Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode23 Di usir seperti ayam


__ADS_3

Jam kuliah Nabila hari ini telah usai, Ia berjalan dengan gontai ingin cepat cepat keluar dari kampus, Ia tidak mau bertemu Rangga ataupun Rendy karena tadi pagi mereka sempat meminta pulang bareng.


Nabila ingin menghindari mereka karena jika Ia pilih salah satu dari mereka untuk pulang bareng sudah pasti ada salah satu dari mereka yang sakit hati dan Nabila tidak mau itu terjadi.


Langkahnya semakin cepat hingga Ia tidak sadar menabrak seorang wanita seksi nan cantik.


Brruukkk..!!!


Semua buku buku yang sejak tadi dipeluknya berhamburan ke lantai, begitu juga dengan tas wanita seksi itu terhempas ke lantai hingga semua isi dalam tasnya berceceran.


Nabila terus merutuki kebodohannya yang tidak hati hati saat berjalan.


Dengan cepat Ia merapikan buku buku miliknya lalu, merapikan tas dan barang barang wanita itu, saat Nabila hendak berdiri dan menyerahkan tas itu Ia terkesiap saat tahu siapa wanita seksi yang Ia tabrak tadi.


"Sania". Ucapnya lirih.


"Dasar cewek kampungan!!, Lo ngga punya mata hahh?!!. Pekik Sania.


"Maafkan aku nona Sania, aku benar brnar tidak sengaja". Lebih baik minta maaf saja pikirnya, toh ini memang kesalahan Nabila yang terlalu buru buru dan tidak hati hati.


"Enak saja lo minta maaf, dasar cewek kampungan!!". Teriak Sania hingga membuat para mahasiswa dan mahasiswi lain yang ada disana menjadikan mereka sebuah tontonan.


Nabila mencoba menahan emosinya yang sedikit terpancing, Ia mencoba menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Lalu apa yang kamu inginkan nona". Ucap Nabila mencoba setenang mungkin.


"Lo cium dulu kaki gue!!". Sania mengerakkan kakinya yang berbalut sepatu model wedge warna merah maroon sambil menyeringai.


Nabila mengedarkan pandangan ke arah sekitar, mahasiswa dan mahasiwi disana yang masih asyik menonton mereka.


"Astaga mereka masih menonton kami". Nabila menggelengkan kepalanya pelan menatap heran orang orang sedang menontonnya, bukannya melerai pikirnya.


Pandangannya kembali pada Sania yang kini sedang menyeringai dengan penuh ejekan, rupanya wanita seksi itu mencoba mempermalukannnya sekaligus merendahkannya.


"Aku kan sudah minta maaf tadi, kenapa kamu malah menyuruhku mencium kaki mu!!, Memangnya kamu siapa!!. Minggir jangan menghalangi jalanku!". Nabila menerobos tubuh Sania yang berdiri di depannya.


"Dasar cewek kampungan". Tiba tiba saja tangan Sania menarik rambut Nabila dengan sangat kuat.


"Awww". Pekik Nabila. "Lepasin tangan kamu!". Teriak Nabila.


"Hahahaha, rasain lo. Makanya jangan sok kecakepan jadi cewek!!". Sania tertawa penuh kemenangan.


Tak pikir panjang lagi dengan cepat Nabila menginjak kaki Sania dengan kuat hingga wanita itu mengerang kesakitan.


"Aaawwwww, sialan kamu!!". Umpatnya sambil menunduk meraih kakinya yang terinjak.


"Upss, maaf aku tidak sengaja". Nabila tersenyum lalu pergi meninggalkan Sania begitu saja.


Nabila berlalu meninggalkan Sania yang masih tidak berhenti mengumpatnya, namun Nabila tidak memikirkannya yang Ia pikirkan adalah Ia harus cepat cepat keluar kampus tanpa bertemu dengan Rangga ataupun Rendy.


