
Bab 2.
Seorang Nakhoda Kapal, selain sebagai Pemegang tampuk pimpinan tertinggi di atas Kapal, juga merangkap sebagai representatif dari perusahaan pemilik Kapal, maka dari itu, yang 14 Orang lainnya, kemungkinan besar hanyalah akan didudukkan sebagai saksi, yang mungkin saja, bisa memberatkan bagi sang Kapten, bahkan bisa saja dirinya menjadi penanggung jawab tunggal.
Apakah akan seperti itu kejadian selanjutnya ?, kali ini Josette kembali larut ke dalam renungannya, betapa peliknya kasus yang sedang dihadapinya ini.
Selang beberapa saat dilihatnya beberapa orang yang dia masih ingat betul, dari warna baju yang mereka kenakan, kesemuanya teman Aji.
Satu persatu berdatangan dengan diantar oleh kendaraan masing-masing, dan masih di temani oleh para wanita yang mendampingi mereka tadi malam, di karenakan tempat parkir yang terbatas, sedangkan Josette datang lebih awal dari mereka ketempat itu, membuat mereka harus berjalan dari tempat parkir menuju ke tempat Perahu jemputan para awak Kapal, ketika beberapa pasangan itu berjalan melewati bagian samping kendaraan yang tidak mereka ketahui, di dalamnya adalah teman mereka.
" Kemana tuh Bocah, belum kelihatan rambut jabrik nya ," sela salah satu dari mereka yang berjalan beriringan.
" Setan itu anak ! gua kerjain., eh ujung ujungnya malah dia yang dapet rezeki nomplok, Luh sih Brow, bukan gue yang Luh tuba, ikhlas gua celeng, biar gua yang di gondol ama tuh cewek, mana cakep lagi tuh cewek !" Celoteh Saleh Nandar, dengan logat bicara Betawi asli nya.
" Saleh, Orang tua Luh keliru kasih nama ! nggak di cekok juga , Luh mah sudah pintar, men cekok sendiri. Beda dong ma si Aji, dia harus di Cekok." Timpal Roby Supit, salah satu teman baik Aji.
Suara tawa bersama membahana di suasana pagi, di tempat itu.
" Itu Pertanda Saleh lulus dan pintar, tinggal menunggu Ijazah nya keluar, kalau si Aji belum, maka dari itu, dia pantas untuk di Bait lebih dahulu, supaya nantinya jadi Pelaut sejati arung Samudra." Salah satu teman yang dari tadi malam duduk membisu, tidak tahan untuk tidak berkomentar.
" Si Aji itu, memang lumayan kuat, dia tidak pernah terlihat mabuk, padahal waktu Kapal melewati Philipina untuk tujuan ke Jepang, saat itu kena ekornya Taifun , dia sendirian yang sanggup jaga di kamar mesin, yang lain pada teler, " sanggah teman Aji bernama Anton Ambon, yang memang orang Ambon.
" Ah, dia belum bisa disebut Pelaut arung Samudra kalau minumnya hanya Coca cola dan belum belajar bahasa Spanyol nya di Spanyol, sambil mimi tutu langsung dari sumbernya tanpa gelas, ya tetap belum lulus dong, ha.. ha.. ha.." Seloroh teman Aji juga, bernama Tedi, sambil tertawa lebar.
Mereka terus berceloteh, malah ketika berjalan melintasi Mobil yang di dalamnya ada Josette dan Aji, yang kacanya di lapisi Rayband dengan kepekatan 85%, percakapan mereka sejak awal, tanpa sengaja untuk menguping terdengar jelas oleh mereka berdua di dalam mobil, juga bukan karena kebetulan, Josette yang sengaja menurunkan kaca jendela di bagian tempat duduknya, dengan tujuan untuk menghirup udara segar pantai.
Sementara itu, tidak seorangpun dari mereka semua yang menyangka kalau Aji berada didalam mobil, padahal, tadi mereka lumayan lama berkerumun tidak jauh dari mobil itu parkir, percis di bawah naungan pohon yang cukup rindang, dan jaraknya yang lumayan dekat ke tempat Motor But penjemput di tambat. But itu di sediakan oleh perusahaan untuk keperluan anak buah Kapal.
l
Bagi mereka, daftar jadwal tetap untuk antar jemput dari dan ke Kapal sudah hafal di luar kepala.
Jarum Jam menunjukkan pukul 09:35 waktu setempat, pada pukul 09:50 mereka harus sudah berada diatas but tersebut.
__ADS_1
Percis pukul 10:00, But khusus yang melayani angkutan anak buah Kapal itu akan bertolak menuju tempat tambat Kapal Tanker MV FORMOSA.
