
Pagi yang cerah untuk memgawali hari, Nabila sedang menyiapkan setelan kemeja dan jas yang akan di kenakan oleh Rangga, Rangga pun baru saja keluar dari kamar mandi bergegas menghampiri Nabila yang kini memegang kemeja berwarna putih dengan setelan jas berwarna navy.
Nabila memberikannya kepada Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi, namun bukannya bergegas memakainya ia justru meletakkannya di atas tempat tidur. Rangga menarik handuk yang melilitnya dan melemparkannya sembarang.
"Astaga! Kebiasaan ngga punya malu," gerutu Nabila menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat melihat Rangga dengan tidak tahu malunya melepasakn handuk di depan Nabila hingga tubuhnya tampak polos.
Rangga terkekeh melihat tingkah Nabila, "Kenapa harus malu sayang? Kan sama istri sendiri," sahutnya sembari berjalan mendekati Nabila.
"Kamu juga sudah sering lihat kan yank, kenapa mesti di tutup gitu mukanya? Kamu tidak mau mengucapkan selamat pagi padanya?" Tambahnya, meraih tangan Nabila dan meletakkannya di pusat inti tubuhnya.
"Astaga! Apa ini," pekik Nabila saat tangannya merasakan sesuatu yang sudah tegak menjulang tinggi.
Rangga semakin terbahak, ia membuka wajah Nabila yang tertutupi kedua tangan gadis itu hingga menampakkan rona merah di pipi Nabila.
"Kenapa jadi kamu yang malu, heum?" Tanyanya, tangannya sudah meraih tengkuk Nabila dan mulai mengikis jarak di antara mereka, menyatukan bibir keduanya membuat suasana pagi yang hangat ini menjadi panas.
"Hmmmmpp," Nabila berusaha mengeluarkan suara namun Rangga tak juga menghentikan aksinya.
Rangga melepas pagutannya saat nafas keduanya sudah terengah engah, Nabila dan Rangga berebut pasokan oksigen.
Rangga menggiring Nabila ke tempat tidur dengan mata berkabut penuh hasrat.
"Mas kamu mau apa?" Tanya Nabila sambil berjalan mundur karena Rangga terus mendekat penuh makasud.
Nabila sudah tahu endingnya akan seperti apa, padahal tadi malam sudah beberapa kali melakukannya, namun bukan Rangga namanya jika puas hanya dengan permainan malam hari saja.
"Mau menidurkan dia?" sahutnya sambil menunjuk juniornya dengan netranya. Mulai mendorong pelan tubuh Nabila ke atas tempat tidur, dan terjadilah pergulatan panas di pagi hari.
***
Rangga memakan sarapannya dengan tergesa gesa dirinya sudah hampir telat akibat pergulatan panjangnya dengan Nabila.
Rangga meraih susu hangat miliknya, meneguknya dengan cepat kemudian ia berdiri meraih tas kerja yang ia letakkan di kursi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Mas, kenapa ngga kamu habisikan sarapannya?"
"Aku sudah telat sayang, hari ini ada meeting pagi dengan dewan direksi," sahutnya.
Nabila mencium punggung tangan Rangga, suaminya itu tak lupa mencium puncak kepala Nabila dan perut Nabila yang sudah mulai membuncit seraya berkata,"Daddy berangkat kerja dulu ya, kamu dan mommy baik baik di rumah," mengusap perut Nabila penuh sayang.
Rangga berjalan cepat menuju mobilnya dan Leon pun sudah menunggunya hampir dua jam lamanya di mobil.
Leon segera menancap gas saat tuannya sudah duduk sempurna di jok belakang.
****
Rania sudah berangkat lebih dulu dari Rangga, ia harus mempersiapkan berkas berkas untuk meeting pagi ini, semuanya sudah ia siapkan kemarin, hanya saja ia akan mengeceknya lagi nanti agar tidak terjadi kesalahan.
Di tengah perjalanan Rania melihat gerobak tukang rujak buah yang begitu menggodanya, saliva serasa terus meluncur dari mulutnya, sepagi ini ia ingin sekali makan mangga muda.
Jadilah saat ini Rania berhenti menepikan mobilnya dan membeli mangga muda yang serasa ada di pelupuk matanya.
