Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 11 Dunia kampus


__ADS_3

Sudah 3 bulan Nabila bergelut dengan dunia perkuliahan, Ia kuliah di Universitas Pandawa ,Universitas swasta milik keluarga Pramudita, Namun Ia masih belum mengetahui akan hal itu, yang Ia tau hanya Ia satu kampus dengan Rangga, Rendy dan kedua sahabatnya. Mereka satu kampus namun beda Fakultas dan kejurusan, Nabila mengambil Fakultas Kedokteran, Rangga memang sudah lebih dulu kuliah disana di Fakultas Ekonomi dan bisnis sudah masuk semester7, Rendy mengambil Fakultas Ekonomi dan bisnis , Lisa mengambil Fakultas psikologi sesuai dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang psikolog, sedangkan Maya mengambil Fakultas hukum mengikuti jejak Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang Pengacara. Perbedaan itu membuat mereka jarang bertemu , tidak setiap hari mereka bersama tapi mereka juga selalu menyempatkan waktu mereka untuk sekedar mengobrol.


Hubungan Rangga dan Nabila masih belum melangkah ke arah pacaran, Nabila masih belum menerima perasaan Rangga begitu juga hubungannya dengan Rendy. Kedekatan mereka masih sama seperti waktu sekolah dulu Nabila menganggap Rendy hanya sahabatnya, sedangkan Rangga Ia masih belum mengerti perasaan apa yang Ia miliki terhadap Rangga karena itulah Ia belum mau menerima Rangga sebagai kekasihnya. Selain itu Nabila masih takut untuk berharap banyak kepada Rangga karena Ia sadar perbedaan yang begitu jauh antara dirinya dengan Rangga, Rangga merupakan anak konglomerat , anak pengusaha yang usaha dan bisnisnya ada dimana mana bahkan di luar negeri, Banyak wanita yang mendambakan sosok Rangga untuk menjadi kekasihnya, wanita wanita cantik, populer, dari keluaraga kaya raya berbeda dengan dirinya yang hanya gadis miskin yang beruntung dicintai oleh Rangga. Ya hanya itu kelebihan dia dibandingkan dengan wanita wanita yang selama ini mengejar ngejar cinta Rangga begitu pikir Nabila.


Suasana di kampus siang ini terlihat Nabila sedang duduk di cafe yang berada di kampusnya, cafe itu tepat berada di depan lapangan basket sehingga Ia bisa melihat dengan jelas anak anak basket memainkan bola dengan lihainya, disana juga terlihat Rangga sedang main basket bersama dengan teman-temannya yang sesekali mengulas senyum kepada Nabila yang sedang duduk sendiri di cafe menunggu kedua sahabatnya.


Tak lama kemudian Maya datang menghampiri Nabila yang sedang menatap ke arah para pemain basket itu.


"Ekheeem...". Maya berdehem membuat Nabila mengalihkan pandangannya ke arahnya.


"Ciyee...., Ngeliatin siapa sih Bil sampe segitunya". Goda Maya sambil menyenggol lengan Nabila dengan sikunya.


"Apaan sih May". Nabila tersenyum tipis.


"Eh Lisa belum keluar kelas?". Tanya maya sambil menggeser kursi yang ada di depan Nabila dan duduk disana, meja menjadi pembatas diantara mereka.


"Belum, mungkin sebentar lagi". Nabila melirik ke arah jam tangan yang Ia kenakan.


"Itu dia". Maya menunjuk Lisa yang datang menghampiri mereka.


"Panjang umur kamu Lis, baru juga diomongin". Nabila menepuk punggung Lisa yang udah duduk disampingnya.


"Iya sorry sorry kalian pasti udah lama ya". Jawab Lisa sambil meletakkan buku buku yang Ia bawa tadi di meja tempat mereka mengobrol , melepaskan tas yang Ia pakai dan meletakkannya diatas pangkuannya.


"Kalian ngga pesen makan?". Tanya Nabila, " aku kelaperan nih nugguin kalian". Nabila memegangi perutnya.


"Hahaha, kasian banget kamu Bil, yaudah ayo kita pesen makan". Jawab Lisa sambil melambaikan tangan memanggil pelayan untuk melayani mereka.


