Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 84 aku kangen


__ADS_3

.


"Ya sudah kamu fokus saja dulu dengan kuliahmu dek, satu tahun lagi kan?, Kamu harus bisa lulus tepat waktu biar bisa bantu kakak ngurus perusahaan". Rangga mengacak puncak kepala Rania.


Rangga kembali menjalankan mobilnya menuju kediaman Pramudita, sementara Rania dirinya masih sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia dengar hari ini.


Orang yang ia cintai ternyata mencintai orang lain, bahkan orang terdekatnya sendiri. Rasa kecewa dan sakit yang amat dalam kini bersarang di lubuk hatinya yang paling dalam.


Jika memang dia harus menjauhi Rendy untuk bisa menyembuhkan rasa kecewa dan sakit itu tentu akan ia lakukan namun ia tak tahu apa ia bisa semudah itu melakukannya.


"Dek sudah sampai". Suara bass Rangga membuyarkan lamunan Rania.


"Sudah sampai ya?, Kakak ngga pulang?".


"Kakak mau jemput istri kakak dulu". Sahutnya.


"Ya sudah aku masuk dulu kak, kakak hati hati ya". Rania keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam, ia sudah tidak sabar untuk menangis sejadi jadinya di bawah guyuran air shower berharap bisa segera menghilangkan rasa kecewa dan sakit yang semakin terasa menyesakkan dadanya.


Sementara Rangga memutuskan untuk menjemput istrinya di toko bunga.


 


Nabila terlihat sibuk mencatat beberapa orderan yang masuk dari toko onlinenya untuk besok, sampai sampai ia tidak menyadari kehadiran Rangga.


"Ehemm". Rangga berdehem membuat Nabila terlonjak kaget.


"Mas Rangga?, Loh mas Rangga sudah pulang kantor?, atau mau makan siang?". Nabila mekirik jam tangannya masih pukul dua siang.


"Aku mau jemput istriku pulang". Tuturnya.


"Memangnya mas Rangga sudah pulang kantor?, Ini kan baru jam dua mas?". Nabila masih terlihat bingung.


"Aku kangen istriku, suka sukaku dong mau pulang jam berapa". Rangga mendekati Nabila yang tengah sibuk mencatat, memeluk gadis itu dari belakang.


"Mas, malu disini banyak orang". Nabila mencoba melepaskan dirinya dari Rangga, namun suaminya itu semakin mengeratkan pelukannya dan menopang dagunya dibahu Nabila.


"Sayang diamlah, aku ingin melepas kangen denganmu".


"Jangan lebay deh mas, baru beberapa jam ngga ketemu sudah kengen". Tutur Nabila yang masih meronta.


"Jadi kamu ngga kangen sama, aku heum?". Rangga mengigiti kecil kecil telinga Nabila.

__ADS_1


"Aww, hentikan mas. Iya iya aku kangen kangen sama kamu".


"Aku malu mas, lihat mereka memperhatikan kita". Nabila menunjuk ketiga pegawainya dengan ekor matanya.


"Biarkan saja, itu karena mereka iri sama kamu sayang".


"Sudah cepat kita pulang, kamu harus mengobati rasa kangenku". Bisiknya, membuat Nabila meremang.


Nabila sudah paham apa yang dimaksud suaminya itu, entahlah dia hampir setiap malam dan setiap pagi melakukannya membuat badannya terasa pegal pegal.


"Tunggu toko tutup aja ya mas, aku masih banyak kerjaan".


"Sayang, kan ada pegawaimu suruh mereka menyelesaikannya, nanti ku kasih mereka bonus". Rangga melepaskan pelukannya berjalan menuju sofa mendaratkan tubuhnya disana.


"Cepat ambil tasmu yank, kita pulang sekarang".


"Iya baik, baik". Nabila merapikan kembali meja kerjanya lalu beranjak menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengambil tas.