"Pak, mangga mudanya ada. Kalau ada saya mau dong mangga mudanya saja ya di potong potong," ujar Rania kepada laki laki paruh baya penjual rujak buah.
"Neng lagi hamil ya? pagi pagi makan mangga muda,?" Tanya penjual rujak dengan nada rendah, sekedar basa basi sambil memotong mangganya.
Rania terkesiap dengan peryanyaan bapak penjual rujak? Kenapa bapak itu menuduhnya hamil? Memangnya hanya orang hamil saja yang boleh makan mangga muda? Kesal Rania.
"Saya sedang tidak hamil pak, hanya ingin makan saja," jawab Rania sopan.
Entahlah Rania sendiri tidak mengerti sebenarnya dia tidak terlalu suka asam, meminum air jeruk nipis + madu saja Rania tidak suka karena terlalu asam, tapi pagi ini ia benar benar sedang ingin makan mangga muda.
"Cepat ya pak, saya harus ke kantor nanti saya terlambat," tambahnya.
"Ini neng sudah jadi," penjual rujak buah itu memberikan sebuah bungkusan styrofoam berisi potongan mangga muda dan bumbunya.
Setelah membayar pesanannya, Rania segera meluncur ke kantor, Rania takut dirinya akan terlambat jika tidak bergegas.
__ADS_1
Tak lama kemudian ia sudah berada di parkiran kantor, Rania hendak keluar dari mobil namun ekor matanya melirik bungkusan mangga muda yang ada di mobilnya, berkali kali ia menelan salivanya, rasanya sudah tidak sabar untuk memakannya, jika ia makan saat ini juga dirinya bisa terlambat masuk kantor dan Rangga akan marah pastinya karena ada meeting penting pagi ini.
Namun Rania juga tidak tahan dengan godaan mangga muda yang tak mau pergi dari pelupuk matanya itu.
Rania yang sudah hampir membuka handle pintu mobil ia urungkan, kembali duduk dengan nyaman dan meraih kantong bungkusan mangga muda itu.
"Aku tidak akan terlambat jika hanya mencicipinya saja, sisanya akan aku makan nanti siang saat jam istirahat," gumamnya, tangannya sudah sibuk membuka bungkusan itu.
Mata Rania berbinar saat melihat potongan mangga muda dengan bumbu kacang yang begitu menggoda.
Tak mau membuang waktu lagi ia segera memakannya, sepotong demi sepotong.
"Hmmmm ini enak sekali," gumamnya menikmati.
Yang tadinya hanya ingin mencicipi kini ia malah tak mau berhenti memakannya, tak peduli lagi jam kantor yang terus berjalan.
Rania memakan mangga mudanya sampai habis tak tersisa, bahkan sisa bumbunya pun tak mau terlewatkan.
"Astaga! Jam berapa ini?" Rania melirik jam tangannya sudah hampir jam 9 , bagaimana ini dia sudah terlambat. Rania segera keluar dari mobilnya
"Habislah aku, pasti kakak akan memarahiku," gumamnya sambil berlari.
"Aduuhh perutku sakit," Rania berhenti sejenak, tubuhnya setengah membungkuk dan memegangi perutnya yang terasa sakit.
Setah merasa lebih baik ia segera kembali berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangannya berada.
Rania segera memasuki ruangannya dan meletakkan tas nya disana, ia mencari cari berkas yang akan dijadikan bahan meeting hari ini di mejanya, tapi tak menemukannya juga sepertinya Rangga dan Leon sudah membawanya ke ruang meeting.
Akhirnya Rania memutuskan untuk langsung menuju ruang meeting, dengan takut takut ia berjalan menuju ruang meeting, mengintip dari kaca kecil yang berada di tengah tengah pintu, ternyata meetingnya sudah di mulai, terlihat semua orang yang ada di sana tengah memperhatikan Rangga yang berdiri di depan memimpin meeting.
Rania mengetuk pintu dengan tangan gemetar, memberanikan diri memasuki ruangan.
"Maaf saya terlambat," ucapnya setelah ia membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan.
__ADS_1
Semua pasang mata tertuju padanya membuatnya gugup, Rania mencoba menatap Rangga yang ada di depan sana tengah menatap Rania tajam, "Matilah aku, lihat kak Rangga sudah seperti mau membunuhku," gumam Rania dalam hati sambil meremas kedua tangannya sendiri.