" Bagaimana kita akan berangkat, Kapten!, masih ada satu orang yang belum hadir " Sahut salah seorang dari mereka
" Siapa dia !" tanya kapten Bossman.
" Aji, Kapten " jawab Manaf, juru mudi di Kapal
Dari dalam mobil terlihat oleh Mereka berdua, betapa suasana resah di tempat awak kapal sedang pada berdiri, pandangan mereka terarah kesatu tempat yang sama, yaitu jalan masuk ketempat mereka kini berada, sejauh mata mereka memandang, mereka tidak melihat tanda-tanda kedatangan orang yang ditunggunya, selain sebuah kendaraan pribadi, yang terparkir lebih dahulu dari kedatangan mereka kesana, tapi tidak ada sedikitpun dari mereka yang punya dugaan bahwa di mobil itu lah orang yang sedang mereka tunggu.
Batas menunggu untuk But angkutan itupun hampir mendekati habis waktu, ketika mereka dalam ambang penantian, dan memutuskan tanpa komando, untuk barengan berbalik badan, dan melangkah menuju ke But jemputan tertambat, tiba tiba terdengar suara yang tidak asing bagi pendengaran mereka , " Brak !" suara yang cukup keras dari pintu mobil yang ditutup, hampir serempak pula mereka menolehkan pandangannya kearah suara itu, dan....
" Anak Bajul!" kenapa kau baru muncul, wah..wah.. jadi dari tadi kau menguping percakapan kami ya.. anak Bajul ?" sahut Manaf Bin Hanif yang biasa di sebut Babe oleh semua awak kapal, karena, semua orang di Kapal telah menganggapnya sebagai paman bagi semua awak Kapal.
Komentar seperti itu, sudah dianggapnya sebuah seloroh namun dia tetap menanggapi itu sebuah teguran, yang enak untuk di terima.
Dengan sikap yang baik pula, Aji perkenalkan Josette yang datang bersamanya kepada mereka, tidak terkecuali termasuk Kapten Bossman Van Dijk, khusus bagi Josette momen perkenalan ini seperti pepatah ' Pucuk di Cinta ulam pun tiba ', karena
baginya, rasa ingin tahu dan sekaligus mengingat dan mengamati orang yang dilihatnya tadi malam duduk di sebelah kanan dan kirinya Aji.
Sambil tersenyum simpul Josette yang tangannya masih di dalam genggaman pria bernama Adrian, yang memang dikenal bak seorang Casanova telah berfikiran lain, karena dilihatnya Josette tersenyum manis kepadanya, sementara Josette yang tersenyum kearah Adrian tanpa bisa dia tahan terlontar dari sela-sela bibir tipisnya ucapan ' Nila !' tidak terlalu keras tapi terdengar jelas oleh Adrian, yang menanggapinya dengan spontan pula, " No...no Nila, my name is Adrian." seraya tersenyum yang di buatnya semanis mungkin, seraya melepaskan genggaman pada tangan Josette, karena wanita itu sejak tadi terlihat berusaha ingin melepaskan tangannya dari genggaman erat tangan Adrian.
Senyuman yang tersungging di sudut bibir Josette tidaklah sekedar senyuman biasa, bila di perhatikan dengan cermat, senyuman yang sinis mengandung ancaman terhadap pria yang dia yakini betul, Adrian dan lelaki yang satunya lagi, mereka berdua lah yang mempunyai andil telah menyebabkan terjadinya rudapaksa oleh Aji terhadap dirinya malam itu.
Tinta merah telah mencatat kedua orang itu di dalam hatinya, mereka berdua harus dia masukkan kedalam buku daftar orang-orang yang nanti berhadapan dengannya di meja hijau. " Adrian, tunggu ! saat itu akan tiba !" ancamnya dalam gumam yang lirih.
Kapten Bosman pun tidak akan luput dari jerat hukum yang berlaku di negri ini, karena atas perbuatan yang dianggap oleh bahasa hukum adalah, dengan sengaja maupun tidak, telah terjadi
" Pelecehan " yang melanggar norma susila, yang telah diperbuat oleh anak buah Kapalnya, dan kejadian itu akan menjadi satu pengalaman sekaligus guru yang baik yang sangat berarti bagi seluruh anak kapal maupun sang Kapten itu sendiri.
Tidak ada kejadian yang dianggapnya suatu yang istimewa baik oleh Aji maupun teman-temannya, mereka yang mulai beranjak menuju tempat But jemputan menunggu, ke enam belas orang itu termasuk Aji, berjalan kearah But untuk kembali ke Kapal.
Josette tertegun mematung dalam hatinya bertanya, " Kenapa aku merasa kehilangan ya? " ada perasaan terharu, dia tidak mengerti mengapa., memang harus diakuinya, Aji itu type lelaki yang berpotensi untuk di idamkan kaum Hawa, tapi itu bukan alasan yang utama.
