
Bab 1
Melindari terlihat lelap dalam tidurnya, mungkin di sepanjang malam tadi dia mengalami sulit untuk tidur, sehingga kemungkinan besar dia tidak akan menyaksikan saat pesawat tinggal landas, yang akan berlangsung dalam waktu tidak lebih dari lima menit lagi pesawat akan mengudara.
Jeda di sekitar waktu itulah sejak dimulai pemanasan mesin Jet sambil pesawat berjalan dari tempatnya semula parkir, hingga kini berada di landasan pacu.
Saat ini mulai terdengar suara gemuruh mesin jet yang letaknya di kedua sayap kanan dan kiri badan pesawat, sedang di naikkan putaran mesin turbine nya, oleh Pilot yang menanganinya.
Lampu signal yang menunjukan " Fasten Seat Belt ", menyala dan salah satu dari pramugari yang bertugas di kelas bisnis tempat Aji dan Melindari kini berada.
Dengan sigapnya Pramugari itu menyampaikan pesan berupa isyarat dalam gerakan, mengikuti instruksi melalui sarana audio dengan suara merdu dari seorang wanita.
Dari awal hingga berakhirnya peragaan bagaimana cara penggunaan alat keselamatan darurat yang tersedia di pesawat termasuk dimana tempat tersimpan nya alat tersebut, maka selesailah sudah tugas sementara pramugari tersebut.
Melindari masih dalam posisi tidur nyenyak nya, mungkin saja sepanjang malam yang berlalu hingga tadi pagi dia tidak maksimal dalam tidurnya, hingga besar kemungkinan dia tidak dapat menyaksikan sesaat lagi pesawat akan mengudara dan tinggal landas mengangkasa menuju gumpalan awan yang berarak, berupa gugusan-gugusan dalam warna yang didominasi dengan putih seperti kapas itu.
Dari tempat duduknya di Kokpit pesawat, terdengar suara Pilot pesawat menganjurkan kru nya untuk kembali ke posnya masing-masing, karena dia akan mulai melakukan olah gerak pesawat yang akan diterbangkannya.
Setelah mesin turbinnya mencapai kecepatan putar yang maksimal sebagaimana standar ketentuan dalam memulai oleh gerak untuk pesawat lepas landas.
Tidak berselang lama dari selesainya maklumat sang Pilot, seperti sebilah anak panah yang lepas dari busurnya. Pesawat itu melesat dan untuk kemudian tidak lama kemudian, terlihat bagian ujang kepalanya mulai mengangkat dan roda pesawat pun mulai lepas dari pijakannya di landasan pacu.
Pertanda Pesawat dengan tulisan yang jelas terbaca nama perusahaan penerbangan itu dengan gagahnya terbang mengudara, masih dalam posisi badan pesawat mendongak untuk mencapai ketinggian yang aman, dan pada saatnya nanti, badan pesawat akan terbang dalam posisi Horizontal.
Bersamaan dengan kondisi posisi badan pesawat simetris dengan arah fokus lurus kedepan, pertanda ketinggian aturan navigasi telah terpenuhi, bersamaan dengan itu pula, Melindari terlihat
mengedip-kedipkan matanya, sejurus kemudian dia terbangun dengan sempurna.
Yang pertama disadarinya adalah, genggaman tangannya yang masih dalam posisi memegang erat lengan Aji.
Dengan senyum dan rasa sungkan dia ambil ancang-ancang akan melepaskan lengan lelaki itu dari pegangannya.
Akan tetapi Aji bertindak dengan cara dia genggam dan ditahannya jemari tangan Melindari untuk tetap dalam posisinya semula, dengan satu tujuan Aji. Yakni Menjaga perasaan wanita itu.
__ADS_1
Momen seperti inilah yang Melindari tidak pernah merasakan dan mengalaminya, tapi dia sering dapatkan hanya dari mendengar saja, yang dia anggap itu hanya ada dalam cerita sinetron.
Betapa lelaki ini membuatnya semakin hormat dan sungkan.
" Oh Tuhanku., kalau saja hambamu ini bukan wanita yang pernah berada di tempat yang penuh dengan lumpur dosa, sehingga tidak akan ada rasa maluku untuk menginginkan dia nanti bersanding di sebuah pelaminan, dan hambamu ini sebagai mempelai wanitanya......
Apa dayaku...., aku harus mengakui realita yang harus ku terima, bilamana diumpamakan aku telah menanam biji buah Semangka, hari ini hambamu sedang memetik hasil buah semangka itu, malu rasanya kalau untuk mengharap lebih.
Biarlah hambamu berpegang kepada apa kata para pujangga , " Mempunyai tidak harus memiliki".
Sebagaimana seorang.pebisnis yang tengah menginap di sebuah kamar di sebuah Hotel berbintang lima, ketika dia menerima klien bisnisnya,
dengan tanpa rasa canggung, atau merasa keliru dalam berucap, dia mengatakan. " Datang saja nanti ke kamarku di lantai dua nomor sekian. Disebutkannya nomor kamar tempat dia menginap."
Melindari mengarahkan tatapannya ke wajah Aji, dengan mendapat sambutan sebuah senyuman dari lelaki itu.
Tidak di pungkirinya, Serrrr... Hatinya serasa di siram air yang sejuk. Tetapi jantungnya berdegup kencang seperti degup jantungnya orang yang baru saja berlari kencang.
