
Akhirnya acara pesta pernikahannya telah selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB Rangga dan Nabila sudah berada di kamar hotel tipe presidential suite, mereka memang sengaja tidak pulang ke kediaman Pramudita karena ingin menghabiskan malam pertama mereka di hotel.
Kamar hotel yang memiliki ruang tidur lebih dari satu, dan juga ada ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang kerja yang luas, ruang gym bahkan kolam renang pribadi.
Kamar yang di dominasi warna emas itu dilengkapi dengan furniture premium, kini Rangga dan Nabila sedang berada di kamar utama yang dilengkapi tv 55inci, kasur yang cukup besar nyaris dua kali lipat ukuran king bed size ukuran normal, kasur yang dibalut sprei berbahan sutra itu telah dipenuhi kelopak bunga mawar yang berbentuk hati dan terdapat nama mereka dibawahnya yang terbuat dari rangkaian kelopak mawar juga.
Tak ketinggalan selimut berwarna putih yang sengaja dibentuk seperti dua ekor angsa yang sedang berciuman hingga berbentuk hati diantara kepala kedua selimut angsa tersebut.
Lilin lilin kecil yang berada disana pun berjajar membentuk gambar hati ada taburan kelopak mawar merah mengisi di dalamnya.
Kamar mandinya juga tak kalah mewah dilengkapi dengan fasilitas seperti jacuzzi, sauna, private massege room, shower dengan dinding kaca.
Selain itu kamar ini juga menyediakan pelayanan maksimal seperti layanan butler 24 jam, jasa laundry, spa selama 1 jam dan lokasi yang terletak di lantai paling atas hotel juga memberikan keuntungan tersendiri, menikmati panorama kota yang spektakuler pantas saja jika harga sewa kamar ini dibandrol hingga ratusan juta hanya untuk menjajal satu malam disana.
Rangga tengah membantu Nabila melepaskan semua accesories yang menempel di tubuhnya, dan melepaskan gaun mewah ala princes itu dari tubuh Nabila.
Nabila yan kini duduk di depan cermin meja rias berusaha untuk menolak bantuan Rangga, ia benar benar malu jika suaminya itu juga akan membantu membuka gaunnya.
"Biar, aku sendiri mas". Tutur Nabila.
"Diamlah biar ku bantu sayang". Sahut Rangga sambil mencoba membuka resleting gaunnya yang berada di punggung gadis itu.
Akhirnya Nabila pasrah setelah Rangga berhasil membuka gaunnya kini tubuhnya hanya terlihat dua kain tipis yang menutupi area sensitive Nabila.
Rangga bersusah payah menelan salivanya melihat pemandangan yang begitu menakjubkan di matanya.
"Mmmm..., Mas a..apa kita akan melakukannya malam ini?". Tanya Nabila dengan ragu sambil menggigit bibir bagian bawahnya menahan malu.
"Melakukan apa?". Tanya Rangga pura pura tidak mengerti, bibirnya sedikit ia naikkan menjadi sebuah senyuman, sepertinya ia sengaja ingin menggoda gadis yang baru tadi pagi sah menjadi istrinya itu.
"Mmmm..melakukan itu loh mas".
Rangga semakin senang menggoda Nabila.
"Apa heum?". Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila membuat gadis itu memundurkan tubuhnya.
"Ihh, mas Rangga pura pura ngga ngerti dehh". Kesal Nabila mendorong wajah Rangga dengan telunjuknya yang ia tempelkan di kening laki laki itu.
"Hahaha". Rangga terbahak. "Kenapa?, kamu sudah tidak sabar melakukannya sayang?". Tanyanya sambil terkekeh.
"Bukan begitu mas, malam ini aku lelah sekali mau langsung istirahat". Ucap nya sambil beranjak dari duduknya hendak pergi ke tempat tidur.
__ADS_1
Tiba tiba Rangga menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi, membuat Nabila berteriak teriak meminta di lepaskan.
"Mas kamu mau apa?, Turunkan aku!". Nabila mengayun ayunkan kedua kakinya.
"Kita mandi dulu sayang sebelun tidur, aku akan memandikanmu". Bisik Rangga membuat Nabila meremang.
"Turunkan aku!, aku bisa mandi sendiri!". Nabila kembali mengayun ayunkan kakinya.
"Sayang diamlah nanti kamu bisa jatuh!".
"Turunkan dulu mas!".
"Aku akan memandikanmu diamlah sayang".
Sekuat tenaga memberonntakpun tak ada gunanya, hanya akan membuat Nabila kehabisan tenaga saja.
Rangga menurunkan Nabila saat mereka telah berada di kamar mandi, di kolam jacuzzi yang sudah dipenuhi kelopak bunga mawar merah, lalu diikuti dengannya yang ikut masuk dalan kolam jacuzzi, kolam berukuran kecil dengan kedalaman sedang hanya digunakan untuk berendam dan bereleksasi.
Air yang digunakan juga air hangat sehingga sangat nyaman dan mampu mereleksasikan tubuh dan pikiran siapapun yang berendam di dalamnya, Aerator yang menyembur menghasilkan gelembung gelembung memberikan sensasi pijatan pada telapak kaki dan tubuh mereka.
