
Beberapa saat kemudian Nabila sudah kembali dari apotek, kini dirinya sudah berada di dalam kamarnya, kepalanya terasa pusing dan tubuhnya sangat lemas.
Ia berniat untuk menggunakan alat tes kehamilan yang baru saja dibelinya itu besok pagi, karena setahunya hasilnya akan lebih akurat jika melakukan tesnya pagi hari setelah bangun tidur.
Nabila membaringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, hingga ia pun tertidur dengan sendirinya.
Tiba tiba saja ada yang menepuk nepuk pipinya, membuat ia mengerjapkan matanya terlihat Rangga tersenyum kepadanya. Nabila beranjak duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
"Mas Rangga? Kamu sudah pulang? Ini jam berapa?" Nabila mengucek kedua matanya, menatap jam dinding kamar masih jam 1 siang.
"Aku cuma mau pastikan kamu baik baik saja, dan aku juga akan menyuapimu makan siang, Bi Minah bilang tadi pagi kamu hanya makan beberapa potong buah saja. Jadi sekarang harus makan yang banyak," ujar Rangga.
"Kata Bi Minah kamu juga tadi ke apotek, kamu membeli apa?"
Nabila tediam cukup lama.
"Sayang kamu beli apa di apotek?" Tanya Rangga lagi.
"Beli obat mas," jawabnya bohong. Nabila memang sengaja tidak mau memberitahu Rangga kalau dirinya membeli tes kehamilan. Nabila takut kalau Rangga akan berharap banyak akan kehamilannya nantinya, Nabila takut jika kenyataannya dirinya tidak hamil Rangga akan sangat kecewa.
"Ya sudah makan dulu ya, setelah itu minum obatnya."
"Aku sudah minum obatnya mas," sahut Nabila, bisa gawat kalau Rangga akan membantunya minum obat setelah makan nanti. Karena sebenarnya ia tidak membeli obat.
"Ya sudah kalau begitu sekarang makan ya," Nabila mengangguk.
Rangga menyuapi Nabila dengan telaten, susah payah Nabila menelan bubur dan sup daging yang menurut Rangga sangat enak itu, tapi justru di lidah Nabila terasa tidak enak, entahlah semua makanan terasa tidak enak kecuali makanan yang benar benar ia inginkan.
"Sudah ya mas," Nabila menutup mulutnya rapat rapat.
"Ya ampun sayang kamu baru makan beberapa suap, makan lagi ya," bujuk Rangga.
"Aku tidak mau mas, hmmmmpp." Nabila berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang baru saja ia makan.
Perutnya menolak makanan itu padahal ia sangat lapar dan ingin sekali makan yang banyak, namun sepertinya perutnya masih belum baik.
__ADS_1
Rangga berlari menyusul Nabila, membantu Nabila memijat tengkuk lehernya hingga istrinya itu merasa lebih baik.
"Kamu yakin tidak mau aku panggilkan dokter?" Rangga menggendong Nabila membaringkannya kembali ke tempat tidur.
Nabila menggeleng, "Aku mau makan es krim dan cake coklat seperti kemarin mas."
"Baiklah, nanti aku belikan. Ya sudah aku harus ke kantor lagi yank. Kamu tidak apa apa kan aku tinggal?"
Nabila mengangguk,"Pergilah mas, aku baik baik saja. Tapi jangan lupa pesananku," Nabila mengingatkan.
"Tentu saja sayank, cepat sembuh," Rangga menghujani wajah Nabila dengan banyak ciuman lalu ia kembali ke kantor.
****
Nabila baru saja selesai mandi pagi setelah sebelumnya muntah muntah, Nabila hendak melaksanakan sholat subuh Namun dirinya teringat akan alat tes kehamilan yang ia beli kemarin. Ia segera kembali ke kamarnya, dengan sangat hati hati ia berjalan mengendap endap mengambil tas yang berada di atas nakas, ia tak mau membangunkan Rangga, bisa gawat kalau suaminya itu terbangun.
