Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode24 Mencuri ciuman


__ADS_3

Rangga mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja yang disediakan Leon tadi di ruang istirahat yang ada di dalam ruangannya, ruangan tertutup dengan pintu berwarna coklat dekat dengan rak buku yang ada disana. Di ruangan itu terdapat tempat tidur King size untuk dirinya melepas lelah saat bekerja dan ada sebuah nakas disampingnya dan dilengkapi kamar mandi di dalamnya.


Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya Rangga dan Leon memasuki ruangan Dion, wakil Komisaris yang merangkap sebagai asisten pribadi papanya Rangga sekaligus tangan kanannya.


Tok..


Tok..


Tok..


Leon mengetuk pintu ruangan Dion, terdengar suara Dion dari balik pintu mempersilahkannya masuk, dengan cepat Leon memutar gagang pintu dan membukanya lebar, mempersilahkan tuan mudanya masuk terlebih dulu lalu Ia mengikutinya.


"Selamat siang Tuan muda". Dion sedikit membungkukkan badannya menyapa Rangga.


"Selamat siang paman".


"Silahkan duduk tuan muda". Dion berjalan menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya disana, diikuti oleh Rangga dan Leon.


"Sepertinya ada hal penting yang ingin paman bicarakan denganku".


"Saya yakin tuan muda sudah tahu kalau tuan besar dan nyonya besar akan membutuhkan waktu berbulan bulan di Jepang, menyelesaikan masalah yang terjadi di anak perusahaan yang ada disana". Ucapnya to the point.


"Iya paman, papa sudah memberitahuku tentang hal itu, papa juga sudah memberitahuku kalau paman akan pergi ke Batam untuk mengurus perusahaan elektronik yang ada disana dalam waktu 2 bulan bukan?".


"Betul sekali tuan muda , tuan besar percayakan semua perusahaan ini sama anda tuan muda sampai saya kembali".


Sebelumnya tuan Angga memang sudah memberitahu Rangga bahwa beliau akan membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan masalah perusahaannya yang ada di Jepang, estimasi 2-3 bulan disana.


Bertepatan dengan itu Dion selaku orang kepercayaan tuan Angga juga harus terbang ke Batam dalam waktu 2 bulan untuk mengurus persiapan launching produk terbaru dari salah satu perusahaan milik keluarga Pramudita yang bergerak di bidang manufaktur peralatan elektronik yang memproduksi seperti printer dan komputer. Seperti printer POS, Terminal POS, Printer Barcode, Print Head, Printer untuk ATM, Ribbon, Printer Dot Matrix dan komputer.


Mau tidak mau Rangga yang akan memimpin serta bertanggung jawab atas kantor utama Pradipta Corporation tentunya akan dibantu oleh orang orang kepercayaan dan berkompeten yang sudah bekerja cukup lama disana.


Tuan Angga dan Dion juga tentu tidak akan melepas Rangga begitu saja mengingat Rangga juga harus membagi waktunya untuk kuliah, mereka akan membimbing dan mengarahkan Rangga agar bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.


Rangga mengurut kedua pelipisnya secara bersamaan menggunakan jarinya, ada raut kecemasan yang bisa ditangkap oleh Dion disana.


"Tuan muda tidak usah khawatir, semua jajaran petinggi perusahaan dan anak perusahaan ditempati oleh orang orang yang berkompeten, jadi saya yakin semuanya akan berjalan lancar".


"Apa paman yakin, aku bisa?". Ada sedikit keraguan dihati Rangga untuk bisa memimpin dan menjalankan perusahaan yang cukup besar itu.


"Saya yakin tuan muda pasti bisa". Dion tersenyum optimis.


"Baiklah paman, Rangga akan berusaha semaksimal mungkin". Dion tersenyum puas mendengar jawaban dari Rangga.


"Tapi Rangga juga butuh bantuan dan bimbingan dari papa dan juga paman". Sambungnya.


"Tentu saja tusn muda, kami akan membimbing tuan muda". tegas Dion membuat Rangga bernafas lega.


----


Rangga, Nabila dan Aditya terlihat sedang menikmati makan malam mereka, ada sedikit perbincangan di sela sela makan mereka.


"Mmmm, mas Rangga bagaimana dengan rumah kontrakan untukku dan Aditya, apa mas Rangga sudah mencarinya?". Tanya Nabila dengan ragu ragu.


"Kamu tenang saja Bil, Leon sedang mengurus semuanya. Jangan terlalu dipikikan". Jawab Rangga yang sibuk mengunyah makanannya.


"Baiklah, maaf aku sudah merepotkan mas Rangga dan juga tuan Leon". Nabila sedikit menundukkan kepalanya merasa bersalah karena sudah merepotkan Rangga.


