
Tiga hari berlalu setelah pesta pertunangan itu, keseharian Nabila masih sama melakukan rutinitas hariannya seperti biasa yang membedakan adalah Nabila lebih di segani, setiap orang yang Nabila jumpai tersenyum ramah menyapanya sekalipun ia tak mengenalnya, bahkan tidak sedikit yang meminta foto bersama hanya sekedar untuk di posting di sosial media mereka.
Nabila yakin itu semua dampak dari pertunangannya dengan Rangga yang disiarkan live di stasiun televisi, agak risih sih memang ketika kita diperlakukan berlebihan oleh orang lain bahkan orang yang tidak kita kenal, namun Nabila harus mulai terbiasa dengan hal itu karena dirinya akan menjadi bagian dari keluarga Pramudita, segala tindak tanduknya tak lepas dari sorotan masyarakat dan netizen maha benar.
Belum memulai saja sudah terasa berat, ah apakah mungkin dirinya bisa menjadi bagian dari keluarga Pramudita?, Rasanya tak sanggup membayangkan bagaimana kedepannya nanti.
Seperti sekarang ini Nabila dan Dea tengah berada di sebuah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari tokonya untuk membeli makan siang untuk mereka, namun tiba tiba saja ada segerombolan wanita menghampiri Nabila dan memintanya foto bersama.
Awalnya Nabila bingung, namun saat salah satu dari mereka menyebut nama Rangga Nabila jadi paham, ah iya mas Rangga begitu populer mungkin membuat dirinya akan dikenal orang karena menjadi calon istrinya.
Sepertinya segerombolan wanita ini juga bukan dari kalangan biasa melainkan wanita kelas atas, bisa dilihat dari penampilan dan outfit yang mereka kenakan adalah barang barang branded yang harganya tidaklah murah.
"Nona?, Bukankah kamu calon istri Rangga Pramudita ya?". Tutur salah satu dari mereka, mereka terdiri dari 4 orang.
Nabila dan Dea yang sedang duduk menunggu pesanan take away mereka terheran heran saat segerombolan wanita berkelas itu menghampiri mereka.
"Iya, ada apa ya nona?". Tanya Nabila heran.
"Bisakah kita berfoto denganmu". Tuturnya lagi.
"Foto?, untuk apa?". Nabila masih tidak mengerti dengan maksud mereka.
"Kami ingin memposting foto kami bersamamu di sosial media kami!". Cicitnya membuat Nabila mgerutkan keningnya dalam.
"Apa?, berfoto denganku?, memposting di sosial media mereka?, aku siapa?, memang sepenting itu?". Ah Nabila tidak mengerti dengan jalan pikiran orang kaya, mungkin karena tidak memiliki kesibukan dan pekerjaan jadi seperti itu, pikirnya.
"Nona?". Ucapan salah satu dari mereka menyentak Nabila dari lamunannya.
"Eh iya, ya sudah mari berfoto". Nabila menuruti saja kemauan mereka daripada nanti panjang urusan, toh hanya foto begitu pikirnya.
Akhirnya mereka berfoto dengan Nabila, posisi Nabila tak berubah ia tetap duduk dikursinya sedangkan mereka dengan heboh menampilkan gaya sebagus mungkin saat layar kamera membidik. Dea yang mengambil gambar merasa capek saat puluhan foto tak jua membuat mereka puas.
Setelah mendapat foto yang mereka inginkan, mereka pamit dan berlalu sambil melihat lihat hasil foto di ponsel salah satu dari mereka, dan yang membuat Nabila geram mereka membicarakan dan menertawakan Nabila.
"Hey lihatlah calon istri Rangga sangat kampungan, beda jauh dengan kita". Tutur salah satu dari mereka sambil menunjuk salah satu foto di ponselnya, lalu mereka tertawa puas.
Ocehan mereka masih bisa tertangkap jelas di telinga Nabila, walaupun mereka sudah menjauh namun Nabila masih mendengar semua makian dan celaan yang mereka tujukan padanya.
Nabila geram, dengan langkah lebar ia menghampiri mereka lalu dengan cepat ia meraih ponsel yang sempat digunakan untuk berfoto tadi dari tangan salah satu dari mereka.
Nabila langsung delete semua foto foto dirinya dengan mereka.
