
BRAAKKK!!
Pintu kamar terbuka lebar, membuat Nabila dan Rangga teekejut mereka melotot secara bersamaan ke arah pintu tanpa merubah posisi mereka.
"Rangga!!, Apa yang kamu lakukan!!". Teriak wanita paruh baya saat mendapati Rangga sedang berada diatas tubuh Nabila dan menciumnya dengan panas.
Seorang wanita anggun nan elegan yang sangat mereka kenali, wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi, wanita itu adalah nyonya Rani mamanya Rangga.
Rangga dan Nabila terkesiap saat menyadari siapa yang datang, Rangga segera bangkit berdiri dan merapikan kemejanya yang sudah terlihat berantakan, sedangkan Nabila terduduk dari posisinya, Nabila tak punya muka untuk menatap nyonya Rani ia sungguh malu, Nabila hanya bisa menundukkan kepalanya seraya memilin selimut yang masih menutupi sebagia tubuhnya.
Rangga juga sama syok nya dengan Nabila, kedatangan mamanya yang sangat tiba tiba di saat yang tidak tepat membuat tubuhnya kaku seketika, suaranya tercekat di tenggorokan membuatnya tak bisa berkata kata.
"Jadi seperti ini kelakuanmu Rangga?".Nyonya Rani berkacak pinggang, menatap Rangga dan Nabila dengan tajam secara bergantian.
Nyonya Rani menggeleng gelengkankan kepalanya sambil melipat kedua tangan di dada melihat kelakuan putra sulungnya yang sudah keterlaluan menurutnya.
"Ma..ini..ini ti..tidak seperti yang mama pikirkan". Susah payah Rangga mengeluarkan suaranya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalian jelaskan semua ini di rumah, papa dan mama menunggu penjelasan kalian sekarang". Ucap nyonya Rani penuh penekanan, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan apartemen Rangga.
Meninggalkan Rangga dan Nabila yang masih merutuki kebodohan mereka, bisa bisanya mereka terbujuk rayuan setan.
Tapi sungguh Rangga tidak berniat untuk berbuat lebih dari itu, ia hanya ingin menikmati ciuman panasnya bersama Nabila, itu saja tapi sekarang mamanya malah menangkap basah mereka, sungguh sial!.
Nyonya Rani melangkahkan kakinya keluar dari apartemen degan langkah lebar, bayangan kejadian yang baru saja dilihatnya kini memenuhi isi kepalanya.
Beliau tidak habis pikir putranya bisa melakukan perbuatan tidak terpuji itu, apa selama ini beliau kurang memperhatikan Rangga?, Atau memang seperti itu kah pergaulan anak muda jaman sekarang?.
Nyonya Rani memasuki mobilnya, membanting tubuhnya dikursi penumpang, pikirannya benar benar kacau merasa telah gagal mendidik putranya, merasa tidak berguna menjadi seorang ibu, ibu macam apa dia yang tidak bisa mendidik putranya dengan benar hingga putra mereka berbuat seperti itu.
Nyonya Rani memang sangat jarang mengunjungi apartemen Rangga, karena jika dirinya dan tuan Angga ada di di tanah air Rangga akan pulang dan tinggal di rumahnya.
Tapi kali ini ia berniat untuk mengunjungi putranya sekaligus menanyakan kebenaran tentang Nabila yang menginap di apartemen Rangga hampir satu minggu ini.
Ya, tuan Angga dan nyonya Rani mengetahui hal itu dari beberapa orang kepercayaannya, walaupun mereka sudah tahu permasalahan yang menimpa Nabila namun beliau berniat menanyakan langsung kepada Rangga dan Nabila.
Namum apa yang di dapatnya sungguh diluar dugaannya, mereka berdua telah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh sepasang kekasih, apa mereka sering melakukannya?, Ah nyonya Rani sungguh malu sendiri membayangkannya.
Apa gadis itu yang menggoda Rangga?, Jika memang iya berarti ia telah salah menilai Nabila selama ini walaupun ia baru dua kali bertemu dengan Nabila yang pertama saat wisuda Rangga dan yang kedua adalah hari ini, semenjak pertemuannya di wisuda Rangga ia pikir Nabila adalah gadis yang baik, bahkan ia sangat mendukung hubungannya dengan Rangga.
