
Bab 2
Aji Swakarsa, terdaftar di buku sijil kapal Tanker bernama MT. FOSSARINA sebagai ABK ( Anak buah Kapal ), dan memegang posisi sebagai Junior Engineer.
Di suatu saat Kapal tempatnya bekerja masuk dan sandar di pelabuhan kapal minyak di sebuah kepulauan bernama Curaqau salah satu dari tiga kepulauan yang di kenal dengan sebutan Trinidad.
Trinidad terdiri dari tiga kepulauan yang terpisah satu sama lain, namun tidak terlalu berjauhan jarak satu dengan lainnya, masing-masing pulau itu bernama; Curaqau, Caracas dan Aruba.
Kapal Tanker MT. FOSSARINA sandar di pelabuhan Minyak disana untuk memuat dan membawa minyak sebagai muatannya itu untuk di bawa ke Prancis.
Curaqau, disana ada kawasan yang di kenal dengan sebutan Campo Alegre, tempat pelancong mencari kesenangan sesaat.
Penghuni disana, kalau di tanya oleh para pelancong " dari mana asal mereka?" sudah bisa di pastikan jawabannya, " Columbia ."
Betapa Columbia adalah penghasil komoditi wanita yang di akui terunggul kecantikannya di jazirah Amerika Latin. sehingga ada " Pameo" di kalangan para pelaut Indonesia kelas manca negara yang kapal tempatnya bekerja, sering masuk ke sana.
Mereka mengatakan, " Di Columbia, hampir rata cewek yang berpapasan sama kita cakep-cakep." Celoteh sesama anak buah Kapal sambil menikmati isapan rokoknya, saat jam istirahat ngopi. Teman yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
" Susan , kalau satu saat nanti kau berada di sana untuk urusan melancong, menikmati suasana dan nuansa Amerika latin, menikmati hidangan masakan cita rasa Amerika Latin khususnya Curaqau dari Restoran yang banyak bertebaran di sana,
apabila ada orang bertanya kepadamu dari mana ? kau jawab dari Columbia pun mereka akan percaya."
* Flash Back..
Jauh pikirannya menerawang terbang ke masa dia mengunjungi beberapa negara di bagian Amerika Latin, seperti Puerto Rico, Puerto De La Cruz atau Puerto Cardon di Venezuela.
Tersungging senyum tipis di sudut bibirnya, manakala teringat waktu turun ke darat untuk pesiar dengan rekan sepekerjaan, berkebangsaan Bulgaria
bernama Oleg Georgiev Marinov.
Saat itu mereka berdua sedang larut dalam keasyikan menikmati hidangan masakan khas pantai Puerto De La Cruz, bagi temannya Aji, Oleg itu menikmati makanannya di barengi dengan minum Bir lokal.
__ADS_1
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hadir di antara mereka anak laki-laki berusia kurang lebih 5 tahun. Penampilannya bersih, Aji mengira anak itu sama seperti dirinya sedang bermain di pinggir pantai dengan di ajak oleh orang tuanya.
Tidak tahunya anak itu mengemis, lama dia berdiri dan memperhatikan mereka berdua yang sedang lahap menikmati makanan yang telah terhidang di atas meja, di hadapan Aji dan Oleg.
Entah apa yang ada di benak anak ini, mungkin saja dia melihat perbedaan warna kulit dan rambut Aji yang rambutnya hitam Kelam, sementara Oleg berambut pirang keemasan.
Aji berniat akan memberi anak itu uang sekadarnya, itupun nanti setelah selesai makan, dia mencoba untuk menawarkan anak itu makan, ketika dia akan memulainya, tapi anak tersebut menggelengkan kepalanya.
"Oke Boy..," Ucap Aji perlahan, sembari menguatkan niatnya untuk memberi sekadar uang satu atau dua Dollar Amerika, sebagaimana niatnya semula, nanti akan diberikannya setelah selesai bersantap.
* Makan besar selesai.
Aji perhatikan wajah anak itu sekilas, " Bersih dan cakap ", gumamnya perlahan hampir tidak terdengar, apalagi oleh orang lain.
Lain lagi dengan Oleg Georgiev Marinov, di tatapnya anak itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya, tanpa kedip.separti layaknya orang akan membeli sebuah barang yang dibutuhkannya di sebuah toko yang menjualnya.
Sementara matanya terus menatap kearah anak itu tanpa berkedip, yang oleh Aji diperhatikannya sejak awal hingga saat itu terjadi, tiba-tiba Oleh pun tersenyum kepada anak laki-laki tersebut, dan anak itu pun membalasnya dengan senyum yang sama.
