Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode25 cewek murahan!!


__ADS_3

Pagi itu Nabila berangkat ke kampus bersama Rangga, mereka tengah berjalan meninggalkan parkiran setelah Rangga memarkirkan mobilnya dengan baik.


Rangga dan Nabila berjalan beriringan sambil berbincang bincang Ringan, sesekali terdengar tawa kecil diantara mereka seperti tengah merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan. Tapi tidak dengan wanita seksi yang sedang memperhatikan setiap gerak gerik keduanya, tatapan penuh kebencian dan percikan emosi nampak jelas diwajah Sania yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Sialan!!, Kenapa cewek kampungan itu bisa berangkat bareng Rangga?". Cetusnya yang baru saja menutup pintu mobilnya dengan sangat keras.


"Sebenarnya apa hubungan cewek kampungan itu sama Rangga".


"Kenapa, mereka terlihat begitu akrab?!". Tanyanya lagi.


Banyak pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut Sania, pertanyaan yang ditujukan pada dirinya sendiri tentunya.


"Gue harus tau siapa latar belakang cewek itu, dan bagaimana bisa cewek miskin seperti dia bisa kuliah di kampus se elite dan bertaraf international ini".


"Gue akan cari tahu tentang itu". Sania tersenyum licik lalu berjalan cepat menuju ruangan wakil rektor bidang akedemik dan kemahasiswaan untuk menggali informasi tentang gadis yang Ia anggap saingannya itu dalam mendapatkan cinta Rangga.


-------


Leon tengah melajukan mobilnya memesuki kawasan pedalaman yang sangat jauh dari kota, pepohonon rindang masih lebat berjajar di sepanjang jalan, sawah hijau membantang luas disisi sungai yang mengalir begitu deras, udara yang segar melingkupinya hingga membuat siapa saja yang berada di desa ini akan merasa betah dan nyaman jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk perkotaan.


Suasana tenang dan damai mengiringi perjalanan Leon hingga akhirnya Ia sampai di sebuah Villa milik keluarga Pradipta yang begitu besar yang terletak tidak jauh dari kaki gunung.


Leon memarkirkan mobilnya setelah laki laki paruh baya bernama mang engkus yang merupakan penjaga Villa membukakan pintu gerbang Villa yang menjulang itu.


Leon berjalan cepat memasuki Villa yang disambut 4 orang anak buahnya yang tengah menjaga Villa.


"Selamat Siang tuan Leon". Ujar ke 4 penjaga Villa itu bersamaan yang dibalas Leon dengan anggukan.


Leon melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, dan memasuki sebuah ruangan kosong namun luas. Leon meberikan Isyarat kepada ke 3 anak buahnya yang bertugas menjaga ruangan iti untuk membuka ruangan itu yang masih terkunci.


Setelah pintu ruangan terbuka Leon segera memasuki ruangan yang tampak gelap itu, salah satu anak buahnya dengan sigap menyalakan lampu hingga terlihat seseorang laki laki paruh baya yang duduk terikat disebuah kursi dengan mata dan mulut tertutup kain hitam yang terikat.


Leon berjalan mendekati laki laki itu diikuti ketiga anak buahnya.


" Buka penutup mata dan mulutnya ". Cetus Leon dengan tegas.


Dengan sigap salah satu anak buahnya membuka penutup mata dan mulut Laki laki yang tengah diikat itu.


Mata laki laki itu membeliak menyorot tajam Leon yang tengah tersenyum miring di hadapannya.


"Siapa kau?!, Aku tidak mengenalmu tapi kenapa kau menyekapku disini, Brengsekkk!!". Teriaknya bersungut sungut.


"Anda memang tidak mengenalku tuan, tapi anda mengenal tuanku". Ujar Leon tersenyum miring.


"Siapa tuanmu, cepat katakan!!.Lalu apa alasannya menyekapku disini?!". Teriaknya lagi sambil meronta ronta ingin segera lepas dari ikatan yang mengukungnya.


"Anda tidak perlu tahu siapa tuanku, tapi yang harus anda tahu jangan coba coba ganggu kehidupan nona Nabila ataupun tuan Aditya, jika tidak mau anda berpulang kepada Sang pencipta!!". Tutur Leon Sarkas sambil memegang dagu laki laki yang umurnya seusia ayahnya itu. Dengan kasar Leon menghempaskan dagu yang Ia pegang dengan kasar.