__ADS_1
Tunangannya yang tinggal hitungan Minggu saja akan menjadi pendampingnya, tidak kalah menarik dan banyak mempunyai kelebihan.
Ada sesuatu pada laki-laki itu, dan itu sesuatu banget pada diri Aji, dia sepemikiran dan sependirian dengannya, rasanya lelaki semacam itu
' langka di cari susah di dapat ',..." Alangkah bahagianya Wanita yang akan menjadi Pasanganmu Aji." ucapnya lirih.
Spontan dia berlari membaur ke arah Lelaki itu, dan dipeluknya, dikecupnya bibir lelaki itu walau kejadiannya berlangsung hanya sekejap, mungkin hanya dalam hitungan kedipan mata, sehingga tidak semua orang yang berada disana melihatnya, membuat Aji terpana tanpa sanggup berkata.
Josette tidak mengharapkan Aji untuk berkata, khawatir kalau sampai lelaki itu mengatakan,
" Selamat tinggal Josette " , dia khawatir kalau sampai dirinya terenyuh dan terharu, momen itu terusik oleh, terdengarnya suara lantang dari ketua rombongan yang ditunjuk oleh Kapten Hendrik untuk menghitung dan menyatakan.
" Seluruh anggota awak kapal yang akan kembali ke kapal, jumlahnya lengkap !".
But mulai bergerak perlahan, menjauh dan semakin menjauh dari tempat Josette berdiri. Tidak serta merta Josette pergi dari sana, dengan melangkah mundur dan perlahan, dia membalikkan badannya dan berjalan menuju ketempat mobilnya diparkir, untuk segera meninggalkan tempat itu.
Hidup adalah sebuah proses pelatihan penanggulangan beragam masalah yang setiap Manusia pasti menjalaninya, dan itu tidak akan pernah tidak ditemukan jalan keluarnya. Karena itu adalah suatu Keniscayaan yang Maha Pencipta adakan untuk MakhlukNya.
Hanya saja, tidak sedikit yang akan, sedang maupun yang sudah menjalani dan mereka dinyatakan berhasil dan lulus.
Adapun yang gagal, kecewa , bahkan putus asa. Hilang animo untuk mencobanya lagi, yang seperti itu bukan Aji. Itu salah satu sikap yang dia temukan pada lelaki itu , yang membuatnya mengaguminya walau dia tahu hanya bisa sebatas itu, tidak mungkin untuk memiliki.
Lantas, bagaimana halnya dengan benih yang kepalang telah bersemai di rahimnya dan berkembang menjadi calon jabang bayi ?
pertanyaan itu senantiasa membayangi jalan pikirannya.
Josette sadar akan hal itu, karena dalam masalah kesucian, dia fahami benar, dia temui pada kurikulum mata kuliah yang pernah dijalaninya di Fakultas Budaya Asia, sedangkan saat ini, ditempat jiwa dan raganya berdiri, yang notabene kejadian yang di alaminya bukanlah sebuah akibat dari kejadian di rudapaksa dan bukan pula terhadap insan di bawah umur. Paling tidak , akan seperti itu asumsi masyarakat di kota besar, di sebuah kota dan di Negara Brazil pula.
" Mungkinkah kasus ini bisa di tindaklanjuti melalui jalur hukum yang murni ?" keraguan semacam ini timbul ketika dia coba diskusikan dengan selah seorang pakar Hukum Pidana yang cukup ternama di jantung kota Brazil, yang telah menjadi bagian dari hampir segala kegiatan keluarga Alfonso.
Pakar di bidang Hukum tersebut lebih lanjut bertutur,
" Jose, merupakan hal yang wajar bagi seorang wanita dewasa di tiduri oleh seorang Pria dewasa dan itu terjadi di sebuah penginapan pula, jadi dari segi mana seorang wanita dewasa tadi dibenarkan bahan di bela , demi mendapatkan keadilan Hukum yang diharapkan berpihak kepadanya ?"
__ADS_1
Sementara lamunan dalam renungannya menjelajah ke berbagai arah, mobil yang dikendarainya melaju pesat, seiring pikirannya yang harus berlomba dengan sang waktu, dikarenakan Berita tidak sedap telah didapatnya melalui Aji, bahwa Kapten Kapal nya yang konon di bulan depan telah di jadwalkan oleh perusahaan, akan pulang dalam rangka mengambil Cuti tahunannya.
Nah..... sahabat pembaca kisahku...episode untuk setimpal tak Sebanding aku cukupkan sampai disini dulu . ikuti terus bagaimana kelanjutan cerita tentang mereka, : Aji , Josette dan lainnya.