
"Sayang, kamu kenapa gelisah begitu?".
"Kamu geser dong mas tidurnya, lihat sebelah sana masih luas". Nabila menunjuk kasur sebelah tubuh Rangga yang memang masih sangat luas, merasa tidak nyaman dengan Rangga yang menempel erat ditubuhnya, bukan apa apa Nabila hanya tidak bisa mengontrol jantungnya yang semakin berdetak kencang.
"Aku maunya disini sambil begini". Rangga mengeratkan pelukannya.
Nabila mengehembuskan nafas kasar, masih sibuk merubah posisinya kesana kemari.
"Sayang diamlah, kamu bisa membangunkannya". Seru Rangga melihat Nabila yang masih tidak mau diam.
"Membangunkan siapa?". Tanya Nabila bingung, sejenak ia menghentikkan tubuhnya yang sibuk mencari posisi nyaman.
"Membangunkan Raju". Bisiknya di telinga Nabila.
"Raju?". Nabila mengernyitkan keningnya semakin tidak mengerti dengan maksud Rangga.
"Rangga junior sayang, lihatlah dia sudah mulai bangun". Rangga mengarahkan kedua bola matanya menuju daerah sensitifnya.
Nabila yang baru saja menyadari maksud Rangga menjadi tersipu malu, wajahnya sudah semerah tomat sekarang.
"Ihh, dasar omes!". Nabila mencubit lengan Rangga membuat suaminya mengaduh.
"Awww, sayang sakit!".
"Makanya diamlah kalau tidak dia akan bangun". Tutur Rangga membuat Nabila seketika mematung, memilih memejamkan matanya dan segera tertidur.
Tak butuh waktu lama kini merekapun tertidur dengan saling memeluk, rasa lelah setelah seharian melakukan serangkaian acara pernikahan membuat mereka tertidur begitu lelap.
Fajar mulai menyingsing Rangga mengerjapkan matanya karena silau mentari yang mengusik ketenangan tidurnya, tangannya meraba raba kasur di sebelahnya tidak menemukan Nabila di sana, ia terduduk mata yang masih terlihat enggan terbuka itu berusaha mencari cari keberadaan Nabila.
Menyapu seluruh ruangan kamar namun tak juga menemukannya.
Ia beranjak menuju kamar mandi, pintunya tertutup dan terdengar suara gemricik air, Rangga bernafas lega itu artinya istrinya sedang berada di dalam kamar mandi.
"Sayang kamu di dalam?". Teriak Rangga sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya mas". Terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.
"Ya sudah aku tidur lagi ya masih ngantuk". Ucap Rangga sambil menguap melangkahkan kakinya meninggalkan kamar mandi.
"Tunggu mas!". Seru Nabila membuat Rangga menghentikan langkahnya kembali berbalik menuju kamar mandi.
"Ada apa sayang?".
"Mmmmm...itu..itu mas". Ucap Nabila ragu sambil melongokkan kepalanya keluar dari pintu kamar mandi yang sedikit ia buka.
"Itu apa sayang?".
"Aku boleh minta tolong ngga mas?". Tanya nya ragu.
"Minta tolong apa?, mau dimandikan lagi?". Tanya Rangga membuat Nabila berdecak kesal.
"Issshhh, kamu ini mas omes terus!". Nabila memutar bola mata sebal, Rangga terkekeh.
"Terus apa dong sayang?".
"Tolong belikan p*mbalut, aku hari ini datang bulan!". Seru Nabila.
__ADS_1
"Apa?!!". Seru Rangga dengan ekspresi yang begitu terkejut seolah dunia mau runtuh.
"Biasa aja dong mas, cepat belikan aku p*mbalut".
"Kamu datang bulan yank?". Tanya Rangga dengan ekspresi berubah sedih.
"Iya mas aku datang bulan, kamu kenapa jadi sedih begitu?". Nabila heran melihat Rangga yang tiba tiba bersedih.
"Itu artinya kita tidak bisa melakukannya ya?" Tanyanya lagi masih tetap dengan ekspresi sedihnya.
"Ohh jadi dia sedih karena itu xixixi". Gumam Nabila dalam hati sambil menahan tawanya.
Rangga terlihat sangat sedih, moment yang di tunggu tunggu justru membuatnya sangat kecewa padahal semalam ia berusaha sekuat tenaga menahan hasratnya karena tidak tega melihat Nabila kelelahan, tapi sekarang ia pun tidak bisa melakukan hal yang paling ia nanti nantikan selama ini.
"Mas, cepat belikan p*mbalutnya!". Seru Nabila lagi.
"Baiklah, baiklah". Rangga melangkahkan kakinya meniggalkan kamar mandi dengan ekspresi yang menyedihkan, ekspresinya terlihat seperti orang yang sangat menderita.