Beberapa saat kemudia Nabila sudah turun dengan membawa tasnya, Nabila berpamitan terlebih dulu kepada pegawainya sebelum dirinya dan Rangga keluar dari toko.


Rangga dan Nabila kini sudah berada dalam perjalanan pulang.


"Maksud kamu Rendy?".


"Jadi kamu sudah tahu kedekatan mereka?, kenapa tidak memberitahuku?". Pertanyaan Rangga kali ini menyiratkan kekesalan kepada Nabila.


"Memangnya kamu tahu darimana mas?". Nabila benar benar penasaran darimana Rangga bisa tahu kedekatan Rania dan Rendy.


"Jawab dulu pertanyaanku kenapa kamu tidak memberitahuku?". Rangga menatap Nabila dengan tajam.


"Maafkan aku mas, karena aku takut kamu akan marah dan melarang Rania berhubungan dengan Rendy". Ucap Nabila sambil menunduk, ia tidak berani menatap wajah Rangga yang sudah terlihat marah.


"Tentu saja aku marah, dan aku akan melarang Rania berhubungan dengan laki laki sialan itu, jadi kamu mendukung mereka selama ini?". Rangga kembali menatap tajam Nabila.


"Mas, Rendy laki laki yang baik apa salahnya kalau dia dekat dengan Rania".


"Selalu itu yang kamu bilang, dia laki laki yang baik, aku jadi curiga sebenarnya kamu menaruh hati padanya kan?". Rangga mencengkeram kemudi dengan kuat menyalurkan emosinya disana.


"Apa maksudmu menuduhku seperti itu mas?". Kesal Nabila.


"Kamu selalu saja memujinya, apa namanya jika bukan menaruh hati padanya".

__ADS_1


"Astaga! aku selalu saja salah jika membahas


Rendy dengannya". Gumam Nabila dalam hati.


"Kenapa jadi menyudutkan aku begini sih?, Kita itu lagi bahas kedekatan Rania dengan Rendy mas. Kenapa jadi kamu marahnya sama aku?". Kesal Nabila.


"Ya karena kamu selalu saja memujinya sudah tahu aku ngga suka itu!".


"Baiklah aku minta maaf". Minta maaf lebih baik untuk saat ini.


"Aku juga ngga suka kamu mendukung hubungan mereka, aku ngga mau Rania dekat dengannya!". Ujar Rangga penuh penekanan.


Nabila hanya terdiam, mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya itu.


Rangga menjelaskan kalau dia memergoki Rania dan Rendy saat mereka berdua makan siang, Rangga menceritakan semua apa yang dilihatnya di restoran kepada Nabila.


"Mas, tapi Rania mencintai Rendy dia sendiri yang bilang kepadaku. Itu juga alasanku mendukung mereka aku cuma ingin melihat mereka bahagia". Tutur Nabila.


Rangga tersenyum miring mendengar ucapan istrinya itu.


"Bahagia?, Bagaimana bisa Rania bahagia?, Laki laki sialan itu hanya akan menjadikan Rania sebagai alat untuk dia balas dendam kepadaku".


"Mas, aku tahu Rendy, dia ngga akan setega itu".


"Terus saja kamu bela dia".


"Asataga, salah lagi!". Batin Nabila.


"Apa kamu juga ngga kasian, Rania hanya akan sakit hati karena cintanya yang tak terbalas".


"Mas, siapa tahu Rania bisa membuat Rendy jatuh cinta kepadanya".


"Itu ngga mungkin terjadi, karena aku tahu sampai sekarangpun dia masih mengharapkanmu!". Seru Rangga.


"Pokoknya aku minta sama kamu jangan lagi dukung hubungan mereka berdua!". Ucapnya lagi penuh tekanan.


****


Haii Readers... Terimakasih sudah mampir ke novelku ini.


Jika kalian suka dengan novel ini, tolong like dan vote novel ini, serta tinggalkan komentar kalisn untuk penyemangat author🙏😀

__ADS_1


__ADS_2