Dengan serta-merta orang itu akan sesegera mungkin, dan dengan GPL ( Gak Pakai Lama ), menyiapkan pada genggamannya selembar uang
Dollar pecahan 50 US. Dia serahkan uang itu kepada anak tersebut.
mulanya Aji mengira Temannya itu memberi uang sebagai mana niat nya juga, sekadarnya, satu atau dua Dollar, paling banyak Lima Dollar. Tidak tahunya yang di berikan kepada anak itu memang betul Lima puluh Dollar, Amerika.
Aji tidak merasa kaget, dengan adegan itu, karena seringkali dia melihat temannya kalau minta ditemani pergi ke Bar. Mereka merasa di temani oleh pramuria cantik seksi juga ramah di tambah memberi peluang walau sekedar.
Pramuria yang seksi itu mengijinkan sang Teman mengelus pipinya, atau paling banter, memegang Paha sang Pramuria, begitu akan pulang, temannya itu memberi tip seratus Dollar Amerika.
Tapi kejadian itu ditambahkan oleh Aji tanda kutip. Sang teman dalam keadaan " mabuk berat."
Kalau sekarang kasusnya lain. Tidak ada yang mabuk. di sini dia hanya ingin memastikan benarkah Oleg telah memberi dengan sengaja, bukan karena keliru ?" celoteh di dalam batinnya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, di lihatnya di atas meja yang mereka hadapi ada botol kosong, yang seingatnya, begitu datang dan barusaja duduk, Oleg pesan minuman keras setara dengan Vodka, dan sekarang Vodka itu tinggal separuh botol yang tersisa, yang sejak Oleg dengannya duduk di sana lantas dia order minuman itu, hingga saat ini tidak ada orang lain yang ikut duduk di Dua buah kursi lainnya, yang ada untuk meja mereka selain mereka berdua, sedangkan Aji tidak minum yang beralkohol, dia pun paham. Oleg Tidak akan mabuk oleh Vodka setengah botol.
Sekali lagi untuk memastikan atas sedikit keraguannya, dia lambai-lambaikan tangannya berulang kali di depan pandangan temannya.
Tindakan Aji semacam itu membuatnya tertawa dan. " Aji., sedang apakah kamu ?" Sergah Oleg dengan mimik wajah keheranan. Apa kamu pikir saya sedang Mabuk..?" Tanya nya.
" Wow..tidak bukan begitu, aku hanya ingin memastikan apakah kau baik-baik saja ?"
" Sudah pasti Ok ! ayolah Aji. Kenapa pula kau tidak mau minum cairan yang tidak membuat kau lupa lautan." Serunya, tadinya Aji juga merasa heran dengan ucapan Oleg yang menampakkan mulai
" take off " mabuk nya. tapi begitu dia melihat ke atas meja di depannya..., " Bujrud dah nih Bocah ! pantesan ngomongnya mulai ngaco ya ?.... itu Beer habis setengah lusin sendirian. belum Vodka nya." ujarnya, dengan logat Betawi kentalnya, se kental madu Odeng.
Dulu Aji pernah punya sahabat orang Bekasi yang kental banget dah bahasa Betawi nya, itu sebabnya dia bisa meniru gaya dan cengkok pengucapannya.
" Aji ., apa kau pikir ada sesuatu yang salah denganku ?" Tanya Oleg kepada Aji.
" Okey kau, tidak mabuk, juga tidak keliru kau memberi anak tadi berapa " Tanya Aji.
" Lima puluh, seperti aku memberi anakku uang saku saat dia berangkat sekolah, dan itu anak tadi mengingatkan Aku. Enam tahun yang lalu, Kapal tempatku bekerja masuk kemari. Siapa tahu dia anakku ada yang salah ? " Tuturnya dengan santainya.
untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Aji tertawa perlahan.
dan tiba-tiba...
" Bang., Bang Aji, koq begitu sih? tertawa sendiri?. melamun saja melamun !" Tanya Susan lebih mirip menegur, dari pada bertanya.
Lanjutnya lagi, pakai senyum-senyum sendirian lagi"
sembari memperlihatkan wajah kurang berkenan
nya, dengan di jawab oleh Aji, " Okey adik Abang yang cantik,, sekarang Abang Aji mau pamit, sambil tersenyum , dia ulurkan tangannya untuk bersalaman, sebagai tanda sahabat lama masih Solid coffee bersama nya.
__ADS_1