
Selesai makan siang Nabila dan Rangga melanjutkan dengan nonton film di bioskop CGV Blitz , dengan memilih studio velvet class. Sebelumnya Rangga sudah memesan tiket lebih dulu lewat online, jadi hanya tinggal cetak tiket saja lalu menunggu di premium lounge sebelum film dimulai sambil menikmati teh hijau.
Setelah petugas memberitahukan bahwa film akan segera di mulai Nabila dan Rangga segera memasuki theater, begitu sampai disana Nabila begitu terkesiap akan fasilitas yang ada disana.
Theater yang dilengkapi dengan sofa bed, dengan 2 bantal pilihan dan selimut yang lembut sangat berbeda dengan theater kelas reguler seperti yang biasa Nabila dan teman temannya kunjungi.
Sebelum film mulai Rangga menekan service button yang berada di sebelah kanan sofa bed untuk memesan beberapa makanan dan minuman.
Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan dengan membawa 2 cup besar pop corn, 2 cup soft drink dan 1 cup nachos.
Kali ini mereka menonton film drama percintaan mengikuti kemauan Nabila, gadis itu begitu menikmati filmnya, duduk tegak dengan bantal di punggungnya dan kaki selonjoran yang diselimuti selimut lembut sambil memakan pop corn yang ada di pangkuannya.
Sedangkan Rangga justru hanya rebahan dengan posisi miring menghadap Nabila yang tengah asyik menonton film.
"Mas kenapa kamu malah liatin aku terus?". Ucap Nabila tanpa menoleh ke arah Rangga.
"Aku lebih tertarik menonton kamu dari pada filmnya". Cicit Rangga yang masih menatap Nabila sambil tersenyum simpul.
Rangga memang tidak begitu suka dengan film bergenre drama, dia lebih suka dengan film action, petualangan, dan horor. Namun karena Nabila sangat suka dengan film bergenre drama akhirnya Ia mengikuti saja kemauan gadis itu.
-----
"Tadi film nya seru kan mas?". Tanya Nabila, Ia begitu puas dengan film yang baru saja ditontonnya.
"Iya sayang seru". Jawab Rangga.
"Ah mas Rangga kan ngga nonton tadi, malah sibuk liatin aku, ngga seru ah". Nabila menyebikkan bibirnya.
"Mau yang seru?, Ayo kita main ice skating". Ujar Rangga sambil menarik tangan Nabila menuju arena ice skating yang ada di dalam mall tersebut.
Karena kebetulan kostum yang mereka kenakan saat ini tidak mendukung untuk bermain ice skating jadi mau tidak mau mereka harus membeli baju hangat, topi, sarung tangan dan kaos kaki agar mereka tidak kedinginan dan memudahkan mereka bergerak saat bermain ice skating.
Setelah memastikan tali sepatu skate yang mereka kenakan sudah terikat dengan baik mereka berdua memasuki ring ice skating.
"Mas aku takut". Ucap Nabila sambil memegang kedua tangan Rangga dengan kuat, ini adalah kali pertamanya Nabila bermain ice skating sehingga Ia masih belum terbiasa berjalan dan meluncur dengan sepatu skatenya.
"Ngga apa apa sayang, aku jagain". Rangga menuntun Nabila perlahan memasuki ring ice skating, membantunya berjalan dan mengajarinya meluncur diatas ice.
Mereka sangat senang bermain ice skating, terlihat gelak tawa dari mereka saat Nabila berkali kali jatuh, berbeda dengan Rangga yang sudah mahir bermain ice skating, Ia mengajarkan Nabila bagaimana mengatur keseimbangan tubuh, dan bagaimana tekhnik meluncur yang benar.
Setelah puas bermain ice skating mereka memutuskan untuk pulang.
"Sayang kita mampir ke toko baju dulu ya". Ucap Rangga.
"Mas Rangga mau beli baju?".
"Iya buat kamu, nanti malam kita dinner di bukit cinta ya , sudah lama sekali kita ngga kesana". Tutur Rangga.
"Jadi kamu beli baju ganti buat nanti malam biar tidak usah pulang ke rumah dulu, nanti mampir ke apartemenku saja buat mandi terus langsung on the way bukit cinta". Imbuhnya.
