
Rangga baru saja sampai di kediamannya saat hari sudah mulai gelap, sudah hampir 2 minggu Ia tinggal di rumah besar Pradipta semenjak kepulangan kedua orang tuanya dari Jepang.
Rangga akan tinggal di rumah jika orang tuanya ada di tanah air, namun jika mereka tidak ada Rangga lebih sering menghabiskan waktunya tinggal di apartemennya.
Rangga berjalan ke arah tangga hendak menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat kedua orang tuanya memanggilnya dan mengajaknya makan malam.
"Rangga, kau baru pulang?". Suara Bariton tuan Angga menghentikan langkah Rangga, membuat pria itu berbalik dan menghampiri orang tuanya yang tengah bersiap menyantap hidangan makan malam yang sudah tersaji di meja makan.
"Iya pa". Jawabnya, berjalan menuju meja makan sambil melepas jas berwarna grey yang masih membalut tubuhnya dan meletekkan nya di kursi yang akan Ia duduki.
"Sini den, biar bibik bawa ke kamar jas sama tasnya". Ujar Bi Minah setelah meletakkan pitcher kaca yang berisi air putih di meja makan.
"Terimakasih Bik". Rangga tersenyum ramah kepada Bi Minah.
"Sayang ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan malam kan?". Nyonya Rani menuangkan nasi dan lauk pauknya di piring suaminya setelah itu melakukan hal yang sama di piring Rangga.
Mereka menikmati makan malam disertai obrolan ringan seputar pekerjaan dan perusahaan.
"Rangga besok papa dan mama akan terbang ke Kanada, mau mengurus perasahaan kita yang ada disana. Dion akan ikut bersama papa dan mama". Ucap tuan Angga setelah meletakkan sendok garpunya di atas piring yang telah kosong.
"Jadi kau harus bisa menghandle perusahaan dengan baik, Leon akan membantumu". Imbuh tuan Angga sambil membersihkan mulutnya menggunakan napkin yang ada di pangkuannya.
"Berapa hari kalian disana?". Tanya Rangga sambil mengunyah makanannya.
"Kemungkinan seminggu sayang karena kami juga akan mengunjungi adik kamu Rania dan aunty Gaby di Cambridge". Ucap Nonya Rani setelah meletakkan gelas kosong setelah Ia meminum isinya.
"Iya, Rangga kangen sekali sama Rania. Kapan dia pulang ke Indonesia ma?".
"Dia masih belum mau pulang, dia bilang sih karena lagi banyak tugas kuliah, kapan kamu mau mengunjungi adikmu? Sudah lama sekali kamu tidak mengunjunginya".. Pungkas Nyonya Rani.
Adik perempuan Rangga yang bernama Rania Azura Pradipta memang kuliah di Harvard University di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia tinggal bersama tantenya aunty Gaby, tuan Angga dan Nyonya Rani akan menyempatkan waktunya mengunjungi Rania sebulan sekali, dan gadis itu juga akan pulang ke tanah air saat libur semester, namun tahun ini entah karena apa Ia masih belum mau pulang ke tanah air.
"Rangga masih sibuk ma, belum bisa kesana". Rangga meletakkan sendok garpunya menandakan bahwa pria itu telah usai dengan ritual makan malamnya.
"Rangga apa kau mengalami kesulitan dengan pekerjaanmu?". Tanya tuan Angga.
"Sejauh ini tidak pa, semua petinggi perusahaan dan anak perusahaan bekerja dengan sangat baik dan bisa bekerja sama dengan baik, jadi Rangga tidak terlalu kesulitan tapi Rangga masih harus banyak belajar dari papa".
"Bagus kalau begitu, papa memang memilih orang orang berkompeten dan berintegritas tinggi serta memiliki etos kerja yang baik untuk di tempatkan pada posisi posisi penting di perusahaan dan semua anak perusahaan".
"Tapi jika kau mengalami kesulitan segera konsultasikan dengan papa atau Dion, kau mengerti?". Tambahnya.
"Rangga mengerti pa". Rangga mengangguk paham.
"Oiya sayang apa kamu tidak butuh sekretaris?". Tanya Nyonya Rani kepada Rangga.
"Sepertinya tidak ma, sudah ada Leon yang mengurus semuanya". Rangga menyandarkan tubuhnya, mencari posisi duduk ternyaman.
"Kau tidak boleh seperti itu, pekerjaan Leon sudah sangat banyak membantumu mengurus perusahaan, mengurus masalah pribadimu, belum lagi membereskan setiap kekacauan yang kau buat di luar sana. Kau harus mencari sekretaris untuk membantu pekerjaanmu dan mengatur jadwalmu". Ucap Tuan Angga tegas.
