
Bab 3
Tidak berselang lama semenjak kepergian pak Emat meninggalkan area parkir. Bus AKAP bernama " PO ASLI PRIMA" jurusan Labuan mulai bergerak maju perlahan, sementara suara sang kondektur berteriak dengan lantang menyebutkan tempat yang akan dituju oleh Bus nya.
Sebagai isyarat kepada calon penumpangnya yang mungkin masih belum naik, untuk segera menaiki Busnya yang akan berangkat meninggalkan terminal.
"Tangerang,. Serang,. Labuan !" Teriak sang Kondektur yang berdiri di pintu masuk Bus depan seraya mengacung-acungkan telunjuknya, dan bertanya kepada orang banyak yang sedang berjalan kaki, entah akan kemana dan dari mana mereka.
" Tangerang pak, Ibu ?..., Serang,Serang !..Labuan Pak ?"
Aji dan Shinta telah berada di posisi yang enak dengan memilih Kursi di belakang Sopir terhalang oleh beberapa baris saja, Shinta lah yang tadi memilih di deretan kursi yang mana mereka akan duduki.
Bus terus berjalan perlahan, seiring dengan sang Kondektur yang terus berteriak-teriak menawarkan kepada calon penumpangnya, yang berjalan hilir mudik di pelataran Terminal Bus itu, hingga Bus yang bergerak perlahan itu sudah mendekati pintu gerbang keluar Terminal di Kampung Rambutan.
Tidak percuma Kondektur berdiri sambil berteriak, di pintu masuk Bus, sementara Sopir-nya menjalankan mesin mobil yang di kendarainya, sejak beranjak dari parkiran hingga bergerak perlahan menuju arah keluar terminal.
Tidak kurang dari 4 penumpang yang di dapat dari cara sang Kondektur yang bekerjasama dengan Sopirnya yang tidak berhenti mencari dengan kiat yang mereka jalankan, demi untuk mendapat penumpang sepanjang perjalanan dari tempat mulai berangkat hingga pintu keluar terminal.
Merasa tugasnya sudah selesai sang Kondektur menghentikan kegiatannya dan masuk kebagian dalam Bus sambil berjalan ke bagian belakang, dia menghitung di dalam hatinya berapa jumlah kursi penumpang yang sudah terisi.
Posisinya yang tadi berdiri di pintu masuk sembari berteriak memberitahukan penumpang yang masih berdiri ataupun berjalan di halaman luar Terminal.
Kernet Bus yang menggantikan posisi tersebut, dengan suara yang tidak kalah lantangnya.
" Tangerang, Serang , Pandeglang...Labuan !" seperti yang Kondektur lakukan, telunjuknya mengisyaratkan ajakan kepada orang-orang yang sedang berjalan di sepanjang trotoar halaman luar Terminal..
Setelah di perkirakan sudah tidak ada lagi penumpang yang akan naik, Bus yang semula berjalan perlahan sudah lumayan jauh dari terminal.
Sang Sopir mulai menambah kecepatan laju kendaraannya.Pintu masuk Bus di tutup oleh kernet tidak lama kemudian Bus mulai memasuki pintu gerbang tol Kota Jakarta.
Suasana hening menyelimuti atmosfir di dalam Bus.
Untuk mengisi suasana sepi dan membunuh rasa jenuh mereka mulai membuka percakapan, di awali oleh Shinta yang merasa di dalam perjalanan ini, dia lah yang memerlukan pria ini.
__ADS_1
Jadi wajar kalau dia yang memulai untuk membuka percakapan. " Aji., betul kau itu asli orang Pandeglang ?" Ujarnya.
" Bukan teh., yang asli Pandeglang itu Bapakku, malah- dari Cimanuk, kalau ibuku asli berasal dari Cilaku," Timpal Aji.
" Pastinya tahu dong desa Rumingkang," Sambung Shinta.
