Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 60 Kedatangan Rania


__ADS_3

Rangga ditemani Leon sedang berada di bandara menunggu kedatangan orang yang ia rindukan. Kini ia sedang berdiri sambil mencari cari sosok yang ia tunggu.


Tak lama kemudian nampaklah seorang gadis cantik dengan penampilan cukup seksi membuat semua pasang mata yang ada disana tertuju padanya.


Gadis cantik berkulit putih berambut pirang itu kini setengah berlari saat manik hitamnya menangkap sosok laki laki yang sangat dicintainya dan dirindukannya.


"Kak Rangga..!". Teriaknya sambil berlari menggeret koper miliknya, menghambur memeluk Rangga.


Rangga dan Leon tersenyum lega saat yang sejak tadi mereka cari kini sudah berada di depan matanya.


"Kak Rangga apa kabar?". Tanyanya melepas pelukannya, namun kedua tangannya masih tak mau lepas dari tubuh Rangga.


"Baik dong, kamu apa kabar?, Kamu makin cantik aja, apa yang kamu makan?". Rangga mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemash.


"Awww sakit tau!". Gadis itu mencebikkan bibirnya.


"Kak Rangga juga makin ganteng aja". Gadis itu bergelayut manja di tubuh Rangga.


"Tentu dong, kakak kan mau menikah jadi harus tambah ganteng". Rangga menaik turunkan alisnya.


"Iya iya tau yang mau menikah". Gadis itu melepaskan tangannya dari tubuh Rangga sambil memonyongkan bibirnya.


"Kamu ngga senang kakak menikah?". Rangga mendekatkan wajahnya menatap wajah gadis itu lekat lekat.


"Ngga!!, Nanti kak Rangga ngga sayang lagi sama aku".


"Rania sayang, walaupun kakak sudah menikah kakak akan tetap sayang dan cinta sama Rania, adik kakak yang paling manja dan cerewet ini". Rangga mencubit hidung Rania sang adik hingga membuatnya mengaduh.


"Bener ya kak". Rania kembali bergelayut manja di tubuh Rangga.


"Iya sayang, ya sudah ayo pulang kamu pasti capek perjalanan jauh, hampir 16 jam di pesawat". Rangga merangkul pinggang Rania membimbingnya menuju mobil. Dengan sigap Leon mengambil alih koper yang dibawa Rania.


"Leon jadi asisten pribadi kakak lagi?". Tanyanya saat menyadari kehadiran Leon di antara mereka.


Leon tersenyum dan membungkuk hormat.


"Iya, biasa papamu yang minta". Sahut Rangga.


"Hahaha, papamu juga kali kak". Rania terbahak.

__ADS_1


Leon membukakan pintu untuk kedua bosnya itu, ia segera menyimpan koper Rania di bagasi mobil setelah memastikan bagasi sudah tertutup dengan benar Leon berlari kecil menuju kemudi dan segera menancap gas.


"Kak, kakak kenapa ngga pernah mengunjungiku?". Rania memutar bola mata sebal.


"Kakak sibuk dek".


"Sibuk pacaran?!". Sahut Rania cepat.


"Ngga dek, kakak memang sibuk tanya Leon dia tiap hari sama kakak".


"Yon, beneran kak Rangga sesibuk itu sampai ngga punya waktu buat datang mengunjungiku di Amrik". Tanya Rania kepada Leon, ia memajukan tubuhnya sangat penasaran dengan jawaban yang akan diucapkan Leon.


"Iya nona, tuan muda memang sangat sibuk akhir akhir ini". Tutur Leon sambil melirik spion dalam mobil yang memantulkan wajah cantik Rania.


"Bukan karena sibuk pacarankan sampai melupakan aku, bahkan sudah ngga pernah lagi menelfonku". Rania membuang wajahnya ke sembarang arah saat Rangga menatapnya.


"Adek kakak yang satu ini ternyata masih manja ya". Rangga meraih tubuh Rania dalam pelukannya, mengecup sekilas puncak kepalanya.


Umur Rangga dan Rania hanya berbeda 2 tahun saja, namun Rania sangat manja kepada Rangga dan kedua orang tuanya karena ia anak terakhir dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari mereka membuatnys tumbuh jadi gadis manja.


Kedua kakak beradik itu sangat romantis layaknya sepasang kekasih, mungkin jika orang yang tidak tahu akan berpikiran demikian, tapi itu hanya berlaku jika mereka sedang akur seperti sekarang ini namun lain lagi jika sedang tidak akur bisa seperti tom and jerry.


Rania memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di harvard, Cambridge Amerika serikat karena ia ingin membuktikan ia bisa mandiri dan jauh dari keluarganya ya walaupun disana ia juga tinggal dengan tantenya.


