Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN* " Obsesi "


__ADS_3

Bab 1


" Pinkan Tampodung dengan Mat Raji silahkan maju ke depan, ini adalah pasangan pertama yang di nyatakan oleh Panitia, untuk menjalani sanksi berupa ....Seperti yang telah di bacakan di awal tadi oleh mami Meyriska di pembukaan sesi Kejutan dalam Hiburan dengan judul thema "Etika" , bagi anda yang sudah siap menjalani sanksi ini, harap maju ke depan."


Suara Panitia yang lantang penuh semangat, di iringi oleh sorak-sorai orang yang berada disana.


Tidak ada satu orang pun yang perduli dengan perbuatan Aji seperti itu, melakukan sujud dan macam doa " Taubat Nasuha" , beberapa orang dari mereka menyangka Aji terlalu banyak meminum minuman keras yang di sediakan oleh panitia, dan semua di tanggung oleh penyelenggara.


" Mentang-mentang gratis Coy ! pakai ukuran atuh.." komentar sekelompok orang yang melihatnya, di lihat dari penampilannya orang ini rada jail, begitu.


" Mabuk nih ye.! Aji mumpung nih ye !, he..he..he." olok mereka.


Aji tidak menghiraukan apa yang mereka katakan, karena kenyataanya dia tidak ada niat untuk minum-minum, apalagi sampai mabuk.


Justru dia lebih fokus kepada bagaimana kiat untuk menghindari Haruki yang bisa saja niatnya baik, dia ingin membuat sahabatnya bahagia dan senang, tapi itu menurut pola pikir dan cara dia sendiri.


Di pandanginya sekeliling ruangan, suara musik yang tadi membahana hingga menggetarkan kaca penyekat ruang tamu, sudah berlalu. Ruangan itu kini menjadi sunyi.


Di atas meja hidangan masih terdapat sisa makanan, namun sudah tidak karuan lagi kondisinya, telah bercampur dengan tumpahan cairan dari botol berbagai macam jenis minuman.


Dengan cara mengintip dari sudut matanya, terlihat olehnya satu dua orang yang sedang sibuk membereskan peralatan seperti ; Alat pengeras suara, dan alat listrik lainnya, yang di angkut oleh pemilik rental peralatan untuk pesta, dengan menggunakan mobil pick up, yng terparkir di halaman rumah tersebut.


Kemeriahan sudah usai bertepatan dengan suara Muadzin di mesjid terdekat, melantunkan Tahrim melalui pengeras suara, pertanda adzan Shalat Subuh akan di kumandangkan, luput dari perhatiannya jam berapa acara pesta itu usai.


Ketika di lihatnya posisi jarum pendek pada jam tangan yang dipakainya ," waduh, sudah jam empat ," membuatnya kaget.


Sayup terdengar suara berat dari beberapa orang, di selingi oleh gelak tawa yang bernada lembut mendayu dan merayu, dari seorang wanita.


Suara itu masih terdengar jelas di telinganya.

__ADS_1


Sejurus kemudian, pintu penghubung ruangan tempat berlangsungnya pesta dengan ruangan arah suara tadi berasal pun terbuka, bias cahaya terang dari ruangan tersebut tembus dan menerangi ruangan pesta yang masih di sinari temaramnya lampu yang redup.


Aji berbaur dengan peserta Pesta lainnya, yang telah tergeletak akibat terlalu banyak meminum cairan yang beralkohol, mabuk dan tertidur di Sofa bahkan ada yang terkapar di lantai, termasuk dia yang kadung di kira ' mabuk '. walau sebenarnya Aji tertidur karena rasa kantuk yang luar biasa, tadi sepanjang siang bekerja penuh, di bengkel banyak sekali kendaraan yang masuk untuk servis mesin.


Dia tidak merasa mabuk, karena tidak ada setetes pun cairan beralkohol itu yang masuk perut melalui tenggorokannya.


Dia tersenyum sendiri, merasa puas telah berhasil mengelabui bukan hanya satu atau dua orang saja, akan tetapi seluruh orang yang ada di ruangan itu tadi malam.


Juga tidak seorang pun yang tahu, kalau dia tidak seperti yang mereka kira.


Aji di saat menjalani masa perkuliahannya sebagai Taruna di salah satu Akademi Pelayaran yang ada di Jakarta, kehidupannya tidak semulus teman-teman satu kuliahan dengannya.


Untuk mencukupi keinginan di luar kebutuhan pokok perkuliahan yang sudah dipenuhi oleh orang tuanya, selain itu, demi untuk mendapatkan uang tambahan.


Di luar kegiatan kuliahnya, dia selalu menyempatkan ikut mengamen dengan tetangga di tempat kosnya, seorang pesulap kelas amatir.


Sang pesulap amatir itu, menggantungkan hidup kesehariannya, murni dari mengamen di pesta perayaan ulang tahun, pesta syukuran hitanan, atau


Walau jarang namun pernah juga mengamen di acara perayaan kawin perak seorang pemuka masyarakat di komplek perumahan mewah, di Kelapa Gading Estate. Jakarta Utara.


