
Rania membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dengan kepala bertumpu pada paha Nabila sebagai bantalnya.
"Aku ngga yakin aku bisa melupakannya kak, aku sudah terlanjur mencintainya terlalu dalam". Rania mengadahkan wajahnya menatap Nabila.
Ya Rania sudah terlanjur memberikan ruang di hatinya untuk Rendy, cintanya terlanjur bersemi di dalam sana.
"Semua belum terlambat dek, kamu pasti bisa melupakannya". Nabila menunduk menatap lekat wajah Rania yang ada di pangkuannya
.
"Menurutmu begitu kak?".
Nabila mengangguk cepat, sambil memainkan rambut gadis itu.
"Kamu disini yank?, aku cari kamu kemana mana". Nabila dan Rania mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu yang telah terbuka dan menampakkan Rangga dengan muka bantalnya dan bertelanjang dada hanya mengenakan boxer.
"Kamu sudah bangun mas?".
Rangga mendekati Nabila ikut duduk di tepi ranjang dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa kamu ninggalin aku". Tuturnya sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Nabila.
"Aku cuma kesini mas, ke kamar sebelah masa iya kamu bilang ninggalin, lebay kamu mas". Tutur Nabila.
"Sudah cepat mandi sana, ini sudah sore". Sambungnya.
"Mandiin sayang". Tuturnya membuat Nabila reflek membungkam mulut Rangga dengan tangannya.
"Hummmpp". Rangga kesusahan berbicara.
"Kenapa?, emang salah kalau aku minta dimandikan istri sendiri". Ucapnya setelah Nabila melepaskan tangannya.
"Ishhh, mas Rangga ini ngga tahu malu deh". Nabila mencubit perut Rangga, hingga suaminya itu mengaduh.
Nabila merasa semenjak mereka menikah Rangga jadi tidak tahu malu begitu dan pikirannya jadi selalu mesum.
"Kalian tenang saja, aku ngga dengar apapun". Rania menutup kedua telinganya membuat Nabila dan Rangga terkekeh.
__ADS_1
"Tapi kalau kalian mau mesra mesraan tolong jangan disini". Tutur Rania sambil melipat kedua tangan di dada menatap Nabila dan Rangga bergantian.
"Kamu dengar sayang Rania mengusir kita, mari kita melanjutkannya di kamar". Ucap Rangga sambil menyeringai penuh arti membuat Nabila bergidik ngeri membayangkan apa yang akan di lakukan suaminya itu.
Nabila memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar Rania sebelum suaminya itu melancarkan aksinya.
Dengan gontai Nabila berjalan diikuti Rangga di belakangnya yang tak henti memanggil manggil namanya.
Rangga berlari mengejar Nabila yang berjalan begitu cepat hendak menuruni tangga.
"Kena". Pekiknya saat ia berhasil menangkap Nabila sebelum istrinya itu menuruni tangga.
Rangga menggendong Nabila di bahunya, seperti mengangkat sekarung beras. Nabila meronta mengayun ayunkan kakinya sambil tertawa.
"Mas cepat turunkan aku, kamu ini ada ada saja". Nabila tak henti meronta sambil tertawa, memukuli punggung Rangga dan mengayun ayunkan kakinya.
Rangga tak menghiraukan Nabila ia terus berjalan menuju kamarnya, membaringkan istrinya di atas tempat tidur.
"Kamu mau apa lagi mas?". Nabila berdecak kesal, suaminya ini seperti tak pernah kehabisan energi padahal sejak tadi siang sudah berkali kali mereka memanaskan ruangan dengan gelora percintaan yang begitu membara.
****
Keesokan harinya Rania sedang asyik memilih barang barang yang membuatnya tertarik hanya dalam satu kali melihat.
Saat ini Rania memang tengah sibuk menghambur hamburkan uangnya hanya untuk sedikit melepas semua masalahnya yang tengah dihadapinya, ia berada di sebuah mall ternama di ibu kota bersama dengan teman temannya.
Entah lah Rania akan merasa happy dan perasaannya akan terasa lebih baik, sejak dulu setiap ada masalah ia akan melakukan hal hal yang ia sukai seperti shoping, perawatan tubuh di salon, melakukan serangakaian perawatan wajah di klinik kecantikan, dan spa. Itu semua telah dilakukannya hari ini terakhir adalah shoping sepuasnya.