Namun apa yang terjadi hari ini membuatnya ragu, jika memang dia gadis baik baik tentu dia tidak akan mau melakukan hal itu walaupun Rangga memaksanya.
Tapi tunggu semua orang kepercayaannya mengatakan bahwa Nabila adalah gadis yang baik, gadis mandiri yang pekerja keras, gadis pintar dan dia tidak matre apakah itu semua benar?.
Orang kepercayaannya sudah memberikan semua informasi tentang Nabila dari mulai silsilah keluarganya, kehidupannya, pekerjaannya dan kesehariannya dan iya yakini informasi itu akurat.
__ADS_1
Nyonya Rani memang sudah mencari tahu tentang Nabila setelah ia tahu hubungan gadis itu dengan Rangga, dan semua informasi yang ia dapat membuatnya puas karena Nabila gadis yang baik maka ia memutuskan untuk merestui hubungan mereka.
Tapi lihatlah kelakuannya hari ini?, Sudahlah nyonya Rani pusing memikirkan hal ini biar semuanya dibicarakan dengan suaminya terlebih dahulu bagaimana baiknya untuk hubungan Rangga dan Nabila.
------
"Sayang bersiaplah, kita akan ke rumahku papa dan mama sedang menunggu kita". Rangga mendekati Nabila yang masih duduk di atas kasur sambil menundukkan kepalanya.
Rangga duduk dipinggir tempat tidur mencoba memegang dagu Nabila agar lebih leluasa memandang wajahnya.
"Hey kenapa kamu menangis?". Rangga mengusap air mata yang keluar dari bola mata Nabila dengan kedua ibu jarinya.
"Aku..aku malu sama mama kamu mas". Nabila menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa malu?, Kita kan ngga lakuin apa apa sayang, lihat kita juga masih pakai pakaian lengkap". Ucap Rangga mencoba menenagkan Nabila, sebenarnya dia sendiri sama seperti Nabila malu dan syok atas kedatangan mamanya yang tiba tiba.
Rangga hendak memeluk Nabila namun Nabila menepisnya.
"Jangan sentuh aku mas, ini semua gara gara kamu kalau saja kamu ngga cium aku semua nya ngga akan seperti ini". Nabila menghapus air matanya yang kembali mengalir.
"Iya maaf sayang, aku yang salah kamu tenang saja aku akan jelaskan semuanya sama mama".
"Sekarang mandilah, kita bersiap sekalian makan malam disana". Ucap Rangga yang memang sudah merasa lapar.
Rangga keluar dari kamar Nabila hendak membersihkan dirinya di kamarnya bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah selesai mandi Nabila segera mengganti piyama mandinya dengan dress casual berwarna coklat susu memakai make up tipis untuk menyamarkan raut kesedihan di wajahnya.
Nabila keluar dari kamarnya setelah selesai bersiap, tak lupa membawa tas jinjing miliknya.
Nabila menghampiri Rangga yang telah menunggunya di ruang tamu.
"Kamu sudah siap sayang?". Ujar Rangga seraya mendekati Nabila lalu menggandengnya berjalan keluar dari apartemen.
--------
Di dalam perjalanan Rangga dan Nabila saling diam membisu, tidak ada percakapan apapun diantara keduanya.
Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.
Nabila masih sangat malu untuk bertemu dengan mamanya Rangga, dia tidak tahu akan di taruh dimana mukanya nanti, Nabila yakin sekarang nyonya Rani sudah menganggapnya wanita murahan, ah sangat menyakitkan jika memang seperti itu.
Ini memang kesalahannya, jika saja dia memberontak dan tidak menuruti ucapan Rangga mungkin semuanya tidak akan terjadi, nyonya Rani pun tidak akan salah paham kepadanya, nasi sudah menjadi bubur semuanya sudah terlanjur Nabila harus bisa menerima konsekuensinya.
Bagaimana pun pandangan nyonya Rani terhadapnya ia harus bisa menerimanya untuk kemungkinan terburuk sekalipun kemungkinan untuk berpisah dengan Rangga, Nabila yakin jika nyonya Rani telah menilainya buruk bukan tidak mungkin beliau akan menyuruh Rangga meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Rangga, pemuda itu sama gelisahnya dengan Nabila ia takut mamanya akan menilai Nabila buruk dan tidak akan merestui hubungan mereka.