" Tahu banget sih tidak teh, tapi Bapak punya sawah di Rumingkang, hampir setiap waktu panen Padi, kami datang kesana untuk mengambil hasilnya."
Mungkin, karena terlihat oleh Shinta. Aji ini seperti yang Wulan katakan kepadanya di Bandara Halim perdana Kusuma, " Aji ini orangnya baik ". Itu kata Wulan, tapi...., kulihat sorot matanya nggak nakal, tidak ada tanda-tanda lelaki yang Celamitan." kata dalam batin Shinta.
Merasa diperhatikan, Aji menoleh dan pandangannya beralih melihat ke wajah Shinta, membuat Shinta merasa di pergoki, dengan gerakan yang spontan tangannya merogoh sesuatu yang dia tidak rencanakan apa yang ingin di ambilnya di dalam tas jinjingnya.
Yang tersentuh oleh jemarinya sebuah benda persegi empat seukuran kartu pos, dan mirip sebuah buku Notes, karena kondisi yang membuatnya sedikit gugup, membuatnya tidak ingat benda apa itu gerangan.
Setelah diambilnya dari dalam tas, dan terlihat olehnya, baru dia ingat. Itu adalah album keluarga yang tidak sengaja terbawa, karena terburu-buru sewaktu berangkat dari rumah, sehingga belum sempat dikeluarkan dari tasnya saat itu.
Kepalang barang itu sudah dikeluarkannya, diapun tidak ingin di lihat oleh Aji mengeluarkan album tersebut disebabkan gugup, sementara Aji masih terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Shinta.
Tanpa Aji ketahui jati dirinya, karena yang tampil di seluruh halaman album itu tidak ada satu pun penampakan sosok seorang Pria.
Sementara itu Aji yang sesekali melihat dengan lirikannya, karena walau tidak ada niat untuk ikut melihat, akan terlihat. Mereka duduk berdampingan.
Aji asyik-asyik saja melihat Shinta yang mungkin sebenarnya ingin Aji nimbrung untuk ikut melihat, dan nantinya menanggapi, tapi lelaki ini tidak memperlihatkan sikap itu, anteng-anteng saja dengan ponsel yang dalam genggamannya.
Kodratnya seorang Wanita ingin mendapat perhatian walau sekadar, begitu juga dirinya, namun.,tunggu punya tunggu bentuk perhatian yang Shinta maksudkan tidak kunjung ada, komentar kek... Iiiiyih.! Bikin gemas saja ini lelaki.Hingga.....
Sesuatu benda tidak terlalu berat namun terasa menyentuh kaki bagian bawah Aji, lantas diapun melihat ke bawah dengan rasa ingin tahu apa yang tadi menyentuh kakinya yang tidak tertutup.oleh pantalon yang dikenakannya.
Dia perhatikan dengan cermat benda apa gerangan?, ternyata ditempat kakinya berpijak, tergeletak selembar Fhoto yang segera dia pungut dan di lihatnya dengan penuh perhatian. Gambar seorang wanita masih muda, berpakaian renang.
Tadinya dia mau mengembalikan fhoto itu kepada pemiliknya yang dia yakin betul itu adalah salah satu gambar dari beberapa gambar dari Album yang sedang di lihat-lihat oleh Shinta.
Setelah beberapa detik saja dia perhatikan gambar itu untuk yang kedua kalinya, ternyata tidak keliru penglihatannya, bahwa wanita yang ada di gambar itu adalah Shinta, dengan latar belakang sebuah pantai yang dia kenal betul, karena ada ciri-ciri khas yang dia ingat dari pantai tersebut.
__ADS_1
Sambil menyerahkan kembali kepada pemilik dari gambar fhoto tersebut, dia berkomentar, " Cukup lumayan juga teteh melancong, sampai ke pantai Brisbane hanya untuk berenang saja ya teh?" ujarnya.
" Kok Aji bisa nebak?, tebakannya pun percis banget." Timpal Shinta
" Bukan rahasia atuh Teh, aku kan salah satu penggemar siaran dari Televisi Indonesia yang terkenal banyak tayangan iklannya ha..ha..ha.
