
Nabila terus saja merapalkan doa doa yang Ia bisa, berharap ada keajaiban atau ada dewa penolong yang akan menolongnya, Nabila masih terisak air matanya tak hentinya mengalir, gadis itu tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia benar benar dijual, dijual untuk apa?, Untuk dijadikan apa?, hancur sudah harapan dan impian Nabila yang belum sempat terwujud.
"Mas Rangga, tolong aku". Lirihnya sambil mengusap kedua pipinya yang terus saja basah karena air matanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dibawah derasnya kucuran hujan dan petir yang masih menggelegar.
Hari sudah mulai petang, jalanan terlihat begitu sepi dan sunyi, suasana hujan yang seolah menambah keadaan mencekam hanya lampu lampu jalanan yang sudah mulai menerangi hari yang beranjak malam itu.
Di tengah perjalanan tiba tiba salah seorang pria berambut gondrong di sisi Nabila terlihat begitu gelisah dalam duduknya membuat Nabila mengernyitkan dahinya.
"Tolong berhenti dulu sebentar di pom bensin terdekat, aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil". Pinta pria itu menepuk sang kemudi mobil.
"Ada ada saja kau ini, baiklah". Cetus sang kemudi mobil.
Nabila merasa mungkin ini saatnya ia kabur, Nabila sedang menyusun strategi agar ia bisa kabur dari mobil sialan itu.
Tak lama kemudian mobil menepi di depan pom bensin, pria di samping Nabila segera membuka pintu dan keluar sedangkan pria yang satu lagi memegangi Nabila agar tidak kabur.
Dengan cepat Nabila menggigit kuat kedua tangan pria yang mencekalnya, dan memukul tengkuk lehernya dengan begitu kuat, setelah itu Nabila segera membuka pintu dan melompat keluar dari mobil.
"Awwwww". Pekik laki laki berambut gondrong itu.
Nabila terjatuh hingga membuat kedua sikunya lecet, dan bajunya kotor terkena kubungan air hujan di tempatnya terjatuh, Nabila bangkit dan berlari secepat yang ia bisa saat kedua laki laki itu hendak menangkapnya.
Goresan luka di kedua sikunya terasa sangat perih saat terkena air hujan membuat Nabila meringis kesakitan, gadis itu mencoba mengabaikan rasa perih di sikunya itu, yang terpenting sekarang adalah kabur dan lari secepatnya.
"Jangan kabur kamu!!". Teriak kedua laki laki itu sambil berlari mengejar Nabila.
Dengan sisa sisa tenaganya ia berlari meninggalkan mereka di bawah guyuran hujan yang semakin deras, nafasnya terengah engah tubuhnya begitu lemas dan gemetar takut.
Jalanan yang begitu sepi membuatnya kesulitan meminta bantuan, Nabila berhenti sejenak saat merasa dirinya kehabisan nafas, gadis itu berhenti sejenak mengatur nafasnya dengan tubuh sedikit membungkuk.
Nabila menoleh ke belakang ternyata mereka mengejar menggunakan mobil, Nabila kembali berlali cepat semampunya, dengan tubuh yang sudah mulai menggigil kedinginan ia lari hingga berkali kali terjatuh.
Mobil itu semakin dekat, Nabila sudah tidak tahu lagi harus berlari kemana, ia tetap berusaha untuk tak menghentikan langkahnya.
Sampai ia menemukan sebuah taman yang tidak cukup besar, Nabila segera bersembunyi di balik semak semak tanaman yang ada disana, berjongkok dengan tubuh yang begitu gemetar dan mengigil, ada derap langkah kaki mendekatinya Nabila semakin meringkuk tak bersuara, mengatur deru nafasnya agar tidak terdengar oleh ketiga laki laki itu yang kini sudah berada di balik tanaman, Nabila bisa melihat sepatu mereka yang sedikit terlihat dari balik semak semak.
Nabila benar benar sangat takut hingga tak membuatnya berhenti menangis, gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tak meloloskan isak tangis yang akan terdengar oleh ketiga laki laki itu.