Mereka bertiga makan siang bersama di cafe itu sambil berbincang bincang yang sesekali terdengar gelak tawa diantara ketiga gadis itu, Rangga menghampiri mereka sambil membawa botol minum ditangannya.


"Haiiii, ngobrolin apa sih kalian kayanya seru banget". Rangga duduk diantara mereka dan meletakkan botol minumnya diatas meja.


"Biasa kalo kita lagi kumpul kan mesti heboh, padahal yang diomongin cuma hal receh aja ". Jawab Maya.


"Tapi kayanya seru". Rangga menyandarkan badannya ke sandaran kursi mencari posisi duduk yang ternyaman menurutnya.


"Mas Rangga keliatannya capek banget ya, sampe keringetan gitu". Ucap Lisa menatap Rangga yang masih berkeringat usai main basket. Rangga hanya tersenyum menanggapinya.


"Dilapin dong Bil keringet mas Rangganya". Goda Maya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nabila.

__ADS_1


"Eh aku kayanya harus pulang sekarang deh, aku mau berangkat kerja". Nabila beranjak dari tempat duduknya yang langsung ditahan oleh Rangga.


"Aku antar ya". Rangga menahan tangan Nabila, dan menatapnya penuh harap.


"Tidak usah mas aku bwa motor". Nabila tersenyum tipis.


"Maaf ya Bil, aku ngga bisa anterin kamu aku masih ada kelas". Ucap Lisa.


"Tidak apa-apa Lis, aku bawa motor kok". Nabila tersenyum kepada Lisa.


"Kamu tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu , aku akan mengantarmu". Rangga beranjak dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan gadis itu. Rangga memang sengaja tidak mau mendengarkan alasan Nabila menolak tawarannya untuk mengantarnya.


"Tapi mas..". Ucap Nabila setengah berteriak karena Rangga sudah berjalan meninggalkan mereka.


"Udah lah Bil, terima aja tawarannya ngga usah malu malu". Maya terus saja menggoda Nabila.


"Aku bawa motor May". Nabila kembali duduk di kursinya .


"Besok kan bisa diambil Bil". Lisa menimpali sambil menyeruput orange jus didepannya.


Hanya butuh waktu 15 menit Rangga membersihkan dirinya dan mengganti Bajunya, Rangga berjalan menghampiri Nabila.


"Aku duluan ya". Nabila beranjak dari duduknya, cipika cipiki dengan kedua sahabatnya sebelum Ia berlalu meninggalkan mereka.


"Kami duluan ya". Rangga mengangkat tangannya sambil berlalu meninggalkan cafe.


Mereka berdua berjalan menuju area parkir kampus, menuju mobil Rangga terparkir. Hanya ada keheningan diantata mereka. Mereka berdua sudah berada di dalam Mobil Rangga dan mobil mulai bergerak keluar area kampus.


"Mas Rangga tidak ada kelas lagi?". Tanya Nabila memecah keheningan.


"Tidak ada". Rangga tersenyum menatap Nabila kemudian kembali fokus kedepan menatap jalanan.


"Harusnya mas Rangga tidak perlu repot mengantarku, aku bawa motor". Nabila mencebikkan bibirnya terlihat kesal.


"Maaf, aku hanya ingin mengantarmu karena aku juga harus kerestoran, Leon udah nugguin aku disana". Rangga meraih tangan Nabila dengan tangan kirinya sedangkan tangam kanannya fokus dengan kemudinya. Nabila mencoba melepas genggaman Rangga tanpa menoleh , Ia melemparkan pandangan keluar jendela mobil menatap jalanan ibu kota yang cukup padat.


"Kamu marah?, Maaf". Rangga berusaha meraih tangan Nabila kembali. Nabila hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan Rangga.


Suasana di dalam mobil hanya hening , hanya ada suara hembusan nafas dari keduanya. Sampai mobil memasuki halaman rumah Nabila namun belum terdengar percakapan diantara mereka. Nabila membuka pintu mobil dan turun dari mobil, Rangga bergegas turun dan menghentikan langkah Nabila. Menggenggam kedua tangan Nabila.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku". Rangga menatap Nabila dalam. Nabila hanya memalingkan wajahnya dan tak mengucapkan sepatah kata pun, Ia melepaskan kedua tangannya dari genggaman Rangga dan berlalu meninggalkan Rangga. Rangga kembali menahan langkah Nabila.


