Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
119 Tespek


__ADS_3

Semua pasang mata tertuju padanya membuatnya gugup, Rania mencoba menatap Rangga yang ada di depan sana tengah menatap Rania tajam, "Matilah aku, lihat kak Rangga sudah seperti mau membunuhku," gumam Rania dalam hati sambil meremas kedua tangannya sendiri.


Rania segera mengambil posisi duduk di kursi yang terlihat kosong, meeting pun kembali dilanjutkan.


Dua jam berlalu akhirnya, meeting selesai. Rania bernafas lega saat dirinya sudah keluar dari ruangan meeting, tangannya memeluk beberapa map dan berkas berkas.


Rania berjalan menuju ruangannya, tangannya sudah meraih handle pintu namun gerakkannya terhenti saat ia mendengar hentakan pantofel menggema mendekatinya.


Rania yakin itu Rangga aroma parfumnya bisa tercium dari jarak beberapa meter, dan Rania sangat hafal parfum kakaknya itu. Gadis itu memejamkan matanya saat langkah kaki itu terdengar semakin mendekat.


"Dek," Rangga memegang bahu Rania.


"Haii kak," Rania balik badan, tersenyum semanis mungkin bersikap seolah tidak membuat kesalahan apapun.


"Dari mana saja kamu, kenapa bisa telat begitu? Bukankah kamu sudah lebih dulu berangkat dari rumah?" Cecar Rangga.


"Aku...Aku tadi sakit perut kak, jadi aku ke toilet dulu," kilahnya sambil cengengesan, berharap kakaknya itu tidak akan marah kepadanya.


"Lain kali jangan di ulangi lagi, kita itu harus profesional dalam bekerja," tegas Rangga memperingati.


"Baik kak, maafkan aku sudah terlambat" sahutnya menunduk.


"Sudah sana kembali ke ruanganmu," ujarnya sambil berlalu meninggalkan Rania diikuti Leon di belakangnya.

__ADS_1


"Kerja di perusahaan keluarga sendiri sudah seperti kerja di perusahaan orang lain saja," gerutu Rania sambil menghentak hentakkan kakinya membuat Rangga menoleh.


"Hehehe, sepertinya heelsku ini bermasalah," gumamnya sambil menunjuk high hells yang ia kenakan. Rangga hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol adiknya itu, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Rania yang masih bersungut sungut.


"Semua ini gara gara mangga muda," gerutunya lagi sambil melenggang memasuki ruangannya.


****


Rania sudah berada dalam perjalanan pulang, sepanjang hari dirinya tak fokus bekerja, pikirannya melayang layang teringat tukang rujak buah yang yang mengiranya hamil, teringat kata kata Rangga yang mengatakannya seperti orang hamil saat dirinya makan banyak makanan tempo hari.


Rania jadi merasa was was takut dugaan mereka benar, dirinya pun sampai saat ini belum datang bulan membuatnya semakin frustasi.


Namun yang sedikit membuat Rania tenang adalah dirinya tak mengalami morning sickness seperti Nabila ataupun orang hamil kebanyakan.


Dirinya tak mengalami mual sama sekali, hanya saja nafsu makannya meningkat, serta gampang lapar, satu lagi memiliki keinginan yang harus di penuhi layaknya orang ngidam seperti kasus mangga muda tadi pagi, jadi sebenarnya ada apa dengannya?


Rania menepikan mobilnya saat melewati apotek yang cukup besar di samping jalan raya yang ia lewati.


Mematikan mesin mobil, ragu ragu ia keluar dari mobil, ia takut jika nanti ada yang mengenalinya saat dirinya membeli alat tes kehamilan.


Lama Rania menimbang nimbang akhirnya ia keluar juga dari mobil melangkah menuju apotek netranya menyapu sekitar takut kalau kalau ada yang mengenalinya.


Rania bergegas membayar setelah apa yang hendak di belinya sudah berada di tangannya, dengan tergesa gesa Rania meniggalkan apotek namun sial karena saking terburu burunya ia menabrak seseorang hingga kantong plastik yang di bawa Rania tercecer ke lantai, dua tespek yang di belinya pun ikut tercecer.

__ADS_1


Rania dan orang itu bersamaan memunguti belanjaan milik Rania yang tercecer dan memasukkannya kembali ke kantong plastik.


"Maaf, saya tidak sengaja nona," ujar seseorang itu, suaranya tak asing lagi di telinga Rania. Rania mendongakkan wajahnya, Rania terkesiap orang itu adalah Rendy.


Suara Rania seperti tercekat ia tak mampu berkata apa pun, Rania segera meraih kantong plastik miliknya yang ada di tangan Rendy.


"Ra Rania?" Rendy sama terkejutnya dengan Rania, sedang apa gadis itu disini? Ia membeli tespek? Rendy mengingat barang yang di beli Rania, yang sempat tercecer ke lantai.


Rania segera bangkit dan berlalu pergi namun tangan Rendy mencekalnya,"Tunggu Ran, aku ingin bicara," tuturnya.


"Maaf Ren, aku buru buru tolong lepaskan aku," Rania melepaskan genggaman tangan Rendy pada pergelangan tangannya. Buru buru gadis itu menuju mobilnya.


Rendy hendak mengejarnya namun ia teringat dirinya harus cepat membeli obat asma untuk mamanya, alhasil Rendy membiarkan Rania pergi begitu saja.


Di dalam mobil Rania tak berhenti merutuki kecerobohannya, bisa bisanya ia menabrak Rendy tadi hingga belanjaannya sampai tercecer di lantai. Rania takut Rendy melihat apa yang di beli Rania di apotek.


"Rendy tahu ngga ya kalau aku beli tespek," gumamnya sambil mengemudi.


Sementara Rendy segera menyalakan motornya ingin mengejar gadis itu, namun sayang mobilnya sudah tak terlihat lagi, Rendy mendengus kesal.


Pada akhirnya Rendy memutuskan untuk pulang ke rumah den segera memberikan obat yang baru saja di belinya kepada mamanya.


***

__ADS_1


Haaii Readers terimakasih sudah setia mengikuti kelanjutan novel ini, ikuti terus ya kisah Nabila dan Rangga, juga Rania dan Rendy.


Jangan lupa like, vote dan rate nya ya kakak, tinggalkan komentar kalian sebagai penyemangatku menulis.


__ADS_2