Nabila mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
---------
Rangga dan Nabila kini telah berada di apartemen Rangga, setelah pulang dari mall Rangga memutuskan untuk beristirahat sejenak di apartemen karena malamnya Rangga merencanakan makan malam di bukit cinta tempat yang sudah cukup lama tidak mereka kunjungi, sedangkan Nabila Ia hanya mengikuti saja apa mau kekasihnya itu selama masih batas wajar, begitu pikirnya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Sayang kamu sudah siap belum?" Rangga mengetuk pintu kamar yang kini di tempati Nabila.
"Sebentar mas". Teriak Nabila dari balik pintu.
Rangga menyandarkan tubuhnya di tembok kamar, disamping pintu sambil memainkan ponselnya, tak berapa lama Nabila keluar dengan memakai baju yang Ia beli di mall sebelum pulang ke apartemen dengan riasan tipis di wajahnya membuatnya nampak cantik setidaknya tidak terlihat pucat seperti tadi siang.
Ceklek..
"Maaf lama mas". Ucap Nabila sambil merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai.
"Cantik ". Rangga tersenyum kepada Nabila, lalu menggandeng tangannya keluar dari apartemen miliknya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit mereka sampai di tempat tujuan yaitu , rumah makan bukit cinta.
Rumah makan pinggir jalan yang terletak di atas bukit dengan pemandangan malam yang begitu indah, menjadi tempat favorit untuk mereka berdua.
Rangga dan Nabila memilih tempat duduk yang menghadap langsung ke arah bukit yang ramai di padati pasangan kekasih yang tengah menikmati keromantisan tempat itu.
"Iya mas". Nabila mengiyakan dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Setelah acara makan malam selesai Rangga segera membayarnya lalu mengajak Nabila berjalan menuju bukit cinta yang sejak tadi sudah menjadi atensi mereka.
Kini mereka duduk di atas hamparan rumput yang cukup luas di manjakan dengan pemandangan alam yang begitu indah di malam hari, bintang bintang bertaburan di langit menyinari gelapnya langit malam.
Pemandangan kota Jakarta dengan gedung gedung yang menjulang tinggi nampak begitu indah terlihat dari atas bukit itu, lampu warna warni yang mewarnai suasana malam kota Jakarta begitu sedap di pandang mata.
"Sudah lama kita ngga kesini ya sayang?". Tutur Rangga sambil menatap bintang bintang yang yang bertaburan di atas langit.
"Iya, aku suka sekali sama pemandangan disini mas". Nabila juga tak mau melewatkan kilauan dari bintang bintang yang berjejer indah di langit malam.
Rangga menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nabila, tangan pria itu meraih kepala Nabila dengan lembut lalu meletakkannya di bahunya.
Ada debaran debaran yang berbeda dari jantung mereka seperti lebih cepat dari biasanya, aroma maskulin dari tubuh Rangga membuat Nabila betah berlama lama ada disamping Rangga.
Rangga pun demikian merasa ada gelanyar aneh saat mereka berdekatan, sebenarnya itu hal yang wajar terjadi pada manusia normal seusia mereka.
Bibir ranum Nabila yang terbalut lip cream tipis kini menjadi atensi Rangga, Ia berkali kali menelan salivanya untuk menahan diri agar tidak berbuat di luar batas.
"Shiitt!!, Bibirnya sangat menggoda". Umpatnya dalam hati.
"Come on Rangga, buang pikiran negatif lo jauh jauh!!". Gumam Rangga dalam hati.
__ADS_1
"Mas, sebentar lagi kamu lulus kan, mas Rangga mau langsung kerja di prusahaan papa mas Rangga atau melanjutkan S2?". Pertanyaan Nabila sedikit mengalihkan Rangga dari pikiran mesumnya, membuat laki laki itu kini sedikit bernafas lega.
"Papa menyuruhku untuk bergabung dengan perusahaan terlebih dahulu, kalau masalah melanjutkan kuliah itu pasti sayang, tapi aku belum tahu kapan waktunya". Pungkas Rangga sambil membelai lembut rambut Nabila yang tergerai.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?". Tanya Rangga sedikit penasaran dengan pertanyaan Nabila.
"Tidak ada mas, aku hanya ingin bertanya saja". Nabila tersenyum tipis.