"Santai saja, aku justru senang bisa membantu kalian".

__ADS_1


Setelah selesai makan malam Rangga melangkahkan kakinya menuju ruang tv, merebahkan tubuhnya di sofa.


"Adit, ayo kita nonton film". Ajak Rangga kepada Aditya yang hendak masuk ke kamar.


"Maaf banget kak PR Adit banyak, sebenarnya Adit pengen sih nonton film tapi Adit harus ngerjain PR nih". Sesal Aditya.


"Ya sudah kerjain dulu PR kamu, kalau sudah selesai ikut gabung ya".


Aditya mengangguk mengiyakan.


Rangga beranjak dari sofa lalu duduk di bawah di atas permadani tepat di depan meja tv panjang, membuka laci tempat Ia menyimpan kaset film, ada banyak puluhan kaset film disana dengan berbagai genre, mulai dari horor, action, drama, komedi, petualangan dan lain lain.


Kali ini Ia sedang ingin menonton film horor, Ia mengambil salah satu kaset film yang bergenre horor, kemudian memutarnya.


Setelah fim sudah hampir mulai, Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa, fokusnya teralihkan saat melihat Nabila keluar dari kamar hendak ke dapur.


"Bil". Panggil Aditya dengan sedikit berteriak.


Nabila berjalan menghampiri Rangga.


"Ada apa mas?". Tanyanya.


"Temani aku nonton ya".


"Iya, sebentar aku mau bikin susu hangat dulu untuk Adit, mas Rangga mau aku buatkan sekalian?".


"Aku kopi saja ya".


"Baiklah". Nabila berbalik badan , berjalan menuju dapur, membuat dua susu hangat dan satu kopi, setelah memberikan susu hangat kepada Aditya, Nabila membawa segelas susu hangat untuknya dan satu cangkir kopi untuk Rangga ke ruang tv.


Nabila meletakkan kopi dan susu miliknya di atas meja kecil yang berada disamping sofa yang tengah Ia duduki.


"Horor". Ucap Rangga dengan mata menatap layar tv yang berukuran besar itu.


Nabila terdiam sejenak sambil memejamkan matanya lalu beranjak dari sana hendak pergi ke kamarnya.


"Mau kemana?, Katanya mau temenin aku nonton". Langkah Nabila terhenti seketika.


"Aku ngga suka film horor, aku takut". Jawabannya sontak membuat Rangga terkekeh.


"Kan ada aku, ngapain takut. Ayo sini duduk lagi".


"Tidak mau". Nabila tidak mau menoleh ke belakang, Ia benar benar tidak berani untuk menoleh ke layar tv.


"Ya sudah terserah kamu deh, mau nonton film apa". Rangga mengeluarkan kaset film horor yang sempat Ia putar.


Nabila berbalik badan dan kembali duduk di sofa.


"Aku mau nonton film drama korea". Ucapnya antusias.


"Sebentar aku cari". Rangga kembali membuka laci tempat penyimpanan kaset mencari kaset drama korea.


"Sepertinya ini bagus". Ucapnya lirih, Rangga segera memutar kaset dengan genre Drama romantis itu dan kembali duduk di sofa tempat dimana Nabila duduk.


"Mas Rangga suka nonton Drakor juga?". Tanyanya. Ternyata orang seperti Rangga suka nonton film romantis juga pikirnya.


"Kaset itu koleksi Rania, adik perempuanku". Ucapnya.


Nabila hanya mengangguk paham.

__ADS_1


Nabila begitu menikmati filmya sampai sampai Ia tak berkedip memandangi layar tv itu, Ia juga terlalu terbawa perasaan menontonnya hingga membuat Ia terbawa apa yang tokoh utama itu rasakan.


Saat tokoh utama dalam filmnya tertawa Ia akan ikut tertawa bahagia, saat tokoh utama itu menangis Ia akan ikut menangis seperti saat ini, Ia sedang menangis membuat Rangga lebih tertarik menonton ekspresi Nabila daripada menonton film di depannya.


"Srooooottt!!". Nabila membuang ingusnya di tisu yang sejak tadi Ia pegang untuk menghapus air matanya.


"Ihhh kamu jorok sekali". Rangga menggedikkan bahunya.


Nabila tak menghiraukannya Ia masih sibuk menghapus air matanya yang entah kenapa tidak berhenti mengalir.


Dibawah permadani sudah banyak tisu bercecer bekas air mata gadis itu.


Rangga mengulas senyum melihat kekonyolan gadis yang ada disampingnya itu.


"Dia begitu menggemaskan". Batin Rangga.