"Hey nona apa yang kamu lakukan?". Teriaknya.
"Cihh, ngga usah pura pura bodoh nona! kalian meminta foto denganku karena ingin menertawakanku, iya kan?!". Nabila melotot merasa tidak terima.
"Miris sekali ya, kalian yang katanya keren tidak kampungan sepertiku tapi atitude kalian buruk!, itu yang kalian banggakan?!". Tutur Nabila lagi, ia tersenyum miring sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Wah wah aku pikir kamu culun dan ngga akan berani melawan kita yang ngga selevel dengan kamu, ternyata kamu punya nyali juga ya!". Ucap salah satu dari mereka sambil berkacak pinggang.
"Aku ngga akan takut sama orang yang ngga punya atitude seperti kalian, jika hidup kalian hanya dihabiskan untuk mencaci dan mencela orang lain mending kalian mati saja, dunia ngga butuh orang seperti kalian!". Nabila mengembalikan ponsel wanita itu dengan kasar ke tangannya.
Berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih mengumpat dan mencaci dirinya, Nabila menghampiri Dea yang sudah membawa beberapa kantong berisi pesanan mereka.
Salah satu dari mereka ingin mengejar Nabila dan menjambak rambutnya namun ditahan oleh temannya yang lain.
"Hey, dasar cewek kampungan sialan sini kamu!". Hampir berlari mengejar Nabila namun ditahan oleh ke tiga temannya.
"Sudahlah, kamu ngga ingat dia siapa?, apa kamu mau berurusan dengan Rangga?, laki laki itu bisa saja menghancurkan hidup kamu dan keluargamu". Tutur salah satu dari temannya membuatnya mengurungkan diri dan hanya bisa memaki Nabila sambil menatap punggungnya yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Sabar ya mbak, orang kaya memang gitu". Tutur Dea kepada Nabila saat jalan pulang menuju toko.
"Iya De, aku ngga apa apa kok". Nabila tersenyum.
------
Dering ponsel Nabila membuatnya tersentak saat sedang merangkai buket bunga pesanan pelanggan.
Nabila segera meraih tasnya yang ia letakkan di atas meja tak jauh dengan tempatnya duduk saat inj, lalu mengambil ponsel dari dalamnya.
Alis Nabila berkerut saat melihat nama kontak dari si penelfon.
"Mama Rani?, ada apa nelfon?". Gumamnya sebelum ia menggeser tombol berwarna hijau di ponselnya.
"Walaikumsalam sayang, kamu dimana?, mama jemput sekarang ya, kamu harus fitting baju pengantinmu sekarang sayang". Tutur nyonya Rani di seberang sana.
"Nabila di toko ma, tidak usah jemput ma biar Nabila saja yang ke butik tante Dewinta". Tutur Nabila.
"Ya sudah kita ketemu disana ya sayang".
"Iya ma". Nyonya Rani menutup panggilan telefonnya.
------
Nabila sudah sampai di depan butik, ia datang dengan diantar ojek online, dengan langkah gontai Nabila masuk ke dalam butik tak mau membuat calon mama mertuanya itu menunggu lama.
Nabila disambut hangat oleh pegawai butik perempuan, ia langsung mengenali wajah Nabila karena sudah berseliweran di televisi dan sosial media saat acara pesta pertunangan kala itu.
Pelayan itu segera mengantar Nabila menuju ruangan bosnya, ruangan tante Dewinta yang terdapat dilantai atas butik.
"Terimakasih ya mbak". Ucap Nabila setelah sampai di ruangan tante Dewinta kepada pegawai yang mengantarnya.
Pegawai itu membungkuk hormat kemudian berlalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, kamu sudah sampai". Ucap nyonya Rani saat Nabila memasuki ruangan tante Dewinta.
__ADS_1
Nabila menghampiri nyonya Rani yang sedang duduk di sofa bersama tante Dewinta sambil menikmati jus dan sepiring bapau coklat.
"Iya ma, maaf ya mama pasti sudah lama menunggu". Nabila mencium punggung tangan Nabila lalu mencium pipi kanan kiri nyonya Rani, begitu juga kepada tante Dewinta.
"Tidak juga sayang, kemarilah". Nyonya Rani menepuk sofa yang ada disampingnya menyuruh Nabila untuk duduk disana.