Mereka berendam merelaksasikan tubuh lelah mereka, tak hanya berendam Rangga juga tak menyia nyiakan hal ini untuk menciumi istrinya, sepasang suami istri itu bercumbu dengan mesranya di dalam kolan jacuzzi yang dipenuhi kelopak mawar meninggalkan tanda merah yang begitu banyak di sekujur tubuh Nabila.
Hampir satu jam mereka melakukan aktivitasnya di dalam kamar mandi, kini Rangga kembali menggendong Nabila yang telah memakai piyama mandi dengan handuk kecil mentupi rambutnya yang basah, Rangga pun hanya mengenakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
"Sayang, pakai ini". Rangga memberikannya kepada Nabila.
"Apa ini mas?". Nabila menerimanya.
"Itu night gown sayang".
"Iya aku tahu tapi ini untuk aku pakai?".
"Iya dong sayang, kan ngga lucu kalau aku yang pakai".
Nabila terkikik geli membayangkan Rangga memakai night gown ini pasti sangat seksi.
"Sudah buruan pakai yank nanti kamu masuk angin". Tutur Rangga sambil berjalan ke arah lemari besar berbahan kayu jati yang ada di sudut kamar hotel, mengambil baju tidur untuknya.
Nabila masih belum memakai night gown itu, ia mersa malu jika harus pakai baju seseksi itu di depan Rangga, walaupun laki laki itu telah menjadi suaminya tapi tetap saja dia merasa malu, seperti tidak memakai baju bahannya yang tipis dan menerawang membuatnya sangat geli jika harus memakainya.
"Kenapa belum dipakai heum?". Rangga mendaratkan tubuhnya duduk di sisi ranjang, ia sudah mengenakan baju tidurnya.
__ADS_1
"Apa perlu aku yang pakaikan". Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum menggoda.
"Tidak perlu". Nabila berlari menuju kamar mandi untuk memakai baju tidurnya membuat Rangga terkekeh.
Tak lama kemudian Nabila keluar sudah memakai night gown berwarna merah hati itu, lekuk tubuhnya sangat terlihat jelas, dengan belahan dada rendah dan rambut basahnya yang tergerai membuatnya semakin terlihat seksi.
Nabila berjalan sambil menunduk, sumpah demi apapun dia benar benar malu harus tampil seseksi ini di depan suaminya.
Rangga terperangah, matanya tak berkedip memandangi Nabila yang begitu terlihat seksi, dengan susah payah ia berkali kali menelan salivanya mengontrol hasrat sialan yang sudah semakin menggebu.
Setelah sudah hampir mencapai tempat tidur Nabila berlari dan langsung menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut hingga menyisakan kedua bola matanya saja yang terlihat.
Rangga terkekeh melihat tingkah konyol istrinya.
"Sayang kamu kenapa?, Tenanglah aku tidak akan menerkammu sekarang karena aku tidak tega melihatmu yang sudah sangat kelelahan, sekarang bukalah selimutnya aku ingin melihatnya". Rangga menyibakkan selimut itu sambil terkekeh.
"Aku tidak mau!". Nabila kembali menarik selimutnya seperti semula.
"Sayang kita tidak akan melakukannya malam ini, istirahatlah tapi buka dulu selimutnya aku mau melihatnya sebentar saja".
"Bukannya udah melihatnya pas mandi tadi". Ucap Nabila lirih, ia menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya merasa malu sendiri dengan apa yang diucapkannya tadi.
Rangga terbahak.
"Kamu lucu sekali sayang, aku jadi ingin menciummu lagi". Rangga masih belum berhenti tertawa, istrinya itu sungguh lucu dan menggemaskan.
"Sudah istirahatlah, kita akan melakukannya besok pagi". Rangga membaringkan tubuhnya di samping Nabila ikut masuk ke dalam selimutnya dan melingkarkan tangannya diperut Nabila.
Sepertinya keduanya merasakan hal yang sama, degup jantung mereka berpacu begitu cepat seperti akan meledak, membuat Nabila menjadi gelisah berada dalam situasi seperti ini.
Nabila menyibakkan selimutnya hingga hanya menutupi sebagian tubuhnya saja, berkali kali merubah posisinya yang masih dalam dekapan Rangga.
"Sayang, kamu kenapa gelisah begitu?".
"Kamu geser dong mas tidurnya, lihat sebelah sana masih luas". Nabila menunjuk kasur sebelah tubuh Rangga yang memang masih sangat luas.
"Aku maunya disini sambil begini". Rangga mengeratkan pelukannya.
Nabila mengehembuskan nafas kasar, masih sibuk merubah posisiny kesana kemari.
"Sayang diamlah, kamu bisa membangunkannya". Seru Rangga melihat Nabila yang masih tidak mau diam.
__ADS_1
"Membangunkan siapa?". Tanya Nabila bingung, sejenak ia menghentikkan tubuhnya yang sibuk mencari posisi nyaman, merasa tidak nyaman dengan Rangga yang menempel erat ditubuhnya, bukan apa apa Nabila hanya tidak bisa mengontrol jantungnya yang semakin berdetak kencang.