Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 48 Penculikan


__ADS_3

Rangga mencium bibir Nabila dengan begitu lembut memejamkan mata dan menikmati aroma strawbery dan manis yang menyatu dengan bibirnya.


Nabila membelalak kaget, mencoba melepaskan bibirnya yang tertaut dengan bibir Rangga namun Rangga justru memegang tengkuk Nabila dan membuat ciuman itu semakin dalam.


Nabila tidak bisa berbuat apa apa selain menikmatinya, menikmati aroma dan rasa mint dari bibir Rangga berbaur menjadi satu dengan aroma strawberry miliknya.


Cukup lama Rangga mencium Nabila, m*ngulum, m*nghisap dan m*lumatnya lembut, entah apa yang ada di pikiran pria itu hingga ia nekat melakukannya.


Rangga melepaskan ciumannya setelah mereka benar benar kehabisan nafas, menyatukan keningnya dengan kening Nabila dengan nafas terengah engah ia mengusap lembut bibir Nabila.


"Maaf". Ucapnya lirih.


Nabila mencoba pergi meninggalkan Rangga namun pinggangnya di tahan oleh pria itu, lalu ia memeluk Nabila dengan erat dan terus mengucapkan kata maaf.


"Maafkan aku sayang, aku ..aku terbawa suasana". Ucapnya.


"Aku mau ke kamar, aku ngantuk tolong lepaskan aku mas". Ujar Nabila meronta dalam pelukan Rangga.


Rangga melepaskan pelukannya lalu Nabila berlari menuju kamarnya, dengan cepat Rangga mengikutinya.


Nabila menutup pintu kamar dengan kuat, menyandarkan dirinya disana. Rasanya ingin menangis saja bagaiman bisa ia melakukan ciuman itu dengan Rangga apa memang dia bukan perempuan baik baik?.


Nabila semakin teringat dengan ucapan Rendy, ia menjadi semakin khawatir hal buruk yang dipikirkan Rendy bakal terjadi, ia takut Rangga benar benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Bagaimana ini?, Rasanya Nabila sudah tidak nyaman tinggal di apartemen Rangga, khawatir jika mereka akan termakan bujuk rayu setan dan melakukan hal yang tidak sepantasnya di lakukan.


Nabila berjalan cepat menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya disana menatap langit langit kamar, tanpa sadar ia mengusap bibirnya dan mengecapnya aroma mint yang tersisa disana membuatnya senyum senyum seperti orang kehilangan akal.


"Astaga!!, Apa aku sudah gila senyum senyum sendiri membayangkan kejadian tadi". Nabila menggeleng cepat mengenyahkan pikiran mesumnya.


Tok..


Tok..


Tok..


"Sayang kamu marah ya?, Maafkan aku.. aku tidak bermaksud...". Rangga mengetuk pintu kamar Nabila memastikan keadaan gadis itu.


"Tidurlah mas ini sudah malam". Teriak Nabila dari dalam kamar.


"Aku ngga mau tidur sebelum kamu maafin aku yang". Ucap Rangga.


"Aku ngantuk mas, jangan ganggu aku!". Teriak Nabila lagi.


"Okay, baiklah". Rangga berjalan lesu menuju kamarnya.


"Aargghh!!, Dasar bodoh kenapa aku menciumnya!". Rangga mengacak rambutnya frustasi.


Tak hentinya ia merutuki kebodohan yang baru saja dilakukannya.


------

__ADS_1


Pagi itu Rangga masih terus meminta maaf hingga membuat Nabila bosan mendengarnya.


Dari sejak Rangga bangun hingga kini mereka sudah tiba di kampus Nabila pria itu tak henti hentinya meminta maaf.


Nabila sudah memafkannya sejak malam itu, ia hanya kecewa saja kenapa Rangga melakukan itu lagi, semalam juga tidak tahu kenapa ia malah menikmati ciuman yang cukup lama itu.


Ahh sudahlah, Nabila tidak ingin memikirkannya lagi.


"Sayang, aku harus ke kantor sekarang papaku sudah tiba di Indonesia dan hari ini mulai masuk kantor kemungkinan aku sangat sibuk hari ini, tapi aku usahakan akan jemput kamu di toko". Rangga mencium puncak kepala Nabila sekilas lalu bergegas berangkat ke kantor bersama Leon.


Nabila memperhatikan kepergian mobil Rangga hingga menghilang dari pandangannya, lalu ia berjalan memasuki pelaturan kampus diikuti dengan kedua bodyguardnya.


Rendy yang baru saja memarkirkan motornya kini berjalan mengikuti Nabila mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu.


"Pagi Bil". Sapanya. Seolah tidak pernah terjadi perdebatan panas diantara mereka.


Rendy memang memutuskan tidak lagi mau membahas masalah Nabila tinggal di apartemen Rangga lagi, ia tidak mau hanya gara gara itu Nabila akan menjauhinya sungguh itu hanya akan menambah luka dihatinya dan akan semakin menyiksanya saja.


Nabila memang masih sangat kesal kepada Rendy mengenai hal itu namun ia juga tidak bisa membenci pria yang sudah hampir 5 tahun menjadi sahabatnya itu.


Nabila tahu Rendy hanya mengkhawatirkan dirinya saja tidak bermaksud mencaci atau menyakitinya, bagaimana pun juga ia tahu betul bagaimana sikap dan sifat Rendy tentu saja dengan perasaannya juga.


Nabila tahu mungkin rasa cemburu juga ikut andil dalam sikap Rendy kepadanya kemarin.


Sudahlah Nabila tidak ingin kehilangan sahabat hanya karena kesalahpahaman ini.