"Kamu mau minum apa sayang?". Tanya tante Dewinta.
"Ngga usah repot repot tante". Sahut Nabila cepat.
"Ngga repot kok sayang, sebentar ya". Tante Dewinta memanggil asisten pribadinya, letak ruangannya tak jauh dari ruangan tante Dewinta, menyuruhnya membuatkan minum untuk Nabila dan mempersiapkan kebaya pengantin dan gaun pengantin milik Nabila yang sudah dirancang dan dibuatnya beberapa hari yang lalu.
Memang sangat singkat waktunya bahkan hanya tiga hari saja tante Dewinta merancang dan menyelesaikannya, sungguh kerja keras buat dirinya dan timnya, walaupun begitu beliau tidak ingin mengecewakan pelanggan VVIP sekaligus sahabatnya sendiri yaitu nyonya Rani.
Dengan usaha dan kerja keras dirinya dan tim yang sangat profesional akhirnya jadi juga dua pasang baju pengantin yang sesuai dengan keinginan calon pengantin, satu pasang untuk akad dan satu pasang lagi untuk pestanya.
Asisten pribadi Dewinta datang dengan beberapa pegawai lainnya untuk membantu Nabila fitting baju pengantinnya sambil membawa satu gelas orange jus, dengan hati hati ia meletakkan jus itu di atas meja dan mempersilahkan Nabila untuk meminumnya.
Pandangan nyonya Rani dan Nabila tak teralihkan dari kedua pegawai yang membawa kebaya dan gaun pengantin yang sangat indah nan elegant, terkesan mewah dan anggun.
"Woww sayang lihat baju pengantin kalian sudah jadi, kamu suka ngga?". Tanya nyonya Rani kepada Nabila.
Dengan mata berbinar Nabila memandang baju pengantin itu, merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.
"Ayo, dicoba sekarang". Tante Dewinta menarik lembut tangan Nabila, dan membimbingnya untuk mencoba baju pengantin miliknya.
"Sis, terimakasih ya kamu memang the best bisa menyelesaikan pesanan dadakanku dengan waktu sangat singkat". Ucap nyonya Rani sambil terkekeh, beliau merasa sangat keterlaluan memesan baju pengantin memintanya untuk seledai dalam waktu tiga hari, ahh seperti hal yang mustahil namun tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha keras dan bersungguh sungguh untuk menyelesaikannya, bukan begitu?.
"Kamu memang sengaja mau mengerjaiku kan sis?". Tante Dewinta menatap tajam sahabatnya itu lalu mereka tertawa setelahnya.
"Tapi aku sangat puas dengan hasilnya, kehebatan dan kemampuan kamu memang tidak diragukan lagi sis". Tutur nyonya Rani sambil terkekeh.
Nabila mencoba baju pengantin miliknya dibantu dengan asisten tante Dewinta dan beberapa pegawai perempuan lainnya.
"Ma, mas Rangga ngga fitting baju pengantinnya?". Tanya Nabila tiba tiba, dirinya merasa heran karena sejak tadi tidak melihat Rangga, harusnya pria itu juga ada disini untuk mencoba baju pengantinnya, begitu pikirnya.
Nyonya Rani tersenyum lalu berkata "Kenapa?, kamu kangen ya, ciyee?". Goda nyonya Rani sambil mencolek dagu Nabila dan mengedipkan satu matanya membuat semua orang disana tertawa mendengarnya.
"Aaaaa mama kenapa ngomong gitu sihh, aku kan jadi malu". Wajah Nabila bersemu merah menahan malu ingin rasanya ia tenggelam di dasar bumi.
"Bu..bukan begitu ma Nabila cuma heran saja kenapa mas Rangga ngga fitting baju juga". Tutur Nabila terbata, wajahnya masih semerah tomat melihat semu orang yang ada disana masih tersenyum menahan tawa.
"Kangen juga tidak apa apa sayang, dia kan calon suami kamu". Sahut tante Dewinta. Nabila menunduk malu.
"Rangga masih sibuk di kantor sayang, sore nanti dia akan kesini". Ucap nyonya Rani.
"Aaaa mama aku jadi kangen beneran deh sama mas Rangga". Batin Nabila sambil senyum senyum sendiri membayangkan wajah tampan Rangga.
__ADS_1