"Iya sayang papa mu benar". Timpal Nyonya Rani.
"Nanti Rangga pikirkan itu". Tutur Rangga malas.
Rangga memang sengaja tidak mau mempunyai sekretaris karena takut menyakiti hati Nabila, lebih tepatnya takut Nabila salah paham akan kedekatannya dengan seorang sekretaris.
Bukankah Ia akan sering banyak menghabiskan waktunya dengan sekretaris, terlebih lagi penampilan sekretaris yang terkesan seksi membuatnya semakin enggan, Ia benar benar tidak mau membuat Nabila salah paham.
__ADS_1
Menurutnya Leon saja sudah cukup tidak perlu lagi memakai sekretaris, tapi bukankah yang dibilang tuan Angga ada benarnya Leon sangat kerepotan jika harus mengurus pekerjaan kantor sekaligus masalah pribadi tuan mudanya secara bersamaan.
Entahlah Rangga masih akan memikirkannya kembali.
----------
Fajar sudah menyingsing, merangkak naik ke tempat peraduannya bersiap menyinari bumi dan seluruh pelosok bumi.
Seperti biasa Rangga akan mengantarkan Nabila terlebih dulu ke kampusnya sebelum Ia berangkat ke kantor.
Di dalam perjalanan menuju kampus Rangga masih memikirkan apa yang dibicirakan papanya yang menyuruhnya mencari sekretaris.
"Mas, kamu kenapa?, Apa yang kamu pikirkan?". Tanya Nabila, merasa heran sejak tadi Rangga hanya diam membisu menatap jalanan ibu kota dari jendela mobil.
"Ngga ada sayang". Rangga tersenyum, lalu mendaratkan ciuman di punggung tangan Nabila yang menaut dengan jemarinya.
Tak terasa Leon sudah menghentikan mobilnya di depan kampus Nabila.
Leon segera membukakan pintu untuk tuannya, Rangga segera menghampiri Nabila yang sudah turun dari mobil mengikutinya hingga masuk ke pelataran kampus, rasanya Ia enggan untuk jauh dari gadis itu.
"Sayang nanti sore pak kasim akan menjemputmu di toko". Rangga mengingatkan Nabila bahwa dirinya masih belum bisa menjemput Nabila.
"Iya mas, ngga apa apa. Nanti kamu jangan telat makan ya, biarpun sibuk kamu tetap harus makan tepat waktu". Tutur Nabila membuat Rangga merasa sangat bahagia mendapat perhatian kecil dari kekasihnya.
Pria itu tak hentinya mengulas senyum di wajah tampannya, senyuman yang bisa mengembang hanya saat dirinya bersama Nabila.
"Haii Bil". Teriakan Lisa dan Maya membuat Nabila dan Rangga tersentak, reflek mereka berdua menoleh ke arah Lisa dan Maya yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Senyuman Rangga sirna saat Ia melihat sosok pria yang begitu Ia benci berjalan di belakang Lisa dan Maya.
"Sialan, laki laki itu selalu saja membuatku bad mood!". Umpat Rangga dalam hati.
"Haii". Nabila menyapa kedua sahabatnya sambil cipika cipiki.
Rangga menarik pinggang Nabila posesive saat Rendy sudah berada diantara mereka, Rangga membelai rambut Nabila dengan lembut dan mendaratkan beberapa ciuman singkat di puncak kepala gadis itu.
"Aaaaa, sweet banget sih kalian". Ucap Maya sambil memeluk Lisa dengan begitu gemashnya.
"Ihhh, May apaan sih kenapa jadi aku yang jadi pelampiasan". Lisa mencoba melepaskan pelukan Maya yang menurutnya begitu risih.
"Makanya cari pacar dong kalian". Seru Rangga sambil matanya melirik ke arah Rendy yang terlihat begitu kesal.
"Sialan!!, Sepertinya dia sengaja membuatku cemburu". Umpat Rendy dalam hati.
"Mas kamu berangkat sekarang gih nanti kamu telat lo". Ucap Nabila kepada Rangga.
"Aku masih mau berlama lama sama kamu sayang". Ucap Rangga sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Rendy.
Rendy berdecak kesal dan membuang mukanya tak mau melihat pemandangan yang begitu menyiksa hatinya.
Rangga makin senang menggoda Rendy saat melihat kekesalan dari raut wajah pria yang menjadi rival cintanya itu.
Hingga akhirnya Rendy memilih untuk pergi meninggalkan mereka.