Setelah puas melakukan serangkaian hobinya Rania dan teman temannya memutuskan untuk makan siang sekaligus nongkrong di cafe langganan mereka.
Rania dan teman temannya tengah asyik berceloteh sambil menikmati pesanan mereka masing masing, sejenak Rania bisa melupakan masalahnya dan rasa sakit di dadanya sedikit membaik.
Rania tak menyadari kehadiran seseorang di belakang kursinya, salah satu teman Rania yang duduk berhadapan dengannya memberi kode kepadanya agar segera menoleh ke belakang namun Rania tak bisa mengartikan dengan jelas kode yang diberikan temannya itu.
Hingga akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya membuat Rania tersentak, hampir saja ia melompat dari duduknya.
"Ran?". Suara bariton Rendy membuat Rania tersentak, gadis itu menoleh ke arah belakang dan tampaklah wajah tampan Rendy dengan senyuman manis mengembang disana.
__ADS_1
Hati Rania kembali mencelos saat melihat pria itu, orang yang sedang ia usahakan mati matian dilupakan, hari ini sudah hampir tak mengingatnya karena ia sibuk bersenag senang dengan temannya, namun disaat ia hampir lupa pria itu datang membuat luka di hatinya kembali tergores.
Usaha untuk melupakannya terasa sangat sia sia, ya Rania kembali luluh ia hampir tak bisa menolak laki laki itu.
"Rendy?". Ucapnya lirih nyaris tak mengeluarkan suara.
"Boleh kita bicara sebentar?". Tuturnya.
Mebimbang nimbang akhirnya, ia pun mau. mereka mencari meja lain untuk mengobrol.
"Kita pesan sesuatu ya". Ujar Rendy mengangkat tangan hendak memanggil pelayan.
"ngga usah, aku ngga punya waktu banyak. Ada apa?, cepat katakan!". Seru Rania tanpa melihat ke araha Rendy.
Namun pelayan cafe terlanjur datang menghampiri mereka dengab membawa buku catatan kecil ditangannya, Rendy pun memesan secangkir kopi moccacino.
"Kamu marah?, kenapa kamu ngga balas pesanku dan ngga angkat telefonku?". Rania hanya melirik sekilas ke arah Rendy lalu kembali membuang pandangannya ke sembarang arah.
Sudah beberapa hari setelah Rania tahu fakta yang sebenarnya memang Rania sengaja menghindar dari Rendy, ia tak pernah membalas pesan pria itu dan mengacuhkan panggilannya.
"Aku sibuk, dan sebaiknya kamu ngga usah hubungi aku lagi. Hapus saja nomerku dari ponselmu". Tutur Rania.
"Kamu mau menjauhiku?, karena sekarang kamu tahu kalau wanita yang kucintai itu adalah kakak iparmu?".
Rania terdiam, suaranya tiba tiba tercekat ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ya karena kamu mencintai kakak ipar bukan aku, karena di hatimu hanya ada kakak ipar bukan aku jadi buat apa aku tetap membiarkan cinta ini tumbuh di dalam hatiku?!". Ingin rasanya Rania beteriak lantang seperti itu, namun sangat sulit bibirnya kelu tak mampu berkata kata.
"Ran, aku tahu kamu kecewa sama aku, aku minta maaf karena ngga jujur sama kamu. Tapi Ran aku ngga punya maksud apa apa sama kamu, Ran". Ujar Rendy.
"Aku hanya ingin berteman sama kamu, kalau Rangga bilang aku hanya ingin memanfaatkan kamu untuk balas dendam kepadanya itu salah, Ran aku ngga pernah terpikirkan sama sekali melakukan itu".
Rania membungkam mulutnya rapat rapat ia hanya ingin mendengarkan Rendy dan mencerna dengan baik kata kata pria itu.
"Mungkin semua orang yang tahu masalah ini akan berpikiran seperti itu, aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendamku kepada kakakmu, tapi sungguh aku ngga pernah berpikiran seperti itu".
Rendy menghela nafas berat, dirinya merasa keberatan dengan tuduhan Rangga tentang dirinya yang memanfaatkan Rania untuk membalas dendam kepada Rangga, orang yang sudah merebut cintanya, orang yang sudah mengambil kebahagiaannya, mengambil orang yang sangat di cintainya.
__ADS_1