Ada pepatah " Ala bisa karena biasa " bagi Aji pepatah itu telah terbukti kebenarannya, setelah dia lebih dari satu tahun, ikut sebagai asistennya dari pesulap pak Narto, dia sudah sanggup.


menyelenggarakan acara sendiri, sering dia di daulat naik ke pentas untuk memainkan keahliannya, yang ilmunya itu di dapatkan dari sang pesulap amatir tersebut.


Entah yang ke berapa kali dia telah membuktikan kepiawaiannya seperti malam tadi, dia telah berhasil memainkan perannya dengan sempurna. Seolah-olah semua yang mereka tipu dayakan kepada dirinya dengan bujukan maupun dengan tipuan, dengan semua minuman yang bermerk dan di berikan kepadanya telah di minumnya dengan tuntas.


Padahal semua minuman tersebut tertampung di kantung plastik yang dengan sengaja dia tempatkan di bawah ketiaknya, sementara sebuah corong di tempatkan rapi tersembunyi di bawah dagunya, itu sebabnya dia di anggap kuat dalam ajang adu kuat minum yang berkadar alkohol nya cukup tinggi tadi malam.


Tipu daya sulapnya di topang oleh beberapa penunjang di antaranya tadi malam hujan turun begitu derasnya, maka ada alasan kuat dia tidak melepas jacket Kasual yang di pakainya, membuat perannya semakin sempurna.

__ADS_1


Dia lah satu-satunya peserta yang sanggup menghabiskan sebotol whisky Red label yang berukuran satu Liter tanpa campuran. Dan berhak menerima uang sebagai hadiah berupa uang tunai sebanyak satu juta Rupiah dari Donatur yang tidak mau di sebutkan namanya.


Ternyata sebelum berangkat ke tempat perayaan ulang tahun itu, Aji telah mempersiapkan peralatan sulapnya, karena dia hafal karakter sahabat blasteran Jepang Indonesia ini kelakuannya suka nyeleneh.


Oleh karena itu, sewaktu berangkat dari bengkel, memakan waktu sedikit lama, karena usai mandi, dia kenakan lebih dahulu pakaian yang dia rancang sendiri itu.


Di tunggunya momen yang tepat, yakni ketika acara bebas di mulai dan di saat minuman keras oleh panitia pesta di keluarkan dari tempat penyimpanannya.


Di saat itu lah terasa kegunaan dari baju hasil rancangannya yang berpotensi menyelamatkan dirinya untuk tidak terulangnya kembali kejadian yang pernah dialaminya.


Seorang perokok yang berteman dengan yang tidak merokok, satu saat dia akan menawarkan rokoknya kepada sang teman, untuk bersama-sama menikmati rokok kepunyaannya itu.


Kejadian itu cenderung untuk terulang kembali, kembali dan kembali terulang, entah akan berapa kali itu terjadi, namun ketika perokok pemula tersebut mulai menemukan nikmatnya merokok, disaat itu lah dia baru menyadari arti sebuah pertemanan. Karena tawaran yang pernah dia terima berulangkali itu, tidak akan pernah datang lagi.


Filosofi itu dia dapatkan dari Ayahnya yang menyampaikannya kepada Aji di saat dia di temukan merokok padahal usianya saat itu baru menginjak empat belas tahun.


" Dari mana kamu mendapatkan rokok itu, Aji !! " Bentak Ayahnya, geram.


":Dari kakaknya teman, Pa..." jawab Aji bercampur takut.


kejadian belasan tahun sudah berlalu, namun sangat berkesan teramat dalam di pemikirannya hingga ketika menemukan dirinya di beri tawaran oleh Haruki untuk mengenal lebih jauh yang katanya mereka adalah saudara sepupu dengan Haruki.


Fenomena proses yang terjadi di dalam "Tawaran merokok" itu pun tiba-tiba muncul hadir di ruang pemikirannya. Namun tetap Haruki adalah seorang sahabat terbaik baginya..


Aji tidak ingin mengecewakan niat baik sahabatnya itu, karena lebih dari setengah tahun dirinya bekerja dalam satu atap dengan Haruki, tidak pernah sekalipun dirinya dikecewakan atau merasa tidak nyaman.


Oleh karena itu untuk rangkaian acara ulang tahun yang katanya sepupunya, walau sebenarnya dia sudah mulai merasa curiga pada kejadian awal, sejak dia masuk ke komplek perumahan yang mirip dengan Fourty second street di New York City, Amerika.


" Kenapa harus membayar peron masuk ?" dan Keamanan yang jaga di sana terlihat begitu akrab dengan Haruki.

__ADS_1


Semua pertanyaan itu terjawab pada tulisan di kertas peron masuk, namun untuk menjaga tali persahabatannya tetap baik, Aji lebih memilih untuk tetap bersikap seakan saat ini dia sedang berada di sebuah rumah warga di sebuah perumahan, dan sedang menghadiri sebuah pesta perayaan ulang tahun.


__ADS_2