
Bab 3
" Assolaatu wassalaamu Alaiyk....Yaa Imaaman Mujahidin.., Ya Rasulullah.!! Dan seterusnya...
seterusnya..Hingga ke kalimat yang di serukan oleh Bilal, "Wa ashaabika Ajmaiiin." Lalu hening beberapa saat.
Untuk kemudian disusul oleh suara Muadzin yang mengumandangkan seruan berupa Adzan sebagai bentuk ajakan bagi umat Islam di sekitar Mesjid itu untuk menunaikan shalat wajibnya. Berjamaah di mesjid bagi kaum laki-laki.
Aji yang sudah terbiasa melakukan Shalat berjamaah di Mesjid atau Mushala yang dekat dari tempat tinggal Orang tuanya, tapi untuk kali ini, oleh sebab hujan yang lumayan lebat dan belum juga ada tanda-tanda akan berhenti, walau tadi sempat berhenti, namun tidak begitu lama, Hujan kembali turun.
Mulanya dia berniat untuk tetap pergi ke Mesjid, tapi diurungkannya, bukan saja karena lebatnya hujan yang telah merubah jalan di depan rumah seperti sebuah sungai yang airnya mengalir deras, hingga menutupi seluruh jalan.
Sehingga sulit untuk membedakan mana jalan yang bisa di lalui, mana parit atau lubang parit yang biasa ada di sambungan penutup drainase di sepanjang tepian jalan.
" Bang Aji, apa tidak sebaiknya Abang tidak nekat untuk pergi juga, takut nanti terperosok, Bang Aji kan nggak hafal jalanan di sini." Saran Melindari.
" Aku kira juga begitu, semoga Allah SWT mengampuni ketidak hadiran ku di Rumahnya, untuk shalat berjamaah Subuh ini." Ujarnya
" Aamiin ya Rabbal Alamiin." Jawab Melindari.
Mereka pun menyiapkan untuk shalat berjamaah di Mushala yang ada di rumah itu.
" Lumayan juga, Mushala yang memadai untuk tempat menyelenggarakan shalat berjamaah hingga 6 orang ma'mum." Gumam Aji.
Haruki sengaja merancang rumah itu, di lengkapinya dengan kebutuhan peribadatan sebagaimana pada umumnya orang Islam.
Orang tuanya memberi hadiah sebuah tempat tinggal yang lokasinya strategis dekat ke Mesjid juga ke sarana lainnya yang dibutuhkan oleh yang sudah berumah tangga pada umumnya, dekat ke Klinik, ke Pasar tradisional juga ke pusat perbelanjaan, yakni Mall Kelapa Gading.
Bukan Rumah yang baru di bangun tapi Tuan Hanura membelinya dari pemilik lama yang entah apa alasannya pemilik rumah itu menjualnya.
Pemilik lama Rumah itu, adalah salah satu relasi Bengkel Nagasaki Motor Servis yang baik dan konsumen yang sudah cukup lama memakai jasa Servis Bengkel mobil yang Papi Haruki kelola.
Itulah Sebab utamanya. Pemilik rumah tersebut menjualnya kepada Tuan Hanura Gawa. Kontan tanpa di cicil.
Lumayan lah niat bagus dari Haruki, walaupun Aji belum pernah melihatnya melakukan kegiatan Shalat wajib lima waktu secara berkesinambungan.
Aji pernah sekali waktu menemukan Haruki melaksanakan shalat, di mushala yang ada di Bengkel, tempat para pekerja melaksanakank shalat wajibnya disana.
Pada hakikatnya dia telah memberikan kemuapdahan kepada orang lain untuk melaksanakan peribadatan, sebagaimana yang setiap orang Islam harapkan.
Di bengkel pun, dia termasuk salah seorang yang mempunyai gagasan untuk memberikan kemudahan tersebut, dengan menyediakan tempat shalat berupa mushala. Bukan hanya di peruntukan bagi pegawai bengkel saja.
Bahkan bagi orang banyak, salah satunya adalah para pemilik kendaraan yang datang untuk menservis Mobil milik mereka, bila kebetulan waktu untuk Shalat telah tiba, maka dengan mudah, siapa saja bisa melaksanakannya disana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seusai nya melaksanakan Shalat Subuh berjamaah, mereka berdua melakukan kegiatan masing-masing sesuai kebiasaan kesehariannya.
Melindari membaca Ayat-ayat Alqur'an di dalam kamarnya, sementara Aji duduk berdzikir, masih di Mushala yang hanya di halangi oleh sketsel dengan motiv yang samar semacam kaca hujan, dari bahan mica. Terkesan ruangan Mushala yang terbuka.
Hari beranjak ke waktu pagi dan hujan pun mulai berhenti, meninggalkan tanda, bahwa beberapa saat yang lalu, disana telah turun hujan yang cukup lebat.
Ciri-ciri itu terlihat dari pohon perdu yang tertidur dengan daun-daunnya yang layu dan tangkai yang condong mengarah ke satu arah, yakni arah kemana air hanyut.
Ranting-ranting berserakan di sekitarnya.
Seusai mereka melakukan ibadah sunahnya masing-masing, dilanjutkan dengan percakapan pendek berkisar seputar persiapan keberangkatan besok.
Mereka akan melakukan penerbangan, dengan mempergunakan jasa pelayanan dari perusahaan penerbangan Emirat Arabian Air Service.
" Mel., waktu kita akan terasa semakin sempit saja,
Aku pamit mau pergi ya,? Mumpung Kondisi lalulintas masih belum ramai, Kau baik-baik saja bukan ?" Pungkas Aji.
" Insya Allah Bang, aku akan baik-baik saja, di sini keperdulian terhadap lingkungan lumayan tinggi kadarnya." Melindari menanggapinya.