Sejuknya senyuman itu, se sejuk air di lereng gunung Karang, di Pandeglang, dulu dia pernah langsung merasakan sejuknya air pegunungan di sebuah pancuran yang terdapat di lereng gunung itu, ketika masa di sekolah dan ikut kegiatan Pramuka di Gunung itu.
Namun kenapa dia berkeringat ? Begitu batinnya.
Pramugari dan juga Pramugara yang bertugas, mereka berkeliling mendatangi satu persatu penumpang pesawat, dengan nampan yang di pegangnya berisi kain spons halus dan lembab berbentuk kue dadar gulung dengan beraneka warna mencolok, terlihat mengepulkan asap wangi, namun bukan esens dari kue kudapan.
Spon yang beraneka warna merangsang selera makan itu, sedianya untuk membasuh wajah dan tangan sebagai pengganti fungsi air mandi yang bisa membuat badan segar.
Di bagikan oleh pramugari itu kepada setiap penumpang dan juga di susul dengan Snack ukuran sedang.
Ada juga di sediakan minuman yang hangat, seperti Kopi, atau air teh. Bagi yang menginginkan Air mineral pun mereka sediakan, yang dingin ataupun yang panas.
Berada di dalam pesawat untuk bepergian dengan perusahaan penerbangan yang manapun, para penumpangnya akan " di manjakan ", sepanjang yang penumpang pinta itu sebuah permintaan yang umum dan wajar seperti :
Permintaan layanan makan dan minum, obat-obatan kelas ringan, atau vitamin untuk kesehatan. Juga termasuk sarana untuk hiburan semacam headset untuk mendengarkan musik atau tayangan film yang
__ADS_1
di fasilitasi di dalam kabin pesawat pada tempat duduk masing-masing, oleh management perusahaan penerbangan itu sendiri.
Semua itu akan di layani sebagai bentuk pelayanan maksimal dari perusahaan penerbangan.
Semboyan perusahaan di bidang layanan Penerbangan, " Penumpang adalah Raja " tidak pandang mereka berdarah biru atau tidak.
Bagi siapapun yang mampu membeli Tiket, maka saat dia ikut terbang, dia adalah seorang Raja yang pantas untuk mendapatkan pelayanan terbaiknya dan yang sebaik mungkin, di sepanjang waktu penerbangan.
Kalau sudah mendarat, maka semboyan itupun auto hilang dan sudah tidak berlaku lagi. Karena sang raja telah kembali dianggap sebagai masyarakat biasa.
Semboyan pun berubah menjadi " Siapa Loh !! ". Dengan tanda seru yang besar.
Sikap seperti itu sudah termasuk salah satu dari kepribadian yang di bentuk ketika mereka mengikuti pendidikan ataupun seminar untuk meningkatkan SDM yang mereka miliki.
Dalam menghadapi berbagai macam perangai manusia yang datang dari berbagai penjuru negara dengan beragam kebudayaan masing-masing.
Para pekerja penyedia jasa semacam Pramugara dan pramugarinya telah mendapat bekal ilmu yang mereka sosialisasikan dalam keseharian ketika dalam penerbangan, berjalanlah kiat yang luar biasa elegan dan telah di akui oleh hampir seluruh penduduk Dunia yang pernah ikut terbang bersama Emirat Saudi Arabian Air ways.
Terbukti dengan tidak pernah ada keluhan yang diterima dari para pengguna jasa penerbangan khususnya terhadap team dari Perusahaan Emirat Saudi Arabian Airways tersebut.
Sebagai kru personil yang ikut penerbangan, di wajibkan bersikap se sopan mungkin, ketika mereka sedang dalam kedinasannya
Namun selepas dari bertugasnya, mereka pun di anjurkan untuk tidak terlalu membuka peluang kepada penumpang pesawatnya seandainya bertatap muka di luar dari pesawat tempat mereka mengabdi.
Dengan tidak lagi bersikap ramah sebagaimana mereka bersikap ketika dalam kedinasan di atas pesawat, kendari mereka di perbolehkan untuk bersikap ramah, tapi hanya sekadarnya saja.
Seperti itu Haruki menuturkan kepada mereka berdua, konon semua yang dia utarakan itu dia peroleh, walau sedikit itu dari salah seorang Pramugari yang hingga saat Haruki menuturkan perihal ini, Pramugari yang di maksud masih aktif bekerja di salah satu perusahaan penerbangan besar yang ada, yakni Cathay Pasifik.
Haruki tahu bukan sekadar dari penuturan sepintas dari Pramugari tersebut, tapi Dia pernah menjalin hubungan Asmara dengan sang Pramugari, hingga ke jenjang merencanakan untuk membangun mahligai Rumah Tangga dengannya sebagai bentuk wujud asmara dari insan dewasa seperti mereka.
Namun dewa Amor mencabut anak panahnya yang sebetulnya bukan sebentar telah menghujam ke dalam hati keduanya.
Rupanya didalam kasus asmara sang Pangeran dari negri Matahari Terbit ini. Takdir telah mengalahkannya. Maka jadilah Haruki kembali lagi sebagai Haruki yang sekarang.
__ADS_1
Haruki yang slengekan dan sedikit semau gue nya kembali kambuh, namun tetap dia berupaya dalam mencari calon pendamping hidupnya.
Terakhir yang sohibnya, Aji, ketahui. Di kota hujan Bogor, kembali bersemi butir-butir Asmara di dalam sanubarinya bersemi lagi, yang mungkin saja akan berkembang dan tumbuh subur.... Walau semua itu masih berupa sebuah Harapan.