Nabila mengambil kantong plastik kecil yang berisi alat tes kehamilannya, kemarin ia membeli 3 sekaligus dan berniat untuk menggunakannya semua pagi ini, setelah itu ia meletakaan tasnya kembali di atas nakas dengan sangat hati hati.
Nabila berlari cepat ke kamar mandi saat sudah berhasil mendapatkan alat tes itu, ia mulai membukanya satu per satu, membaca petunjuknya terlebih dahulu sebelum menggunakannya.
Setelah ia selesai menggunakan ketiga alat tes itu, Nabila meletakkannya di atas wastafel sambil menunggu hasilnya keluar ia berniat untuk memakai baju terlebih dahulu.
Tiba tiba saja Rangga berteriak dari dalam kamar mandi.
"Yank....Yank!! Teriak Rangga sambil berlari dari kamar mandi menghampiri Nabila, tangannya membawa 3 alat tes kehamilan milik Nabila.
Nabila beranjak duduk sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berputar putar.
"Ada apa sih mas? Berisik sekali, kepalaku jadi tambah pusing!" Nabila mencebik, matanya terpejam tangannya masih memegang kepalanya.
"Yank ini punyamu? Ini bukannya alat tes kehamilan ya?" Tanya Rangga setelah ia sudah berada di dekat tempat tidur, dimana Nabila berada.
Sontak Nabila membulatkan matanya "Ya ampuun kenapa aku bisa melupakan alat tes itu," gumam Nabila dalam hati.
"Sayang?!" Pekik Rangga mengagetkan Nabila.
__ADS_1
"I..Iya mas itu punyaku, kemarin aku membelinya," ucap Nabila dengan tergagap.
"Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Rangga kesal.
"Maaf mas, aku takut kamu akan kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita," Nabila menunduk.
"Sayang kenapa kamu berpikiran begitu, apapun hasilnya aku akan menerimanya," Rangga memeluk Nabila.
"Lalu hasilnya apa?" Tanya Rangga, melepaskan pelukannya.
"Aku belum tahu, memang hasilnya belum keluar? Coba lihat garis merah nya ada berapa?" Ujar Nabila.
Rangga pun melihat satu persatu alas tes kehamilan yang masih dipegangnya, "Garisnya ada dua semua," sahut Rangga setelah melihat alas tes kehamilan itu.
"Kamu serius mas? Coba mana lihat?" Nabila merebut ketiga alat itu dari tangan Rangga dan melihatnya.
Air matanya bercucuran, ia memeluk Rangga sambil menangis
"Tidak apa apa sayang nanti kita usaha lebih keras lagi," Rangga mengusap pelan punggung Nabila.
Nabila melepaskan dirinya dari pelukan Rangga, "Hasilnya positif mas, aku hamil," ujar Nabila, membuat Rangga terperangah detik berikutnya Rangga memeluk Nabila erat, laki laki itu juga turut meneteskan air mata bahagianya.
"Aku akan menjadi ayah sayang," ujar Rangga sambil memeluk Nabila, ada senyum bahagia di sela tangis harunya.
"Tapi mas," Nabila melepas pelukannya.
"Tapi apa sayang?" Tanya Rangga.
"Bagaimana kalau ini semua tidak akurat," ujar Nabila dengan raut wajah yang berubah sedih.
"Kita akan memastikannya nanti sayang, kita periksakan ke Dokter kandungan, sudah jangan pikirkan itu. Aku yakin itu semua akurat," pungkas Rangga.
Rangga menghujani Nabila dengan banyak ciuman, ia sangat bahagia. Dirinya berniat akan membawa Nabila ke Dokter OBGYN siang nanti untuk memastikan semuanya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan ratenya ya kakak..
Tinggalkan komentar kalian untuk penyaemangat author, dan ikuti terus kelanjutannya ya.. Terimakasih