"Pagi Ren". Nabila tersenyum tipis.


"Lupakanlah Ren, aku ngga mau bahas itu lagi".


"Tapi sungguh aku benar benar minta maaf atas ucapanku kemarin Bil".


"Aku sudah memaafkanmu, aku duluan ya Ren". Nabila pergi meninggalkan Rendy menuju kelasnya.


Rendy bergeming di tempatnya menatap punggung Nabila yang mulai menjauh dari pandangannya, manik hitamnya juga menangkap kedua bodygaurd yang sejak tadi menajamkan tatapannya kepadanya.


------


Nabila sudah terlihat sibuk di toko, membantu membuat beberapa pesanan bunga sambil membalas beberapa chat yang masuk di toko onlinenya.


Kruyukk..kruyukk...


suara perut Nabila berbunyi, memberikan tanda untuk segera di isi.


Nabila meninggalkan pekerjaannya dan meletakkan ponselnya di meja lalu menghampiri ketiga pegawainya.


"De, kalian pasti belum makan siang kan?, Ayo temani aku beli makan siang untuk kita semua". Ajak Nabila kepada Dea.


"Iya mbak sebentar aku selesaikan pekerjaan ini dulu". Sahut Dea.


Beberapa saat kemudian Nabila dan Dea keluar dari toko berjalan menuju rumah makan siap saji yang terletak tak jauh dari toko Nabila, tentu saja diikuti dua orang bodyguardnya.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah makan Nabila segera memesan beberapa makanan dan minuman untuk take away, Nabila segera membayar tagihannya setelah pesanan mereka sudah siap.


Letak rumah makan yang berseberangan dengan jalan membuat mereka harus menyebrang jalan raya, saat sedang menyebarang tiba tiba ada sebuah mobil yang berhenti dan ada sekitar 7 orang laki laki menyerang kedua bodygaurd mereka.


Nabila dan Dea berteriak histeris melihat perkelahian itu, tak cukup sampe disitu ternyata masih ada dua orang laki laki lagi yang baru saja turun dari mobil yang berhenti tepat di depan Nabila dan Dea.


Dan kini kedua laki laki itu menculik Nabila, membekap mulutnya dengan sapu tangan yang di bubuhi obat bius hingga membuat Nabila tak sadarkan diri seketika.


Dea mencoba menahan Nabila namun tenaganya kalah kuat oleh kedua laki laki menakutkan itu.


Beberapa kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang ia tenteng kini terjatuh berantakan di aspal, Dea tak hentinya berteriak meminta tolong, tubuhnya lemas dan bergetar takut, air matanya bercucuran membasahi pipinya.


Setelah kedua orang laki laki itu berhasil membawa Nabila ke mobil, ke tujuh yang lainnya menyudahi perkelahiannya dengan kedua bodyguard Nabila, mereka segera memasuki mobil dan berlalu meninggalkan Dea yang terduduk lemas di aspal serta bodyguard Nabila yang tak hentinya merutuki kecerobohannya.


Dea dan kedua bodyguard itu memutuskan untuk kembali ke toko.


Kedua pegawai toko yang lainnya sangat terkejut saat mendapati Dea menangis tersedu sedu.


Mereka segera memapah Dea untuk duduk di sofa dan memberikannya segelas air putih.


Sementara itu kedua bodyguard itu segera menghubungi Leon dan menceritakan kronologi kejadian yang menimpa mereka dan Nabila.


Leon segera memberitahukan kejadian itu kepada Rangga yang saat ini sedang memimpin sebuah rapat.


Betapa terkejutnya Rangga saat menerima kabar berita dari Leon, segera ia meminta Leon untuk menggantikan dirinya memimpin rapat.


"Permisi tuan". Leon membisikkan sesuatu, lebih tepatnya menceritakan kejadian yang menimpa Nabila.


"Apa??!, Bagaimana ini bisa terjadi!". Ucap Rangga lantang membuat seluruh peserta rapat yang ada di ruangan itu tersentak kaget.


Rangga segera pergi keluar ruangan setelah sebelumnya meminta Leon untuk menggantikannya.


Rangga segera berjalan dengan cepat menuju parkiran sepanjang jalan ia tak berhenti meruruki kebodohan kedua bodyguardnya yang tidak bisa menjalankan tugas dengan benar.


"Sayang, kamu jangan takut aku akan menjemputmu". Gumam Rangga.


Rangga segera menginjak pedal gas kuat kuat memacu mobilnya meninggalkan kantornya, sepanjang jalan ia berteriak frustasi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Nabila setelah ini.


"Bedebah!!!". Rangga memukul setir mobil kuat kuat.


Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak bisa menjaga Nabila dengan baik, pekerjaan yang begitu banyak membuat dirinya dan Leon belum sempat bertemu dengan madam Karla yang katanya hari ini baru tiba di tanah air.


Rangga sudah memerintahkan Leon untuk segera menemui madam Karla saat semua meeting hari ini selesai.


Namun naas sebelum itu terjadi malah justru mereka sudah menculik Nabila lebih dulu.


"Sialan!!, Kenapa pake macet segala ini jalanan!!". Rangga berkali kali membunyikan klaksonnya tidak sabar.


Keadaan panik dan marah membuatnya tidak bisa berpikir jernih, Rangga memaki semua pengguna jalan yang menghalangi mobilnya hingga membuat mereka balik mengumpat dan menyumpahi Rangga.


Hampir satu jam Rangga terjebak macet yang panjang membuatnya mengeram kesal, tidak ada jalan lain selain menuggu kemacetan sialan ini terurai.

__ADS_1


__ADS_2