Dibalik pertanyaan Nabila itu terdapat kekhawatiran yang begitu besar di dalam dirinya, bagaiman jika Rangga sudah menjadi Direktur utama atau pemegang perusahaan besar Pradipta Corporation apa dia masih mau dekat dengannya, pastinya akan lebih banyak wanita dari kalangan atas yang berlomba lomba mendapatkan hati pewaris perusahaan terbesar di negeri ini, akan banyak keluarga kaya raya yang berusaha menjodoh jodohkan anaknya dengan Rangga, lalu bagaimana nasibnya yang hanya butiran debu jika dibandingkan dengan keluarga Pradipta. Begitulah pikiran yang berkecamuk di kepala Nabila.
"Sudah ya jangan bahas itu lagi, lebih baik kita bahas masa depan kita". Rangga mengacak puncak kepala Nabila.
Pernyataan Rangga membuat Nabila tetkesiap.
"Masa depan kita?". Tanyanya tidak mengerti.
"Iya sayang, apa kamu ngga mau kita bawa hubungan ini ke hubungan yang lebih serius lagi?". Rangga sedikit merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Nabila, menggenggam kedua tangan gadis itu dan membawanya di depan dada bidangnya, dengan tatapan yang begitu dalam.
Nabila terdiam, menunduk lesu.
"Apa aku pantas berharap lebih dari ini?". Gumamnya dalam hati, bagaimana pun juga Ia harus sadar diri posisinya yang memang sangat jauh berbeda dengan kekasihnya itu.
"Aku takut untuk berharap hubungan kita bisa lebih dari ini". Tutur Nabila dengan wajah masih tertunduk lesu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang?". Rangga menarik lembut dagu Nabila agar bisa leluasa memandang wajah gadis itu.
"Apa kamu tidak mencintaiku?". Ada segurat kekecewaan yang tersirat di wajah Rangga yang kini masih menatap wajah Nabila, menunggu jawaban dari bibir ranum gadis itu.
"Bu..bukan itu mas, aku sangat mencintaimu tapi aku takut untuk berharap lebih kepadamu". Netra Nabila kini sudah mulai berkaca kaca.
"Kenapa harus takut sayang?, Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi". Seru Rangga.
"Mas aku berbeda dengan mas Rangga, aku sangat tidak pantas untuk mas Rangga jadikan istri, aku tidak sederajat dengan mas Rangga". Nabila mulai meneteskan air matanya, dengan cepat Rangga menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan bicara seperti itu lagi, aku tidak suka!!". Ucap Rangga penuh penekanan.
"Aku mencintaimu apa adanya sayang, aku tidak peduli apa pun yang terjadi aku aku tidak akan mau meninggalkanmu". Rangga memeluk Nabila.
"Aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi, aku akan selalu ada buat kamu sayang". Imbuhnya sambil mengusap usap punggung Nabila yang bergetar karena menangis.
"Makasi mas, kamu sudah mau mencintaiku apa adanya". Nabila melepaskan pelukan mereka berdua, menatap pria yang kini menjadi kekasihnya itu dengan penuh cinta.
"Iya sayang, sudah jangan menangis lagi". Rangga kembali menyapu air mata yang membasahi pipi Nabila.
Mereka berdua menikmati pemandangan malam itu tanpa ada air mata lagi, menikmati kebersamaan dengan penuh kebahagiaan, mencurahkan semua isi hati mereka satu sama lain.
Bintang bintang dan sinar rembulan serta semilir angin menjadi saksi betapa besarnya cinta kedua sepasang kekasih itu, namun semuanya kembali lagi kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta , apakah mereka diijinkan untuk bersatu atau malah sebaliknya, itu semua hanya Tuhan yang tahu.
"Mas ini sudah malam, ayo kita pulang". Ucap Nabila.
"Baiklah". Rangga beranjak dari duduknya lalu membantu Nabila berdiri.
__ADS_1
Sebenarnya Rangga sangat enggan mengakhiri kebersamaan mereka, namun Ia juga tidak mau berlama lama menahan dirinya, sebagai laki laki normal tentu ada rasa tersendiri jika berdekatan dengan lawan jenis, Ia tidak mau sampai tidak bisa menahan dirinya yang akan berakibat berbuat diluar batasan.