Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode33 Jangan menatapnya seperti itu!!


__ADS_3

Setelah Rangga memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah mall yang cukup besar di Jakarta, Ia segera turun dari kemudi berlari kecil agar tidak kalah cepat dari Nabila untuk membukakan pintunya.


Rangga membukakan pintu mobil sambil mengulas senyumnya membuatnya terlihat sangat tampan, Rangga mengulurkan tangannya menuntun Nabila keluar dari mobilnya.


"Mas aku bisa buka pintu dan turun sendiri, ngga usah repot seperti itu". Tutur Nabila yang merasa diperlakukan berlebihan oleh Rangga.


"Ngga apa apa sayang". Jawabnya singkat.


Rangga menawarkan lengannya, Nabila pun dengan ragu melingkarkan tangannya di lengan kanan Rangga, membuat pria itu tersenyum tipis.


Mereka berdua berjalan beriringan memasuki mall, entah kenapa semua pasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan beragam, ada yang berdecak kagum melihat pasangan yang begitu serasi itu, ada juga yang berbisik bisik iri melihat Nabila yang bisa beruntung mendapatkan pria tampan yang nampak begitu cool dengan tangan yang kini menyelip di dalam saku celananya.


Ekspresi wajah Rangga masih tetap pada mode angkuh dan juga dinginnya namun hal itu tak membuat para kaum hawa yang melihatnya berhenti berdecak kagum atas pesona dari seorang Rangga.


Nabila yang menyadari hal itu seketika membuatnya insecure, Nabila melepaskan tangannya dari lengan Rangga membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Kenapa sayang?". Rangga memperhatikan raut wajah Nabila yang tiba tiba berubah murung.


"Kamu ngga malu mas jalan sama aku?". Tanyanya sambil menundukkan kepalanya, membuat Rangga reflek menghentikan langkahnya.


"Kenapa harus malu sayang, kamu kan pacarku". Cicitnya sambil menarik kedua tangan Nabila dan menggenggamnya erat.


"Tapi aku ngga pantes buat kamu mas?".


Rangga mengernyitkan dahinya .


"Kenapa kamu tiba tiba bicara seperti itu sayang?". Rangga menatap lekat gadis yang kini masih menundukkan kepalanya.


"Lihatlah semua orang memperhatikan kita, sepertinya mereka merasa kalau aku ini ngga cocok buat kamu mas, mungkin lebih pantas jadi pelayan kamu daripada pacar kamu". Tutur Nabia dengan wajah begitu sendu.


"Mas Rangga memang terlalu perfect untuk seorang gadis sepertiku, aku sama dia bagaikan bumi dan langit. Dia begitu sempurna sedangkan aku , apalah aku yang hanya butiran debu". Gumam Nabila dalam hati.


"Sssttt, sayang jangan ngomong seperti itu. Mereka memperhatikan kita karena mereka iri sama kamu sayang, kamu sangat cantik". Rangga menempelkan telunjuknya di bibir Nabila lalu mengulas senyum terbaiknya.


Nabila masih tetap mersa tidak percaya diri, pasalnya hari ini memang Ia tidak memakai riasan apa pun diwajahnya hanya sunscreen saja dan sedikit pelembab bibir karena tadi pagi Ia harus buru buru ke toko jadi tidak sempat make up seperti biasanya make up flawless natural, make up natural yang tidak terlalu berlebihan untuk sehari hari setidaknya tidak membuat wajahnya terlihat pucat seperti sekarang.


Dan lagi penampilannya yang sangat kontras banget dengan Rangga, Nabila hanya memakai pakaian casual biasa, berbeda dengan Rangga yang tampil dengan outfit branded dengan harga yang tidaklah murah, membuat Nabila semakin insecure.

__ADS_1


"Tapi mas aku ngga PD jalan sama kamu, kamu terlalu perfect". Ucapnya lagi.


"Sayang, jangan bahas itu lagi, bagiku kamu wanita paling cantik di dunia ini". Rangga merangkul posesive pinggang Nabila seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Nabila adalah miliknya.


Rangga memang menyadari dengan perhatian semua pengunjung mall yang hampir semua tertuju pada mereka, namun hal itu sudah biasa bagi Rangga Ia tetap memasang wajah dengan mode angkuhnya.


"Sayang kita makan siang dulu ya, sudah waktunya makan siang". Rangga menoleh ke arah Nabila, gadis itu hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara.


"Hey, kamu masih memikirkan itu?". Tanya Rangga sambil meraih pelan wajah Nabila agar bisa leluasa melihat ekspresi gadis itu. Nabila hanya diam membisu.


"Sayang, jangan pikirkan itu lagi. Aku mencintaimu apa adanya, aku tidak peduli dengan pikiran orang atau ucapan orang, memang mereka siapa. Ini hidup hidup kita bukan hidup mereka, jadi stop memikirkan hal hal yang ngga penting lagi". Seru Rangga.


"Menurutku kamu cantik bahkan sangat cantik sayang". Rangga tersenyum saat melihat seulas senyum tipis pada bibir Nabila.


"Nah gitu dong senyum". Rangga mencubit gemash pipi Nabila.


--------


Nabila dan Rangga kini duduk di salah satu resto di food court yang ada di mall tersebut. Mereka duduk saling berhadapan, beberapa saat kemudian datang seorang Pria dengan kemeja seragam resto tersebut, ya pria itu adalah pelayan yang akan melayani mereka.