"Hikkss..hikkss..". Isak tangisnya lolos begitu saja, membuat ketiga laki laki itu berbalik badan mencari sumber suara.
"Mau kemana lagi kamu?". Serunya saat mereka sudah menangkap basah Nabila yang tengah meringkuk di balik semak semak.
Dengan cepat Nabila mengambil sebuah ranting kayu yang cukup besar yang ada di dekatnya dan memukulkannya ke arah laki laki yang sudah hampir meraih tangannya.
Nabila kembali berlari menuju jalan raya, berlari secepat kilat dan hal itu berhasil membuatnya lolos, Nabila kembali bersembunyi di balik tembok besar sebuah rumah yang berada di pinggiran jalan raya.
Nabila memepetkan tubuhnya bersandar di tembok dengan isak tangis yang belum mereda. Nabila mencoba mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya untuk menghubungi Rangga.
__ADS_1
Beruntung saat pulang dari toko ia belum sempat melepaskan tasnya jadi kini ia bisa menghubungi Rangga dengan ponselnya yang berada di tas.
Berkali kali Nabila menghubungi Rangga namun tidak ada jawaban, Nabila menghela nafas berat, diintipnya kembali mobil misterius itu yang masih menyusuri jalanan itu mencari dirinya
"Siall!!, Kemana perginya gadis itu". Umpat laki laki yang duduk di balik kemudi, mobilnya menyusuri jalanan yang sepi dan gelap itu namun tidak juga menemukan gadis itu.
Akhirnya mobil itu melaju cepat meninggalkan jalanan itu, Nabila yang mengetahui hal itu bernafas lega, tubuhnya merosot ke tanah merasa begitu lelah dan lemas, Nabila menghapus sisa air matanya ia berjalan mencari tempat yang terang dan cukup ramai, setidaknya jika terjadi apa apa dengannya akan ada yang menolongnya, begitu pikirnya.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya dia menemukan sebuah halte, dan disana ada beberapa orang yang tengah menunggu angkutan umum.
Nabila berjalan menuju halte dengan sedikit tertatih, tenaganya sudah habis, tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya, berjalan dengan tubuh yang basah kuyup dan kotor, serta wajah yang begitu pucat membuat beberapa orang yang melewatinya memperhatikannya.
Pasalnya hujan sudah berhenti beberapa menit yang lalu membuat semua orang di sana terheran heran dengan penampilan gadis ayu itu yang terlihat begitu kacau.
----------
Rangga baru saja keluar dari ruangan kerjanya diikuti Leon di belakangnya yang membawakan tas kerja milik tuannya itu.
Rangga mengambil ponselnya hendak mengirimkan kabar kepada Nabila, namun ia mengernyitkan dahinya saat menatap layar ponselnya ada notifikasi 12 panggilan tak terjawab dari Nabila.
"Sepertinya dia kangen, sampai menelfon berkali kali". Rangga tersenyum tipis.
Sejak Nabila mencoba menghubunginya Rangga tengah rapat dengan dua orang kliennya, dan Rangga memang sengaja mensetting ponselnya ke mode silent agar tidak mengganggu saat dirinya tengah meeting, begitu pikirnya.
Rangga dengan cepat melakukan panggilan video call dengan Nabila walaupun dirinya sedang berjalan menyusuri koridor kantor namun rasanya tak sabar untuk melihat wajah kekasihnya itu.
Rangga terkesiap saat mendapati Nabila yang begitu kacau, tubuhnya basah kuyup, ada banyak noda kotor di bajunya serta matanya yang sembab dan menyipit akibat menangis.
"Sayang kamu kenapa?, Kamu dimana sekarang?". Rangga begitu panik melihat keadaan Nabila.
Nabila hanya bisa menangis tak mampu menjawab pertanyaan Rangga.
"Sayang kamu kenapa?". Tanyanya lagi dengan begitu cemas.
"Tolong aku mas Rangga". Hanya itu yang dikatakan Nabila membuat Rangga semakin panik.
"Kamu kenapa sayang?". Rangga berteriak frustasi.