Rangga menelfon pelayan hotel untuk mencarikan p*mbalut untuk Nabila, sedangkan ia terduduk lemas di atas kasur sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Tak lama kemudian pelayan hotel datang membawa satu pack pembalut, pelayan itu menahan tawanya saat melihat ekspresi menyedihkan Rangga.
"Sial!!, kenapa dia senyum senyum seperti itu , dia mau menertawakanku?, apa dia tahu penderitaanku". Gumam Rangga dalam hati sambil menghunuskan tatapan tajam kepada pelayan itu.
"Kau mau mati berani menertawakanku!". Seru Rangga membuat senyum sang pelayan sirna seketika.
"Ti..tidak tuan, maafkan saya". Ucapnya tergagap.
"Sudah pergi sana!". Usir Rangga.
"Mas Rangga, mana sudah dapet belum?". Teriak Nabila dari dalam kamar mandi.
"Iya iya ini sudah". Sahut Rangga sambil berjalan menuju kamar mandi menyerahkan bungkusan yang diminta istrinya itu.
"Sayang biasanya kayak gitu berapa hari?". Tanya Rangga sebelum Nabila kembali menutup pintu kamar mandi, Nabila tersenyum mendengar ucapan Rangga.
"Seminggu mas". Jawabnya.
"Kenapa lama sekali!!". Seru Rangga hingga membuat Nabila tersentak.
"Sabar mas". Ledeknya lalu menjulurkan lidahnya.
"Kamu sepertinya senang sekali melihat penderitaanku, sama seperti pelayan tadi". Kesal Rangga.
"Pelayan?". Nabila mengernyitkan keningnya.
"Iya pelayan yang mengantarkan itu tadi menertawakanku, sepertinya dia tahu penderitaanku".
"Hahaha". Nabila terbahak, membuat Rangga melototkan matanya.
"Hummmp". Nabila menutup mulutnya menahan tawa.
"Cup..cup..kasiannya suamiku". Nabila mencium pipi Rangga membuat suaminya itu tersenyum.
"Sudah sana". Nabila menjentikkan jemarinya mengusir Rangga agar segera pergi dari depan kama mandi.
"Sayang biar aku saja yang memakaikannya". Tutur Rangga bersemangat.
__ADS_1
"Memakaikan apa?".
"Itu". Rangga menunjuk bungkusan yang masih ditangan Nabila.
"Dasar omes!". BRAAKK Nabila menutup pintu kamar mandinya.
"Sayang ayolah aku serius biar aku saja yang memakaikannya". Seru Rangga dari balik pintu kamar mandi.
"Tidak perlu mas, sudah pergi sana!". Teriak Nabila dari dalam kamar mandi.
"Kamu tega sih yank, aku tidak bisa melakukannya setidaknya kan aku bisa melihatnya sebentar". Tutur Rangga memelas.
"Tidak perlu!!".
"Baiklah". Rangga pergi meninggalkan kamar mandi dengan persaan masih kesal.
------
Nabila dan Rangga kini sedang menikmati sarapannya di atas balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan kota yang spektakuler dari atas sana.
"Mas habis ini, kita pulang kan?". Tanya Nabila sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Iya, mau ngapain lagi disini kita tidak bisa melakukannya". Tuturnya lemas.
"Astaga masih saja bahas masalah itu, apa dia sebegitu menderitanya?". Gumam Nabila dalam hati.
"Sayang kamu mau honeymoon dimana?".
"Honeymoon, ngga usah deh mas".
"Kenapa?!". Seru Rangga sambil meletakkan sendok garpunya di atas piringnya hingga berdenting.
"Itu hanya akan membuang buang uang saja mas, lagipun aku harus kuliah dan mengurus toko".
"Kalau masalah itu Leon yang akan mengurusnya, tapi kita harus tetap pergi berbulan madu". Tuturnya memberikan sorot mata yang tidak mau dibantah.
"Baiklah".
"Bagaimana kalau kita ke paris saja, cewek biasanya paling suka paris". Rangga kembali menyuapkan sarapan miliknya ke dalam mulutnya.
"Aku ngga mau yang jauh jauh mas, yang deket aja".
"Kamu ngga mau ke luar negeri?, Kenapa?".
Nabila meneguk segelas susu coklat miliknya.
"Ya karena aku ngga mau ninggain Aditya lama lama". Jawab Nabila setelah mengembalikkan gelasnya yang sudah kosong ke meja.
"Baiklah, bagaimana kalau ke Bali?, keluargaku punya villa di sana kalau kamu mau kita akan tinggal disana untuk beberapa hari". Rangga membersihkan mulutnya dengan menggunakan napkin yang ada di pangkuannya.
"Terserah mas Rangga saja, aku ikut saja". Mau menolakpum tadi tatapannya sudah mengancam tidak mau dibantah, yang penting tidak ke luar negeri begitu pikir Nabila.
***
Terimakasih sudah mau mampir ke novel ku, jangan lupa like dan votenya ya kakak..
Tinggalkan juga komentar kalian untuk penyemangat author😘🙏
__ADS_1