Rangga tentu akan menentangnya jika itu sampai terjadi, bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya bukan kesalahan Nabila, dirinyalah yang sudah bertindak bodoh gelap mata karena nafsunya, otak nya tidak bisa berpikir jernih karna hasrat sialan yang tak bisa ia tahan.
Arggghh Rangga frustasi ia takut hubungannya dengan Nabila harus berakhir karena ini, tapi sungguh dia memang tidak ada pikiran untuk berbuat lebih dari ciuman, memang betul dia sangat menginginkan Nabila namun ia juga tidak mau merusak masa depan Nabila ia tidak mau Nabila membencinya ia hanya ingin melampiaskan hasrat sialannya dengn mencium bibir ranum Nabila saja, ya itu saja tidak lebih.
Namun sialnya mama harus salah paham dengan kejadian ini.
Rangga melirik Nabila, sepertinya gadis itu sedang memikirkan hal yang sama dengannya, Rangga harus bisa menenangkan hati Nabila ia tidak ingin melihat Nabila kembali bersedih.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?". Rangga meraih tangan Nabila dan menggenggamnya erat enggan untuk melepasnya, pandangannya kembali fokus ke jalanan.
"Tidak ada". Jawab Nabila singkat, pandangan matanya tak lepas dari kaca jendela mobil yang menampakkan suasana malam ibu kota.
"Sayang, jangan pikirkan masalah tadi ya, kita hadapi sama sama aku yakin semuanya akan baik baik saja". Rangga mengecup sekilas punggung tangan Nabila dan tetap menggenggam erat tangannya dan satu tangannya lagi megendalikan kemudi.
Nabila menoleh ke arah Rangga sekilas, lalu tersenyum tipis lebih tepatnya senyum yang dipaksakan, Nabila tidak mau Rangga mengkhawatirkan keadaannya, hari ini dirinya sudah banyak merepotkannya.
Rangga membunyikan klakson berkali kali setelah sampai di rumah yang sangat besar, pagar menjulang tinggi menutupi rumah itu.
Penjaga membukakan pagar rumah Rangga lalu membungkuk hormat saat mobil Rangga memasuki pelataran rumahnya.
Halaman yang sangat luas dan indah halamannya saja sudah seperti lapangan bola luasnya, dengan tanaman dan pepohonan yang nampak terawat menghiasi halaman.
Rangga memarkirkan mobilnya, menggandeng Nabila sesaat setelah mereka berdua turun dari mobil.
Nabila tak henti berdecak kagum saat melihat bangunan yang begitu megah dan mewah bak istana, ia jadi penasaran seperti apa dalam rumah ini jika luarnya saja sudah sangat indah dan menakjubkan.
Rangga memencet bel rumahnya tak lama kemudian muncul bi Minah dengan tergopoh gopoh membukakan pintu.
"Selamat malam den Rangga, nona". Bi Minah menyambutnya dengan senyan hangat.
Rangga membalas senyuman hangat itu begitu pun Nabila.
"Mari masuk den, Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu di meja makan". Ucap bi Minah.
Mendengar ucapan bi Minah menyadarkan Nabila akan tujuannya datang ke rumah ini, yaitu bertemu dengan kedua orang tua Rangga dan menjelaskan semua tentang kejadian di apartemen beberapa jam lalu.
Seketika tubuh Nabila jadi lemas, kakinya terasa berat untuk melangkah, ia gugup dan gelisah hingga peluh membasahi keningnya.
Rangga menyadari hal itu, ia menyuruh bi Minah untuk pergi lebih dulu lalu Rangga memegang kedua bahu Nabila sedikit memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya, mengusap peluh di kening Nabila lalu mencium kening Nabila sekilas.
"Tenanglah sayang, semua akan baik baik saja, kamu tidak dengar tadi papa dan mama menunggu kita di meja makan itu artinya mereka mengajak kita untuk makan malam". Rangga tersenyum mencoba menenangkan Nabila yang terlihat sangat gugup.
Nabila mengangguk pelan, mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan berharap bisa sedikit mengurangi rasa gugupnya.
__ADS_1
Rangga kembali menggandeng tangan Nabila berjalan menuju ruang makan, menemui papa dan mamanya.