" Bang Aji belum aku bikinkan minuman lho ini.?"
" Seperti yang sudah ku bilang tadi Mel.!, kalau sudah dekat menghadapi keberangkatan, ke manapun tujuannya, dan untuk apa.?
Pada datang, dan bermunculan." Papar Aji.
" Begitu ya Bang?. aku percaya koq kalau ma Bang Aji yang biasa bepergian, kalau berangkat untuk pergi berlayar, kapal masih dalam kondisi di perjalanan menuju sebuah pelabuhan minyak yang akan di datangi, kesana abang diberangkatkan. Abang pasti akan merasa kekurangan waktu."
" Ya...begitulah kira-kira." Jawab Aji singkat. Walau banyak pertanyaan yang Melindari lontarkan kepadanya, di jawabnya dengan jawaban yang bisa membuat lawan bicaranya merasa terpenuhi keinginan nya.
Aji paham, tinggal sendirian di rumah yang bukan ukuran kecil, hampir bisa dipastikan ada perasaan sedikit Horor.
Melindari merasa beruntung dengan kedatangan Aji tadi malam.
" Iiiyyh .... Tahu nggak Kak Aji...? Gak kebayang tahu?, kalau tadi malam Abang tidak bisa datang.
Serem lho, aku tadi malam sendirian disini, mana hujan deras dan lama.pula.
Seperti itulah keakraban diantara mereka terjalin tanpa sungkan, hubungan pertemanan yang harmonis, di mana tidak ada salah satu pihak yang merasa dirinya lebih dari yang lainnya, yang bisa berpotensi bisa mengikis bahkan merusak habis jalinan hubungan pertemanan.
" BTW., aku mau cabut sekarang lho Mel..! Malam ini aku tidur di rumahnya kak Anggie.
__ADS_1
Insya Allah besok subuh aku sudah berada di depan pintu sini," sambil telunjuknya mengarah ke lantai.
" Shalat Subuhnya dimana ?" sela Melindari.
" Ya ., pagi, tapi tidak subuh, sekalian kita ke cengkareng, Haruki sampaikan tadi ke Ponsel ku,
dia mau ikut menghantarkan kita ke Cengkareng. Besok aku datang lagi kemari sekalian mau mengembalikan ini nih, kepada yang berhak.." Sambil telapak tangannya di tepuk-tepukkan lembut keatas kap mesin mobil yang Haruki telah pinjamkan kepadanya.
Tidak ada kejadian yang istimewa, seperginya lelaki itu dari sana. Untuk menyambangi Anggie di kediamannya, sekalian menyampaikan amanat dari orang tua mereka.
Malam pun berlalu tanpa kesan yang mendalam, waktu pun berjalan seperti malam-malam kemarin.
Hingga tiba pada pagi yang di nantikan nya.
Bergegas dia menyiapkan bawaannya berupa Kopor ukuran nomor dua, yang berisikan pakaian lengkap sehari-hari dan perangkat shalat. Juga buku bacaan yang sekiranya bisa menemaninya disaat luang tinggal di kamar Hotel, nanti.
Dia berpamitan kepada semua anggota keluarga Kakaknya, yang kebetulan suaminya baru pulang dari Kalimantan, tempatnya menjalankan kegiatan niaganya di bidang jual beli kain khas Kalimantan.
" Amanat dari Emah sudah ku sampaikan ya Kak ?" Ujar Aji.
" Aku sekarang mau pamit kepada kakak berdua nih!" sahutnya sambil bersalaman kepada Anggie dan Suaminya, juga kepada dua keponakannya, yakni anaknya Anggie.
Lambaian tangan mereka, melepas kepergian nya dengan penuh Suka -cita. Mungkin di karenakan mereka tahu, Kepergiannya yang sekarang bisa dika
takan perjalanan liburan dan hiburan., tidak seperti waktu yang sudah-sudah, demi tugas dan tanggung jawab, terhadap kelangsungan eksistensi tenaga kerja, dari Indonesia
Dia merasa berkewajiban mempertahankan lahan kerja dengan memberikan kinerja yang berkualitas.
Para pelaut Indonesia, masih mendapat tempat di pasar tenaga kerja Dunia, tidak kalah dalam bersaing dengan Negara berkembang lainnya seperti ; Filipina, Cina, Malaysia dan Myanmar di sektor tenaga kerja di bidang kemaritiman.
Yang tengah ramai tersiar di Medsos, seolah Cina merupakan sebuah ancaman di tinjau dari kuwalitas kerja, mungkin saja itu benar, kalau di bidang selain kemaritiman.
Atau data itu diperoleh berdasarkan fakta di Internet.
Akan tetapi kenyataan di lapangan, Tenaga kerja Indonesia jauh lebih unggul ketimbang mereka.
Apalagi didalam kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional.
Yang pantas di perhitungkan dan sekaligus bisa di kategorikan sebagai pesaing yang serius adalah, para pelaut dari Negri nya Almarhum Ferdinand Marcos, selain handal di bidang pekerjaan, juga handal dalam berbahasa Internasionalnya.
Mereka tidak bisa dianggap sepele. Ya... , itulah sekadar cuplikan betapa Aji sebenarnya adalah salah satu dari beribu tenaga kerja yang telah berjasa memasukkan Devisa bagi Negara.
Bukan hanya hingga di situ saja, dia pun sebagai Duta Negara yang sedang berjuang untuk generasi setelahnya.
__ADS_1
Dengan cara menjaga dan memelihara lahan pekerjaan yang menyerap banyak pekerja Indonesia di bidang yang masih di gelutinya hingga saat ini.
Tanpa terasa, dia yang begitu asyik dengan renungannya tentang ketenagakerjaan, tahu-tahu Kelapa Gading Mall telah di lewatinya