"Selamat siang tuan, nona, silahkan bisa dilihat dulu daftar menunya". Pria itu memberikan buku menu sambil mengulum senyumnya, menatap Nabila sepersekian detik yang sedang membolak balik buku menu yang ada di depannya.


Rangga melirik tajam pelayan itu yang masih menatap Nabila, sebenarnya itu adalah tatapan biasa, tatapan seorang pelayan yang sedang menunggu customernya memilih menu yang akan di pesan, tapi diartikan lain oleh Rangga.


"Jangan menatapnya seperti itu!!". Seru Rangga pada pelayan itu hingga membuat pelayan itu dan Nabila tersentak.


Nabila yang sejak tadi fokus dengan buku menu yang ada dihadapannya kini mengangkat wajahnya menatap Rangga yang tengah menatap tajam pelayan itu, pelayan itu yang menyadari hal itu segera meminta maaf dan menundukkan kepalanya.


"Astaga, kenapa dia?!". Batin Nabila. Nabila mengernyitkan dahinya menatap Rangga dengan heran.


"Maafkan saya tuan". Ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


Sebenarnya pelayan itu sendiri bingung kenapa Rangga tiba tiba menatapnya seperti itu, bahkan sampai meneriakinya, tapi sebaiknya meminta maaf saja dari pada urusan jadi panjang, apalagi berurusan dengan orang kaya tidak akan bisa menang. Begitu pikirnya.


Nabila melihat Rangga yang masih menatap pelayan itu dengan tatapan tajam dan tak ramah, Ia mencoba mengalihkan perhatian Rangga.


"Mas kamu mau pesan apa?". Tanya Nabila sambik menarik narik tangan Rangga dan memberikan buku menu padanya, namun Rangga bergeming dan masih tetap menatap pelayan itu hingga membuat tubuh pelayan itu sedikit gemetar.

__ADS_1


"Aduhh bagaimana ini dia benar benar marah". Gumam Nabila dalam hati.


"Mas ayo dong kamu mau pesan apa, aku sudah lapar nih, kita juga kan mau nonton nanti filmnya keburu mulai". Cicit Nabila sambil kembali menarik narik tangan Rangga dan sepertinya kali ini berhasil, Rangga mengalihkan pandangannya ke buku menu.


Setelah mereka menyebutkan pesanan mereka pelayan itu segera pergi dari sana dengan langkah seribu.


"Mas Rangga kenapa tiba tiba marah sama pelayan itu?". Tanya Nabila penasaran.


"Dia liatin kamu terus, aku ngga suka!". Serunya dengan nada kesal.


"Ya ampun mas aku pikir apa, ya sudah biarkan saja, dia juga tadi sudah minta maaf. Jangan marah lagi ya nanti jadi merusak quality time kita". Nabila tersenyum berharap Rangga bisa membuang kekesalannya.


"Sebenarnya dia saja yang aneh, memang tugasnya seorang pegawai restoran kan harus melayani pengunjung dengan baik dan ramah, tapi ya sudahlah dia sultan, dia yang paling benar". Gumam Nabila dalam hati.


"Senyum dong sayang". Ucap Nabila.


"Eh bener dia senyum". Batin Nabila saat melihat Rangga tersenyum getir.


Beberapa saat kemudian pelayan yang tadi kembali lagi membawa pesanan Nabila dan Rangga, kali ini pelayan itu benar benar menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Rangga maupun Nabila.


"Silahkan dinikmati tuan, nona". Ucapnya dengan nada bergetar, sepertinya dia benar benar ketakutan.


Nabila jadi merasa iba kepada pelayan itu, bagaimanapun juga dulu Ia juga pernah menjadi pelayan, Ia tahu benar bagaimana rasanya di perlakukan tidak baik oleh pengunjung restoran.


Ingin sekali Nabila meminta maaf kepada pelayan itu atas perlakuan Rangga namun Ia urungkan, karena hal itu pasti akan membuat Rangga merasa di rendahkan di depan pelayan itu, jadi lebih baik tidak melakukannya, begitu kira kira yang ada di pikiran gadis itu.


Nabila dan Rangga menyantap makan siangnya, kekesalan Rangga kini berangsur hilang seiring Nabila mengajaknya ngobrol ngalur ngidul.


"Sayang besok kita harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan perihal peristiwa di pesta om Raymond kemarin, besok pulang kuliah kita kesana sebelum aku ke kantor". Ucap Rangga ragu, benar saja air muka Nabila seketika berubah sedih, Ia meletakkan sendok dan garpunya seolah telah hilang selera makannya.


"Sayang, maaf kalau aku membahas itu lagi tapi aku harus menyampaikan itu sama kamu, sebenarnya Leon sudah mengurus semuanya tapi kita harus tetap kesana untuk memberikan keterangan". Terang Rangga sambil memegang kedua tangan Nabila.


"Kamu jangan sedih lagi ya, aku bisa pastikan si brengsek itu akan membusuk di penjara". Imbuh Rangga dengan nada penuh kekesalan. Mengingat kejadian di pesta itu membuat Rangga emosi namun Ia tidak mau Nabila semakin mengingat peristiwa malam itu jadi Ia berusaha menetralkan emosinya.


"Ayo kita lanjutkan lagi makannya, sepertinya film nya sudah mau mulai". Tutur Rangga lagi.


Mereka pun melanjutkan kembali makan siangnya dan mencoba tidak membahas lagi dan melupakan peristiwa malam itu.

__ADS_1


__ADS_2