"Kamu share lok sekarang, aku akan menjemputmu sayang tenanglah".
Rangga berlari menyusuri koridor kantor membuat Leon yang sejak tadi mengekornya bingung.
Leon ikut berlari mengejar Rangga.
"Ada apa tuan muda?". Tanyanya dengan nafas tersenggal senggal saat mereka sudah sampai di parkiran kantor.
"Nabila dalam bahaya Yon, gue ngga tahu dia kenapa tapi sepertinya dia dalam bahaya". Ucap Rangga yang juga tersenggal senggal mencoba mengatur nafasnya karena berlari.
"Cepat lo ambil mobil kita jemput Nabila sekarang". Titah Rangga dengan wajah penuh cemas.
__ADS_1
Leon segera berlari menuju tempat mobilnya terparkir, dengan cepat ia melajukan mobilnya saat sudah duduk dibalik kemudi, berhenti sejenak saat melewati tuan mudanya yang tengah menunggunya.
Dengan cepat Rangga memasuki mobil dan menutupnya dengan kencang.
Pikiran Rangga begitu kacau, ia benar benar takut terjadi sesuatu dengan Nabila.
Ia mengeram kesal saat ingat Nabila berkali kali menghubunginya namun ia malah sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang maafin aku, andai saja aku tahu kamu menghubungiku mungkin tidak akan seperti ini". Gumam Rangga dalam hati.
Sebenarnya Rangga tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kekasihnya itu, tapi melihat penampilan Nabila yang begitu kacau ia sangat yakin telah terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya itu.
"Arrrghhh". Rangga mengacak rambutnya frustasi, ia benar benar khawatir dengan Nabila.
Leon melajukan mobilnya dengan cepat menuju tempat yang sudah Nabila beritahukan.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di halte bus dimana Nabila berada, gadis itu sedang duduk sambil memeluk kedua lengannya kedinginan.
Rangga berlari menghampirinya.
"Sayang apa yang terjadi?". Rangga memeluk Nabila begitu erat dan gadis itu hanya bisa menangis tersedu di pelukan Rangga.
Rangga melepaskan pelukannnya sesaat, ia melepaskan jas yang ia kenakan dan membalutkannya di tubuh Nabila yang terlihat kedinginan, wajah gadis itu begitu pucat membuat Rangga semakin khawatir.
"Sayang kita pulang dulu ya, bajumu basah kuyup dan wajahmu sangat pucat". Rangga merangkul Nabila berjalan menuju mobilnya.
Nabila mengangguk lemah, pandangannya sudah kabur kepala nya berat dan sakit membuatnya hilang kesadaran.
"Sayang!!". Teriak Rangga panik.
Dengan sigap Rangga menggendong Nabila ala bridal style dan membawanya menuju kursi penumpang, Leon dengan cepat melajukan mobilnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang Yon". Titah Rangga.
Rangga membaringkan Nabila di kursi penumpang dengan posisi kepala berada di pangkuannya, berkali kali Rangga menggosok gosokkan tangan Nabila yang begitu dingin dengan kedua tangannya.
Berkali kali juga Rangga meniup tangan itu berharap bisa memberikan kehangatan pada Nabila.
"Sayang, bangun sayang". Ucap Rangga sambil menggosok gosokkan tangan Nabila mencoba menghangatkannya.
Rangga berdecak kesal saat dirasa perjalanannya menuju rumah sakit begitu lama.
"Kenapa lama sekali, cepat Yon lo mau gue pecat!!". Teriak Rangga kepada Leon.
"Macet tuan, sepertinya di depan ada kecelakaan". Tutur Leon, laki laki itu juga tak kalah paniknya melihat tuan mudanya begitu panik, pasti dia yang akan jadi sasaran kemarahannya, dan dugaannya ternyata benar.
Rangga tak berhenti mengumpati kendaraan kendaraan disekitarnya yang membuat mobilnya tak bisa bergerak.
"Sabar ya sayang". Ucapnya sambil mencium dalam punggung tangan Nabila yang terasa begitu dingin.
__ADS_1