Benar saja saat Ia hendak berbelok Ia melihat Rangga tengah berdiri sambil menelfon seseorang, terlihat sangat gelisah menunggu panggilan telefon itu tersambung.


Nabila segera berbalik badan dan bersembunyi dibalik tembok agar tidak terlihat oleh Rangga.


Drrtt..Drttt...


Ponsel Nabila bergetar dari balik saku blazernya. Nabila memang sengaja mensetting ponselnya dengan mode getar saat jam kuliah berlangsung, dan saat itu Ia belum sempat mengembalikannya pada mode dering.


Dengan cepat Nabila meraih ponselnya benar saja itu adalah panggilan dari Rangga, ternyata pria itu sejak tadi mencoba menghubunginya.


Nabila segera memutus panggilan itu dan mengetikkan sebuah pesan.


Nabila : Mas Rangga aku udah pulang duluan, tidak usah menungguku.


"Siall". Rangga membuka pesan dari Nabila.


**Rangga : Kenapa tidak menungguku, bukankah aku sudah bilang kita pulang bareng!!


Nabila : Maaf**.


Rangga memasukkan ponselnya kedalam saku celananya lalu pergi dengan raut wajah kecewa.


Nabila masih mengintip Rangga dari tempat persembunyiannya, saat dirasa Rangga sudah tidak ada Ia bernafas lega kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya dengan gontai.


"Kenapa kamu membohongiku, heum?". Tiba tiba saja tangan Nabila ditarik oleh seseorang.


Nabila memejamkan matanya, tidak berani menoleh ke arah belakang untuk menatap pria yang sudah menarik tangannya.

__ADS_1


Suara pria itu tidak asing di telinga Nabila, ya itu adalah suara Rangga yang memang sengaja bersembunyi menunggu Nabila melewatinya. Sebelum Nabila bersembunyi saat gadis itu berbalik badan ternyata Ia sempat melihatnya.


"Mati aku, kenapa dia masih disana bukannya tadi sudah pergi". Batin Nabila.


Nabila balik badan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Haii mas Rangga". Sapa Nabila dengan kikuk mencoba pura pura tidak mengerti apa yang Rangga katakan tadi.


"Kenapa kamu membohongiku, heum?". Tanyanya lagi dengan tatapan dingin yang berhasil membuat Nabila beringsut takut.


"Sepertinya aku salah ketik tadi". Kilah Nabila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf". Sambungnya sambil menundukkan kepalanya.


Rangga tersenyum simpul lalu meraih jemari tangan Nabila dan menautkannya dengan jemarinya.


"Kita pulang bareng ya ". Rangga tersenyum tipis.


"Jangan menolak!!". Ucapnya lagi penuh ancaman sebelum Nabila menjawabnya.


Nabila hanya bisa mendengkus kesal sembari menghentakkan kakinya kuat di atas lantai.


Rangga yang melihatnya hanya terkekeh sambil mengacak puncak kepala Nabila.


"Lucu sekali". Ucapnya sambil mengacak puncak kepala Nabila.


----


Rangga dan Nabila kini sudah berada dalam perjalanan menuju toko bunga Nabila, karena Nabila memang sudah bilang kepada Rangga Ia akan pergi ke tokonya.


"Kita tidak makan siang dulu". Tanya Rangga yang masih fokus mengemudi.


"Aku sudah lapar nih". Imbuhnya. Tak lama suara perut Rangga berbunyi membuat Nabila terkekeh.


"Baiklah, kita makan siang di cafe dekat tokoku saja".


"Okay". Jawab Rangga singkat.


"Tadi kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu membohongiku tadi". Tanyanya lagi.


"Mmmmm....aku cuma ngga mau pulang bareng sama kamu ataupun Rendy, aku ngga mau kalian berantem lagi gara gara aku pulang bareng dengan salah satu dari kalian". Jawab Nabila jujur.


"Tapi kan aku lebih dulu mengajakmu pulang bareng, jadi ya kamu harus pulang bareng aku dong".


"Sudahlah ngga usah di bahas lagi".