Johan begitu terkesiap atas pernyataan sekaligus ancaman dari Leon, ya laki laki itu adalah Johan paman Nabila yang berhasil ditangkap oleh anak buah Leon. ada hubungan apa Nabila dan Aditya dengan tuannya pemuda ini.pikirnya.


"Sialan, jadi ini semua gara gara dua bocah itu!!". Umpatnya.


"Cihh, aku tidak punya urusan dengan tuanmu, tapi beraninya dia menyekapku!!". Johan menatap Leon tajam seolah menantangnya.

__ADS_1


"Jelaskan apa kesalahanku!!". Sambungnya.


"Kesalahan Anda adalah telah membuat kehidupan nona Nabila dan tuan Aditya menderita". Cetus Leon dengan mengulurkan telunjuknya dengan tegas ke arah Johan.


"Sebenarnya apa hubungan Nabila dan Aditya dengan tuannya, hingga pemuda ini juga memannggil Nabila dan Aditya dengan sebutan nona dan tuan". Batin Johan.


"Sekali lagi aku peringatkan kepada Anda tuan, jangan coba coba ganggu hidup nona Nabila dan tuan Aditya, jika anda masih melakukannya aku sendiri yang akan mengirimmu ke naraka!!". Cetus Leon dengan tatapan tajam.


Ancaman Leon membuat tubuh Johan gemetar, bibirnya kelu. Tatapannya yang semula berapi api kini sirna. Berkali kali Ia memejamkan matanya , menggigit bibirnya untuk mengatasi rasa takutnya itu.


"Lepaskan ikatannya, dan beri dia pelajaran". Cetus Leon sambil berlalu meninggalkan Johan yang meronta ronta minta di lepaskan.


"Tuan ampun tuan, tolong lepaskan saya". Teriak Johan meronta ronta saat ketiga anak buah Leon sudah membuka tali yang mengikat Johan dan hendak megeroyoknya.


"Tuan ampun tuan, tolong saya tuan". Teriaknya lagi.


Bugh..bugh...bughh..


Suara ketiga anak buah Leon menghajar Johan.


Leon menghentikan langkahnya, lalu sekilas menoleh ke belakang, melihat ketiga anak buahnya bekerja lalu Ia melanjutkan langkah kakinya keluar ruangan itu.


-----


Nabila telah selesai mengikuti mata kuliah hari ini, Ia dan kedua sahabatnya terlihat sedang menikmati makan siang di cafe kampus sambil berbincang bincang dan tertawa bersama.


Tiba tiba Sania dengan kedua temannya masuk dan membuat gaduh disana.


Sania berjalan menuju meja Nabil diikuti dengan kedua temannya.


"Cewek kampungan sekarang lo senang kan udah berhasil manfaatin Rangga". Teriak Sania lagi membuat seluruh pengunjung tak mau terlewatkan sedikipun perhatiannya dari sana.


Nabila dan kedua sahabatnya semakin tidak mengeri dengan ucapan Sania.


"Apa maksud lo Sania?!". Teriak Maya yang baru saja bangkit dari kursi seolah ingin menantang wanita berpakaian seksi itu.


"Cihhh, ngga usah pura pura ngga ngerti deh lo. Lo sama temen lo yang sok polos itu sama saja munafik!!". Seru Sania sambil melipat kedua tangannya di dada.


Nabila yang sejak tadi mencoba tidak terpancing akhirnya buka suara.


"Jaga bicaramu nona Sania!!". Nabila berdiri dan menggebrak meja di hadapannya, sontak membuat Lisa dan Maya begitu terkesiap.


"Jangan sok polos deh lo, gue tahu kok lo udah manfaatin Rangga biar lo bisa masuk universitas ini kan?".


"Ada campur tangan Rangga dibalik beasiswa yang lo terima itu kan?". Sambungnya.


"Dasar cewek murahan, mau kuliah di universitas elit dan bertaraf Internasianal harus deketin anak dari pemilik kampus ini dulu!!". Sania tesenyum miring.


"Apa maksud kamu nona?". Nabila benar benar tidak mengerti apa yang dimaksud Sania.


"Cihh, masih saja pura pura ngga tahu. Lo sengaja kan deketin Rangga biar lo bisa kuliah disini". Pungkas Sania.


"Secara Rangga adalah anak dari pemilik kampus ini, benar benar cewek murahan!!". Sania berlalu meninggalkan cafe diikuti kedua temannya.