Dan aku juga sering melihat di layar Televisi, pada Program Flora dan Fauna, ada liputan tentang keindahan Pantai di antaranya, pantai di Brisbane Australia dengan ciri khasnya, Sebagaimana Ciri khas satu daerah yang di tonjolkan untuk merangsang minat Pariwisata.
Patung Badak bercula satu, siapa juga yang gini hari belum tahu Jenis binatang tersebut yang hanya ada di Ujung Kulon. Kawasan Banten bagian barat. Atau binatang Reptil khas dari Pulau Komodo.
Fhoto itu bukan tanpa sebab juga tidak ada unsur kesengajaan hingga jatuh dan ditemukan oleh Aji. Album itu sudah lumayan berumur berada di tangan Shinta.
Mungkin juga plastik pelindungnya sudah lapuk, sehingga dua lembar dari jumlah fhoto yang ada terlontar keluar.
Pada kedua belah pipinya muncul rona merah, saat menerima dua lembar fhoto dirinya dalam balutan Bikini yang menonjolkan lekuk tubuhnya, malah yang satunya lagi pengambilan objek gambarnya begitu dekat, dan saat itu dia sedang kedatangan tamu rutinnya.
Masih segar dalam ingatannya saat itu dia tidak berenang, tapi sengaja untuk menikmati acara mandi matahari bersama sanak keluarga dari suami yang ada darah campuran Eropa. Pada Fhoto kalau saja diperhatikan dengan seksama, maka akan terlihat betapa pada bagian sensitifnya terlihat membukit lebih dari ukuran dalam kondisi yang biasa.
" Ya Tuhanku., semoga laki-laki ini tidak begitu memperhatikan sampai sejauh itu, saat kedua gambar itu dalam genggamannya tadi." Dia memohon kepada Tuhannya dengan hidmat.
Dalam situasi seperti itu, kembali terdengar suara Aji.
" Luarrrr biasa teh Shinta ini, jauh amat mau berjemur matahari saja sampai menempuh jarak ribuan kilometer. Ke Volendam Belanda. Borju teteh ya ?" kali ini Aji kepo dia menyadari telah keluar dari jalur kebiasaannya, itu sebabnya dia tersenyum agak tersipu.
" Aaah.. Itu ada yang ngajak, dari keluarga mantan, bukan biaya sendiri." terlihat Shinta sedikit gugup saat keceplosan menyebut kalimat " Mantan ", namun beruntung Aji tidak mendengarnya, karena Kondektur Bus yang sedang mengutip uang ongkos sudah sampai ke posisi kursi yang Ajib dan Shinta tempati.
Percis berbarengan dengan kalimat "Mantan" yang terlontar dari lisan Shinta, suara sang kondektur yang Bariton pun, terdengar begitu dekat dengan kuping Aji.
" Kenapa dia tahu Volendam segala ya ? apakah untuk Volendam, dia akan mengatakan sama seperti saat dia mengatakan tahu Brisbane...?! "Dari siaran Televisi". Gumam nya. sambil memperhatikan lelaki di sampingnya dari ujung rambut hingga ke bagian kaki paling ujung. Tidak lepas dari pengamatannya saat lelaki itu sedang mengambil sesuatu di kantung belakang celana Jeans yang dikenakannya.
Dengan sigap Sinta menahan tangan Lelaki itu, walau terlambat karena dompet - itu sudah dalam posisi terbuka untuk mengambil lembar uang yang nantinya di serahkan kepada kondektur yang sedang berdiri di sampingnya menunggu pembayaran kedua penumpangnya.
Dan itu kewajiban lazimnya para penumpang, Shinta tidak membiarkan hal itu berlanjut. sehingga terjadi perebutan antara mereka berdua. Dalam memenuhi pembayaran ongkos. Masing-masing menghendaki dirinya yang membayar.
__ADS_1