"Baiklah".


------


Sesampainya di Cafe yang berada di samping toko milik Nabila, mereka memesan menu untuk makan siang mereka.


Nabila meletakkan tasnya di pangkuannya , menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil memperhatikan suasana cafe yang cukup ramai kala itu, sedangkan Rangga sedang sibuk menerima telefon dari Dion asisten pribadi sekaligus tangan kanan papanya.


"Iya paman, ada apa?". Rangga menjawab sambungan telefonnya.


(..................................).


"Baik paman, setelah selesai makan siang Rangga segera ke kantor".


(..…..…..…....….............).


"Iya paman". Rangga menutup telefonnya lalu mengirim pesan singkat kepada Leon.


**Rangga: Yon satu jam lagi ketemu di kantor utama Pradpita Corporation.


Leon : Baik tuan muda, saya juga sudah mempersiapkan semuanya.


Rangga: Bagus**!


Rangga memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


"Bil, sepertinya....". Belum sempat Rangga menyelesaikan ucapannya perhatiannya teralihkan kepada pria berseragam yang sedang membawa pesanannya dan hendak meletakkannya di meja tempat Rangga dan Nabila duduk.


"Permisi tuan, nona". Pria berseragam itu meletakkan pesanan Nabila dan Rangga di atas meja dengan sangat hati hati.


"Silahkan tuan , nona". Ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan meja Nabila dan Rangga.

__ADS_1


"Terimakasih". Nabila tersemyum simpul.


"Kamu mau ngomong apa tadi mas?". Tanya Nabila .


"Sepertinya aku ngga bisa mampir lama lama di toko kamu, ngga apa apa kan?". Rangga mulai memegang sendok dan garpu lalu memasukkan suapan pertamanya.


"Tidak apa apa mas, aku tahu mas Rangga sibuk".


"Maaf ya, padahal aku pengen banget nemenin kamu di toko".


"Tidak apa apa, kan bisa lain waktu".


Nabila dan Rangga melanjutkan makan siangnya diselipi dengan perbincangan seputar rumah kontrakan yang akan Rangga cari untuk Nabila. Sebenarnya Rangga tidak akan mencari rumah kontrakan untuk Nabila namun justru Ia ingin membeli rumah Nabila kembali dan memberikannya kepada Nabila, tapi untuk saat ini Rangga akan merahasiakan dulu niatnya itu.


Setelah menyelesaikan makan siangnya Rangga mengantarkan Nabila ke tokonya, Ia juga mampir sebentar sembari ngobrol ngobrol dengan Aditya yang juga sudah ada disana.


Rangga merasa salut sekaligus bangga kepada Nabila, karena walaupun terbilang masih sangat baru nsmun toko bunganya sudah cukup ramai pembeli terlebih lagi pesanan lewat toko onlinenya juga lumayan banyak setiap harinya.


"Bil, kayaknya aku harus ke kantor sekarang. Aku tinggal dulu tidak apa apa kan?".


"Iya mas, tidak apa apa. Pergilah". Ucap Nabila yang sedang sibuk mencatat dan mengecek semua pesanan bunga yang akan diantar ke pemesan.


"Nanti sore mau aku jemput jam berapa?". Tanya Rangga lagi.


"Tidak usah biar aku naik taksi aja sama Aditya". Nabila menoleh ke arah Rangga yang berdiri di sampingnya.


"Memangnya kamu dan Aditya bisa masuk apartemenku tanpa aku, kan acces cardnya aku yang pegang". Ucapnya lagi setengah meledek.


"Oiya ya, aku lupa kalau aku dan Aditya masih tinggal di apartemen mas Rangga". Ucap Nabila sambil berbisik, Ia takut ada orang lain yang mendengar ucapannya.


"Iya". Rangga ikut berbisik tepat ditelinga Nabila sambil tersenyum.


"Ikut ikut aja kamu mas". Nabila terkekeh.


