmnya.
Nonton film drama sangat membantu mengurangi rasa bosan Nabila dan sedikit mengurangi rasa sedih yang Rania rasakan sampai sampai mereka berdua memutuskan untuk makan malam di ruang tv, tak mau melewatkan sedetikpun adegan demi adegan di film yang mereka tonton.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Rangga tak juga pulang membuat Nabila cemas, Rania sudah tertidur di sofa Nabila membiarkannya tak tega jika harus membangunkan gadis itu.
Tv yang masih menyala tak lagi membuatnya tertarik, yang ada di pikiran Nabila adalah suaminya, ia sangat khawatir kepada Rangga walaupun sebelumnya Rangga sudah memberitahu dirinya akan pulang larut malam namun tetap saja membuat Nabila khawatir.
Nabila mencoba menghubungi ponsel Rangga namun diluar jangkauan, Nabila mendesah kasar, ia menghempaskan tubuhnya di sofa di samping tubuh Rania yang tertidur, sesaat kemudian ia pun ikut tertidur.
__ADS_1
Tak lama kemudian Rangga datang dengan wajah terlihat sangat lelah, ia hendak berjalan menaiki tangga namun ia urungkan karena ia mendengar suara televisi yang masih menyala, Rangga memutar arah lalu berjalan menuju ruang tv dan benar saja hanya ruangan itu yang lampunya masih menyala, tv nya pun masih menyala.
Rangga tersenyum saat melihat dua wanita yang sangat disayanginya terlelap tidur disana.
Rangga meninggalkan kecupan sekilas di puncak kepala kedua wanita itu, Rangga meletakkan tas kerja dan jas yang sudah ia lepaskan di sofa lalu ia mulai mengangkat tubuh Rania membawanya ke kamar gadis itu.
Merebahkan tubuh Rania, meyelimutinya dan kembali mengecup keningnya sekilas.
Setelah itu kini Rangga akan mengangkat tubuh Nabila dan membawa istrinya ke kamar, setelah sebelumnya mematikan tv dan merapikan cemilan yang berserakan di atas meja.
Nabila mengerjapkan matanya saat ia merasa ada yang mengangkat tubuhnya.
"Mas Rangga," ucapnya lirih saat dirinya sudah berada dalam gendongan Rangga, Rangga tersenyum.
"Iya sayang, kamu pasti lelah sekali ya sampai ketiduran begitu?" ujar Rangga tersenyum manis.
"Mas, turunkan aku. Kamu sudah bekerja seharian aku ngga mau membuatmu semakin lelah."
"Aku tidak akan pernah lelah jika itu berhubungan denganmu," senyumnya mencurigakan.
Nabila memutar bola matanya malas, "Gombal," ujarnya sambil mencubit hidung Rangga.
"Mas, kenapa kamu susah dihubungi aku cemas sekali kamu tidak pulang pulang." Nabila mengerucutkan bibirnya.
"Ponselku mati sayang, kan aku juga sudah bilang kalau aku pulang larut malam,"
"Aku pikir ngga selarut ini mas." Nabila membantu Rangga membuka pintu kamarnya.
"Sudah lah jangan bahas itu lagi, kamu tunggu aku disini aku akan membersihkan diri dulu," Rangga merebahkan tubuh Nabila di atas tempat tidur.
Tak lama kemudian Rangga keluar dengan memakai celana pendek saja dan bertelanjang dada.
Rangga merangkak naik ke atas tempat tidur, dan langsung menindih tubuh Nabila menghujani wajah istrinya itu dengan c*uman.
"Mas kamu ngga capek?" Rangga menggeleng dan terjadilah pergumulan hebat di kamar itu.
"Sayang tadi Rania pergi makan malam di luar?" tanya Rangga setelah selesai dengan aktivitas yang sangat disukainya itu, nafasnya masih memburu peluhnya juga masih belum mengering.
"Ngga, Rania makan malam denganku tadi, kita habiskan waktu dengan nonton film. Memangnya kenapa mas?" mata Nabila melirik ke atas berusaha menjangkau wajah Rangga karena kepalanya ia rebahkan di dada bidang Rangga dengan kedua tangan memeluk tubuh suaminya.
"Bagus kalau begitu, awalnya dia mau makan malam dengan cowok s*alan itu malam ini tapi aku melarangnya," tutur Rangga sambil memainkan rambut Nabila.
"Oo jadi itu yang membuat mas Rangga, menceritakan pesan dari Rendy untukku itu kepada Rania," ujar Nabila.
"Iya, aku ngga mau Rania terus berhubungan dengan laki laki itu, Rania harus melupakan laki laki itu,"
"Jangan lagi mendukung hubungan mereka, dengar ngga kamu yank?" ucapnya penuh peringatan.
"Iya mas, aku ngga akan mendukung hubungan mereka lagi," ujar Nabila.
"Ya sudah cepat tidur, besok kamu kan harus kuliah,"
Tak butuh waktu lama mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.
****
__ADS_1
Haii Readers terimakasih sudah mengikuti kisah Rangga dan Nabila sampai disini, nanti akan ada kisah Rania dan Rendy jadi ikuti terus ya kelanjutannya..
Jangan lupa like, vote dan ratenya ya tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author..