__ADS_1


Nabila begitu terkesiap dengan kenyataan yang baru saja didengarnya, Ia benar benar tidak tahu kalau kampus ini milik keluarga Rangga.


Tubuhnya merosot begitu saja terduduk dikursinya, dadanya begitu sesak membuat air matanya mengalir begitu saja dipipinya tak tertahan.


Lisa dan Maya segera memeluk Nabila dan mengusap usap punggung gadis itu.


Tatapan Nabila benar benar kosong, pikirannya carut marut apa benar Rangga yang membuatnya menerima beasiswa itu??, Apa benar Rangga yang ada dibalik ini semua??, Itu yang ada dipikirannya sekarang.


"Bil, kamu tenang dulu ya. Apa yang dikatakan Sania itu belum tentu benar". Lisa menghapus air mata yang membasahi pipi sahabatnya itu.


"Apa kalian tahu kalau kampus ini milik keluarga Rangga?". Nabila menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Iya kami tahu itu, memangnya kamu ngga tahu?". Tanya Maya penasaran, selama ini Ia pikir Nabila mengetahuinya.


"Kenapa kalian tidak memberitahuku?". Nabila menatap tajam kedua sahabatnya.


"Jadi kamu benar benar tidak tahu Bil?". Lisa membulatkan matanya dengan kening yang mengernyit.


Nabila hanya menngeleng lemah.


"Astaga, kami pikir kamu tahu itu Bil". Maya menepuk keningnya sendiri, merutuki kebodohannya karena dulu tidak menayakan hal ini sebelum resmi jadi mahasiswa Universitas Pandawa.


"Maafkan kami Bil, kami pikir kamu tahu". Lisa mengeratkan pelukannya kepada Nabila.


"Ini bukan salah kalian, ini salahku yang tidak mencari tahu dulu latar belakang kampus ini". Nabila menghapus sisa sisa air mata yang sempat tumpah membasahi pipinya.


"Aku pergi dulu ya". Nabila bergegas keluar dari cafe sebelumnya cpika cipiki terlebih dulu dengan kedua temannya.


"Lo mau kemana Bil?". Tanya Maya sedikit berteriak karena Nabila sudah menjauh dari meja mereka".


"Aku ada urusan". Teriaknya tanpa menoleh ke arah kedua sahabatnya itu.


Nabila mencari Rangga di sekitaran kampus, berjalan pelan sambil menajamkan matanya mencari keberadaan pria itu.


"Oiya aku kan bisa menelfonnya". Gumam Nabila, meraih ponselnya yang Ia simpan dalam tas , lalu mencari kontak Rangga dan melakukan panggilan ke nomor tersebut.


Setelah beberapa mencoba masih juga belum ada jawaban dari Rangga, akhirnya Nabila memutuskan mengakhiri panggilannya dan melanjutkan mencari Rangga, mengedarkan pandangannya di setiap sudut kampus namun matanya belum juga mendapati sosok pria yang Ia cari.


Saat Nabila sudah putus asa untuk tidak melanjutkan mencari Rangga, tiba tiba manik hitamnya menangkap sekumpulan mahasiswa sedang bermain basket di lapangan basket, dan terlihat Rangga sedang menggiring bola menuju ring basket.


Nabila berjalan menuju lapangan basket, dan memanggil nama Rangga berulang kali namun tak ada jawaban, sepertinya pria itu sedang menikmati permainannya sampai sampai Ia tidak mendengar suara Nabila.


Alan yang kala itu sedang ikut main bersama Rangga, melihat Nabila tengah berupaya memanggil Rangga dengan cepat Alan berbisik kepada Rangga dan menunjuk ke arah tempat Nabila berdiri.


Ada senyum mengamembang di wajah Rangga saat tahu Nabila sedang menunggunya. Rangga menyudahi permainan basketnya dan berjalan menghampiri Nabila yang terlihat kesal.


"Haii, kamu menungguku". Rangga tersenyum, lalu meminum air mineral yang Ia pegang, hingga habis setengah botol.


Tanpa menjawab Nabila menarik Rangga untuk mengikutinya yang berjalan menjauhi lapangan basket.


"Kamu kangen banget ya sama aku, sampai sampai narik narik tanganku seperti ini. Padahal tadi pagi udah ketemu". Celetuknya sambil menahan tawanya. Hal itu justru membuat Nabila semakin kesal pada Rangga.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu!". Ucapnya yang masih terus menarik tangan Rangga agar mengikutinya menjauh dari lapangan.

__ADS_1


__ADS_2