"Ya sudah pulang kantor aku langsung kesini, kamu jangan pulang dulu kalau aku belum jemput". Tegasnya.


"Hmmm baik tuan muda, sudah pergi sana, syuuuh, syuuhhh". Nabila menjentikkan jarinya layaknya mengusir anak ayam, Rangga terkekeh melihatnya.


"Aku pergi dulu ya, kamu baik baik disini". Nabila dengan sigap mengacungkan jempolnya.


"Dit, aku pergi dulu ya". Rangga melambaikan tangannya ke arah Aditya yang sedang sibuk membuat papan karangan bunga.


"Iya kak, hati hati". Teriak Aditya dari ujung sana.


Rangga memasuki mobil yang terparkir di depan toko bunga milik Nabila, Ia menempuh perjalanan selama 25 menit hingga akhirnya sampai di kantor utama Pradipta Corporation. Dengan cepat Ia berjalan menuju ruangannya, sepanjang jalan semua karyawan yang berpapasannya menyapa dan memberikan hormat kepadanya yang hanya dibalas senyum tipis olehnya.


Sebelum Ia memasuki ruangannya, Ia terlebih menghampiri Leon yang sudah lebih dulu sampai daripadanya. Selama Rangga kuliah Leon akan ditempatkan di anak perusahann lain atau di restoran terbesar milik keluarga Pramudita sebelum nantinya mengikuti semua kegiatan Rangga setelah Rangga pulang kuliah.


Rangga membuka pintu ruangan Leon tanpa mengetuknya terdahulu membuat Leon yang saat itu sedang menatap laptopnya begitu terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka.


Dengan sigap Ia berdiri dan sedikit membungkukkan badannya setelah mengetahui Rangga yang ada disana.


"Selamat siang tuan muda". Leon sedikit membungkukkan badannya menyambut Rangga.


Rangga menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju sofa yang ada diruangan itu, menghempaskan tubuhnya disana.


Leon mengikutinya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang tidak jauh dari sofa yang diduduki Rangga.


"Yon bagaimana, apa lo sudah berhasil mendapatkan kembali rumah Nabila?". Rangga melipat kedua tangannya dan meletakkannya dibelakang kepala sebagai penyangga lalu menyandarkannya di sofa.


"Maaf tuan muda, aku belum berhasil mendapatkannya".


"Apa alasannya, biasanya lo selalu bekerja cepat". Rangga memgernyitkan alisnya.


"Mereka menawarkan harga yang sangat tinggi tuan".


"Lalu apa masalahnya, bukankah sudah kubilang beli berapupun harganya". Rangga menegakkan tubuhnya dan menatap Leon dengan dingin.


"Baiklah tuan muda, aku akan mengurusnya besok". Ucap Leon. Sebenarnya Leon sudah tahu kalau Rangga akan mengeluarkan berapapun untuk membeli rumah Nabila, tapi menurutnya harga yang ditawarkan adalah harga yang tidaklah wajar untuk sebuah rumah sederhana milik Nabila.


Sepertinya mereka sengaja menaikkan harga rumah itu menjadi 10 kali lipat dari harga semestinya karena mereka tahu Rangga begitu menginginkan rumah itu, tapi kalau memang tuan mudanya tidak keberatan Leon akan mengurusnya besok, begitu pikir Leon.


"Tuan muda sepertinya tuan Dion sudah menunggu tuan muda di ruangannya, sebaiknya tuan muda bersiap sekarang". Leon menyerahkan kemeja serta setelan jas kepada Rangga.


"Baiklah". Rangga mengambilnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Leon menuju ruang kerjanya.


Rangga mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja yang disediakan Leon tadi di ruang istirahat yang ada di dalam ruangannya, ruangan tertutup dengan pintu berwarna coklat dekat dengan rak buku yang ada disana. Di ruangan itu terdapat tempat tidur King size untuk dirinya melepas lelah saat bekerja dan ada sebuah nakas disampingnya dan dilengkapi kamar mandi di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2