Beberapa menit kemudian ada adegan ciuman di dalam film tersebut membuat pipi Nabila bersemu merah, Rangga yang melihat ekspresi Nabila Ia jadi terpikirkan untuk menggodanya.


"Apa kamu tidak mau melakukan hal yang sama seperti di film itu?". Rangga menunjuk layar besar yanga ada di depannya sambil tersenyum.


"Apaan sih kamu mas". Nabila memukul Rangga denga bantal sofa yang sejak tadi dipangkunya.


"Bukankah kamu sejak tadi selalu melakukan apa yang tokoh utama itu lakukan, dia senyum kamu ikut senyum , dia tertawa kamu ikut tertawa, dia nangis juga kamu ikut nangis. Sekarang lihatlah dia ciuman dengan kekasihnya apa kamu tidak ingin ciuman juga?". Ucap Rangga menggoda Nabila membuat pipi gadis itu memerah seperti tomat.


Nabila kembali memukul Rangga menggunakan bantal sofa berulang kali dengan sangat kuat, hingga Ia terjerembab kehadapan Rangga.


"Ampun..ampunn..". Rangga mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.


Nabila memukulkan bantal ke tubuh Rangga dengan kuat hingga Ia hilang keseimbangan membuatnya terjerembab jatuh dalam dekapan Rangga dengan posisi menindihnya, jarak yang sangat dekat diantara mereka sekitar 5cm tatapan mereka beradu, deru nafas mereka saling bersahutan dan jantung keduanya berpacu lebih cepat dari biasanya.


Sepersekian detik mereka bergeming dalam posisi saat itu, tak ada pergerakan ataupun ucapan yang keluar dari keduanya, hingga akhirnya Nabila tersadar bergegas bangkit dan membenarkan kembali posisi duduknya.


"Ya Tuhan hampir saja jantungku mau lompat". Batin Nabila sambil memejamkan matanya.


"Hampir saja aku menciumnya, bibirnya begitu menggoda". Batin Rangga sambil mengusap frustasi wajahnya.


Setelah kejadian tadi membuat suasana jadi canggung, tidak ada obrolan atau apapun, kedua pasang mata itu fokus menatap layar tv namun keduanya hanyut dalam pikiran masing masing.


Hingga setengah jam berlalu dari peristiwa yang mendebarkan tadi Nabila tak bisa menahan kantuknya hingga Ia tertidur dengan posisi menyandarkan badannya di sofa.


Rangga menatapnya sambil tersenyum, menyibakkan rambut nakal yang menutupi wajah gadis cantik itu, lalu menatap lekat wajah gadis itu.


" I Love u so much". Gumamnya lirih.


Setelah merasa puas memandangi wajah polos Nabila, Ia mencoba menggendong ala bridal style dan membawanya menuju kamar yang ditempati Nabila, Rangga mendorong pintunya dengan menggunakan kaki kanannya, setelah pintu terbuka Ia segera membawa Nabila masuk dan merebahkannya di atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Nabila.


Ia kembali memandangi wajah Nabila, merasa tidak pernah bosan untuk memandangi wajah gadis itu, kini perhatiannya terpusat pada bibir ranum milik Nabila yang begitu menggodanya.


Rangga hanya menelan salivanya, menahan hasrat prianya agar tidak bertindak diluar batas. Namun pikiran dan tubuhnya tidak sinkron pikirannya mencoba dengan keras untuk menolak namun tidak dengan tubuhnya, ya bagaimanapun Rangga adalah pria normal jadi wajar saja jika hasrat pria itu mulai timbul dalam dirinya.


Tubuh Rangga membawanya untuk mendekatkan wajahnya dengan Nabila, jarak yang sudah sangat dekat bibirnya hendak menempel dengan bibir Nabila namun Rangga tersadar Ia harus menghormati dan menghargai Nabila sebagai wanita, apalagi wanita yang sangat Ia cintai.


Rangga tidak mau terjadi hal hal yang lebih dari sekedar ciuman, akhirnya Ia mendaratkan bibirnya dikening Nabila. Mengecupnya sekilas, ya Ia mencuri ciuman dikening Nabila saat gadis itu telelap dalam mimpi indahnya, lalu dengan cepat Ia meninggalkan kamar Nabila.


"Shiiitt!!". Umpatnya.


"Kalau seperti ini terus, gue bisa melewati batas!!". Racaunya mengusap wajah frustasi.


Rangga berjalan kembali ke ruang tv untuk mematikan tv nya lalu Ia berjelan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit langit kamar.

__ADS_1


Bayangan peristiwa di ruang tv tadi berlarian di dalam pikirannya membuat Ia sulit memejamkan matanya.


__ADS_2