"Maafkan aku udah maksa kamu". Rangga menggenggam kembali tangan Nabila, memutar tubuh Nabila agar berdiri menghadapnya. Rangga memegang dagu Nabila dan mengangkatnya agar wajahnya menatap dirinya.


"Maaf". Rangga mengusap lembut pipi Nabila dengan jempolnya, jari yang lain memegang tengkuk Nabila.


"Mas aku harus ganti baju sekarang, nanti aku bisa telat". Nabila berusaha melepaskan dirinya.


"Maafkan aku dulu". Rangga menatap wajah Nabila penuh cinta. Nabila menganggukan kepalanya, senyum sumeringah terpancar dari wajah Rangga kemudian membiarkan Nabila berlalu meninggalkannnya.


Rangga menunggu Nabila dikursi yang berada di teras rumah Nabila, sambil memainkan ponselnya mengecek kerjaan dan beberapa email yang masuk. Nabila keluar dari rumahnya dengan memakai seragam kerjanya. Rangga langsung memasukkan ponselnya kedalam saku ketika melihat Nabila sudah berdiri disampingnya. Rangga tersenyum kearah Nabila dan menggandeng tangan Nabila menuju mobil miliknya. Rangga melajukan mobilnya setelah mereka berdua memakai seat belt dengan benar.


"Bil, Aditya tadi belum pulang. Tadi aku ngga liat dia". Rangga memulai percakapan.


"Belum, akhir akhir ini Adit memang sibuk sekali dengan eskulnya, katanya sih dia jadi kapten basket di sekolahnya". Jawab Nabila sambil menatap lurus kejalanan yang terlihat dari kaca depan mobil.


"Wahh hebat ya adikmu bil, sepertinya dia juga bakal jadi idola di sekolahnya, dia kan ganteng sebelas dua belaslah sama aku, hehehe". Rangga terkekeh geli sendiri dengan ucapannya tadi.


"Kepedean kamu mas". Nabila ikut terkekeh dengan ucapab konyol Rangga.


Tak berapa lama mobil mereka telah berada diparkiran restoran milik Rangga tempat Nabila bekerja. Nabila segera turun begitu juga dengan Rangga, mereka segera memasuki restoran dengan Rangga berjalan terlebih dahulu diikuti Nabila dibelakangnya.


"Selamat siang tuan muda". Iwan membungkukkan badannya menyambut mereka berdua. Rangga hanya menganggukan kepalanya.


"Bil, nanti pulangnya aku antar ya". Rangga tersenyum lembut. Nabila hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereks berdua berpisah Rangga memasuki ruang kerjanya dimana Leon sedang menunggunya, Leon bejerja menggantikan tugas-tugas Rangga , menghandle semua pekerjaan Rangga selama Rangga kuliah.


Ceklek. Rangga membuka pintu ruang kerjanya, Leon segera berdiri dan memberi hormat kepada tuan mudanya.


"Haii yon, gimana kerjaan hari ini lancar?". Tanya Rangga berjalan menuju meka kerjanya.


"Lancar tuan muda, ini ada bebrapa berkas yang harus tuan muda tandatangani". Leon beranjak dari meja kerjanya dan memberikan beberapa map yang berisi berkas-berkas yang harus Rangga tanda tangani.


Rangga membaca terlebih dahulu sebelum Ia membubuhkan tanda tangannya disana.


"Thanks ya yon Lo udah ngurus semuanya dengan baik". Ucap Rangga sambil menutup map yang baru saja Ia tanda tangani dan mengembalikannya kepada Leon.


"Ini memang sudah tugas saya tuan muda". Leon menganggukan kepalanya yang dibalas senyuman oleh Rangga.


Sedangkan Nabila berjalan menuju loker karyawan untuk menyimpan tas dan ponselnya. Kemudian segera bekerja sesuai dengan tugasnya menerima dan melayani pengunjung restoran.

__ADS_1


__ADS_2