"Kak, Rania penasaran deh sama calon kakak iparku, dia seperti apa?, Apa dia cantik sepertiku?". Tanya Rania sambil menyandarkan kepalanya dibahu Rangga.


"Nanti juga kamu tahu, kalau kakak cerita nanti ngga surprice lagi dong".


"Aku sudah tahu kok di foto, foto kakak dan dia kan memenuhi beranda sosial mediaku, semua orang memposting acara pertunangan kalian, tapi maksudku sifatnya bagaimana, apa dia baik?".


"Memangnya kenapa kalau dia ngga baik?", Rangga malah balik bertanya membuat Rania kesal.


"Ditanya malah balik nanya, dasar kanebo!". Rania langsung menutup mulutnya saat mata Rangga melotot hingga hampir mencolot keluar.


Kanebo kering itulah julukan Rangga dari teman teman SMA nya dulu, karena sifat Rangga yang kaku, angkuh dan arogan sangat pas jika disamakan dengan kanebo kering, julukan yang sangat tidak disukai Rangga, ia akan marah jika teman temannya memanggilnya dengan sebutan itu, Rania pun jadi punya senjata jika sedang tidak akur dengan Rangga, ia selalu memanggilnya kanebo kering.


"Sudah berani kamu ya, ngledek kakak, awas saja kakak ngga akan kasih kamu uang jajan lagi".


"Hehe, memang kakak dengarnya apa?, aku bilang keren bukan kanebo!". Rangga semakin melotot saat Rania menekankan kata kanebo di telinga Rangga.

__ADS_1


"Ooo baik, tidak ada lagi uang jajan!". Sahut Rangga cepat.


Rania sudah mulai gusar bahaya jika kakaknya itu tidak mau memberinya uang jajan lagi, pasalnya dia sangat hobi shoping dan menghamburkan uang tentu saja karena hal itu orang tuanya membatasi uang jajan untuknya, dan hanya Rangga yang akan menuruti segala kemauan adiknya, memberinya uang jajan berapa pun yang Rania minta.


"Tidak..tidak..kak Rangga ganteng, baik, keren mana mungkin kayak kanebo, pantasnya si Leon yang kayak kanebo!, bukan begitu Leon?". Tutur Rania membuat Leon yang ada dikemudi tesentak karena tiba tiba dirinya yang ditumbalkan.


"Ckk, Kenapa jadi aku yang kena nona!". Sungut Leon dalam hati.


"Iya nona pantasnya saya yang seperti kanebo". Sahut Leon pasrah, kakak adik sama saja hobi sekali menjadikan Leon sasaran mereka. hufft.


Rangga terkikik geli melihat kelakuan adiknya yang takut kehilangan uang jajan darinya.


***


Rania sudah rapi dengan tas Doer dibahunya, ia hendak pergi hangout bersama teman temannya, entah lah padahal baru beberapa jam lalu ia sampai di Indonesia namun rasa kangen terhadap teman temannya mengalahkan tubuhnya yang lelah.


"Ma, Rania pergi dulu ya". Rania mencium kedua pipi nyonya Rani bergantian.


Nyonya Rani menggeleng gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan anak bungsunya itu seolah mempunyai stok spirit yang melimpah, tak kenal lelah.


"Dek kamu itu baru sampai, sebaiknya kamu istirahat jangan kemana mana dulu apa ngga bisa ditahan sampai besok". Tutur nyonya Rani.


"Rania cuma sebentar ma, lagian dirumah ngga ada siapa siapa, kak Rangga dan papa belum pulang, mama sibuk buat kue, ya mending Rania cari kesibukan juga". Cetus Rania sambil mengambil sepotong kue yang beberapa saat yang lalu baru diangkat dari oven, masih menyisakan kepulan asap yang menari nari disana.


Rangga kembali ke kantor lagi setelah menjemput Rania dan mengantarkannya pulang, ia hanya menyempatkan diri menjemput adiknya disela jam makan siangnya.


"Sayang, itu masih panas". Seru nyonya Rani saat Rania hendak memasukkannya kedalam mulut.


"Huufff..hufff". Rania meniup potongan kue makuta lemon yang sudah ada di tangannya, sepertinya ia sangat tidak sabar mencicipi kue kesukaannya yang dibuatkan oleh mamanya.


Setelah tidak terlihat lagi kepulan asap dari potongan kue itu dengan cepat ia memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Mama, Rania pergi sekarang ya". Ucapnya setelah berhasil menghabiskan satu potong kue ditangannya.


"Hati hati sayang, adek jangan pulang larut malam".


Rania mengacungkan kedua jempolnya sambil berjalan mundur pergi menjauh dari dapur.


***

__ADS_1


Terimakasih sudag mau mampir di novelku yang ini, mohon dukungannya ya kak like dan vote novel ini..


dan tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author, Happy Reading😘😘


__ADS_2