"Aku masuk duluan ya". Ucap Rendy tanpa menoleh kebelakang, hatinya begitu terasa panas terbakar cemburu.
Sangat tersiksa memang jika memiliki cinta yang tak terbalas, dan hanya bisa memendam semuanya seorang diri, rasanya dunia sangat tidak adil untuknya.
__ADS_1
Rangga tersenyum miring saat melihat Rendy pergi meninggalkan mereka.
-------
Mobil mewah berwarna putih baru saja menepi di depan toko bunga milik Nabila, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang tak lain adalah pak Kasim supir kantor Rangga turun dari mobil.
"Permisi nona". Pak Kasim memasuki toko yang sudah terlihat sepi pengunjung
Nabila yang tengah merapikan toko beserta ketiga pegawainya menoleh secara bersamaan ke arah pak Kasim.
"Pak Kasim sudah datang?, Tunggu sebentar ya pak". Ucap Nabila setengah berteriak karena posisinya yang cukup jauh dari pak Kasim.
Nabila dan ketiga pegawainya kini sudah bersiap untuk pulang, Nabila menutup rolling dor dibantu dengan ketiga pegawainya dan juga pak Kasim.
Nabila masuk ke mobil setelah ketiga pegawainya pamit dan sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
Pak Kasim memasuki mobil dengan wajah yang begitu gelisah sama seperti ekspresi yang Nabila lihat kemarin saat pertama kali mengantarnya pulang.
"Ada apa pak?". Tanya Nabila saat pak Kasim baru saja duduk di balik kemudi dan menutup pintu mobil.
"Anu..anu non sepertinya itu mobil yang kemarin ngikuti kita". Ucap pak Kasim dengan ragu, laki laki itu takut membuat Nabila merasa tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi dia sendiri merasa gelisah dengan kehadiran mobil yang kini berada di seberang toko bunga milik Nabila.
Bola mata Nabila membeliak saat mendapati mobil yang kemarin mengikutinya itu ada disana.
Rasa takut dan gelisah kini menyergapnya membuat peluh di keningnya menetes begitu saja padahal ac mobil nyala namun Ia merasa sangat panas.
Nabila tidak bisa duduk dengan tenang, berkali kali Ia menoleh ke belakang dan benar saja mobil itu kini mengikutinya kembali.
"Ya Tuhan, sebenarnya itu mobil siapa?, Kenapa dia mengikutiku?". Batin Nabila.
"Pak, apa mobil itu mengikuti mobil ini dari kantor?". Tanya Nabila, jika memang iya berarti mobil itu bukan mengincarnya, bisa jadi itu perampok yang memang mengincar mobil mewah ini. Pikirnya.
"Tidak nona, saya baru melihat mobil itu di dekat toko nona". Jawab pak Kasim sambil melirik ke arah spion yang memantulkan kegelisahan Nabila.
"Astaga!, Itu berarti dia memang mengincarku, tapi dia siapa dan untuk apa mrngincarku". Gumam Nabila dalam hati.
Pak Kasim yang melihat kegelisahan Nabila memberanikan diri untuk memberi saran.
"Nona, sebaiknya aku laporkan saja ini semua kepada tuan muda Rangga atau tuan Leon". Ujar pak Kasim.
"Sebaiknya jangan dulu pak, aku ngga mau membuat mas Rangga khawatir aku juga takut itu semua akan membuat mas Rangga tidak fokus dengan pekerjaanya". Tutur Nabila.
Sebaiknya Ia tidak memberitahu Rangga dulu daripada Rangga khawatir dan malah mengganggu pekerjaannya
"Baiklah nona". Ucap pak Kasim pasrah.
Nabila menatap jalanab ibu kota dengan perasaan carur marut dan pikiran yang seakan melayang entah kemana.
.
"Sudah sampai nona". Ucapan pak Kasim membuat Nabila tersentak dari lamunannya.
Nabila menoleh ke arah belakang, mobil itu ada disana seperti sengaja dan terang terangan mengikutinya.
Nabila dengan cepat turun dari mobil, melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki rumah setelah pak Kasim mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Nabila.
Dengan tergesa gesa Nabila menutup pintu dan menguncinya, Nabila mencoba mengintip dari jendela menunggu sang pengemudi mobil itu keluar, namun masih sama dengan kemarin tidak ada yang keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mobil itu pergi begitu saja meninggalkan rumah Nabila.
Lagi lagi Nabila dibuat penasaran dan ketakutan gara gara mobil itu, Nabila berjalan menuju dapur mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga habis untuk menghilangkan rasa takut dan gemetar di tubuhnya.