Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Epidode 85 Salah paham


__ADS_3

"Apa kamu juga ngga kasian, Rania hanya akan sakit hati karena cintanya yang tak terbalas".


"Mas, siapa tahu Rania bisa membuat Rendy jatuh cinta kepadanya".


"Itu ngga mungkin terjadi, karena aku tahu sampai sekarangpun dia masih mengharapkanmu!". Seru Rangga.


"Pokoknya aku minta sama kamu jangan lagi dukung hubungan mereka berdua!". Ucapnya lagi penuh penekanan.


Nabila hanya mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian Nabila dan Rangga sudah memasuki rumahnya, menaiki tangga menuju lantai dua.


Nabila menghentikan langkahnya saat dirinya sudah mencapai ambang pintu kamar.


"Mas kamu masuk duluan saja, aku mau bicara dengan Rania dulu". Ujar Nabila membuat Rangga bersungut sungut.


"Aku ngga mau!, kamu lupa?, kamu harus mengobati kangenku dulu". Tanpa aba aba Rangga menggendong Nabila membawanya masuk kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Rangga melepas kain yang membalut tubuhnya hingga tak menyisakan sehelai benang pun disana.


Ia menciumi istrinya, membuat stempel kepemilikan di sekujur tubuh Nabila, hingga membuat Nabila m*lenguh dan m*ndesah.


Rangga tersenyum puas saat melihat istrinya itu sudah mulai b*rgairah.


Rangga mulai melucuti semua pakaian Nabila, melemparkannya ke sembarang arah.


Nabila sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu. Dan percintaan panas itu pun kembali terjadi.


Setelah hampir satu jam permainan akhirnya Rangga ambruk tak berdaya, ia memeluk Nabila dengan erat Rangga menghujani wajah Nabila dengan ciuman.


"Terimakasih sayang". Ucapnya sambil mengecup kening Nabila berkali kali.


Sepasang suami istri itu masih saling berpelukan dengan tubuh polos mereka dibalik selimut tebal yang membalutnya.


"Terimakasih untuk apa?".


"Untuk yang baru saja kita lakukan". Tutur Rangga sambil tersenyum.


"Mulai omes!". Seru Nabila membuat Rangga terkekeh.


"Sudah ah aku mau mandi, setelah itu aku mau bicara dengan Rania". Nabila hendak turun dari tempat tidurnya.


"Mau kemana?". Tangan Rangga menahan tubuh Nabila agar tidak turun dari tempat tidur.


"Aku mau mandi mas, minggir dulu". Nabila berusaha menyingkirkan tangan Rangga yang semakin memeluknya erat.


"Tidak boleh!, kita akan melakukannya lagi".

__ADS_1


Rangga menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka dan kembali menciumi tubuh Nabila.


"Aku capek mas". Tutur Nabila.


"Sayang kamu ngga perlu ngapain ngapain, cukup menikmatinya saja biar aku yang melakukannya". Bisik Rangga membuat Nabila meremang.


Nabila pasrah, akhirnya mereka pun kembali membuat suasana kamar menjadi sangat panas, peluh membasahi sekujur tubuh mereka, dinginnya ac yang menyala seperti tak berefek suasana kamar menjadi sangat panas.


D*sah*n dan l*nguhan kian menggema di ruangan itu seiring dengan irama gerak tubuh keduanya, hingga mereka berdua mencapai pelepasannya.


Tubuh Rangga jatuh terkulai lemas di atas tubuh Nabila, nafas keduanya memburu seolah sedang berebut pasokan oksigen yang kian menipis.


Rangga membenarkan posisi tidurnya, memluk erat Nabila hingga mereka tertidur dengan sendirinya.


Dua jam telah berlalu Nabila terbangun dari tidurnya, mengerjapkan matanya berusaha menjangkau jam dinding yang berada tepat di depan tempat tidur.


"Ya Tuhan, sudah jam 5 aku belum sholat ashar". Gumam Nabila.


Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, menyingkarkan tangan Rangga yang masih melingkar ditubuhnya.


Dengan sangat hati hati Nabila mengangkat tangan Rangga, ia tidak mau sampai suaminya itu terbangun bisa bisa Rangga akan menerkamnya kembali jika dia bangun.


Susah payah akhirnya Nabila bisa melepaskan diri dari pelukan Rangga, dengan langkah hati hati ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian Nabila telah rapi dan segar dengan baju rumahan yang ia kenakan, Nabila bergegas melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Penciptanya.


Setelah selesai berdoa Nabila merapikan mukenah dan sajadahnya dan meletakkannya kembali ke tempatnya semula.


****


Rania baru saja selesai dari ritual mandinya, lebih tepatnya melepaskan segala kesedihannya dengan menangis sejadi jadinya di bawah guyuran air shower ber jam jam lamanya hingga membuat matanya sembab dan menyipit.


