
Sudah satu Minggu Rania berada di Indonesia, selama satu Minggu itu ia menghabiskan waktunya dengan bersenang senang dengan teman temannya, shoping, nyalon, jalan jalan semua hal yang disukainya.
Tentu saja itu semua untuk mengalihkan perhatiannya dari Rendy, tak dapat ia pungkiri tidak mudah untuk melupakan laki laki itu walaupun dirinya sudah memblokir nomor pria itu namun hatinya tak bisa menolaknya, dalam hatinya masih tumbuh subur cinta yang sudah terlanjur tertanam disana, masih terukir indah nama pria itu di relung hatinya.
Setelah satu Minggu puas menghabiskan waktunya, kini ia mulai bekerja di perusahaan milik keluarganya, untuk sementara tuan Angga meminta Rania bekerja sebagai sekretaris pribadi Rangga, sambil ia belajar secara perlahan bagaimana caranya mengurus perusahaan dengan baik dan benar.
Pagi ini Rania sudah terlihat cantik dan elegant dengan setelan kerjanya, make up yang pas tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal memberikan kesan dewasa padanya.
Rania berjalan menuruni tangga bergabung dengan Rangga dan Nabila yang sudah lebih dulu menunggunya di meja makan.
"Pagi kakak, pagi kakak ipar," sapanya sambil menarik kursi yang akan ia duduki.
"Dek, kamu dandan begitu mau kemana?" Rangga membuka suara.
"Mau kerjalah, kakak lupa semalam papa menelfon menyuruhku jadi sekretaris pribadimu," ujarnya sambil memotong roti panggang dengan isian selai coklat dan bluberry miliknya.
"Ganti rokmu itu terlalu seksi untuk ke kantor," ujar Rangga sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
Menurutnya rok yang Rania kenakan terlalu minim dan seksi.
"Ishhh, kakak ini cerewet sekali seperti papa," sergah Rania.
"Dek cepat ganti rokmu!" seru Rangga.
"Aku ngga mau kak, ini kan ngga terlalu seksi, coba kakak bandingkan dengan sekretaris sekretaris di kantor kakak, penampilan mereka jauh lebih seksi dari aku," pungkasnya.
Rangga hanya bisa menghelaa nafas kasar, adiknya itu memang keras kepala. terbiasa dengan gaya hidup luar negeri yang biasa dengan pakaian pakaian yang cukup seksi dan terbuka.
__ADS_1
"Sayang kenapa kamu cuma makan buah? Kamu harus makan yang banyak yank, cepat makan roti panggangya," Rangga menoleh ke arah Nabila yang duduk disampingnya.
Sejak tadi Nabila hanya memakan potongan buah segar tanpa menyentuh roti panggang miliknya.
"Aku lagi ngga selera makan mas, aku makan buah saja ya," Nabila memasang wajah menggemaskan agar suaminya itu tak lagi memaksanya untuk makan.
Entah hari ini Nabila tidak selera makan, semua makanan yang terhidang di meja tak membuatnya tertarik, ia hanya ingin memakan potongan buah segar saja itu pun terpaksa agar perutnya tidak kosong.
"Sayang nanti kamu sakit kalau cuma makan buah, sini biar aku suapi," Rangga memyisihkan piring miliknya lalu menarik piring milik Nabila ke hadapannya.
Rangga mulai memotong roti panggang milik Nabila yang masih belum di sentuh sedikitpun, mulai menyuapinya.
"Buka mulutnya Aaaaa," Rangga memberi contoh membuka mulutnya lebar.
Namun bukannya membuka mulut Nabila justru menutup mulutnya rapat rapat dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mas jangan paksa aku, hari ini aku benar benar lagi ngga selera makan," tutur Nabila. Mengatupkan bibirnya rapat rapat.
"Sedikit saja sayang, ayo buka mulutnya," Rangga masih tak menyerah kembali menyodorkan potongan roti panggang ke mulut Nabila.
"Aku makan buah saja ya mas," ujar Nabila dengan nada memohon.
"Baiklah, tapi susunya harus kamu habiskan," ujar Rangga , maniknya mengarah pada susu coklat hangat yang ada di depan Nabila.
Nabila mengangguk sambil tersenyum "Terimakasih suamiku," tuturnya.
"Tapi saat makan siang harus makan yang banyak yank, aku ngga mau kamu sakit. Bila perlu aku akan pulang menemanimu makan siang sekaligus memastikan kamu makan banyak," pungkas Rangga.
__ADS_1
"Kakak ini kenapa jadi cerewet sekali," Ledek Rania dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kakak cerewet karena kakak menyayangi kalian, tidak mau terjadi apa apa dengan kalian," cetus Rangga.
"Hmmm, iya deh kak Rangga memang yang terbaik," puji Rania hingga membuat Rangga besar kepala.
Setelah selesai sarapan Rangga dan Nabila serta Rania bergegas berangkat ke tempat tujuan mereka masing masing, Rangga lebih dulu mengantarkan Nabila ke kampusnya, sementara Rania sudah meluncur menuju kantor.
Hari pertama Rania bekerja membuatnya bersemangat, ia penasaran bagaimana realnya dunia kerja, ya walaupun kerja di perusahaan keluarganya namun Rania tidak mau bersikap seenaknya, ia ingin bersikap profesional dalam bekerja.
Salah satunya ia tak mau terlambat sedetikpun masuk kantor, dirinya ingin benar benar merasakan kerasnya dunia kerja seperti apa yang biasa teman temannya ceritakan.
Rania berjalan dengan anggun menyusuri koridor kantor, penampilannya yang cantik dan seksi membuat dirinya menjadi pusat perhatian para keryawan yang lainnya terutama lawan jenisnya.
Namun mereka yang mengenal siapa Rania akan menunduk hormat saat gadis itu membalas tatapan mereka, banyak juga yang tak mengenal Rania mereka akan tersenyum menggoda gadis itu.
Rania menaiki lift menuju lantai dimana ruangannya berada, sebelumnya Rangga sudah memberitahu letak ruangannya sebelum kakaknya itu mengantar istrinya ke kampus.
Saat Rania menginjakkan kakinya di lantai dimana hanya ada ruangan para petinggi Pramudita Corp, seperti ruangan tuan Angga sebagai Direktur utama sekaligus komisaris, ruangan Dion sebagai asisten pribadi Direktur utama, ruangan Rangga sebagai wakil Direktur utama , ruang kerja Leon sebagai asisten pribadi wakil Direktur dan juga ruangan para Sekretaris pribadi mereka yang berada di depan ruangan mereka.
Leon menyambut kedatangan Rania di depan lift, laki laki itu sudah menunggu Rania datang sejak beberapa waktu yang lalu.
Leon membungkuk hormat dan Rania hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Mari saya antar nona ke ruangan nona," tutur Leon, tangannya menunjuk arah sebuah ruangan yang tak jauh dari lift.
Rania mengangguk lalu mengikuti kemana kaki laki laki dengan setelan jas hitam itu melangkah.
__ADS_1
"Ini ruangan nona," Leon membuka pintu sebuah ruangan yang akan dijadikan ruang kerja Rania sebagai sekretaris pribadi Rangga.