Sesaat setelah memakai baju, ia kembali menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi tengkurap membenamkan wajahnya di bantal, ia kembali menangis.


Air matanya kembali tumpah ruah dipipinya, rasa kecewa dan sakit hati masih terasa sangat jelas menyesakkan dada.


Tok..


Tok..


Tok..


"Dek, ini aku Nabila boleh aku masuk?". Terdengar suara Nabila dari balik pintu kamar Rania.


Rania mengangkat wajahnya, mata sembabnya menatap pintu berwarna coklat yang masih tertutup rapat.


"Dek, aku masuk ya. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu". Tutur Nabila lagi.

__ADS_1


Pintu kamar Rania terbuka perlahan, hingga menampakkan Nabila yang masig memegang handle pintu, Nabila menutup kembali pintu itu dengan hati hati.


Berjalan menghampiri Rania yang tengah tengkurap dengan membenamkan wajahnya di bantal.


"Dek, ada yang mau aku bicarakan sama kamu". Nabila duduk di tepi tempat tidur


Rania bergeming seolah tak mendengar ucapan Nabila.


"Kamu marah sama aku?". Tanya Nabila saat dirinya tak mendapat respon apapun dari adik iparnya itu.


"Menurutmu?!". Rania bangkit dari posisinya, kini ia duduk dengan bersilah kaki, sorot matanya menatap Nabila penuh kebencian.


Rania merasa kecewa kepada Nabila karena telah membohonginya, ia benar benar kecewa dengan kenyataan yang ia hadapi sekarang.


"Dek, aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu". Nabila mencoba meraih tangan Rania yang bertumpu pada kakinya, dengan cepat Rania menepisnya.


"Dek, kamu pasti sudah salah paham dengan semua ini".


"Cihh". Rania tersenyum getir.


"Dengarkan penjelasanku dulu dek".


"Ngga ada lagi yang perlu kamu jelaskan, sekarang aku minta kamu keluar dari kamarku!". Seru Rania sambil menunjuk arah pintu keluar.


Matanya yang menyipit itu menghunus manik hitam Nabila, menyiratkan kebencian dan kekecewaan yang amat dalam.


"Aku akan keluar, tapi dengarkan dulu penjelasanku". Rania membuang muka ke sembarang arah enggan untuk menatap Nabila.


"Aku minta maaf karena aku ngga jujur sama kamu, tapi dek aku ngga punya maksud apapun, aku cuma ngga mau kamu sakit hati kalau kamu tahu yang sebenarnya".


"Aku bilang sama kamu kalau aku ngga tahu siapa kekasih Rendy, itu memang aku beneran ga tahu dek, setahuku Rendy ngga pernah berhubungan dekat dengan perempuan".


Rania masih bergeming sambil memasang indera pendengarannya baik baik, karena sebenarnya sungguh ia ingin mndengar apa yang akan dijelaskan kakak iparnya itu.


"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, jadi lebih baik aku jelaskan. Rendy memang pernah bilang kalau dia mencintaiku tapi jujur dari dulu aku cuma menganggap dia sahabatku, aku ngga bisa membalas cintanya karena yang aku cintai itu mas Rangga, cinta itu ngga bisa dipaksakan, cinta juga ngga bisa kita kontrol datang dan tumbuh untuk siapa".


"Jadi kakak ipar dan Rendy memang tak pernah berpacaran?".


Nabila menggeleng.


"Ngga dek, sudah kubilang aku hanya menganggap Rendy seorang sahabat".


"Kenapa kakak ipar ngga jujur dari awal, kalau kakak iparlah wanita yang dicintai Rendy. Kalau saja kakak ipar jujur mungkin aku ngga akan berharap banyak kepadanya". Rania menatap Nabila sendu, air matanya kembali menetes.


"Maafkan aku dek, itulah salahku. Aku cuma ngga mau lihat kamu kecewa dan sedih, aku lihat kamu sangat mencintainya, kamu bahagia menceritakan apapun tentangnya aku jadi ngga tega buat jujur sama kamu, lagi pun dia laki laki yang baik aku pikir dia cocok buat kamu, aku berharap Rendy akan mencintai kamu seiring berjalannya waktu itulah kenapa aku mendukung kalian, aku cuma pengen lihat kalian bahagia dek".


Nabila memeluk Rania erat, mengusap punggung gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


"Rendy ngga mencintaiku kak, cuma kakak ipar yang ada di hatinya, aku tahu betapa besarnya cinta Rendy untuk kakak ipar, aku baru sadar Rendy selalu menatap kakak ipar dengan penuh cinta, hanya ada kakak ipar di matanya". Rania menangis di dalam pelukan Nabila membuat Nabila ikut menitikan air matanya.


"Dek, kalau menurutmu begitu lupakanlah dia aku yakin kamu akan mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari Rendy". Nabila melepaskan pelukannya, mengusap air mata Rania dengan jemarinya.


__ADS_2